
Kota Chou.
Jemari Hong Ning sekonyong -konyong mencengkeram tangannya dan membuat Mei Hua Xing beku di tempat. Matanya kembali melirik jalan -jalan di sepanjang jalanan Kota Chou. Dia bahkan belum mengambil tindakan apa -apa saat Mei Hua Xing menariknya mendekat. Kepala gadis itu perlahan bersandar pada pundaknya.
Hong Ning berusaha menarik napas sepelan mungkin.
Mereka tidak mengatakan sepatah kata pun. Dalam keadaan seperti ini, Mei Hua Xing lebih memilih diam,meski pikirannya di buat berantakan. Asumsi -asumsi berseliweran cepat, apa Hong Ning kembali untuk mengubah tampilan barunya lagi ?Atau ia kembali teringat dengan Burung Phoenix ?Mulai rindu masa lalunya ?.
Setelah dua menit yang panjang begitu menurut perkiraan Mei Hua Xing, tangis Hong Ning mereda.Gadis itu melepaskan cengkeraman dan memandangi kembali kepalanya. Dengan mata sembab, dia memandangi Hong Ning. Bibirnya sudah mengulum beberapa kali, berusaha untuk menyampaikan sesuatu.
" Maaf. Terimakasih ", ujarnya dengan suara serak.
Pipinya perlahan merona.
" Sebenarnya ,aku tidak suka orang lain melihat ku terlalu emosional sampai lupa situasi. Tapi,aku ingat pernah membantu mu untuk mendapatkan kembali tubuh mu yang baru waktu kita di puncak gunung Bu Tong. Aku tidak tahu, aku bisa..",
"Jangan pernah berpikir bahwa aku melupakan budi baik mu ,maaf",potong Mei Hua Xing.
" Bantu aku ",pinta Hong Ning.
Mei Hua Xing mengangguk dan kembali mengajak Hong Ning ke suatu tempat di bagian selatan Kota Chou. Kemudian, ia teringat sesuatu.
" Ning ?",
Hong Ning kembali menoleh ke belakang.
"Ada apa ?",
"Sampai bertemu malam hari ini. Kita akan pergi ke rumah Marquis Chou".
Sebuah senyum samar terbit di wajahnya.
" Sampai jumpa nanti malam ",
Kediaman Marquis Chou.
Phi Li Ya hampir lupa jika malam ini adalah malam pertama dirinya berada di dalam Istana Marquis Chou. Sejak terjaga pukul lima sore dan kesulitan untuk tertidur lagi, dia malah larut dalam beberapa peristiwa hari ini. Baru ketika sinar matahari mulai meredup dari jendela, fokus Phi Li Ya terbagi. Jantungnya berdetak lebih kencang daripada sore hari ini.
" Selamat datang kepada diriku sendiri sebagai Nyonya Besar Chou ", gumam nya seraya memijit kepala yang terasa pusing akibat menatap wajah Marquis Chou selama tiga jam. Setelah malam ini, ia segera resmi sebagai pengganti kakak perempuannya yang sudah meninggal dunia karena sakit keras secara tiba-tiba.
Kalau bukan karena janjinya untuk menggantikan posisi kakaknya sebagai istri pertama Marquis Chou, dia pasti tidak akan pernah bisa bertemu dengan pemuda pujaan hatinya.
" Phi Li Ya kamu kenapa ?", tanya Marquis Chou.
Butuh tiga detik bagi Phi Li Ya untuk menyadari satu hal yang penting untuk dirinya.
" Ya, Tuan Marquis Chou ", jawab Phi Li Ya gemetar ketakutan.
" Hmmm jika kau belum siap untuk melakukan hubungan intim dengan ku ,aku tidak akan pernah memaksa mu ",kata Marquis Chou memilih keluar dari kamar tidur pengantin mereka.
Dan, begitu sadar ia telah mengecewakan suaminya sendiri, ia pun ingin sekali memanggil suaminya, tapi sesuatu yang gelap membuatnya terlelap tidur selama satu jam, Phi Li Ya meloncat dari tempat tidur dan melesat ke kamar mandi.
