
Wayren duduk di kursinya, bersebelahan dengan ibunya, ibunya melihat Wayren yang
kelihatannya tidak mood, ibunya sedikit berkernyit, kenapa kedua anaknya hari
ini terlihat sedang tidak baik moodnya. Tak lama Nadine datang, dia juga
kelihatan masih kesakitan, dia dengan cepat duduk di sebelah Andra.
" Semua sudah berkumpul, mari kita makan malam, " kata Nyonya Renata mencairkan
suasana.
Setelah semuanya selesai makan, mereka masih duduk dimeja makan, Tuan William orang yang sangat ramah, dia selalu bisa mencari bahan obrolan, membuat suasana makan malam itu lumayan mencair.
" Wayren, jadi apakah kau juga sudah punya calon tunangan ?" tanya Nyonya Cantika
pada Wayren
" Tidak, aku tidak mau di jodohkan, aku sudah punya seseorang yang aku sayangi, "
kata Wayren menatap kakaknya dengan lekat-lekat, Andra juga menatapnya, lalu
menyerumput minumannya.
" Wah, gadis itu pasti sangat beruntung, " kata Nyonya Cantika
" Ya aku harap, " kata Wayren seadanya.
" Jadi langsung saja ke inti pembicaraan kita hari ini, kapan kita akan melangsungkan
pertunangan Andra dan Nadine? " kata Tuan William menatap sahabatnya, Tuan Ray.
Andra mengepalkan tangan, dia sudah bertekat, hari ini apapun yang terjadi dia akan
membatalkan pertunangannya dengan Nadine, bahkan jika itu artinya dia harus
melepaskan semuanya, sekarang, tidak ada yang lebih penting dari pada Ayatha.
Wayren menatap kakaknya, dia tahu apa yang akan di lakukan kakaknya hari ini, sudut
bibirnya naik sedikit, tanda dia tersenyum, dia senang, namun juga ada perasaan
tidak suka, jika kakaknya benar-benar melakukannya, dia pasti benar-benar harus
melepaskan Ayatha.
Nadine juga melihat kearah Andra, dia akan melakukannya?, Nadine tampak gusar.
" Ayah " kata Andra mantap
" Andra, sebelumnya ada yang ingin ayah katakan, " kata Tuan Ray mendahului Andra,
menatap Andra lembut, Andra kaget, ayahnya tidak pernah berbicara begitu lembut
padanya, biasanya hanya ada nada keras jika ayahnya selalu berbicara padanya.
Wayren mengerutkan dahinya, menangkap ada yang aneh dari cara bicara ayahnya.
Tuan Ray yang duduk di samping Andra berdiri, menatap Andra, Andra juga melihatnya.
" Kemari lah, " kata Tuan Ray, Andra dengan tatapan masih terkejut dan bingung
melihat tingkah ayahnya, dia lalu berdiri mengikuti keinginan ayahnya.
" Ayah rasa ini waktu yang tepat, di depan semua orang, ayah minta maaf,
memperlakukanmu tidak adil, " kata Tuan Ray dengan nada yang lirih
Tuan Ray tiba-tiba memeluk Andra, Andra terpaku, masih tidak percaya apa yang dilakukan ayahnya. Dia terdiam, mematung.
19 tahun dia menunggu, untuk sebuah pelukan, untuk sebuah pengakuan bahwa dia adalah anaknya. Malam ini dia bisa merasakannya... hanya sebuah pelukan hangat dari ayah ke anak.
Tiba- tiba semua emosi, semua rasa rindu, semua rasa yang di pendamnya selama ini,
semuanya keluar malam ini. Bahkan tubuhnya sampai gemetar merasakan hangatnya
pelukan Tuan Ray, Ayah... kemana saja kau selama ini?, pikir Andra.
Bukan hanya Andra yang terkejut dengan kelakukan ayahnya, Nyonya Renata pun tidak percaya apa yang dilihatnya, Tuan Ray memeluk Andra, dulu bahkan untuk tersenyum pada Andra saja Tuan Ray sangat susah, kenapa malam ini? Nyonya Renata menatap tanpa bisa percaya, air matanya turun sendiri, tanpa bisa di bendung.
Wayren juga terkejut apa yang di lakukan oleh ayahnya, namun dia seketika muak dengan
pemandangan itu, apa yang sekarang dilakukan ayahnya? Pasti ada sesuatu yang
sedang di rencanakan ayahnya, dia tahu..karna ayahnya bukan orang yang bisa
berubah hanya dalam waktu 1 hari .
