Meadow

Meadow
Kemana dia pergi?


__ADS_3

Andra mengerjakan pekerjaannya dulu, baru dia menemui Tresna. setelah dia membuka pintu, Tresna langsung menghambur mendekatinya, hampir saja akan memeluk Andra jika andra tidak mengambil beberapa langkah mundur kebelakang.


" Aku rasa kelakuanmu ini sudah diluar batas, " kata Andra dingin, membuat siapapun akan takut mendengarnya, namun tidak bagi Tresna.


" Maafkan aku kak, " kata Tresna pura-pura sedih


" Aku pria yang sudah memiliki istri, jika kau tetap seperti ini, maaf kita tidak akan lagi bertemu, " kata Andra.


" Kakak, jangan begitu, " kata Tresna, matanya berkaca-kaca


Andra merasa sedikit tidak enak hati melihat Tresna, namun dia hanya diam saja.


" Kakak, aku tahu kau punya istri, tapi aku tidak bisa menahan diriku, rasanya aku hanya bisa nyaman jika berdekatan denganmu, kau tahu ini sangat menyiksaku, " kata Tresna memegang dadanya.


" Tapi aku tidak bisa, maaf, " kata Andra dingin.


" Kakak, biarkan aku jadi adik angkatmu, aku juga tidak ingin merusak hubunganmu dengan istrimu, tapi aku hanya ingin bisa tenang, tidak tersiksa oleh rasa sakit setiap hari, " kata Tresna, air matanya mengalir.


Andra memperhatikan Tresna, dia sangat pintar menutupi emosinya, membuat Andra benar-benar percaya dia tulus.


" Baiklah, tapi aku harus mengenalkanmu pada istriku, aku harus minta pendapatnya, " Kata Andra lagi


" Baiklah kak, tapi bisakah menunggu aku sedikit mempersiapkan diri, takutnya aku pingsan nanti, "kata tresna, wajahnya masih sedih


" Baiklah, tapi lebih baik secepatnya, kalau tidak ada yang harus di bicarakan, aku harus memimpin rapat, aku pergi dulu, " kata Andra


" Baiklah kak" kata tresna


Andra keluar, Tresna terlihat marah, dia menepalkan tangannya erat sekali.


Andra baru saja ingin masuk kedalam ruang rapat, di belakangnya Pak Wang mengikutinya dengan setia. Handphone Andra berdering, dari kepala pelayan di rumahnya.


" Halo?" kata Andra


" Tuan, maafkan saya, Nyonya tiba-tiba saja pergi, Nyonya belum makan, dia langsung pergi saja," kata Pelayan itu.


" Kemana dia pergi? " kata Andra panik


" Tidak tahu tuan, tapi Nyonya pergi begitu saja " kata Pelayan itu.


Andra terdiam, dia mematikan sambungan telepon itu.


" Pak wang, aku ingin tahu keberadaan nyonya sekarang, aku tunggu secepatnya, rapat hari ini batalkan " kata Andra dengan wajah cemas, selama mereka berumah tangga, Ayatha bukan orang yang suka keluar dari rumah, jika dia keluar, pasti Andra tahu dia kemana.

__ADS_1


" Baik Tuan, " kata Pak Wang.


Andra turun ke bawah, menuju ke tempat mobilnya terparkir, namun baru saja di melangkah keluar, dia melihat Tresna tergeletak disana. Andra segera mendekatinya.


" Tresna? Tresna? " kata Andra mencoba menyadarkan Tresna, Pak Wang yang juga baru sampai, segera mengehampiri Andra.


" Cepat siapkan mobil untuk membawanya ke rumah sakit, " kata Andra


" Baik Tuan, " kata Pak Wang, dia segara mempersiapkan semuanya, dia juga membawa pengawal, pegawal itu membawa Tresna masuk kedalam mobil, di tidurkan di jok belakang.


" Pak wang, urus dia, dan tetap kabarkan di mana keberadaan nyonya, aku ingin mencarinya " kata Andra.


" Baik Tuan, " kata Pak Wang patuh.


Andra bergegas masuk dalam salah satu mobil yang terparkir di sana, dia segera keluar dari area kantornya.


Tresna membuka matanya saat mobil mulai keluar dari area perkantoran, dia mengepalkan tangannya, dia sengaja berpura-pura pingsan agar Andra bersamanya lagi 1 hari ini, tapi Andra malah menyuruh pengawal untuk menjaganya. Tresna bangkit lalu duduk seperti tidak terjadi apa-apa. Pak Wang melihatnya,


" Nona, Anda sudah sadar? " kata Pak Wang


" Iya. " kata Tresna ketus


" Apa perlu ke rumah sakit lagi? " kata Pak Wang


" Tapi, Tuan Andra mengatakan harus membawa Anda kerumah sakit, " kata Pak Eang


" Terserah lah, " kata Tresna tak peduli.


Andra memacu kendaraannya, tak lama Pak Wang memberikan lokasi Ayatha, dia segera menuju kesana.


Ayatha berdiri di pinggir laut, di tempat itu sangat ramai, banyak pasangan-pasangan dan keluarga sedang berlibur, laut hari ini sangat tenang, sangat tenang membuat hati ayatha malah tidak tenang.