" Hong Ning cepat kita harus segera pergi dari sini ", kata Mei Hua Xing dari pintu kamar mandi.
Keterlambatan yang tidak bisa di toleransi.
Hong Ning bertukar pakaian secara cepat dan ringkas, kemudian Mei Hua Xing menariknya untuk pergi dari rumah Marquis Chou .
Di luar kota Chou, Hong Ning terlihat santai, tetapi kakinya berderap gelisah, ia sesekali melirik Mei Hua Xing. Kerutan di keningnya samar menghilang saat ia muncul di dalam cermin dengan napas lega.
" Aku cantik lagi ", Jelas bukan pertanyaan yang bagus untuk Mei Hua Xing.
" Ya kau cantik jelita lagi ", jawab Mei Hua Xing jengkel.
" Apakah kau berkata benar ?", Beberapa orang melirik mereka.
" Uuh,maaf,Ning. Ritme suara mu bisa di kecilkan atau tidak ?",
Kalau Hong Ning tidak bisa mengendalikan dirinya di saat itu, mungkin Mei Hua Xing tidak akan menemaninya lagi.
" Ya aku bisa berbicara pelan ,kamu bisa tenang dan makan siang bersama ku ",kata Hong Ning tersenyum bahagia melihat dirinya kembali cantik jelita sekali, meskipun ia tidak bisa sebanding dengan Mei Hua Xing apalagi kalau dengan Sin Yue Qing, tapi setidaknya ia tidak seburuk kemarin hari itu.
Rasa bersalah menggelayuti hati Hong Ning. Walaupun Mei Hua Xing bersikap tenang, intonasi suaranya tidak dapat menyembunyikan nada kekecewaan. Satu ekor kuda hitam baru tiba di rumah makan pinggir jalan kota Chi . Mei Hua Xing memilih untuk duduk di kursi meja sudut kanan atas rumah makan itu.
Mata Hong Ning menyipit dan saat dia berhasil mengenali gadis yang baru saja datang ke rumah makan itu. Hatinya lagi -lagi mencelus.
" Bukankah dia Putri Yi Lan ?", tanya Hong Ning pelan.
Perlahan, Hong Ning mendekat dan mengambil tempat duduk di samping Mei Hua Xing.
" Ya, dia Putri Yi Lan keponakan Ibu Suri Ling yang menjadi putri angkat wanita jahanam itu ", jawab Mei Hua Xing sadis.
Hong Ning menurunkan mangkuknya dan melirik Mei Hua Xing dari ekor mata.
" Kamu masih dendam ?Kamu beruntung sekali. Bukan hal mudah untuk bebas dari kehidupan Kekaisaran Tang Agung, apalagi dengan adanya Ibu Suri Ling yang super disiplin sekali ", kata Hong Ning.
Mei Hua Xing tidak langsung menanggapi ucapan Hong Ning tadi. Alih -alih ingin membalasnya, Mei Hua Xing memutuskan untuk mengabaikannya saja. Hong Ning juga mengabaikan Mei Hua Xing, seolah -olah gadis itu tidak terlihat oleh mata Hong Ning.
Sebelum mereka sadar bahwa lima menit yang lalu, Putri Yi Lan duduk di tempat mereka berdua dan menunjuk ke pintu keluar dari rumah makan itu. Kepala Mei Hua Xing hanya mengangguk lemah. Sebuah tangan menariknya untuk pergi dari rumah makan itu.
Brrrrrrrrrrrrr !!
Sekarang, mereka bertiga saling memperhatikan satu sama lain di hutan dua puluh tiga bambu runcing.
" Kamu pernah belajar tata krama, Putri Yi Lan ?", tanya Hong Ning dan Mei Hua Xing bersamaan.
Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan bermaksud untuk memulai persahabatan pada mereka berdua. Namun, Mei Hua Xing lebih cepat marah, lalu ia menarik tangan Hong Ning.
