Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
One Night with You


__ADS_3

Bian masuk ke dalam kamar setelah selesai mentransfer sejumlah uang ke Ameena. Ia tidak segan mengeluarkan uang untuk gadis itu karena ketulusan yang diberikannya untuk Amara. Ia masuk ke dalam kamar dengan tatapan mata masih fokus menatap benda gepeng di tangannya.


"Aku nggak usah di make up, Mbak. Kayaknya udah mau maghrib. Aku nggak mau itu menjadi penghalang untuk bisa shalat tepat waktu nantinya."


"Oh .. baiklah kalau begitu, Nona."


Bian mengangkat wajahnya saat mendengar suara istrinya. Tetapi, posisi Amara yang duduk membelakanginya membuatnya tidak bisa menatap langsung wajah istrinya. Cuman, rambut Amara yang sudah berubah model yang membuatnya sedikit tertegun.


"Istrinya sudah selesai di rawat, Tuan."


"Eh," Bian tersenyum salah tingkah. "B.. bajunya belum diganti, Mbak. Mm.. Mbak bantu dia ganti bajunya. A.. aku akan tunggu di luar." Bian segera berbalik dan bergegas keluar. Ia beberapa kali meraba dadanya yang tiba-tiba berdetak sangat kencang. Mungkinkah dia akan baik-baik saja saat masuk kembali nantinya. Ia segera M menepis berbagai macam pikiran yang memenuhi otaknya. Duduk kembali di sofa untuk menunggu pelayan dan orang suruhan Daniel keluar dari kamar.


Adzan maghrib berkumandang. Hal itu membuat Bian beranjak bangkit. Ia menengok ke dalam kamar. Namun, ia tersentak saat pelayan wanita yang ikut mengurus istrinya tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.


"M.. maaf, Tuan. Saya tidak tau kalau ada Tuan di sini." Pelayan itu beringsut mundur.


"Tidak apa-apa." Bian kembali menengok ke dalam kamar. "Apa semuanya belum selesai?" Tanyanya masih menatap ke dalam kamar.


"Sudah, Tuan. Orang suruhan Tuan sedang membereskan alat-alatnya. Tuan bisa masuk sekarang. Waktu shalat juga sudah masuk. Saya permisi Tuan." Pelayan itu menunduk sopan seraya berlalu dari hadapan Bian.


Bian menunggu semua orang di dalam kamar keluar. Setelah itu, ia bangkit dan mempersiapkan diri untuk masuk. Namun, beberapa kali ia mundur saat kakinya sudah melangkah maju. Masuk ke kamar sendiri serasa mau masuk ke ruangan sidang skripsi.


"Kak..."


"Astagfirullah..!"


"Kak Bian kenapa?" Amara bertanya tanpa rasa bersalah. Dia tidak tau kalau suaminya sedang ketar-ketir karena tidak siap bertemu dengan dirinya.


"Ra, aku kaget tau nggak.." Bian menghela nafas berat sambil menatap istrinya. Untungnya Amara berdiri di depannya dengan memakai mukenah, sehingga jantungnya tidak berhenti berdetak.


"Loh..." Amara menautkan alisnya heran. "Memangnya... ah, aku salah apa sih? Perasaan, aku cuman memanggil Kak Bian saja tadi. Nggak ada yang aneh kan?"


"Hmm.." Bian menunduk seraya mengusap-usap tengkuknya salah tingkah. "M.. maaf.. aku.. aku cuman grogi tadi." Tersenyum salah tingkah seraya melirik istrinya. "Iya sudah.. nggak usah dipikirkan. Kita masuk yuk, kita shalat maghrib berjamaah."


Amara mengangguk, menepikan tubuhnya agar suaminya bisa lewat. Pasangan suami istri itu akhirnya melakukan shalat berjamaah Maghrib untuk pertama kalinya setelah satu bulan resmi menjadi pasangan suami istri.


**********


Bian duduk kaku di samping istrinya. Mereka duduk bersebelahan, tetapi malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Entah apa yang terjadi. Mulut dan anggota tubuh yang lain terasa kaku untuk memulai interaksi. Amara bahkan masih memakai mukenah walaupun mereka sudah selesai mendirikan shalat isya.


Ketukan di pintu kamar membuat mereka berdua kompak mengangkat kepalanya. Amara dan Bian saling tatap.


"B.. biar aku yang buka, Ra." Jawab Bian seraya beranjak bangkit. Pria itu benar-benar terlihat kaku. Ia mengembungkan pipinya, memenuhi mulutnya dengan oksigen untuk mengurangi ketegangannya.


Bian membuka pintu dengan pelan. Seorang pelayan berdiri di depan pintu dengan raut wajah khawatir. "Tuan.."

__ADS_1


"Ada apa, Bi?" Tanya Bian dengan ekspresi datar.


"Tuan dan Nona melewatkan makan malam keluarga. Apa kami akan mengantarkan makan malam ke dalam kamar?"


"Oh," Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Astagfirullah... maaf karena merepotkan Bibi. Antarkan saja makan malamnya ke kamar. Aku dam Rara baru selesai shalat isya."


"Saya akan mengatakan itu pada Tuan Besar. Saya akan kembali lagi untuk mengantarkan makan malam Tuan dan Nona."


"Saya akan menunggu Bibi kembali." Bian masuk kembali ke dalam kamar. Membiarkan pintu sedikit terbuka agar pelayan tadi tidak merasa segan saat mengantarkan makanan nantinya.


Bian menarik nafas panjang sebelum duduk di samping Amara. Wanita itu tersenyum lembut pada suaminya.