" Ayah ingin megatakan sesuatu yang seharusnya ayah katakan dari dulu, ayah bangga padamu, " kata Tuan Ray menatap anaknya, memegang kedua lengan Andra, Andra masih tampak syok, namun air matanya terlihat mengalir, dia sangat rindu, rindu di perlakukan seperti seorang anak, dia sudah menunggu ayahnya terlalu lama,
ini kah rasanya? Sejak kecil dia selalu cemburu pada Wayren, ketika ayahnya
memeluknya, ketika ayahnya mengendong Wayren, dia hanya bisa menatapnya, tak
berani mengatakan apapun, apalagi meminta. selama ini dia selalu berkerja keras
__ADS_1
agar jadi seseorang yang membanggakan ayahnya, apapun walau sangat sulit,
menentang hati nurani dan keinginannya, dia akan lakukan demi mendapatkan
perhatian dan pujian dari ayahnya, Malam ini dia tak tahu kenapa dan apa
alasannya... Namun apa yang selama ini di inginkannya akhirnya terwujud, ayahnya akhirnya mengakuinya.
" Ayah sangat bangga, kau tumbuh jadi anak yang seperti ayah harapkan, dan sekarang
ayah sangat senang bahwa akhirnya kalian juga akan bertunangan, ayah harap kau
tidak akan mengecewakan ayah " kata Tuan Ray tersenyum menatap Andra lalu
melihat kearah Nadine
Andra terdiam, dia melihat kearah Nadine, seketika otaknya berhenti, rasa bahagianya
pun berganti bimbang, sekilas banyangan wajah ayatba muncul di pikirannya,
namun wajah ayahnya yang sekarang ada di depannya terlihat sangat senang,
sangat sumringah, dia belum pernah seumur hidup melihat raut wajah ayahnya yang
begitu lembut dan senang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tahu dia
harus membatalkan pertunangan ini untuk Ayatha.. tapi dari hati kecilnya rasa
untuk membanggakan ayahnya masih ada, dan ini sudah terjadi... Andra seperti
tidak bisa berpikir.
Beberapa menit yang lalu, dia sudah mantap untuk melangkah, memutuskan apapun yang terjadi dia akan memilih Ayatha, sekarang...semua yang ada di benaknya hanya keraguan...
" Wah, bagaimana kalau pertunangan Nadine dan Andra kita laksanakan 2 minggu lagi?
Semakin cepat itu semakin bagus bukan?" kata Tuan William menimpali turut
senang dengan keadaan ini.
" Bagaimana? Kau setuju Andra? " kata Tuan Ray menepuk pundak Andra, Andra menatap
tangan ayahnya, perasaan akrab yang di berikan ayahnya malah terasa menyesakkan
sekarang...
Ayatha adalah segalanya baginya, dunianya berputar karena Ayatha, bahkan dia hanya
bisa bernapas jika di dekat Ayatha.
doakan agar terjadi, Andra menatap ibunya yang terlihat matanya sembab namun
senyumnya sangat bahagia, dia belum pernah melihat ibunya tampak begitu lega.
Wanita itu telah mengorbankan segalanya untuk dia dari kecil, menjaganya,
mendukungnya, menyayanginya bahkan lebih dari anak kandungnya sendiri. Haruskah
dia mengecewakan ibunya sekarang?
" Baik Ayah, aku setuju, " kata Andra menatap Tuan Ray, Tuan Ray dan Tuan William
sangat senang, begitu juga dengan Nadine, dia langsung berdiri dan mengandeng
tangan Andra. Nyonya Renata tak kalah senangnya, dia langsung memeluk Andra.
" Kau memilih pilihan yang tepat Nak, " bisik Nyonya Renata pada Andra, Akhirnya tidak akan ada lagi yang menghalangi
kedudukan Andra di keluarga itu, menikahi Nadine akan memperkukuh kedudukan Andra,
dan Nyonya Renata sangat senang dengan hal itu.
Andra tak bisa tersenyum, wajah masih datar, hatinya sakit...jauh lebih sakit daripada
hal-hal yang dulu di korbankannya, seketika dia merasa seperti tak hidup,
merasa kosong, hampa di tengah seluruh kegembiraan dan senyuman di ruangan itu.
Wayren pun tidak larut dengan kebahagian itu, dia hampir tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Andra, dia menatap Andra dengan tatapan yang tidak percaya, Andra
yang menangkap tatapan itu hanya bisa menunduk.
" Permisi, aku rasa aku sedikit pusing, aku harus kembali ke kamar, " kata Wayren
yang muak dengan keadaan yang ada disana, lagi pula dia masih emosi dengan
keputusan yang di ambil oleh Andra. apa dia sudah gila? Lalu bagaimana dengan Ayatha?
