
2 minggusudah Andra di rawat, dia masih koma, hidupnya tergantung dengan alat-alat,
beberapa kali dia mengalami syok, namun tetap saja bisa kembali.luka luarnya
memang sudah menyembuh, namun luka dalamnya masih parah.
Wayren hari ini datang untuk melihat Andra, Risa ikut dengannya, mereka masuk dan melihat keadaan Andra, keadaan Andra tak banyak berubah, masih tidur dengan nyaman dan nyenyaknya, bahkan terlalu tenang sehingga terkadang membuat orang khawatir,
apakah dia sudah bertemu Ayatha di alam sana?, Wayren tidak bisa terlalu lama
menatap kakaknya seperti itu, hatinya tidak kuat.
Wayren keluar dengan menahan emosinya, tangannya mengepal... Risa mengejarnya.
" Kak Andra akan baik-baik saja, " kata Risa lagi.
Wayren menatap Risa, Risa bisa melihat Wayren sangat frustasi. sejak Ayatha meninggal, Wayren memang seperti orang yang depresi, dia lebih banyak diam dan menyendiri.
" Aku tidak mencemaskan Andra, aku malah berpikir untuk membiarkannya mati," kata Wayren dingin
" Apa maksudmu? Dia itu Kakakmu? " kata Risa kaget dengan apa yang dikatakan oleh Wayren
" Apa kau tahu rasanya jadi aku, saat dia bangun, aku harus mengatakan padanya bahwa wanita yang dia cintai sudah tidak ada di dunia, kau tahu bagaimana beratnya itu? Ini
bukan pertama kalinya dia kehilangan orang yang dia cintai, menurutmu apa yang
harus aku lakukan jika dia bangun? " kata Wayren dengan nada tinggi
Risa terdiam, dia bisa merasakan kesedihan Wayren, tapi membiarkan Andra mati bukan
lah hal yang benar.
" Kita akan memberitahukannya perlahan, kita akan membuat dia kembali membaik." kata Risa sambil memegang tangan Wayren, mencoba membuatnya dia tenang, Wayren merasakan kehangatan tangan Risa membuat hatinya tersentuh, gadis ini yang menemaninya setiap saat di masa-masa terendahnya.
Wayren memeluk Risa, mencium kepalanya, merasakan sayang yang begitu dalam... dia
tidak akan bisa kehilangan Risa.
" Maafkan aku, " kata Wayren
" Iya," kata Risa lagi.
" Ayo, kita lihat Andra lagi" kata Wayren
" Baiklah" kata Risa
Mereka kembali ke ruangan Andra, duduk di sampingnya, Risa menceritakan apapun
tentang hari ini, orang bilang jika koma satu-satunya yang berfungsi hanya pendengaran, jadi mereka mengajak Andra untuk ngobrol walapun tidak ada reaksi mereka dengan sabar menceritakan semuanya.
Hampir 1 bulan dirawat, akhirnya Andra membuka matanya, dia terlihat biasa saja, hanya terlihat bingung dengan suasananya.
__ADS_1
Wayren segera datang begitu mendapat kabar. Dia segera berlari menuju kamar Andra. Andra masih di periksa oleh beberapa dokter saat Wayren datang.
" Tuan Wayren, keadaan Tuan Andra stabil, namun aku sarankan untuk tidak memberikan tekanan apapun padanya, " kata
dokter itu melaporkan keadaan Andra. Nyonya Renata juga sudah ada disana.
Andra masih terlihat tidak bisa di ajak bicara, hanya menatap kosong, dia sesekali menatap
ibunya dan Wayren, Nyonya Renata tersenyum senang namun matanya terlihat basah, Wayren berdiri di samping ranjangnya.
" Halo Kak, tidurmu lama sekali, " kata Wayren tersenyum
Andra mencoba untuk tersenyum, namun agak susah.
" Ayatha, " kata Andra pelan, sangat pelan hingga susah untuk di dengar oleh Wayren dan Nyonya Renata, namun Wayren tahu. Dia mengigit bibirnya.
" Sembuhlah dengan cepat, aku akan membawamu ke Ayatha, " kata Wayren menahan agar tidak menunjukkan wajah sedih. Nyonya renata menatap Wayren, dia berbalik, menyeka air matanya yang keluar. Andra menatap ibunya.
" Iya, nanti Wayren akan mengantarmu ke tempat Ayatha, aku yakin dia juga menantimu, " kata Nyonya Renata dengan sangat lembut, dia tersenyum, membuat Andra tersenyum.