"S.. sayang..." Bian memanggil istrinya dengan suara sepelan mungkin. Terdengar jelas kalau dirinya sedang tegang.


"I.. iya, Kak." Amara menjawab sambil menundukkan kepalanya. Namun, ia terlihat lebih tenang jika dibandingkan dengan Bian.


"Mm.. kenapa mukenah-nya tidak di buka saja. Kamu pasti gerah. Kamu memakainya dari maghrib tadi. Hampir dua jam, Ra."


Amara diam beberapa saat seraya menundukkan kepalanya. "Aku.. aku nggak merasa gerah kok. Tapi, kalau Kak Bian tidak keberatan, aku mau minta tolong sama Kak Bian untuk membantuku membukanya." Amara mengangkat kepalanya. Menatap mata suaminya yang sedang tertegun menatapnya.


"J.. jadi, kamu mau aku yang membukanya?" Bian mencoba bersikap lebih tenang.


"Iya.." jawab Amara tak kalah tenang.


Amara terlihat begitu tenang menghadapi malam ini. Kenapa dia yang laki-laki yang malah terasa berdebar-debar tak karuan.


"Rara...!"


"Eh, kok teriak nggak jelas sih?!" Amara langsung mencubit paha suaminya.


"Aw, sakit.. Ra." Mengusap-usap pahanya yang merasa ngilu karena ulah istrinya. "Udah siap nih?!" Menatap Amara dengan tatapan menggoda.


Amara melotot.. "Siapa takut.."


"Wahahah..." Bian menutup wajah istrinya karena gemas melihat ekspresi Amara. "Jangan melotot Ra. Mata kamu sipit. Kalau melotot bukan ya terlihat seram, malah terlihat lucu."


"Hehehe.. Kak Bian terlalu kaku. Kalau perhatiannya sudah dialihkan, pasti tidak kaku lagi."


"Hmm.. maaf, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaanku dari tadi. Malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya." Bian menatap Amara. "Mm.. kamu terlihat menantang terus dari tadi. Memangnya kamu sudah siap untuk kemungkinan yang akan terjadi malam ini?"


Amara menautkan alisnya, pura-pura berpikir keras. "Mm.. siap tidak siap, aku harus siap. Aku sudah satu bulan lebih jadi istrinya Kak Bian. Tapi, aku belum memberikan yang seharusnya menjadi hak Kak Bian." Amara memanyunkan bibirnya seraya kembali menunduk.


"Kamu kan lagi sakit, Sayang. Aku maklum kok dengan hal itu. Jangan merasa bersalah karena Allah tau segalanya."


"Mm.. apa.. apa Kak Bian akan menuntut hal itu malam ini?" Bertanya takut-takut sambil melirik suaminya.

__ADS_1


"Iya.. aku harus melakukannya agar kita bisa merasakan rasanya menjadi suami istri yang sesungguhnya."


"K.. kapan Kak Bian akan melakukannya?" Kembali melirik suaminya.


Bian menahan senyum melihat ekspresi istrinya. Awalanya Amara yang terlihat sangat menantang. Tapi, semakin mendeksti waktunya, kenapa wanita itu malah terlihat ciut.


"Kalau kamu sudah siap sekarang, aku bisa memulainya saat ini juga." Bian memajukan wajahnya mendekati wajah istrinya.


"J.. jangan sekarang.." Amara mendorong wajah Bian. Terlihat jelas kalau wanita itu sangat tegang. "A.. aku mau menyiapkan energi dulu. Kata orang, kita harus menyiapkan banyak tenaga untuk melakukannya. A.. aku ... juga lapar, Kak. Aku belum sempat mengisi energi."


Tepat setelah Amara menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar kembali di ketuk. Bian langsung tersenyum seraya menjauhkan wajahnya dari Amara. "Makanannya sudah datang. Kamu benar, Sayang. Kita harus mengisi energi untuk menghadapi perang malam ini." Beranjak bangkit meninggalkan Amara.


Glek..!


Amara menelan ludahnya dengan susah payah. Saat ini, dia yang merasakan tegang yang luar biasa.


Bian masuk membawakan nampan dan meletakkannya di atas meja lipat yang sudah dipersiapkan. "Ayo, aku suapi kamu biar cepat habis."


"Aku bisa sendiri, Kak."


"Tapi, aku mau menyuapi kamu. Aku suami kamu. Apa kamu masih ingat hal itu?" Menatap tepat di mata Amara.


Amara akhirnya mengangguk. "Iya, terserah Kak Bian kalau begitu."


"Setelah makan, kita ambil air wudhu lagi. Shalat dua rakaat sebelum melakukannya. Kita harus meminta ridho Allah, agar kita diberikan keturunan yang baik."


"Iya, Kak.."


Bian tersenyum. "Mukenahnya di buka, Sayang. Masa iya, kamu mau makan pakai mukenah.."


"Mm.. s.. sebenarnya aku malu, Kak." Amara menahan mukenah yang sudah di tarik Bian.


"Malu kenapa?" Bian menautkan alisnya sambil menahan senyum.


"Mm.. Mbak yang tadi memberikan baju yang kurang bahan padaku." Amara menunduk dalam karena merasa bersalah, telah berani berpakaian terbuka tanpa izin suaminya.


"Oh, itu tidak perlu kamu pikirkan karena aku yang memintanya."


"Hah...?!" Spontan Amara mengangkat wajahnya karena terkejut mendengar pengakuan suaminya.


"Istriku harus tampil cantik dan menggoda kan, malam ini.."


Glek..!


*********

__ADS_1


__ADS_2