
Ayatha sedang duduk di sebuah cafe, dia sedang menunggu seseorang. 5 tahun berlalu, tidak ada yang berubah dari Ayatha, dia masih sama cantiknya dengan yang dulu,
hanya rambutnya yang sudah memanjang sepinggangnya, warnanya juga sudah hitam,
terlihat natural.
" Sedang menungguku? " kata Maxi mengagetkan adiknya
" Kakak! " kata Ayatha berbalik lalu memeluk Maxi dengan sangat erat, Maxi membalas pelukan itu.
Selama 5 tahun ini Maxi lah yang menjaganya, saat dia bangun dari koma, Maxi lah yang selalu ada di sampingnya, dengan sabar menjaganya. melimpahkan kasih sayang hingga membuat Ayatha bisa bangkit lagi.
" Apa kabarmu di sini? " kata Maxi
" Baik sekali, " kata Ayatha
Maxi lalu duduk di depan Ayatha. Wajah Maxi sedikit merah.
" Kenapa wajahmu merah seperti itu Kak?"kata Ayatha
" Di sini panas sekali, aku heran kenapa kau bisa bertahan di sini, " kata Maxi
" Haha... iya, di sini memang panas, " kata Ayatha tertawa
" Kau tidak ada keinginan untuk pindah? Sudah 2 tahun kau di sini, "kata Maxi lagi
" Aku menyukai negara ini, orang-orangnya ramah dan baik, memang sedikit panas dan padat,, tapi negara ini sangat indah, banyak sekali pulau-pulau yang indah dan pantainya
juga sangat mempesona, owh iya... jangan lupa kebudayaannya, aku menyukainya, "kata Ayatha
" Sangat senang jika melihatmu menjelaskan begitu panjang dan lebar, " kata Maxi memandangi adiknya.
Dia masih ingat pertama kali Ayatha bangun, Ayatha menanyakan tentang Andra padanya, di matanya ada duka yang begitu dalam, tangisan nya pilu hanya air mata yang
mengalir, jiwanya terguncang tak punya tujuan hidup sama sekali. bahkan saat Ayatha
tahu jika dia sedang mengandung, jiwa Ayatha tambah terguncang.
Maxi lah yang menyaksikan itu semua, dia berada di sisinya lebih dari 1 tahun, dia
meninggalkan semuanya, bahkan pekerjaanya dia limpahkan semua pada assiten Ed, dia benar-benar mendampingi Ayatha melewati masa-mas terendahnya, dia yang mengajaknya berbicara setiap hari, walaupun Ayatha tak merespon, bahkan
menyuapinya dengan sabarnya. memberikan kasih sayang tak terbatas.
Dia pula yang membujuk Ayatha agar tidak melompat dari lantai 9 apartemennya, memelas memohon agar Ayatha jangan melakukannya. dia yang mendekatinya, meluknya erat agar dia mengurungkan niatnya melompat, Ayatha menangis di pelukkannya, mengatakan ingin pergi menemui Andra.
Dia juga yang menemukan Ayatha sudah tak sadar di kamarnya, tengelam dalam kolam
darahnya sendiri saat dia memotong nadi di tangannya, padahal saat itu dia hamil 6 bulan.
Maxi memang yang membenarkan saat Ayatha bertanya Andra sudah meninggal?, jadi dia mengangap semua ini salahnya, karena itu dia menyerahkan segalanya saat itu untuk Ayatha, tapi di banding Ayatha harus berurusan dengan Tuan Ray lagi, lebih baik dia melakukan ini semua, karena dia yakin, Ayatha pasti kuat melewatinya.
Maxi pula orang pertama yang mengendong Andra kecil, menyerahkannya pada Ayatha pertama kali, dia berusaha mengantikan sosok seorang suami dan seorang ayah bagi Ayatha dan Andra kecil selama ini. untunglah sejak Andra kecil lahir, Ayatha perlahan
membaik keadaan kejiwaannya, sekarang dia bisa bernapas lega, melihat hidup Ayatha
jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
__ADS_1
" Kakak, jangan membuatku malu,” kata Ayatha
" Haha, kau masih bisa malu juga padaku, " kata Maxi
" Bagaimana kabar Kak Christine dan Liam? " kata Ayatha
" Baik, setelah dari sini aku akan langsung bertermu mereka, dari sini dekat dengan Singapur, " kata Maxi
"Iya, aku juga baru-baru ini pergi menemui Kak Christine," kata Ayatha
Handphone Maxi berdering, video call dari Christine, dia langsung mengangkatnya.
" Sudahkah kau bertemu dengan Selena ? " tanya Christine
Saat Maxi memindahkan Ayatha ke Kanada, dia mengubah semuanya, dia bekerja sama dengan Jeremy, memalsukan semuanya, membuat rencana bagaimana bisa membuat seluruh orang yakin bahwa Ayatha sudah meninggal, membuat pemakaman palsu, bahkan di negaranya, Ayatha benar-benar sudah di nyatakan meninggal dunia.
