
" Duduklah, " kata Wayren segera setelah Ayatha menuangkan teh padanya
Ayatha mengikuti perintah Tuan Mudanya, walaupun masih sedikit kesal dengan kelakukan Tuan
Mudanya, dia mencoba untuk tidak menunjukkannya.
" Kau kesal padaku? " Kata Wayren santai sambil melihat Ayatha lembut.
" Tidak Tuan, " kata Ayatha yang kaget kenapa Wayren tahu dia kesal?.
" Kau harusnya lebih berani, tidak boleh plinplan seperti itu, " kata Wayren
" Baik, Tuan Muda Wayren, " kata Ayatha sambil menunduk
" Dan jangan selalu menunduk seperti itu, kau harus percaya diri "
" Eh iya Tuan "
" Baik lah... Jadi apa yang kalian lakukan di sana saat aku pergi? "
" Kami hanya melihat pantai "
" Oh, dia tidak melakukan sesuatu yang membuatmu sedih atau terluka? "
" Tidak "
" Bagus lah, aku hanya khawatir jika dia memperlakukan kau dengan tidak baik seperti
biasanya, tapi sepertinya hubungan kalian sudah membaik "
" Iya Tuan "
" Bagus lah... Tapi kau tetap harus menjaga jarak dengan Kakakku "
" Kenapa Tuan? " tanya Ayatha bingung
" Karena aku menyuruhmu begitu "
" Tapi Nyonya Renata menyuruh saya untuk selalu mengikuti permintaan Tuan Muda "
" Yah.. Hanya sekedar itu tidak apa-apa, yang penting yang lain jangan "
" Seperti apa?"
" Ya seperti itu... Sudah lah jangan membuat aku kesal," kata Wayren yang
tiba-tiba merasa kesal, Ayatha hanya tersenyum lucu melihat tingkah Wayren yang
seperti anak-anak.
" Kenapa kau tersenyum?"
" Tidak apa-apa Tuan, " kata Ayatha tambah tersenyum
" Ohhhh... Kau suka melihat aku seperti ini? " kata Wayren
" Tidak Tuan "
" Kau sudah berani sekarang yah "
" Tidak Tuan, " kata Ayatha tambah tersenyum lebar
" Tapi aku suka kok, Senyummu... Aku suka," kata Wayren yang seketika membuat Ayatha
terdiam, Wayren hanya melihat dalam pada Ayatha. Ayatha hanya bisa mematung,
dia terdiam, lalu dia mencoba memalingkan wajahnya, rasa malunya muncul.
Sementara itu, Andra terdiam di kamarnya, hanya memandang dari jendela melihat Wayren dan
Ayatha yang sedang berbincang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dia sedikit
penasaran dengan apa yang dibicarakan Wayren dan Ayatha, karena Wayren dan Ayatha
terlihat sangat akrab dan bahagia.
___________________________________________
Langit pagi ini gelap, awan hitam tergelar bagaikan karpet menutupi langit hari ini. Andra sedang menyiapkan diri, seperti biasa dia ingin berolah raga.
" Pagi Tuan Muda, " kata Bibi Moi memberikan salam pada Andra yang sedang mengikat
sepatu larinya
"Pagi Bibi, " kata Andra tersenyum
" Anda ingin berlari pagi ini? "
" Iya"
" Tapi hari ini sepertinya akan hujan Tuan Muda "
" Aku akan sebentar saja, " kata Andra segera berlari, meninggalkan Bibi Moi
yang kelihatan khawatir.
" Ayatha! Ayatha !" Teriak Bibi Moi
" Ya Bibi, " kata Ayatha yang segera datang
" Kau harus mengejar Tuan Muda Andra, pagi ini mau hujan, Tuan Andra dari kecil tidak
bisa terkena air hujan, bawa payung dan kejar Tuan Muda ya, " kata Bibi Moi
menyuruh Ayatha
" Baik Bibi, " kata Ayatha segera
Ayatha segera berlari mengambil payung, saat dia mengambil payung, tidak sengaja dia
berpapasan dengan Wayren, Ayatha hanya pergi saja.
__ADS_1
" Bibi Moi, ada apa? Kenapa Ayatha buru-buru pergi, " kata Wayren
" Pagi Tuan Muda, tadi saya menyuruh Ayatha untuk pergi mencari Tuan Muda Andra yang sedang
lari pagi. Hari sudah mau hujan, Tuan Muda Andra tidak pernah bisa terkena air
hujan," kata Bibi Moi menjelaskan
Wayren hanya terdiam tanpa bereaksi apapun.
___________________________________________
Ayatha pergi mencari-cari kemana Andra pergi, sampai akhinya dia bertemu Andra sedang berlari di dekat taman yang ada di kawasan perumahan itu.
