
Malam hari ini Chen Si Lei bersiap untuk mengunjungi Selir Agung pertama Shia Chu Chu sesuai janji nya sesudah ia menemani Ibu Suri Ling di sepanjang sore hari itu, ia melangkahkan sepasang sepatu indahnya menuju ke arah kuda putih kesayangannya yang sudah di siapkan oleh pihaknya.
Saat Chen Si Lei ingin melompat ke atas kudanya, ia melihat ada cahaya bulan jatuh ke air sungai kecil yang berada di dalam Istana khususnya, dan Chen Si Lei juga bisa melihat ada serpihan cermin yang terpantul cahaya terang rembulan di atas langit malam ini.
Bluk !!
"Eh boneka ku terjatuh ke air sungai kecil halaman depan istana Kaisar Tang Agung ", kata seorang gadis berlari kecil masuk ke dalam halaman istana Chen Si Lei.
"Hormat hamba kepada Paduka Kaisar Tang Agung ", sapa Permaisuri Chien Ning datang ke Istana khusus untuk Chen Si Lei.
"Hormat kami kepada Permaisuri Chien Ning",sapa hormat para pasukan khusus untuk Kaisar Tang Agung bersujud hormat kepada Permaisuri Chien Ning.
"Paduka,tolong maafkan hamba karena hamba sudah lancang datang ke Istana anda tanpa izin ", kata Permaisuri Chien Ning masih sujud hormat kepada Chen Si Lei di halaman depan Istana Kaisar Tang Agung.
"Ahm ya tak apa, bangunlah ", jawab Chen Si Lei meminta dayang istana khusus untuk Permaisuri Chien Ning untuk membantu Chien Ning berdiri dan merapat ke arah samping kanan untuk Chen Si Lei bisa lewat dengan kudanya menuju ke arah Istana Selir Agung pertama Shia Chu Chu.
"Boneka siapa itu ?", tanya Kasim Yi memerintahkan para pengawal istana Chen Si Lei untuk mengambil boneka yang berada di atas air sungai kecil pribadi Sang Kaisar Tang Agung.
"Boneka milik Selir Agung ketiga Putri Miya yang tidak sengaja terlempar jauh dari Istananya oleh Putri Yang Yang dan Putri Tang Li Lan yang sedang bermain di istana Selir Agung ketiga Putri Miya ,lalu boneka itu terjatuh ke sungai kecil milik pribadi Paduka Kaisar Tang Agung ",jawab dayang istana khusus Permaisuri Chien Ning.
"Ini ambillah untuk di antarkan kembali kepada Selir Agung ketiga Putri Miya ", kata Kasim Yi menerima boneka basah dan kotor kepada dayang istana khusus untuk Permaisuri Chien Ning dan dayang istana khusus untuk Selir Agung ketiga Putri Miya yang berada di halaman depan Istana Kaisar Tang Agung .
"Terimakasih atas kebaikan mu ,Kasim Yi",kata dayang istana khusus untuk Selir Agung ketiga Putri Miya yang menerima boneka untuk di kembalikan ke Miya.
Chen Si Lei memacu kudanya menuju ke arah Istana Selir Agung pertama Shia Chu Chu dengan cepat dan tiba di pintu masuk ke dalam wilayah khusus untuk para Selir Agung nya, dan Chen Si Lei terkejut sekali mendengar suara rintihan yang berasal dari Istana Selir Agung ketiga Putri Miya.
"Ah suara Miya ", kata Chen Si Lei memacu kudanya menuju ke Istana Selir Agung ketiga Putri Miya.
Dan Chen Si Lei segera masuk ke dalam kamar tidur Miya untuk memeriksa selir nya itu.
"Miya apa yang telah terjadi pada dirimu ?", tanya Chen Si Lei menyentuh dahi dan nadi Miya dengan cermat.
"Koko Lei Lei aku tidak tahu usai makan malam ,aku merasa kurang nyaman pada tubuhku ", jawab gadis itu menangis .
"Panggil tabib segera untuk datang ke Istana Selir Agung ketiga Putri Miya",kata Chen Si Lei kepada para staf khusus Selir Agung ketiga Putri Miya.
"Siap Paduka kami laksanakan !!", sahut para staf khusus untuk Selir Agung ketiga Putri Miya mematuhi perintah Chen Si Lei dengan cepat.
"Kau makan malam menu apa tadi ?", tanya Chen Si Lei cemas sekali melihat Miya pucat.
"Sayur ikan asam manis ada nanas",jawab gadis itu merintih kesakitan .
"Nanas?siapa yang memberikan mu makan nanas di usia kehamilan muda mu ??",tanya Chen Si Lei terkejut sekali .