" Karena kami belum bisa memberikan maaf kepada mu,kami tidak mau menjadi sahabat mu",kata Mei Hua Xing ketus.
" Astaga, kalian sungguh pendendam sekali, dan bodoh ", tukas Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan sinis.
" Yah ,meski kami bodoh ..", kata Mei Hua Xing.
"Kami bukan seorang penipu ulung seperti mu",tambah Hong Ning dingin sekali terhadap gadis laknat itu.
Mereka melesat ke arah hutan dua puluh tiga bambu runcing dan menerobos masuk tepat sebelum bambu -bambu runcing berjatuhan ke arah mereka bertiga .Tinggal sisa reruntuhan bambu -bambu runcing yang berserakan di tanah yang awal mereka datang.
"Jadi kita tidak ada pilihan lain selain kita bersahabat ", kata Putri Yi Lan.
Hong Ning dan Mei Hua Xing akhirnya mau bersahabat dengan Putri Yi Lan.
__ADS_1
"Aku bersyukur karena kita bisa bersahabat agar kehidupan kita bisa lebih baik lagi ", kata Hong Ning berjalan bersama Mei Hua Xing.
" Setidaknya kita bisa saling bekerjasama untuk menghadapi tantangan di depan mata kita ", kata Mei Hua Xing yang sudah bersiap untuk menghadapi musuh di sekitar mereka bertiga.
" Kita bisa memperbaiki kualitas hidup kita ", kata Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan yang sudah mengeluarkan pedangnya.
" Gadis -gadis liar cepat kalian bertiga menyerah kepada kami atau kami akan memberikan peringatan keras kepada kalian !!", hardik para kaum sekte sesat Naga Hitam cabang hutan dua puluh tiga bambu runcing yang sudah memata -matai mereka secara diam-diam tanpa di ketahui oleh mereka bertiga.
" Huh siapa kalian semua berani memerintah kami?!",hardik Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan, Hong Ning dan Mei Hua Xing serentak.
" Kami adalah anggota Sekte Sesat Naga Hitam cabang kota Chou, baiklah jika kalian bertiga tidak mau menyerah kepada kami,kami tidak akan segan lagi untuk menghadapi kalian !!",hardik para pasukan Sekte Sesat Naga Hitam yang sudah berkelebat cepat untuk menyerang ketiga orang gadis itu dengan keganasan.
Tapi ketiga orang gadis itu menggunakan ilmu pedang mukjizat mereka masing - masing dengan sangat hebat sekali sehingga para pasukan Sekte Sesat Naga Hitam terkejut sekali melihat kelihaian ilmu pedang ketiga orang gadis itu.
Wuttttt! !
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Mei Hua Xing menggerakkan pedangnya menangkis serangan senjata tajam para musuh dengan ilmu pedang mukjizat bunga Lily sakti.
Wuttttt !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Trangggggg !!
Hong Ning menggerakkan payung menggunakan ilmu pedang payung biru langit menyerang para pasukan Sekte Sesat Naga Hitam dengan sangat hebat sekali sehingga para musuh terdesak hebat oleh ilmu pedang Hong Ning.
Wushhh !!
Cranggg !!
Cranggg !!
Cranggg !!
Putri Yi Lan menggunakan ilmu pedang arwah langit menghantam hancur para musuh sakti sesat dengan hebat sekali sehingga para musuh tewas hancur oleh serangan maut gadis itu.
Wuttttt !!
Bressssss !!
" Aghhhhhh !!", teriak para musuh tewas hancur oleh serangan maut dari Putri Yi Lan.
Hong Ning berkelebat cepat memenggal sejumlah orang musuh sakti sesat yang mengurung dirinya dengan ilmu pedang payung keluarga Li.
Wushhh !!
Mei Hua Xing menggerakkan pedang membabat habis kepala musuh sakti sesat dengan ilmu pedang bunga Lily sakti.
Wuttttt !!
