
Sedangkan di kantornya, Maxi langsung duduk di sofanya, menatap adiknya dalam-dalam.
" Bagaimana dia ada disini? " kata Hanna menuntut jawaban dari kakaknya
" Aku kan sudah bilang padamu, aku sudah menjadikannya adikku," kata Maxi
menatap Hanna
" Kau tidak bisa menjadikannya adikmu kak, dia itu mantan istrimu, bagaimana dia bisa
menjadi adikmu? Aku lah adikmu," kata Hanna keras, Maxi berdiri melihat Hanna
dari dekat.
" Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adikku, " kata Maxi lagi
Hanna terdiam, jika selama ini Maxi tidak menganggapnya adik, lalu dia siapa?
" Lalu aku ini siapa? " kata Hanna kesal,
Maxi mengenggam pergelangan tangan Hanna, menatapnya tajam
" Kau mau tahu, siapa kau ini bagiku? " kata Maxi tampak tidak tahan lagi
menahan semua gejolak di dalam hatinya.
" Iya. " kata Hanna seperti menantang kakaknya
" Kau bukan adikku, aku selalu berharap kau bukan adikku, karena dari awal aku
mengenalmu, aku jatuh hati padamu. " kata Maxi menatap Hanna dengan sangat
dalam
Hanna terdiam, dia tidak tahu selama ini Maxi menaruh hati padanya, yang dia tahu,
dari awal Maxi begitu baik padanya, memberikan seluruh perhatiannya pada Hanna, memberikan semua yang diinginkan oleh Hanna, bahkan walaupun itu permintaan
yang sangat tidak mungkin, Maxi pasti ada untuknya.
" aku menyukaimu, tapi aku tidak bisa apa-apa, ayahku menikah dengan ibumu, aku sudah berusaha setiap saat untuk membunuh perasaanku, namun setiap hari aku malah
semakin menyukaimu. " kata Maxi dengan tatapan suram
Hanna terdiam, dia tidak bisa berkata apapun...
" Saat aku tahu kau menyukai Andra, hatiku hancur, tapi aku tidak bisa apa-apa, di
matamu aku hanya seorang kakak yang baik, awalnya aku ingin Andra merasakan
__ADS_1
bagaimana sakitnya, jika orang yang kita sayangi, malah bersama orang lain, aku
mencoba merebut Ayatha, berbohong tentang pertunangan kami, saat kau mengirim
foto Andra dan Ayatha, memintaku untuk cepat menikahi Ayatha, aku langsung
melakukannya hanya ingin kau bisa bahagia, kau bisa mendekati Andra, walaupun
sebenarnya hatiku hancur. " kata Maxi tampak meluapkan semua perasaannya.
Setelah itu matanya berubah suram...
" Tapi aku salah, aku tidak seharusnya melakukan itu, Ayatha hanya korban, korban
pelampiasan kita, aku memang tidak akan bisa bersamamu sampai kapan pun, tapi
kau dan Ayatha pun tidak akan bisa mendapatkan Andra, mulai sekarang, aku ingin benar-benar menebus semua kesalahan aku pada Ayatha, mulai sekarang aku juga
akan melepaskanmu. " kata Maxi dengan suara berat, melepaskan tangan Hanna
yang masih syok mendengar pengakuan kakaknya.
" Kakak, maafkan aku, aku tidak tahu perasaanmu, " kata Hanna tercekat
" Bukan salahmu, itu salahku, kau seharusnya memang tidak tahu, maafkan aku selama ini
menutupinya, aku harap suatu saat kau akan bertemu dengan orang yang pantas
tetap tersenyum, namun dia memang harus belajar melepaskan Hanna karena
bagaimanapun, Hanna hanya adiknya.
" Terima kasih Kak, " kata Hanna memeluk kakaknya, Maxi tidak bisa menahan
kesedihannya, namun dia tidak membalas pelukan Hanna, dia lalu melepaskan Hanna.
" Tolong, sekarang, jangan lagi bertengkar dengan Ayatha, dia juga sama menderitanya, dia dan kau tidak akan bisa bersama dengan Andra, Andra akan bertunangan dengan Nadine. " kata Maxi melihat adiknya yang kelihatan sedih
" Iya, aku tahu, " kata Hanna
" Kalau kau mau, aku rasa Wayren masih singel. " kata Maxi tertawa kecil, dia tahu
adiknya sangat tidak suka dengan Wayren
" Aku lebih baik sendiri seumur hidup dari pada harus bersama Wayren, " kata Hanna
cemberut, menangkap candaan kakaknya
" Jangan, wanita cantik sepertimu pasti akan mendapatkan orang yang baik nantinya, "
__ADS_1
kata Maxi, suaranya bergetar mengatakannya
" Kakak juga, ehm...aku rasa Christine lumayan, " kata Hanna menghapus air matanya yang berkumpul di ujung mata
" Haha, aku sudah mematahkan hatinya, mana mungkin lagi kembali, " kata Maxi
tertawa
" Terkadang hati wanita itu susah di tebak, hati mereka boleh hancur, namun mereka juga
bisa memaafkan seperti samudra, " kata Hanna
" Akan ku coba nanti, " kata Maxi
" Baiklah, aku harus kembali ke rumah sakit, atau nanti gajiku akan kakak potong, "
kata Hanna bercanda
" Iya, kalau kau selalu terlambat, aku akan memotong gajimu, " kata Maxi
" Ok kalau begitu, semoga harimu menyenangkan Kak, " kata Hanna, mengecup pipi kakaknya sebentar lalu keluar dari ruangan kakaknya, Maxi hanya melihat
kepergian Hanna, mulai hari ini dia akan melepaskan gadis itu. Maxi menghembuskan napasnya panjang, lalu dia berjalan keluar, menuju keruang tunggu.
Maxi menghapus sedikit air mata yang ada di matanya yang basah, dia segera membuka
pintu kantornya, dia melihat Ayatha yang sedang terdiam menatap jendela. Dia mengernyitkan dahinya
" Ada apa? Maaf menunggu lama, " kata Maxi
" Oh, tidak apa-apa Kak, Kakak bisakah jika aku ingin pindah, " kata Ayatha
menatap Maxi, Maxi menernyitkan dahi
" Pindah? ke mana?" kata Maxi
" Ke suatu tempat, tempat yang jauh dari sini, " kata Ayatha mencoba tegar,
namun suaranya bergetar
Maxi menatap lekat pada Ayatha, dia tahu kesedihan dari mata Ayatha terpancar sangat dalam.
" Baiklah, aku akan mengatur perpindahanmu, aku juga akan mencarikan guru khusus untukmu di sana, belajarlah... aku akan sering mengunjungimu, tapi berjanjilah padaku,
jangan pulang sebelum sekolahmu selesai, " kata Maxi lagi mengulas senyum
" Terima kasih kak, aku berjanji, " kata Ayatha menghambur ke Maxi
Maxi menerima pelukan Ayatha dengan hangat, 1 hari ini dia mendapatkan 2 pelukan
__ADS_1
perpisahan dari 2 wanita yang pernah hinggap di hidupnya.
Perpisahan memang salah satu jenjang kehidupan, namun merelakan 2 orang sekaligus dalam 1 hari... kenapa hidup begitu kejam?