"Dayang utama untuk Istana Selir Agung pertama Shia Chu Chu yang mengantar makanan untuk makan malam ku yang katanya dari Selir Agung pertama Shia Chu Chu buatkan untuk ku .Aku tidak bisa menolak pemberian dari saudari madu ku",jawab Miya berkeringat dingin menahan rasa sakit pada perutnya.
"Shia Chu Chu ?Hmm",gumam Chen Si Lei kecewa dengan Selir Agung pertama Shia Chu Chu yang berniat untuk membunuh janin yang sedang berkembang di rahim Miya saat ini.
"Paduka tabib sudah tiba ", lapor Kasim Muk datang bersama tabib untuk periksa Miya.
"Ya silakan",kata Chen Si Lei meminta tabib Istana Kekaisaran Tang Agung untuk memeriksa kondisi Miya dengan cermat.
Tabib memeriksa kondisi Miya dengan cermat dan teliti sampai Chen Si Lei tidak sabar untuk menunggu informasi dari tabib mengenai kondisi janin nya.
__ADS_1
"Bagaimana tabib Mi keadaan calon bayi ku?",tanya Chen Si Lei cepat.
"Kondisi calon bayi Paduka berhasil terselamatkan karena buah nanas yang di makan oleh Selir Agung ketiga Putri Miya belum larut masuk ke dalam tubuh Selir Agung ketiga Putri Miya, tapi kondisi fisik Selir Agung ketiga Putri Miya menjadi lebih lemah dari sebelumnya. Namun anda tidak perlu khawatir karena hamba akan siapkan resep obat untuk memulihkan kondisi Selir Agung ketiga Putri Miya dan juga vitamin untuk memperkuat janin bisa berkembang dengan baik dan sehat ", jawab tabib Istana Kekaisaran Tang Agung untuk Selir Agung ketiga Putri Miya.
"Ah terima kasih, tabib ", kata Chen Si Lei tersenyum lega mendengar calon bayi di rahim Miya aman.
"Sama-sama, Paduka ", jawab tabib Istana Kekaisaran Tang Agung untuk Selir Agung ketiga Putri Miya yang sudah keluar dari Istana Selir Agung ketiga Putri Miya untuk di antarkan pulang ke balai pengobatan dalam Istana Kekaisaran Tang Agung.
Chen Si Lei akhirnya menemani Miya pada malam hari itu untuk menjaga Miya dan janin nya tetap aman terkendali.
Selir Agung pertama Shia Chu Chu merasa sedih sekali karena Kaisar Tang Agung batal untuk mengunjungi dirinya karena Selir Agung ketiga Putri Miya sakit pada malam hari itu.
Pada pagi harinya, Chen Si Lei mengunjungi Shia Chu Chu dengan tatapan mata marah sekali kepada Shia Chu Chu karena mengirimkan makanan berbahaya untuk Miya yang saat ini sedang hamil muda.
"Aku tidak tahu kenapa buah nanas bisa berada di dalam makanan yang aku kirim untuk Miya ",jawab Shia Chu Chu takut.
"Benarkah kau tak tahu tentang buah nanas itu ?", tanya Chen Si Lei menatap Shia Chu Chu.
"Iya aku. .aku",jawab gadis itu gugup dan bingung.
"Sudahlah, pokoknya untuk hari ini kau di larang kirim apa pun kepada Miya atau jika terjadi sesuatu kepada Miya. Aku akan menghukum mu ", kata Chen Si Lei.
"Iya aku tahu ", jawab Shia Chu Chu mundur dari tatapan mata tajam sekali yang menakutkan bagi dirinya itu.
"Ayo kita kembali ke Istana ku",kata Chen Si Lei berjalan keluar dari Istana Selir Agung pertama Shia Chu Chu di ikuti oleh para pasukannya yang sudah siapkan kudanya dengan cepat.
Kabar tentang Shia Chu Chu yang berniat untuk membunuh janin Miya terdengar oleh Ibu Suri Ling yang segera memerintahkan Dewan Agung bagian harem Kaisar Tang Agung khusus untuk Selir Agung Kaisar Tang Agung untuk pergi ke Istana Selir Agung pertama .
Istana Pengadilan Khusus Untuk Harem Kaisar Tang Agung.
Shia Chu Chu bersujud hormat kepada Ibu Suri Ling dan para Dewan Agung bagian harem Kaisar Tang Agung khusus untuk para Selir Agung Kaisar Tang Agung.
"Selir Agung pertama Shia Chu Chu kau sudah bersalah karena sudah nyaris bunuh janin yang di kandung oleh Selir Agung ketiga Putri Miya dengan memberi makanan berbahaya bagi keselamatan Selir Agung ketiga Putri Miya dan janin calon bayi Kaisar Tang Agung dan cucu Ibu Suri Ling. Maka kau harus di hukum mati sebagai seorang pembunuh keji",kata Dewan Agung bagian harem Kaisar Tang Agung khusus untuk para Selir Agung Kaisar Tang Agung.