" Tuan Muda Andra!" Teriak Ayatha memanggil Andra
Andra segera berhenti dan melihat kearah Ayatha, dia sedikit terkejut melihat Ayatha yang menuju kearahnya
" Sedang apa kau disini?" Kata Andra melihat Ayatha yang sedang mengatur nafas
karena berlari mengejar Andra tadi
" Bibi Moi menyuruh saya untuk menemani Tuan, hari sudah mau hujan, nyonya Moi bilang Tuan Muda tidak bisa terkena air hujan," kata Ayatha menjelaskan
" Aku hanya sebentar dan akan segera pulang sebelum hujan, "
" Tapi..."
" Pulang saja"
" Tapi Nyonya sudah menyuruh saya untuk mengikuti Tuan kemana saja dan nanti Bibi Moi pasti marah jika saya tidak menjaga Tuan" kata Ayatha
" Aku hanya ingin berlari disekitar sini, tidak mungkin kau mengikuti ku terus kan?
Begini aja, tunggu disini, aku akan berlari di daerah ini, begitu selesai aku akan kembali kesini, gimana? " Kata Andra
" Eh..."
" Sudah tunggu saja di sini," kata Andra menyuruh Ayatha, Andra segera melanjutkan
lari paginya, sedangkan Ayatha hanya berdiri melihati Andra yang pergi menjauh
darinya.
Hujan turun dengan lebatnya saat Andra sampai dirumahnya, Bibi Moi terlihat cemas menyambut
Andra.
" Selamat datang Tuan, Anda kehujanan?" Kata Bibi Moi cemas
" Tidak," kata Andra tersenyum
" Di mana Ayatha? Apakah Tuan bertemu dengannya?"
" Dia belum pulang?" Tanya Andra kaget
Andra mengira jika hari mulai hujan Ayatha akan segera pulang, sehingga dia berpikir
untuk tidak menemui Ayatha di taman tadi, namun jika sampai sekarang Ayatha
berkata apapun, Andra segera meninggalkan rumah. Menorobos lebatnya hujan.
" Tuan, Tuan.. Anda mau kemana?!" Teriak Bibi Moi kaget melihat Andra yang pergi
begitu saja
" Ada apa Bi?" Tanya Wayren yang mendengar teriakan Bibi Moi
" Aduh bagaimana ini Tuan Muda, Tuan Muda Andra pergi setelah mendengar bahwa Ayatha
belum pulang tanpa menggunakan apa-apa... Tuan Muda kan tidak bisa terkena air
hujan, dia pasti sakit, " kata Bibi Moi cemas
Wayren hanya terdiam, lalu dengan segera mengambil 2 payung dan segera pergi keluar tanpa
mengucapkan sepatah kata pun pada Bibi Moi yang bediri terdiam melihat kelakuan
2 Tuan Mudanya yang aneh.
Andra terus berlari menerjang hujan yang sangat lebat, seluruh badannya basah kuyup, bahkan jarak pandangan terbatas karena lebatnya hujan.
Sesampainya di taman, Andra berhenti sejenak mencari Ayatha, dimana dia? Pikirnya cemas, sesaat dia melihat sosok Ayatha yang sedang berdiri di antara rimbunya
pepohonan, berdiri sendiri dengan payungnya. Andra segera menghampirinya...
" Kenapa kau tetap di sini?" Tanya Andra dengan nada sedikit keras pada Ayatha, Ayatha tentu kaget melihat Andra yang basah kuyup, apalagi dia di tegur dengan suara Andra yang tampak marah, Ayatha segera memindahkan payungnya ke tempat Andra,
sehingga Andra tidak kehujanan lagi, namun sekarang Ayatha yang terkena hujan.
" Tuan, Anda..." Kata Ayatha tersekat.
" Aku tanya, kenapa kau tetap di sini?" kata Andra kelihatan masih kesal
" Anda menyuruh saya menunggu Anda di sini, jadi saya hanya mengikuti perintah Anda
untuk menunggu Anda di sini" kata Ayatha ketakutan
" Jadi jika aku sampai malam tidak kembali, kau tetap di sini?" Tanya Andra
" Ya, " kata Ayatha pelan dan tertunduk
Andra terdiam memAndang Ayatha yang sekarang basah kuyup terguyur hujan, emosinya hilang seketika melihat wajah takut dan tulus Ayatha. Sekarang dia yang merasa
tidak enak pada Ayatha, ya.. Dia hanya menjalankan tugasnya, dan ya...
Seharusnya Andra yang salah karena sudah menyuruh Ayatha menunggu namun tidak
kembali kesini.
