
Bian menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Pria itu benar-benar terlihat tampan. Ditambah dengan setelan jas yang membalut tubuhnya, membuat ketampanannya terlihat semakin sempurna.
Pria itu turun dari Apartemennya dengan langkah pasti. Pekerjaan hari ini harus selesai dengan sempurna agar besok bisa menjemput pujaan hatinya.
Mobil Daniel mendekat begitu melihat tuannya sudah siap. "Kak Daniel sudah lama?" Bian melirik Daniel seraya memasang sabuk pengaman.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu, Tuan."
"Oh, lumayan lama ternyata." Kembali melirik Daniel. "Maaf membuat Kak Daniel menunggu."
"Itu sudah kewajiban saya, Tuan." Jawab Daniel dengan kaku. Kebiasaan Bian yang suka minta maaf padanya selalu membuat pria itu tidak enak hati. Bagaimanapun juga, menunggu tuannya adalah kewajiban dia yang menjadi bawahan.
"Apa jadwalku hari ini, Kak?"
"Nanti siang ada rapat dengan Distributor dari kota A, Tuan. Kalau pagi ini, Tuan hanya perlu menandatangani beberapa berkas saja."
"Apa itu saja?" Tanya Bian dengan tatapan lurus ke depan.
"Iya, Tuan."
"Bagaimana dengan rencana keberangkatan ke Singapura besok?"
"Mm.." Daniel melirik Bian ragu. "Saya.. saya belum mengurus itu, Tuan. Nona Amara harus menghabiskan lima belas hari masa kerjanya. Jika kita berangkat besok, akan banyak waktu yang terbuang sia-sia selama kita menunggu. Sementara, Tuan tidak bisa ngapa-ngapain dengan Nona Amara. Hanya sebatas memegang tangannya saja. Itu pun, Tuan keringat dingin karena takut dosa." Daniel menahan senyum sambil melirik Bian.
Spontan Bian menatap Daniel dengan mata melotot. Tapi, ia akhirnya menghela nafas berat. Yang dikatakan Daniel itu adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Terlalu lama bersama Amara malah akan membuatnya bergelimang dosa. Belum lagi harus kuat menahan godaan karena selalu ingin berdekatan dengan gadis itu. Ia menatap Daniel kembali. "Kak..."
"Iya, Tuan." Masih menahan senyum. Lama-lama ia ingin tertawa karena Bian sepertinya tidak bisa berkata apa-apa untuk membantah ucapannya.
"Bagaimana perasaan Kak Daniel pada istri Kak Daniel?"
Daniel menautkan alisnya. Entah apa yang ada di pikiran Bian sehingga pria itu menanyakan tentang istrinya. "Aku mencintainya, Tuan. Sama seperti Tuan yang mencintai Nona Amara." Akhirnya, Daniel mengeluarkan jawaban yang paling logis.
Bian termenung. "Apa Kak Daniel sudah mengenal istri Kak Daniel cukup lama sebelum memutuskan untuk menikah dengannya?"
"Mm... aku hanya mengenalnya lima belas hari."
"Hah..?!" Kali ini Bian benar-benar terkejut. "Bagaimana bisa Kak Daniel bisa mencintainya dalam waktu sesingkat itu?"
"Allah Maha Kuasa, Tuan. Aku bahkan merasa enggan berjauhan dengannya setelah kami halal. Aku merasa dia adalah wanita yang paling sempurna yang dikirimkan Tuhan untukku."
__ADS_1
Bian tersenyum samar sambil melirik Daniel. Mendengar cerita Daniel membuat dadanya tiba-tiba bergemuruh tidak jelas.
"Aku punya banyak mantan kekasih. Bahkan banyak di antara mereka menjalin hubungan denganku dengan waktu yang tidak singkat. Tapi, kami malah tidak tertarik untuk saling memiliki setelah mengetahui kekurangan masing-masing. Yang ada hanya rasa bosan dan kesal saja."
Bian mengernyit. Jalan pikiran Daniel terasa sedikit berbeda dengannya.
"Tidak ada seorang pria yang menginginkan pendamping yang tidak sempurna, Tuan. Keperawanan apa lagi. Hal itu seperti sudah menjadi standar kebanyakan laki-laki pada umumnya. Aku pun termasuk dalam hal itu. Itulah sebabnya aku menikahi istriku ketika dia baru keluar dari Pondok Pesantren. Waktu itu dia bahkan belum mencapai usia minimal untuk menikah."
"Memangnya berapa usia istri Kak Daniel waktu itu?" Tanya Bian. Ia benar-benar fokus mendengar cerita Daniel. Karena menurutnya, di dalam cerita itu mengandung pelajaran yang bisa diambilnya.
"Dia baru berumur delapan belas tahun." Daniel tersenyum meringis.
Bian menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa Asistennya itu menikahi seorang wanita ketika wanita itu baru menamatkan SMA-nya.
"Kita sudah sampai, Tuan." Daniel menepuk pelan paha Bian yang terlihat termenung.
"Eh, cepat sekali.."
Daniel tersenyum. "Tuan terlalu asyik mendengar cerita saya, makanya waktu yang terlewat jadi tidak terasa."
"Hah, aku jadi bingung mendengar cerita Kak Daniel ." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Ayo, waktunya kita berperang dengan pekerjaan. Untuk masalah rumah tangga, lain kali kita bahaso lagi."
*********
Siang itu....
