
Andra berhenti di depannya, memandangnya dengan cemas, Ayatha memperhatikannya dengan datar. Tangannya mengenggam mawar merah itu erat-erat.
" Kenapa pergi tidak memberitahu apapun? " kata Andra mencoba menahan emosinya.
" Aku hanya ingin sendiri, " kata Ayatha menatap Andra.
Andra menatap Ayatha, dia bingung harus bersikap apa? Ayatha sangat berbeda, tampak suram, apa hanya gara-gara dia marah Ayatha lansung begitu berubah? Perhatian Andra teralihkan ke arah mawar merah yang di genggam Ayatha begitu erat.
" Dari mana bunga itu? " kata Andra, dia tahu Ayatha tidak suka bunga mawar, jadi tidak mungkin membelinya.
" Seseorang memberikannya padaku, " kata a
Ayatha jujur
" Siapa?! " kata Andra, suaranya sedikit meninggi? Siapa orang yang sudah berani memberikan istrinya bunga.
" Maaf tuan, saya yang memberikannya, " kata Jay berdiri di belakang Ayatha, Ayatha kaget, melihat kearah Jay, Andra menatap Jay dengan gejolak emosi di matanya. Menatap Jay dalam-dalam seakan siap melahapnya.
" Siapa dia? " kata Andra dengan suara berat tertahan, menatap tajam pada Ayatha. Rasa cemburunya sudah menjalar keseluruh tubuhnya.
" Aku tidak mengenalnya, aku baru tahu Namanya jay, dia melakukan semacam trik tadi, " kata Ayatha.
" Benarkah? Dan dengan itu kau terima bunga darinya? " kata Andra emosi.
" Maaf tuan, Anda jangan emosi dulu, saya yang memaksanya, istri Anda tak melakukan apapun, " kata Jay penuh pecaya diri. Andra kembali menatap Jay dengan amarah, pria ini…dia jauh lebih muda dari Andra, penampilannya saja terlihat sembarangan, namun tidak bisa di pungkiri dia tampan. Andra menatap Ayatha, apa sekarang Ayatha menyukai pria yang lebih muda?
" Pulanglah! " kata Andra dengan nada perintah, dia berbalik lalu mulai pergi.
Ayatha menatap Andra lagi, kenapa sekarang Andra lebih sering marah-marah, namun Ayatha mengikutinya, Jay tersenyum manis, memperhatikan Ayatha yang menjauh darinya.
Andra masuk saja kedalam mobilnya, Ayatha tertegun, biasanya apapun yang terjadi Andra akan membukakan pintu untuknya. Ayatha tersenyum, mungkin dia harus terbiasa kalau Andra mulai dingin dengannya.
Ayatha masuk, duduk di sebelah Andra, Andra masih diam, diam saja tanpa bergerak, tangannya mengenggam pada kemudi mobil, erat sekali. Dia cemburu, sangat cemburu hingga seluruh badannya terasa terbakar panas.
" Siapa dia? " kata Andra lagi dengan suara berat.
" Bukan siapa- siapa, aku sudah bilang, dia bukan siapa-siapa, kau tidak percaya padaku? " kata Ayatha menatap mata merah Andra, emosi itu terlihat jelas, namun Ayatha menatapnya, kenapa harus emosi? Bukannya Andra yang jelas-jelas sudah bersama wanita lain. Bagaimana orang bisa sangat egois, menginginkan 2 wanita pada saat bersamaan?
Andra terdiam, mengertakan giginya hingga urat-urat di lehernya terlihat.
__ADS_1
" Kau tahu aku tidak suka jika kau dekat dengan pria lain? " kata Andra menatap Ayatha dengan wajahnya yang telihat dingin dan mata merahnya.
" Lalu apa kau boleh dekat wanita lain? "kata Ayatha tenang. Membuat Andra tertegun
" Apa maksudmu? " kata Andra menatap Ayatha
Ayatha menatap suaminya dengan sangat tenang, matanya tidak memancarkan emosi apapun, namun hal ini yang membuat Andra bingung… ntah apa yang sedang dipikirkan Ayatha sekarang? Ayatha hanya tersenyum manis.
" Kau tahu maksudku, " kata Ayatha memalingkan wajahnya, tak lagi menatap suaminya.
Andra menekukkan dahinya, menatap
Ayatha dengan heran, Ayatha memang orang yang jarang mengungkapkan isi hatinya, jika dia sedih, dia sedih sendiri, kalau dia sakit, dia tidak akan mengeluh, kadang sifat ayatha yang begini yang membuat Andra kesal.
" Ada apa? Katakanlah? " kata Andra mencoba melembut.
" Tidak ada apa-apa, aku ingin pulang " kata Ayatha, dia merasa Andra pintar berbohong sekarang, masa dia tidak tahu maksud Ayatha?.
" Ayatha, katakanlah, aku sekarang suamimu, kenapa kau juga mau menutupi semuanya? " kata Andra lagi
Ayatha menatap lagi Andra, Andra tetap tidak bisa menebak Ayatha, selain hanya kesedihan yang terpancar.