"Gadis -gadis laknat kurang ajar !!", hardik pria sadis menggunakan ilmu mukjizat menggerakkan bambu -bambu runcing untuk menghadapi ketiga orang gadis itu.
Wuttttt !!
Ketiga orang gadis itu berkelebat cepat menghantam hancur bambu -bambu runcing dengan kepandaian mereka masing - masing.
Wushhh !!!
Bressssss !!
" Aghhhhhh! ! ",teriak pria sadis itu tewas hancur oleh serangan maut dari ketiga orang gadis itu.
" Uh berani sekali mereka mengganggu kita ", kata Mei Hua Xing menggunakan ilmu mukjizat telapak racun putih menghantam hancur para jasad musuh mereka yang berserakan di tanah hutan dua puluh tiga bambu runcing.
Wushhh !!
Blaarrrr !!
Mei Hua Xing memeluk perutnya yang tidak sakit dengan satu tangan, sementara yang lainnya memijit keningnya yang tidak terasa pusing.
Satu sentakan membuat Mei Hua Xing terkesiap. Seandainya Hong Ning dan Putri Yi Lan tidak segera mengajaknya untuk pergi dari tempat itu, dia yakin detik ini tubuhnya akan jatuh ke tanah. Hong Ning memapahnya dengan keningnya juga berkedut.
" Kalian berdua sepertinya masih menderita sakit perut karena keguguran ", kata Putri Yi Lan.
" Hah?",
Putri Yi Lan memberikan mereka berdua pil pereda sakit pasca keguguran.
" Aku pernah mengalami hal serupa dengan yang kalian berdua alami, meskipun saat itu aku sudah meninggal dunia ", kata Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan.
Hong Ning dan Mei Hua Xing memalingkan wajah mereka yang terasa panas seperti kepiting rebus. Tapi mereka berdua tidak bisa menyangkal bahwa mereka berdua penasaran ingin sekali tahu tentang jati diri Putri Yi Lan yang sebenarnya, maka mereka berdua kembali menatap wajah Putri Yi Lan.
" Siapa kau sebenarnya ?", tanya Hong Ning sambil menunjuk ke arah rumah kecil kosong.
Mei Hua Xing melangkahkan sepasang sepatu mungil nya bersama Hong Ning dan Putri Yi Lan.
" Ya aku akan memberitahukan kalian berdua siapa diriku yang sebenarnya ", jawab Putri Yi Lan atau Tang Mung Fan mengikuti langkah kedua orang gadis di depannya.
Kota Besar Jin.
Menjelang waktu makan siang, Adipati Luo Yan Zen dan Putri Jin Mi tiba di vila mereka berdua yang letaknya cukup dekat dengan laut kuning membuat suhu di tempat itu lebih tinggi daripada di dalam kota Cheng. Di sisi lain, Kota Jin telah menyuguhkan ketenangan yang tidak di sediakan oleh Kota besar Cheng.
" Jin Mi kita sudah tiba di vila ", kata Adipati Luo Yan Zen.
" Ya akhirnya aku bisa berada di kampung halaman ku sendiri ", kata Jin Mi .
"Ayo masuk ", kata Adipati Luo Yan Zen merangkul pinggang istri keduanya.
__ADS_1
Putri Tang Yang Ying menatap nanar keduanya. Sengatan matahari dan asupan gizi yang kurang tadi pagi membuatnya pusing dan lemas. Tangan Putri Tang Yang Ying dengan cepat mencengkeram lengan Adipati Luo Yan Zen sebelum ia terjatuh ke bahu jalan.
" Eh..",Adipati Luo Yan Zen lalu membimbingnya berjalan ke depan pintu masuk ke vila.
" Kamu lupa sarapan, ya ?", tanya Putri Jin Mi adik madunya.
" Sarapan, kok!",Bibirnya mengerucut.