Setelah selesai makan siang bersama Daniel, Bian memilih untuk menghubungi Amara. Sejak semalam ia selalu mengulur-ulur waktu untuk menghubunginya karena ada saja pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Assalamu'alaikum..." Bian mengucap salam setelah panggilannya terhubung. "Lagi apa, Sayang?"
"Mm... baru selesai membantu Mbak Myta masak. Setelah ini aku mau kerja, Kak."
"Oh," Bian terdiam beberapa saat karena tidak tau mau membicarakan apa.
"Kak, Ameena bilang mau ke tempat Kak Bian. Apa dia sudah ke sana?"
Bian memperbaiki posisi duduknya. Sejak Amara hilang, Ameena selalu menghindarinya. Lalu untuk apa sekarang tiba-tiba sahabat temannya itu datang mencarinya. Apalagi mengingat tempatnya sekarang sangat jauh. Dia saja harus bolak balik dengan pesawat jika merindukan ibunya. "Tumben sekali, Ra? Sejak kamu hilang, temanmu itu selalu menghindar. Dia bahkan seperti enggan bertemu denganku. Aku juga ada di Perusahaan sekarang. Kamu tau sendiri kan, kalau jarak rumah dengan Perusahaan ini sangat jauh."
"Aku nggak tau, Kak. Dia hanya bilang ingin menemui Kak Bian karena ingin mengatakan sesuatu."
__ADS_1
"Hmm.. kok aku jadi penasaran. Iya udah, Sayang. Kalau kamu sibuk, teleponnya aku tutup sekarang."
"Eh, nggak.. nggak. Aku nggak sibuk kok. Baru aja ngomong beberapa detik udah mau main tutup aja. Huh, padahal dari semalam Kak Bian sibuk terus. Sebenarnya yang sibuk itu siapa, aku atau Kak Bian?"
Bian menghela nafas berat menahan senyum membayangkan ekspresi kesal Amara. Semakin ke sini perasaannya terlihat semakin kentara pada gadis itu. Apalagi saat menyadari sifat Amara yang semakin dewasa setelah gadis itu diculik neneknya. "Kita berdua perlu menyibukkan diri untuk menghindari dosa, Sayang. Kalau mengikuti keinginan hati, aku ingin menghubungi setiap waktu. Kalau perlu saat tidur pun, aku ingin tetap mendengar suaramu."
"Khmm..."
Handphone di tangan Bian langsung terjatuh. Pria itu langsung melotot kesal ke arah pintu di mana Daniel sedang berdiri menutup mulutnya menahan tawa yang terasa mau meledak.
"Kak Daniel apa-apaan sih..?! Awas saja nanti." Bian mengambil kembali handphonenya. Untung saja benda gepeng milik Bian tahan banting, sehingga tidak menimbulkan masalah saat jatuh ke air yang ikut tumpah karena Bian terkejut tadi.
Daniel berjalan mendekat sambil memeluk berkas yang dibawanya. Bian hanya meliriknya kesal tanpa ada niat untuk menanyakan berkas itu.
"Halo, Ra." Kembali menempelkan handphonenya di dekat telinganya setelah mengelapnya terlebih dahulu.
"Apa yang terjadi, Kak?"
"Ini nih, Kak Daniel menyebalkan sekali. Pakai acara berdehem bikin orang kaget aja." Kembali melotot pada Daniel. Yang dipelototin malah tertawa tanpa suara.
"Kalau Kak Bian sibuk, Kak Bian kerja saja dulu. Nanti malam aku pulang kerja jam delapan. Kak Bian bisa menghubungi ku setelah pulang kerja."
"Aku ingin datang menjemput mu, Ra."
"Eh, aku masih lama kerja, Kak. Kak Bian juga sibuk kerja. Kalau terlalu cepat kemari, yang ada pekerjaan Kak Bian akan terbengkalai. Aku baik-baik saja kok di sini."
"Tapi, aku yang tidak baik-baik saja. Setiap hari selalu sibuk memikirkan kamu, nggak bisa melihat kamu, nggak bisa mendengar suara kamu."
"Huh, itu mah harus nikah dulu atuh, Mas. Kalau keinginannya udah kayak gitu sih, beda ceritanya. Itu sih bukan perasaan Kak Bian yang tidak baik-baik saja. Tapi, Kak Bian sudah kebelet pingin kawin. Assalamu'alaikum ..."
Tut.. tut.. tut..
Bian mengernyit menatap layar handphonenya. Amara memutus sambungan telepon secara sepihak. Hal itu membuat Daniel langsung tertawa lebar.
"Nona Amara memang pandai, Tuan. Yang dikatakannya tadi juga benar. Tuan sepertinya kebelet ingin menjemputnya karena Tuan kebelet ingin kawin."
Bian melengos. "Kak Daniel kok jadi kepoan gini sih. Iya wajarlah aku ingin nikah. Aku laki-laki normal, bukan kaleng-kaleng."
Daniel menarik nafas dalam seraya duduk di sofa hadapan Bian. "Menikah itu membutuhkan banyak persiapan, Tuan. Bukan hanya persiapan lahir saja, tapi Tuan juga harus mempersiapkan batin untuk menerima apapun yang akan Tuan dapatkan dari pasangan Tuan nantinya. Akan banyak cobaan yang akan di dapati karena menikah itu bukan hanya enaknya saja yang dinikmati."
__ADS_1