Wayren mencari-cari Ayatha kemana-mana, sulit mencari seseorang dengan hujan selebat
__ADS_1
ini, setelah berkeliling beberapa kali, akhirnya dia terhenti. Dia melihat Ayatha
dan kakaknya di taman, Ayatha sedang memanyungi kakaknya, sedangkan dia sendiri
terguyur hujan.
Wayren tentu kesal, dia merasa kakaknya tidak harus seperti itu, membiarkan Ayatha yang terkena hujan... dengan segera dia langsung mendekati mereka.
Andra masih melihat Ayatha yang tertunduk, ketakutan, gemetar,.. Ntah karena takut, atau
karena dingin hujan yang membasahi tubuhnya... Ada suatu perasaan... Perasaan
ingin melindungi gadis mungil di depannya... Rasanya ingin menjaga gadis ini
agar dia tidak lagi gemetaran... Namun tubuh Andra seperti membeku, dia tak
sanggup melakukannya.
Tiba-tiba hujan tak lagi membasahi tubuh Ayatha, membuat kaget Ayatha dan Andra tentunya.
Ayatha segera melihat kebelakang, ternyata Wayren sedang memayungi Ayatha.
" Tuan Muda Wayren, " kata Ayatha dengan Bibir bergetar, kaget melihatnya ada di sana
Wayren mendekat, dia tersenyum pada Ayatha, lalu melihat kakaknya yang hanya
terdiam... Menatapnya dingin.
" Kau basah kuyup kak... Pulanglah... Aku yang akan mengurus Ayatha, " kata Wayren
menyerahkan salah satu payung pada Andra.
Wayren menatap kakaknya tajam... Dia menunjukkan bahwa dia serius dengan apa yang di
ucapkannya. Andra menangkap keseriusan adiknya. Namun dia hanya terdiam,
sedangkan Ayatha tak bisa berkata apa-apa hanya berdiri diantara kakak beradik
yang tampaknya sedang perang emosi.
" Aku pinjam pelayan pribadimu, " kata Wayren segera menarik tangan Ayatha dan
langsung membawa Ayatha pergi menjauh dari Andra, meninggalkan Andra yang
terdiam melihat Ayatha dibawa pergi oleh Wayren, sedangkan Ayatha hanya
pasrah... Dia sempat melihat wajah Andra yang dingin terdiam di belakang
mereka, Dia sudah membuat suatu
kesalahan.. Pikir Ayatha
Ayatha terdiam terduduk di sebuah kursi cafe, Wayren entah pergi kemana, dia hanya
termenung, tatapannya kosong. dia hanya berpikir tatapan dan perasaan Andra
sekerang karena perbuatannya. Andra pasti sangat marah padanya sekarang, apa
yang harus dia lakukan sekarang?
" Hey..ini untuk mu, " kata Wayren meletakkan handuk di kepala Ayatha
" Eh.. Terima kasih Tuan, " kata Ayatha yang kaget
" Ini juga ada baju dan celana yang bisa kau pakai, " kata Wayren memberikan
kantong belanjaan pada Ayatha
" Eh... Tidak usah Tuan, kita pulang saja, saya khawatir tentang Tuan Muda Andra, Bibi Moi
bilang Tuan Andra tidak bisa terkena air hujan "
Wayren terdiam.. Dia hanya memandangi Ayatha yang terdiam di depan Wayren...
Persaannya tidak enak, bahkan di saat seperti ini, Ayatha hanya mementingkan
perasaan Andra. Namun Wayren tidak ingin membahasnya...
" Kau tidak apa-apakan? " kata Wayren
" Maksud Anda Tuan? " Kata Ayatha kebingungan dengan apa yang di tanyakan Wayren
" Kakakku memarahimu?"
" Memang aku yang salah, " kata Ayatha pelan
" Kalau kakakku memarahi, jangan di ambil pusing, dia memang seperti itu tapi
sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu, " kata Wayren menjelaskan
" Iya Tuan "
" Ok.. Kalau memang begitu, ayo pulang. " kata Wayren
" Iya Tuan. " kata Ayatha segera bangkit
Ayatha berjalan di belakang Wayren, hujan sudah mulai berhenti, hanya meninggalkan
rintik-rintik, Ayatha menggil menahan dinginnya angin yang berhenbus.
" Seharusnya kau menganti pakaian mu dulu, " kata Wayren yang berhenti di depan Ayatha,
membuka sweater yang dipakainya dan meletakkanya pada tubuh Ayatha. Ayatha
hanya melihat Wayren.
" Ayo... Kau harus cepat mandi, kalau tidak kau akan sakit," kata Wayren segera
berjalan.
Ayatha masih terdiam, semua perhatian Wayren membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
" Hey! Kau tidak mendengar ku? Cepat! " kata Wayren memecahkan lamunan Ayatha
Ayatha segera berjalan mendekati Wayren, lalu mereka berjalan pulang.