Angin laut menerpa wajahnya yang putih dan bibirnya yang pucat, kesedihan terlihat sekali di matanya… di otaknya begitu banyak pertanyaan, bagaimana bisa? Perjuangan mereka untuk bersama begitu susah, begitu banyak rintangan, namun saat mereka sudah bersama, Andra malah melupakan perjuangan itu dan bersama wanita lain…


" Ingin balon? " kata seseorang yang tiba-tiba ada di samping Ayatha, dia memberikan balon merah tepat di depan mata Ayatha, Ayatha mengerutkan dahi, menatap ke seorang pria yang ada di sampingnya. Pria itu tinggi, wajahnya terlihat masih muda, mungkin umurnya masih diawal 20an, gaya berpakaiannya seperti pemuda zaman sekarang, namun untuk estetik wajahnya, pria ini sangat tampan.


Ayatha hanya menatap pria itu, dia tersenyum manis, jika di lihat-lihat pria muda ini lebih cocok jadi artis, karena wajahnya benar-benar tampan hingga bisa di bilang 'Cantik'.


" Jangan bersedih, tidak suka 1 balon, bagaimana kalau banyak? " katanya memainkan tangannya, lalu tiba-tiba muncul banyak balon dari belakangnya.


Karena aksinya itu semua orang di sekitar menatap mereka. Ayatha terkejut dengan begitu banyak balon yang di keluarkan pria ini. Namun wajahnya masih saja datar, membuat pria itu memperhatikannya.


" Kau benar-benar tidak suka balon ya? " kata pria itu, dia melepaskan seluruh balon yang ada di tangannya, balon-balon itu berterbangan ke langit, membuat langit yang biru itu menjadi lebih berwarna, orang-orang sekitar bertepuk tangan.

__ADS_1


" Bagaimana dengan hujan bunga? "kata Pria itu, dia melakukan sedikit trik, dan tiba-tiba saja di tangannya penuh dengan kelopak bunga mawar, dia melemparkan ke arah atas, dan kelopak itu berterbangan di sekitar Ayatha, Ayatha melihat itu terpaku, bagaimana dia bisa membuat hal seperti ini?, bahkan kelopak bunga yang dia taburkan lebih banyak dari pada yang dia genggam tadi, Ayatha takjub, melihat kearah kelopak bunga yang berterbangan di sekitarnya, seperti gambaran di negeri dongeng, tanpa dia ketahui, pria itu tersenyum manis melihat Ayatha yang mulai bisa tersenyum.


Pria itu menangkap sebuah kelopak bunga, lalu melakukan trik lagi, dan tangkai mawar merah ada di tangannya, dia tersenyum dan memberikan bunga itu pada Ayatha.


" Bunga yang cantik untuk nona yang sedih, " kata Pria itu


Riuh suara tepuk tangan membuat Ayatha sadar, mereka dari tadi menjadi pusat perhatian, pria itu tersenyum kepada semua orang yang dari tadi menonton mereka.


" Terima kasih nona tapi aku benar-benar tulus ingin menghiburmu tadi, kau terlihat begitu sedih " kata Pria itu


" Owh, terima kasih " kata Ayatha seadanya, lalu kembali menatap ke arah lautan. Pria itu mendekat, sedikit lebih dekat dengan Ayatha.


" Apakah suamimu berselingkuh? "kata pria itu lagi


Ayatha kembali menatap pria itu, menatapnya dengan dahi berkerut.


" Hanya menebak, aku bukan cenayang, kau sedang sedih, di jari manismu terdapat cincin yang seperti cincin pernikahan, seorang wanita yang sudah menikah dan terlihat sedih, biasanya yah kalau tidak di tinggal mati, pasti di tinggal karena wanita lain " kata Pria itu dengan senyum cantiknya.


" Aku rasa kau benar, " kata Ayatha tersenyum kecut.


" Benarkah? Seharusnya kau tidak kesini nona, pergi mencari teman-temanmu untuk berbicara akan lebih baik, atau langsung saja bicara pada suamimu itu, " kata Pria itu lagi.


" Semua temanku adalah temannya, jika aku cerita maka martabat suamiku akan turun , " kata Ayatha lagi


" Wah, kau benar-benar istri idaman, aku jadi penasaran, bagaimana sih pria yang sanggup meninggalkan wanita seperti mu? , kau cantik, sangat mencolok disini, bahkan dengan tatapan sedihmu itu saja kau begitu cantik, begitu pengertian, tapi pria itu meninggalkanmu, " kata Pria itu menatap lautan, mengikuti gaya Ayatha.


Mereka hanya menatap laut, tidak lagi bicara... Pria seperti apa? Pria seperti Andra mungkin? Hatinya sebenarnya masih ragu, bagaimana pria seperti Andra yang dia kenal bisa bermain dengan wanita lain, bahkan dulu dia bisa menunggu begitu lama untuk Ayatha, tapi sekarang?... hatinya sangat ingin percaya Andra setia, namun otaknya seakan bertentangan, memunculkan banyak gambaran yang membuatnya ragu.


" Terima kasih, sepertinya aku harus pergi," kata Ayatha tersenyum pada pria di sebelahnya.


" Namaku Jay, sama-sama, tapi terimalah bungaku, " kata Jay menyodorkan bunga mawah merah itu.


" Baiklah, terima kasih sekali lagi Jay, "kata Ayatha.


" Sama-sama, hati-hati di jalan nona? "kata Jay lagi.


" Namaku Ayatha, " kata Ayatha.


" Nama yang cantik seperti orangnya, " kata Jay.


Ayatha hanya menarik sedikit sudut bibirnya, dia berbalik lalu mulai berjalan pergi, meninggalkan Jay yang memandangnya dengan lembut.


Baru beberapa langkah Ayatha pergi, dia bisa melihat sosok Andra yang mendekat, membuat Ayatha terhenti. Dia memperhatikan suaminya yang tergesa menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2