" Aku ,kan,tadi juga bangunnya terlambat ", kata Putri Bi Xian istri ketiga suaminya
"Itu bukan alasan. Aku lebih baik terlambat di banding berpura - pura kuat, tapi malah merepotkan orang !", cecar Adipati Luo Yan Zen tanpa melepaskannya dari genggaman. Matanya menyapu pandangan ke arah para pelayan Istana mereka.
" Siapkan makanan untuk ketiga orang isteri ku ,segera !!", perintahnya.
Tanpa di Minta ulang untuk makan, mereka bertiga segera mematuhi perintah suami mereka dengan patuh.
" Kalian bertiga harus menjaga kesehatan kalian ", kata Adipati Luo Yan Zen.
" Ya suamiku ", jawab ketiga orang istrinya serentak.
Tetapi belum sempat mereka untuk makan, tiba-tiba sebuah bola meluncur ke arah vila mereka dan terjadilah ledakan dahsyat yang menimpa mereka semua di vila itu.
Duar !!
"Yang Ying. .Jin Mi..Bi Xian...!!",teriak Adipati Luo Yan Zen merangkak di bawah meja makan dan mencari ketiga orang istrinya di lantai marmer dalam ruang makan.
" Ah sakit. .Tolong. .!!",jerit tangis Putri Tang Ying Ying terimpit rak buku yang jatuh dan menimpanya.
" Ying Ying. .",Adipati Luo Yan Zen menggunakan ilmu mukjizat sakti nya untuk menyingkirkan rak buku yang menimpa istri pertamanya.
Wushhh !!
Bruakkk !!
Adipati Luo Yan Zen cepat menolong Tang Yang Yang telah bercucuran darah dari seluruh tubuhnya dan ia melihat seorang bayi laki-laki telah berhasil di lahirkan oleh istrinya.
" Ying Ying kau harus bertahan hidup ..Lihat putra kita sudah lahir ", kata Adipati Luo Yan Zen membungkus bayi laki-laki nya untuk di hadapkan kepada Tang Yang Yang.
" Aku berhasil memberikan mu keturunan laki -laki pertama. Aku minta tolong untuk kau jaga dia dengan baik ", kata Putri Tang Yang Ying menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Adipati Luo Yan Zen.
" Tidakkk!!",teriak Adipati Luo Yan Zen menangis untuk menyatakan perasaan hatinya karena kehilangan istri pertamanya.
" Yan Zen. .",panggil Putri Jin Mi dari sampingnya.
" Jin Mi bagaimana keadaanmu?", tanya Adipati Luo Yan Zen memeriksa istri keduanya.
" Aku baik -baik saja dan aku turut berduka cita atas meninggalnya Putri Tang Yang Ying ", jawab Putri Jin Mi memeluknya.
" Aku juga turut berdukacita atas meninggalnya Kakak Ying Ying ", kata Putri Bi Xian istri ketiganya .
" Kenapa terjadi masalah seperti ini di vila kita?", tanya Adipati Luo Yan Zen baru ingat lagi.
" Kita di serang oleh pasukan Sekte Sesat Naga Hitam cabang Kota Ji yang ingin membunuh kita terutama adik Kaisar Tang Agung ", jawab kedua istrinya.
" Ah mereka telah berhasil membunuh Tang Yang Ying di vila kita ", kata Adipati Luo Yan Zen cemas sekali.
" Adipati Luo Yan Zen sebaiknya jangan melawan kami atau keluarga mu akan mati di tangan kami ", kata seorang pria tua duduk di kursi satu -satunya yang utuh di vila itu.
Adipati Luo Yan Zen melihat bahwa mereka bertiga telah di kurung oleh pihak musuh Kekaisaran Tang Agung yang jumlahnya sangat banyak sekali dan ia harus berpikir cepat untuk menolong kedua orang istrinya dan putranya yang baru saja di lahirkan oleh istri pertamanya.
" Kalian berdua pergi dari sini dan selamatkan putraku dengan menginjak lantai ini ",bisik nya.
" Ya, tapi bagaimana dengan mu ?",tanya kedua orang istrinya.