"Silakan pilih hukuman mati untuk mu",kata Ibu Suri Ling memerintahkan para anggota pengadilan tersebut untuk membawakan alat untuk hukuman mati bagi Shia Chu Chu yang pucat sekali.
"Aku pilih minum racun ", jawab Shia Chu Chu meneteskan air mata sebelum mati minum racun khususnya.
Shia Chu Chu tewas dalam seketika itu juga dan di singkirkan ke pemakaman umum dan gelar Selir Agung pertama jatuh ke tangan Miya yang pintar sekali bisa mengambil hati Ibu Suri Ling untuk berpihak kepadanya dan Yuen Mi Mi naik ke posisi Selir Agung ketiga, lalu untuk posisi Selir Agung ke empat kosong kembali.
Sementara itu Chen Si Lei sama sekali tidak memusingkan masalah posisi untuk para harem nya, karena Chen Si Lei sibuk dengan urusan pemerintahan dan lain yang sedang menunggu untuk di selesaikan olehnya, terutama menyangkut dunia persilatan yang belum ia selesaikan sampai saat ini.
"Hutan dua puluh tiga bambu runcing belum aku taklukkan, maka aku harus tetap kembali ke hutan itu sebelum menuju ke gunung Shimen yang harus aku selidiki ", kata Chen Si Lei di dalam ruang kerja pribadinya.
"Paduka hamba harus ikut untuk menemani anda ", kata Si Pemabuk Gila Wu Sin Hao hadir di ruang kerjanya.
"Kami juga Laskar Harimau Rajawali Emas Sakti",kata Laskar Harimau Rajawali Emas Sakti serentak untuk menemaninya ber petualang di dalam dunia kangouw.
"Ya baiklah kalian boleh ikut serta dalam petualangan ku ",jawab Chen Si Lei.
"Terimakasih Paduka ", jawab Si Pemabuk Gila Wu Sin Hao dan Laskar Harimau Rajawali Emas Sakti ceria sekali.
"Ya baiklah kita akan berangkat lusa hari setelah aku mengatur semua orang yang berada di dalam Istana Kekaisaran Tang Agung untuk menjaga keamanan dan keselamatan Kekaisaran Tang Agung bersama -sama ", kata Chen Si Lei.
__ADS_1
"Ya Paduka kami siap melayani anda ", jawab Si Pemabuk Gila Wu Sin Hao dan Laskar Harimau Rajawali Emas Sakti serentak.
"Ya sudah sekarang kalian pulang ke rumah kalian masing - masing dan istirahat sampai dua hari kita berangkat ke luar rumah kita masing - masing ", kata Chen Si Lei kepada mereka semua.
Chen Si Lei sudah melihat kedatangan Li Shao Ning ke ruang kerja pribadinya dan menatapnya untuk istirahat bersama Li Shao Ning.
"Ya, aku datang kepadamu ", kata Chen Si Lei berjalan menuju Li Shao Ning yang meraih jemari nya untuk keluar dari ruang kerja.
Li Shao Ning mengajak Chen Si Lei duduk bersama di paviliun taman bunga milik istana Chen Si Lei. Dan mereka berdua menikmati keindahan alam di malam hari dengan kemesraan yang terpancar dari mereka berdua sampai waktu untuk tidur bersama di dalam kamar tidur milik Chen Si Lei.
"Kau tidak pergi ke Istana Permaisuri Chien Ning untuk menemaninya sebagai istri mu juga ?", tanya Li Shao Ning di pelukan Chen Si Lei yang berbaring bersama Li Shao Ning.
"Tidak, aku hanya ingin bersama mu ",jawab Chen Si Lei memainkan daun telinga kanan Li Shao Ning dengan bibirnya .
"Kau tidak adil terhadap para istri mu yang lainnya. Mereka juga berhak untuk mendapatkan kebutuhan jasmani dan rohani dari mu",kata Li Shao Ning berbalik untuk berhadapan dengan Chen Si Lei yang membelai lembut bibirnya dengan bibir Chen Si Lei sendiri.
"Aku tidak ada gairah bercinta bersama mereka. Aku lebih tertarik kepada mu ",kata Chen Si Lei yang mulai mencium seluruh tubuh Li Shao Ning dengan halus dan lembut sehingga Li Shao Ning tidak bisa menolak keinginan suaminya untuk bercinta sebelum mereka tidur.
"Karena kau cinta kepada ku tapi mereka juga perlu diperhatikan dan di cintai oleh mu",kata Li Shao Ning yang akhirnya tertidur pulas usai bercinta dengan Chen Si Lei yang juga tertidur pulas memeluk Li Shao Ning.
Sekitar jam dua dini hari terdengar suara dentingan merdu musik kecapi yang di mainkan oleh seorang putri remaja yang amat cantik jelita sekali yang memakai gaun malam yang sangat indah sekali bagai seorang Dewi Rembulan di malam hari.