Waktu berlalu, Andra mulai menunjukkan kemajuan yang pesat, dia benar-benar melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Hari ini, hari pertama dia melakukan fisioterapi, setelah 2 bulan lebih berbaring rasanya agak kaku untuk berjalan, otot-otot penyangganya sudah terlalu lama tidak
digunakan, apa lagi dokter memang mengatakan Andra pasti kesulitan berjalan
karena beberapa masalah yang di timbulkan efek dari kecelakaan itu.
Andra mencoba berjalan diantara 2 tiang yang ada disana, dia berjalan tertatih, Wayren
terlihat dari bulir keringat yang ada di dahinya, sesekali dia meringis kesakitan, Wayren jadi cemas.
Andra tetap memaksakan dirinya, tekad terlihat sekali di wajahnya, sesekali melihat adiknya yang berdiri di sampingnya, menatap dirinya dengan perhatian.
Andra terus memaksa dirinya, sedikit kesal karena hanya berjalan saja dia tidak bisa?
bagaimana akan bertemu Ayatha jika berjalan saja dia tidak bisa? bagaimana akan
menjaga wanitanya jika begini saja menyerah? namun tubuh Andra juga punya
batas, dia lalu terjatuh, untung saja Wayren disitu, dia langsung menangkap
tubuh Andra.
" Kak, pelan-pelan saja, ini hari pertamamu, tubuhmu belum menyesuaikan, kata dokter
kau tak perlu terburu-buru, tidak ada juga yang kita kejar," kata Wayren tersenyum memberi nasehat pada kakaknya.
Andra menatap Wayren dalam...
" Aku ingin bertemu Ayatha secepatnya, dia pasti khawatir padaku kalau melihat
__ADS_1
keadaanku seperti ini, aku harus cepat sembuh," kata Andra
Wayren terdiam... dia tak tahu harus bicara apa?, hatinya nyeri mendengar kata-kata Andra, apa yang akan terjadi kalau dia tahu orang yang dia jadikan motivasi untuk
sembuh sebenarnya sudah tidak ada.
" Kira-kira bagaimana keadaannya? " kata Andra menatap Wayren, berharap Wayren tahu keadaan Ayatha sekarang.
" Aku rasa dia baik-baik saja di sana," kata Wayren kecut, mendengar
itu Andra tertawa senang, dia kira memang Wayren tau keadaan Ayatha, dan dia baik-baik saja.
" Baguslah, aku tak ingin dia merasakan sakit seperti ini, " kata Andra lagi, dia
benar-benar kesakitan, terlihat butir keringat mengalir di pipinya yang halus
" Ya, dia tidak akan merasakan sakit apapun, " kata Wayren sedih, matanya suram, namun cepat dia mengalihkan wajahnya hingga Andra tak dapat melihatnya.
Andra tersenyum manis, lalu berusaha bangkit lagi.
" Lepaskan aku, aku akan berlatih lagi," kata Andra
" Kakak, hari ini istirahatlah, kau sudah mandi keringat, kalau Ayatha melihatmu terlalu
memaksakan diri seperti ini, walaupun alasanmu untuk menemui dia, dia pasti
akan sedih, " kata Wayren menatap kakaknya dengan tatapan sedih, Andra mengernyitkan dahinya, hanya menangkap
kesedihan itu karena kekhawatiran adiknya.
" Baiklah, ehm.. aku heran
apa yang membuatmu begitu berubah hanya dalam waktu 2 bulan, kau sekarang
sangat dewasa," kata Andra tersenyum, dokter membawakan kursi roda agar Andra bisa duduk.
Wayren terdiam, kematian Ayatha lah yang mengubahnya, namun dia tidak bisa
mengatakannya. kematian Ayatha membuat dia berubah dalam memandang kehidupan,
ternyata kita sangat rapuh, sangat mudah hilang dan kehilangan. kau bisa
berangan untuk hidup 100 tahun, namun jika sudah takdir yang berbicara, nasibmu
pun berubah dalam sekejab mata.
Andra di dorong oleh perawat kembali ke kamarnya, dia sebenarnya sedih. dia ingin sekali bertemu dengan Ayatha, ingin tahu keadaannya, apakah dia parah? apakah yang
terjadi padanya sama dengan yang terjadi pada Ayatha? kalau iya, gadis itu
pasti sangat menderita.
__ADS_1
Andra ingin menemuinya, tapi dengan keadaan dia seperti ini, dia takut malah memperburuk keadaan Ayatha, menjadi beban baginya, karena itu dia harus cepat sembuh,karena jika memang Ayatha juga bernasib sama, dia ingin ada di sampingnya
memberikan semangat dan kasih sayangnya. dia yakin bisa secepatnya sembuh.