" Aku pasti bisa menyelamatkan diriku sendiri ,yang penting adalah selamatkan putraku yang masih keturunan Kekaisaran Tang Agung",jawab Adipati Luo Yan Zen.
" Ya baiklah kami patuh kepada mu ",kata kedua orang istrinya yang sudah ia serahkan bayi laki-laki itu kepada kedua orang istrinya.
Lalu ia menginjak lantai yang di injak oleh kedua orang istrinya yang langsung terjatuh ke dalam tanah tanpa di ketahui oleh pihak musuh yang sudah datang untuk menghabisi mereka semua.
" Baiklah aku akan mengadu nyawa dengan kalian semua para manusia tidak tahu terimakasih !!", teriak Adipati Luo Yan Zen berkelebat cepat menghantam hancur para musuh dengan ilmu mukjizat keluarga Luo.
Wushhh !!
Bressssss !!
"Aghhhhhh !!", teriak para musuh tewas hancur oleh serangan maut Adipati Luo Yan Zen.
" Adipati Luo Yan Zen lihat ini..!",hardik pria tua sadis sekali yang berkelebat cepat memenggal kepalanya dari belakangnya.
" Bungkus dan kirim kepada Kaisar Tang Agung kita ", perintah Adipati Shang kepada pihaknya.
" Siap Adipati Shang kami laksanakan !!", sahut para pasukannya serentak.
" Yang lain cari dan temukan kedua orang isteri Adipati Luo Yan Zen dan putranya yang merupakan keponakan luar Kaisar Tang Agung ", perintah Adipati Shang.
" Siap Tuan Besar ", jawab para pasukannya yang lainnya serentak.
Brrrrrrrrrrrrr !!
Hutan Cemara Ungu.
Putri Jin Mi dan dan Putri Bi Xian membawa pergi bayi laki-laki Adipati Luo Yan Zen keluar dari vila mereka di kota Ji melalui lorong bawah tanah yang mengarah ke hutan cemara ungu.
" Jin Mi kau harus membawanya ke Istana Kekaisaran Tang Agung ",kata Bi Xian yang merasakan adanya beberapa musuh yang mengejar mereka.
" Ya, kita harus berpencar untuk keselamatan kita masing - masing ", kata Putri Jin Mi memeluk bayi itu dengan cepat, lalu ia berlari ke arah utara menuju ke arah Ibukota Kekaisaran Tang Agung.
Bi Xian pergi ke arah selatan untuk menyelamatkan dirinya dan juga bayi di dalam kandungannya sendiri.
" Ah aduh perutku sakit", kata wanita itu berjalan dengan lemas dan ia jatuh ke jurang lembah hutan cemara ungu.
Tak lama berselang seorang gadis remaja berusia lima belas tahun mendatangi Bi Xian dan menggunakan pedang mukjizat sesat memenggal kepalanya.
Brett!!
" Putri Adipati Luo Yan Zen harus mati di tangan ku !!", hardik gadis itu sudah akan mengayunkan pedang untuk memotong leher bayi perempuan yang baru saja di ambil olehnya dari perut istri ketiga Adipati Luo Yan Zen.
Tapi sebuah pedang mukjizat membabat habis kepala gadis sesat itu dengan cara cepat sekali.
"Cepat kalian ambil bayi perempuan itu dan memberikan susu ",perintah Chen Si Lei yang tiba di lokasi itu bersama para pasukannya untuk menghabisi para pasukan Sekte Sesat Naga Hitam di puncak gunung Wu.
__ADS_1
" Paduka kita harus segera mencari dan menemukan istri kedua Adipati Luo Yan Zen yang membawa keponakan anda ", kata Kasim Yong sudah memberitahu dirinya tentang musibah yang menimpa keluarga adiknya.
" Ya harus segera di temukan ", jawab Chen Si Lei menyebarkan para pasukan keamanan dan keselamatannya ke seluruh penjuru hutan cemara ungu kota Ji.