Pikirnya
" Oh, baiklah, istirahatlah, kau sudah bekerja dengan keras di ujianmu, " kata Tuan
Ray
Wayren berjalan keluar dari ruang makan itu, emosinya sangat tidak stabil, dia tidak
__ADS_1
bisa membayangkan apa yang terjadi pada Ayatha, sudah dia bilang, jangan
menyukai kakaknya, sekarang dia akan terluka lagi.
____________________________________________
" Apa yang kau lakukan? " kata Wayren menerobos masuk ke kamar kakaknya, dia
tidak lagi mengetuk pintu kamarnya
Andra hanya terdiam, dia tidak ingin melayani adiknya sekarang, dia juga tidak tahu apa
yang dia lakukan tadi.
" Kenapa kau setuju bertunangann dengan Nadine? Bagaimana dengan Ayatha? " kata Wayren
lagi berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak
" Aku juga tidak tahu, aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan tadi, aku juga tidak
tahu apa yang akan terjadi pada Ayatha " kata Andra terbawa emosi, menatap adiknya dengan tajam
" Kau pengecut, " kata Wayren
" Kau hanya tidak tahu bagaimana perasaanku, "
" Aku tahu perasaanmu, jangan bilang aku tidak tahu... Oh, akhirnya Ayah dapat
menerimaku? Akhirnya Aayah memandangku? tapi apa kau tidak bisa merasakan semua yang di lakukan oleh Ayah tadi hanya pura-pura, dia hanya mempermaikanmu, " kata Wayren
Andra terdiam...
" Terserah kau pikir aku iri atau bagaimana? Aku kenal Ayah, dia bukan orang yang seperti
itu, lagi pula, kau yakin mengorbankan Ayatha hanya untuk Ayah? Orang yang
membuat hidupmu seperti ini? " kata Wayren lagi
" Aku tidak hanya melakukan itu untuk Ayah, aku juga melakukannya untuk Ibu dan
keluarga kita, kau tidak tahu betapa pentingnya perjodohan ini? " kata Andra
memandang Wayren tajam.
Wayren tersenyum sinis melihat kakaknya...
" Aku kira kau sudah berubah, ternyata tidak! kau lebih baik jangan bertemu dengan Ayatha
lagi, tinggalkan dia, jangan pernah memberikan harapan apapun padanya, dia
sudah cukup menderita, " kata Wayren menujuk ke arah kakaknya dengan emosi
lalu pergi.
Andra menghempaskan apapun yang dia pengang mencoba melampiaskan emosinya, dia sekarang benar-benar kacau, dia tidak bisa memilih, antara ayahnya atau Ayatha
sekarang.
____________________________________________
Wayren berdiri di depan ruang kerja ayahnya, menatap ayahnya yang serius mengerjakan
sesuatu, Tuan Ray lalu melihat Wayren yang berdiri menatapnyanya.
" Ada apa Wayren? " kata Tuan Ray melihat Wayren, Wayren tersenyum sinis sambil
melihat ayahnya, dia segera duduk di sofa di depan meja kerja ayahnya.
" Kau hebat Ayah, " kata Wayren masih dengan senyum sinisnya
" Maksudmu?"tanya Tuan Ray yang seperti tidak mengerti maksud Wayren
" Pertunjukan Wayren
" Apa maksudmu Wayren? " kata Tuan Ray sedikit tersenyum
" Ayolah Ayah, aku tidak semudah itu tertipu dengan taktikmu itu, apapun itu,
selamat kau sudah mempermainkan semua orang tadi, " kata Wayren berdiri,
tidak ada gunanya lagi berbicara dengan ayahnya
" Kau tahu, aku selalu suka dengan sifatmu, " kata Tuan Ray
" Kenapa? karena kita mirip? Maaf Ayah... tapi aku tidak ingin sepertimu, " kata Wayren lagi
" Untuk apa bermain keras, jika melembut hasinya lebih baik bukan? " kata Tuan Ray
" Kau sungguh menakutkan, terkadang aku berpikir kenapa aku punya Ayah seperti mu, dan kenapa Andra sangat memujamu, kau belum cukup merusak hidupnya? " kata Wayren
kesal
" Aku sedang menolongnya, itu saja, " kata Tuan Ray
" Kau hanya menolong dirimu dan perusahaanmu, itu saja, " kata Wayren lagi,
__ADS_1
meninggalkan ayahnya yang terdiam.