Sejak itu semua orang memanggilnya Selena, alasan Maxi adalah agar Tuan Ray tidak bisa
melacak di mana Ayatha.
" Ini, dia di depanku. " kata Maxi
membalikkan handphonenya, agar Ayatha melihat Christine
" Halo, Kakak ipar, bagaimana kabarmu?"kata Ayatha tersenyum manis
" Hai, Selena , apa kabarmu? Kapan kau akan ke sini lagi, kau tahu Liam merindukan
Bibinya, " kata Christine
" Aku akan ke sana setelah
" Aku akan membawa mereka pulang 2 minggu lagi, " kata Maxi menjelaskan
" Selena, kau ingin pulang? " kata Christine
Ayatha terdiam, dia tidak pernah lagi berpikir untuk pulang, di sana banyak sekali kenangan.. kenangan yang sama sekali tidak ingin di ingatnya lagi.
" Aku tidak ingin pulang, kalau aku pulang, Kakak akan memarahiku, " kata Ayatha
tersenyum
" Maxi tidak akan memarahimu, tenang saja, " kata Christine lagi
" Christine, jangan memaksa Selena, dia tidak ingin pulang, dan ingat untuk tidak mengatakan apapun tentang Selena bahkan pada Hanna, " kata Maxi menatap istrinya di
layar handphonenya
" Baiklah, aku mengerti, hati-hati di sana ya, cepat datang kemari, aku mencintaimu, " kata Christine
" Aku juga, " kata Maxi,
lalu sambungan telepon mati.
Ayatha menatap kakaknya, kenapa orang lain bisa bersatu dengan sangat mudah?
" Aku bukan tak mengizinkan mu pulang, tapi di sana keadaanya masih rawan, aku takut
__ADS_1
kalau mengizinkanmu pulang, Tuan Ray akan melakukuan sesuatu padamu karna dia
beranggapan Andra meninggal karnamu, dia bisa saja balas dendam padamu, yang
lebih parah aku takut dia merebut Andra darimu, karna bagaimana pun Andra
adalah penurus darah keluarga Tadder, " kata Maxi menjelaskan
" Yah aku tahu kok Kak, aku juga tahu kalau di sana aku dan Andra tak akan aman, " kata Ayatha
" Baguslah, aku tidak ingin terjadi padamu, Andra masih sangat kecil untuk di
tinggal kedua orang tuanya, " kata Maxi sedih
" Iya Kakak, aku akan selalu bersamanya, tidak akan membiarkan nasibnya sama denganku, " kata Ayatha tersenyum
" Iya, " kata Maxi membalas senyuman adiknya.
Ayatha menekan-nekan sedotan yang ada di minumannya, dia sedikit suram… sebenarnya di hati kecilnya, ada
keinginan untuk pulang, namun setiap memikirkan itu membuat hatinya sakit,
makanya dia tidak ingin lagi berpikir untuk pulang.
" Ehm.. di mana Andra? "kata Maxi
Langkah kecil terdengar berlari, seorang anak berumur 4 tahun berlari menuju kearah Maxi,
anak itu sangat tampan, bahkan di umurnya yang masih kecil, rambutnya hitam,
matanya pun sangat hitam, hidungnya mancung, pipinya putihnya memerah merona karena habis bermain di luar.
" Paman Maxi! " katanya lalu Maxi bersiap menangkapnya, dia memeluk Maxi dengan
sangat erat. Maxi lalu mengendongnya, bagi Maxi Andra adalah anak pertamanya.
dia menyayangi Andra dengan seluruh cintanya.
" Andra kemana saja? Paman mencarimu, sangat kangen, " kata Maxi
" Aku bermain dengan Sus di luar," kata Andra dengan imut
" Andra ingin makan es krim?" kata Maxi lembut
" Iya, " kata Andra sambil mengangguk
" Ayo, Paman akan membelikan semua es krim yang Andra mau, " kata Maxi
" Tidak boleh, Andra baru saja dari tempat yang panas, jika langsung minum dingin nanti
sakit loh, " kata Ayatha melarang, Andra melihat ibunya dengan cemberut.
" Jangan begitu, jangan terlalu melarang anak, biarkan dia makan es krim, Paman akan
membelikannya," kata Maxi, wajah Andra kembali sangat cerah.
Maxi meninggalkan Ayatha, mengajak Andra ke tempat es krim, Andra memilih rasa
__ADS_1
kesukaannya, coklat dan mint. Ayatha hanya bisa diam melihat kelakuan kakaknya.
Tiba-tiba dari belakang, seseorang memeluknya, Ayatha kaget..