Andra terus menatap wajah Ayatha, Ayatha beberapa kali menghela napas, dia sedang mengatur hatinya, mengatur perasaanya. Andra tidak lagi berbicara, lalu dia membawa istrinya pulang. Sesampainya di rumah Ayatha turun tanpa menunggu Andra, berjalan menuju kamar mandinya dan pergi berendam, hanya berendam yang sekarang bisa membuatnya relax.
Andra sebenarnya ingin menunggu Ayatha, namun baru saja dia ingin mengganti bajunya, handphonenya berdering, dia harus kembali ke perusahaan, seorang client penting mencarinya.
Saat dia ingin mengetuk pintu kamar mandi, Ayatha membuka pintunya.
" Aku harus kembali ke kantor sekarang, " kata Andra.
" Baiklah " kata Ayatha dengan datar.
Andra merasa ada yang aneh, tapi dia tidak bisa meluapkannya sekarang, pandangan Ayatha yang dingin, dia belum penah merasakannya.
" Jangan pergi lagi tanpa sepengetahuanku, " kata Andra lembut
" aku tidak akan pergi, tidak juga menganggumu, " kata Ayatha
Andra semakin merasa aneh pada Ayatha, namun dia tidak mengatakannya, dia segera pergi. Ayatha menatap punggung suaminya, menghilang di balik pintu. Air matanya turun… dia bekerja atau…
__ADS_1
Suasana malam itu terasa teramat dingin, Ayatha hanya makan malam sendiri, sudah jam 10 malam, Andra juga belum pulang, makanan di depannya sama sekali membuat selera makannya tergugah, malah membuatnya mual. Handphone Ayatha berdering, nama Andra tertera disana…
" Halo" kata Ayatha
" Halo, Ayatha, apa kau sudah makan? " kata Andra terasa hangat
" sedang makan, " kata Ayatha seadanya
" Malam ini aku tidak bisa pulang, mungkin akan menginap di kantor, aku akan adakan rapat penting nanti malam, karena di negara mereka saat ini pagi hari, makanya aku harus terus di kantor, rapat dengan teleconference dan aku harus mengerjakan banyak pekerjaan, " kata Andra menjelaskan
" Benarkah? " kata Ayatha, dia ingin mengatakan, apakah benar Andra menginap di kantor? Atau bersama wanita itu?.
" Benar, atau kalau kau ingin datanglah kemari, " kata Andra.
" Tidak perlu, aku ingin tidur saja, " kata Ayatha lagi dengan datar.
Andra terdiam…kenapa Ayatha sekarang menjadi begini dingin padanya? Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan pria yang tadi siang?
" Ayatha, ada apa? " kata Andra lagi
" Tidak apa-apa, sepertinya malah aku yang harusnya menanyakannya padamu, ada apa? " kata Ayatha.
" Baiklah, aku percaya padamu, jika ingin datang lah, " kata Andra lagi, dia berharap memang Ayatha datang.
" Baiklah, selamat bekerja, " kata Ayatha lagi, mematikan handphonenya, hatinya sakit… memang seperti ini sangat menyakitkan, menerka-nerka dia sedang apa disana?, apa seharusnya memang Ayatha kesana?
" Tara, bisa bilang pada supir, aku ingin pergi ke tempat Tuan sekarang? " kata Ayatha lembut mengatakannya pada kepala pelayannya.
" Tentu Nyonya, " kata Tara bergegas.
Ayatha bersiap sebentar, menganti baju lalu turun menuju ke luar, mobilnya dan supirnya sudah siap. Mereka segera melaju, di perjalanan Ayatha harap-harap cemas, semoga yang ada di otaknya dari tadi tidak benar-benar terjadi.
Andra baru saja selesai makan, dia menyuruh Pak Wng menyiapkan beberapa pakaian, di ruangannya memang ada ruangan khusus untuk tidur dan mandi karena seringnya dulu dia tinggal di kantor untuk bekerja, makanya ruangan itu ada.
Andra hendak membersihkan dirinya sebelum memulai rapat lagi, Pak Wang pun keluar setelah menyiapkan seluruh kebutuhan Andra. Tanpa mereka sadari, Tresna masuk ke ruangan Andra, di duduk dengan manis menunggu Andra di sana.
Ayatha sampai di kantor Andra, dia tidak masuk dari lobby biasanya, jadi dia tidak melewati Pak Wang yang bersiap untuk melakukan rapat, dia lalu segera menuju ke ruangan suaminya.
Ayatha membuka pintunya, saat dia membuka pintunya, dia tertegun, melihat seorang wanita sedang berdiri mengamati pemandangan dari dinding kaca ruang kerja Andra. Tresna pun sama terkejutnya, melihat Ayatha yang membuka pintu. Ayatha menatap Tresna dengan mata memerah, namun dia hanya mematung.
__ADS_1