Meadow

Meadow
Jangan banyak bergerak dulu


__ADS_3

Ayatha membuka matanya, melihat kearah Andra yang sedang duduk membaca bukunya, Andra


melihat Ayatha yang sedikit bergerak, melihatnya.


" Sudah bangun? " kata Andra lembut


" Maf, aku tertidur, " kata Ayatha


" Tidak apa-apa, bagaimana keadaanmu? " kata Andra


" Aku tidak apa-apa, " kata Ayatha namun Andra bisa melihat Ayatha sedikit


linglung.


" Sudah tidak apa-apa, aku ada di sini, " kata Andra memegang tangannya.


Ayatha memandangnya suram, tadi dia benar-benar seperti ingin mati, perlakukan keenan


masih membekas di ingatannya, bagaimana dia memaksa menciumnya... dia


benar-benar trauma.


" Kita akan pulang, " kata Andra memecahkan lamunan Ayatha.


" Tapi lukamu? " kata Ayatha


" Sudah, dokter sudah menyuruhku pulang, ibu juga sudah pulang duluan, dia ingin


menyiapkan tempat ku, " kata Andra


" Baiklah, kalau memang begitu, " kata Ayatha tersenyum sedikit.


Setelah mengurus semuanya, Andra dan Ayatha pulang, Ayatha mengantarkan Andra ke


apartementnya. Mereka sampai disana, namun Nyonya Renata ternyata sudah pergi


untuk bebelanja makanan, dia sengaja pergi sendiri untuk memastikan makanan


untuk Andra nantinya.


Ayatha membantu Andra membaringkan Andra di tempat tidurnya, mereka hanya berdua di


apartement itu, apartement Andra sangat modern, dindingnya seluruhnya terbuat


dari kaca, membuat pemandangannya tampak menakjubkan. Namun Ayatha tidak sempat


untuk menikmatinya, dia harus menjada Andra di kamarnya.

__ADS_1


Luka Andra tidak terasa sakit lagi, mungkin akibat obat penahan sakit yang di berikan


dokter.


" Kenapa? sakit? " kata Ayatha, karena Andra terus melihatnya


" Tidak, " kata Andra tersenyum, Andra mendekatkan dirinya kearah Ayatha


" Jangan... " kata Ayatha menolak, dia teringat bagaimana keenan memaksanya,


memeluknya, Ayatha langsung berdiri dan menjauh.


Andra menatap Ayatha dengan lembut, menjulurkan tangannya agar Ayatha sendiri yang


mendekat, Ayatha sedikit ragu, dia menolak karena teringat paksaan keenan,


namun ini bukan keenan, ini Andra, dia berjalan memengang tangan Andra.


Andra menariknya perlahan, membimbingnya duduk disamping ranjangnya, dekat dengannya.


"Apa yang dia perbuat dengan mu? " kata Andra merasa Ayatha masih ketakutan


" Dia memaksaku... " kata Ayatha, dia tercekat...tak bisa mengatakannya, Ayatha


merasakan lagi tangan keenan di lehernya.


" Tidak apa-apa dia sudah tidak ada, " kata Andra dia melihat Ayatha dengan


Andra menyibakkan sedikit rambut Ayatha, melihat tanda kuku keenan disana, Andra


mendekat kearah luka itu, Ayatha menjauh sedikit, masih tidak berani...


" Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu, " kata Andra


Andra mencoba mendekati Ayatha, kali ini Ayatha tidak menjauh, Andra mecium luka yang


ada di leher Ayatha dengan sangat lembut, membuat Ayatha tersengat... Andra


mencium setiap luka ada yang ada di leher Ayatha, membuat tubuh Ayatha panas,


Saat Andra mencium bekas cakaran di bagian pundak Ayatha, Ayatha tidak dapat


menahan desahannya karena kaget, walaupun sangat pelan, Andra dapat


mendengarnya.


Bibir Andra sangat hangat, membuat tubuh Ayatha seperti tersengat listrik.

__ADS_1


Andra


melepasakn bibirnya dari pundak Ayatha, menatap Ayatha yang sekarang pipinya


sangat merah seperti tomat, membuat wajahnya terlebih menarik.


Andra langsung mencium Ayatha dengan ganas, Ayatha pun membalasnya perlakuan Andra,


dia tidak lagi pasif, mengimbangi bagaimana Andra menciumnya, Andra memeluk Ayatha


dengan erat tak mengizinkannya jauh. Mendapat perlawanan dari Ayatha, Andra


makin bernafsu, akal sehat Ayatha hampir hilang, saat dia menghentikan


ciumannya. Ayatha hanya memandangnya dalam-dalam.


" Kenapa? " kata Andra memandang Ayatha


" Dokter bilang jangan banyak bergerak dulu, luka mu, " kata Ayatha tersenyum,


melepaskan diri dari pelukan Andra, Andra tampak kecewa, mengigit bibirnya,


namun tidak memaksa Ayatha, dia ada benarnya juga.


Ayatha pergi kekamar mandi, mencuci mukanya yang masih panas dan merah seperti tomat.


Saat dia keluar dari kamar mandi, Nyonya Renata pulang, dia menatap Andra, Andra hanya


tertawa, untung saja mereka tidak terbawa suasana, kalau tidak, mungkin Nyonya Renata


akan menangkap basah mereka.


" Aku akan membantu Ibu dulu," kata Ayatha


" Baiklah, aku akan menenangkan diri dulu, " kata Andra tersenyum.


Ayatha segera keluar, membantu Nyonya Renata di dapur, Nyonya Renata jarang ada di


dapur semenjak Andra dan Wayren dewasa, namun dia masih cukup mahir, dia membuat


banyak makanan, sengaja di hidangkan untuk Andra dan Ayatha, dia juga menelepon


Wayren untuk makan bersama.


Mereka banyak mengobrol, suasana begitu hangat, bagaikan keluarga biasanya, membuat Nyonya


Renata sangat menikmati dan senang dengan suanananya. Ayatha dan Andra sengeja

__ADS_1


tidak memberitahu Wayren apa yang tadi terjadi, kalau tidak keenan bisa habis


di buat Wayren.


__ADS_2