Putri itu adalah Putri Yang Yang sedang memainkan musik merdu dengan kecapi yang menjadi alat musik tradisional dan favorit nya karena Chen Si Lei yang telah mengajarkan gadis itu bermain musik sejak awal mereka berjumpa di saat Chen Si Lei masih remaja tanggung dan Yang Yang masih anak -anak.
Gadis itu teringat akan masa -masa lalu saat bermain bersama Chen Si Lei yang sangat lincah dan baik hati serta ramah kepadanya sebelum Chen Si Lei jumpa dengan Mung Fan yang menjadi kekasih pria itu, kini Yang Yang sudah remaja dan ia tahu bahwa ia sangat mencintai Chen Si Lei sebagai pria bukan sebagai kakaknya.
"Kau telah mencium bibir ku dan menyentuh tubuhku di dalam lubang rahasia itu. Aku milik mu bukan adikmu ", kata Yang Yang menangis seraya memainkan alat musik kecapi nya.
Yang Yang melihat ada seorang memandangi dirinya dari kejauhan pada malam itu, dan gadis itu terkesiap melihat Chen Si Lei berdiri di atas genteng Istana pria itu sendiri dan terkejut sekali karena Yang Yang melihatnya juga, maka pria itu segera kembali ke istananya.
"Gege ", panggil Yang Yang pelan memandang Chen Si Lei yang sudah kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Chen Si Lei tersenyum lembut sekali kepada Li Shao Ning yang baru saja terbangun dalam tidurnya pada pagi hari itu.
"Selamat pagi sayang",sapa Chen Si Lei memapah Li Shao Ning bangun tidur dari tempat tidur.
"Aku bisa sendiri ", kata Li Shao Ning yang di gendong oleh Chen Si Lei untuk pergi ke kamar mandi untuk mandi dan sebagainya dengan bantuan dari Chen Si Lei.
"Kau sedang mengandung besar sekali.Kau sulit sekali untuk bangun dan jalan, karena itu aku harus membantu mu ",kata Chen Si Lei merapikan pakaian Li Shao Ning dan merias istrinya dengan terampil sekali sampai Kasim Chang Sin tidak punya tugas pada pagi hari ini.
"Terimakasih ,suamiku ", kata Li Shao Ning di antarkan ke Istananya oleh Chen Si Lei yang menggendongnya dan berkelebat cepat.
"Sekarang kamu bisa tunggu aku di sini dengan sabar ", kata Chen Si Lei mencium Li Shao Ning sebelum pamit untuk pergi bekerja di Balairung utama Kekaisaran Tang Agung.
Istana Ibu Suri Ling.
Laporan dari pengurus dalam Istana Permaisuri Chien Ning mengenai Kaisar Tang Agung sudah lama sekali tidak pernah mengunjungi bahkan mengundang Permaisuri Chien Ning bahkan Kaisar Tang Agung belum pernah memberikan hak Chien Ning sebagai istri kedua Kaisar Tang Agung .
"Beliau terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Permaisuri Li Shao Ning di mana pun mereka berada sampai Beliau melupakan tugasnya kepada para istri Beliau yang lain yang belum pernah di sentuh oleh Kaisar Tang Agung ", lapor ibu asuh Putri Cien Ning bersujud hormat kepada Ibu Suri Ling untuk melaporkan hal itu kepada Ibu Suri Ling.
"Aku tidak bisa ikut campur urusan pribadi Paduka Kaisar Tang Agung dengan para istrinya, ia berhak untuk bersama siapa saja yang ia inginkan untuk bersama nya setiap saat. Kau bilang pada Chien Ning untuk bersabar menunggu sampai Kaisar Tang Agung bersedia untuk mengunjungi dirinya ", jawab Ibu Suri Ling.
"Baiklah hamba akan memberitahu Putri Cien Ning untuk sabar sebagai seorang istri dari Kaisar Tang Agung yang memiliki banyak sekali kesibukan dan istrinya serta keluarganya yang lain ", kata Ibu asuh Putri Cien Ning berjalan keluar dari Istana Ibu Suri Ling.
__ADS_1
Satu hari ini Chen Si Lei berkeliling ke semua orang dalam keluarganya di Istana Kekaisaran Tang Agung sebelum ia pergi ke luar Istana Kekaisaran Tang Agung untuk tugas sebagai seorang Pendekar Rajawali Emas Sakti bersama teman -temannya.
Terakhir Chen Si Lei menemui Li Shao Ning untuk menghabiskan waktu bersama wanita yang paling ia sayang di dunia ini. Lalu Chen Si Lei pada hari berikutnya berangkat ke arah hutan dua puluh tiga bambu runcing bersama para sahabat nya.