
Ayatha membuka matanya, melihat kearah Andra yang sedang duduk membaca bukunya, Andra
melihat Ayatha yang sedikit bergerak, melihatnya.
" Sudah bangun? " kata Andra lembut
" Maf, aku tertidur, " kata Ayatha
" Tidak apa-apa, bagaimana keadaanmu? " kata Andra
" Aku tidak apa-apa, " kata Ayatha namun Andra bisa melihat Ayatha sedikit
linglung.
" Sudah tidak apa-apa, aku ada di sini, " kata Andra memegang tangannya.
Ayatha memandangnya suram, tadi dia benar-benar seperti ingin mati, perlakukan keenan
masih membekas di ingatannya, bagaimana dia memaksa menciumnya... dia
benar-benar trauma.
" Kita akan pulang, " kata Andra memecahkan lamunan Ayatha.
" Tapi lukamu? " kata Ayatha
" Sudah, dokter sudah menyuruhku pulang, ibu juga sudah pulang duluan, dia ingin
menyiapkan tempat ku, " kata Andra
" Baiklah, kalau memang begitu, " kata Ayatha tersenyum sedikit.
Setelah mengurus semuanya, Andra dan Ayatha pulang, Ayatha mengantarkan Andra ke
apartementnya. Mereka sampai disana, namun Nyonya Renata ternyata sudah pergi
untuk bebelanja makanan, dia sengaja pergi sendiri untuk memastikan makanan
untuk Andra nantinya.
Ayatha membantu Andra membaringkan Andra di tempat tidurnya, mereka hanya berdua di
apartement itu, apartement Andra sangat modern, dindingnya seluruhnya terbuat
dari kaca, membuat pemandangannya tampak menakjubkan. Namun Ayatha tidak sempat
untuk menikmatinya, dia harus menjada Andra di kamarnya.
__ADS_1
Luka Andra tidak terasa sakit lagi, mungkin akibat obat penahan sakit yang di berikan
dokter.
" Kenapa? sakit? " kata Ayatha, karena Andra terus melihatnya
" Tidak, " kata Andra tersenyum, Andra mendekatkan dirinya kearah Ayatha
" Jangan... " kata Ayatha menolak, dia teringat bagaimana keenan memaksanya,
memeluknya, Ayatha langsung berdiri dan menjauh.
Andra menatap Ayatha dengan lembut, menjulurkan tangannya agar Ayatha sendiri yang
mendekat, Ayatha sedikit ragu, dia menolak karena teringat paksaan keenan,
namun ini bukan keenan, ini Andra, dia berjalan memengang tangan Andra.
Andra menariknya perlahan, membimbingnya duduk disamping ranjangnya, dekat dengannya.
"Apa yang dia perbuat dengan mu? " kata Andra merasa Ayatha masih ketakutan
" Dia memaksaku... " kata Ayatha, dia tercekat...tak bisa mengatakannya, Ayatha
merasakan lagi tangan keenan di lehernya.
" Tidak apa-apa dia sudah tidak ada, " kata Andra dia melihat Ayatha dengan
Andra menyibakkan sedikit rambut Ayatha, melihat tanda kuku keenan disana, Andra
mendekat kearah luka itu, Ayatha menjauh sedikit, masih tidak berani...
" Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu, " kata Andra
Andra mencoba mendekati Ayatha, kali ini Ayatha tidak menjauh, Andra mecium luka yang
ada di leher Ayatha dengan sangat lembut, membuat Ayatha tersengat... Andra
mencium setiap luka ada yang ada di leher Ayatha, membuat tubuh Ayatha panas,
Saat Andra mencium bekas cakaran di bagian pundak Ayatha, Ayatha tidak dapat
menahan desahannya karena kaget, walaupun sangat pelan, Andra dapat
mendengarnya.
Bibir Andra sangat hangat, membuat tubuh Ayatha seperti tersengat listrik.
__ADS_1
Andra
melepasakn bibirnya dari pundak Ayatha, menatap Ayatha yang sekarang pipinya
sangat merah seperti tomat, membuat wajahnya terlebih menarik.
Andra langsung mencium Ayatha dengan ganas, Ayatha pun membalasnya perlakuan Andra,
dia tidak lagi pasif, mengimbangi bagaimana Andra menciumnya, Andra memeluk Ayatha
dengan erat tak mengizinkannya jauh. Mendapat perlawanan dari Ayatha, Andra
makin bernafsu, akal sehat Ayatha hampir hilang, saat dia menghentikan
ciumannya. Ayatha hanya memandangnya dalam-dalam.
" Kenapa? " kata Andra memandang Ayatha
" Dokter bilang jangan banyak bergerak dulu, luka mu, " kata Ayatha tersenyum,
melepaskan diri dari pelukan Andra, Andra tampak kecewa, mengigit bibirnya,
namun tidak memaksa Ayatha, dia ada benarnya juga.
Ayatha pergi kekamar mandi, mencuci mukanya yang masih panas dan merah seperti tomat.
Saat dia keluar dari kamar mandi, Nyonya Renata pulang, dia menatap Andra, Andra hanya
tertawa, untung saja mereka tidak terbawa suasana, kalau tidak, mungkin Nyonya Renata
akan menangkap basah mereka.
" Aku akan membantu Ibu dulu," kata Ayatha
" Baiklah, aku akan menenangkan diri dulu, " kata Andra tersenyum.
Ayatha segera keluar, membantu Nyonya Renata di dapur, Nyonya Renata jarang ada di
dapur semenjak Andra dan Wayren dewasa, namun dia masih cukup mahir, dia membuat
banyak makanan, sengaja di hidangkan untuk Andra dan Ayatha, dia juga menelepon
Wayren untuk makan bersama.
Mereka banyak mengobrol, suasana begitu hangat, bagaikan keluarga biasanya, membuat Nyonya
Renata sangat menikmati dan senang dengan suanananya. Ayatha dan Andra sengeja
__ADS_1
tidak memberitahu Wayren apa yang tadi terjadi, kalau tidak keenan bisa habis
di buat Wayren.