
Ayatha baru saja menyuruh salah satu pengawalnya untuk mengirim mainan, buku, baju dan
beberapa barang lain ke panti asuhan tempat dulu Momo tinggal, dia tidak ikut,
karena takut akan membangkitkan kenangannya pada momo. Setelah dari mall itu, Maxi
meneleponnya untuk makan siang bersama.
Ayatha duduk di depan kakaknya, memakan makanan yang sudah di pesan kakaknya, Maxi hanya
memandangi Ayatha.
" Kakak, kau hanya ingin melihatku, atau mau makan?" kata Ayatha
" Aku sudah kenyang melihatmu makan, " kata Maxi lagi
" Jangan terlalu banyak mengoda Kak," kata Ayatha lagi
" Masihkah kau bisa memasak seperti dulu? " kata Maxi lagi
" Haha, tentu, kakak lupa di luar negeri aku juga memasak sendiri, " kata Ayatha
tahu arah pembicaraan kakaknya
" Makan malam besok bagaimana? " kata Maxi lagi
" Tapi bagaimana jika setelah aku pulang, aku besok ingin pergi ke suatu tempat, "
kata Ayatha lagi
" Kau mau ke mana?" kata Maxi penasaran
" Beberapa minggu lalu adalah hari kematian sahabatku dari kecil, aku ingin mengunjungi
makamnya, sudah 4 tahun sejak dia meninggal, aku tidak pernah ke sana, kalau
dia tau pasti sudah marah sekali sekarang, aku tidak pernah datang ke sana,"
kata Ayatha tersenyum.
" Oh, baiklah, aku akan menyiapkan keperluanmu besok, "
" Tidak, aku tidak ingin membawa supir ataupun pengawal," kata Ayatha lagi
" Bagaimana bisa? nanti kamu tersesat, " kata Maxi
" Kakak, sekarang aplikasi maps itu banyak loh, lagi pula aku sudah biasa menyetir
sendiri, aneh jika di supirin gitu, " kata Ayatha lagi
Maxi menarik sudut bibirnya sedikit.
" Baiklah, oh iya, kalungmu bagus, " kata Maxi melihat kalung aquamarine yang
tergantung di leher Ayatha.
" Oh, ini dari Yosa, sahabatku yang besok akan aku kunjungi, " kata Ayatha
" Oh, begitu, " kata Maxi
" Iya, ayolah kakak, makan, " kata Ayatha mengambilkan sedikit lauk pada Maxi
" Baiklah kalau begitu, " kata Maxi lagi.
_______________________________________________________________
Pukul 09.00 esok hariya, Ayatha segera mengandarai mobil yang sudah di siapkan oleh Maxi, Ayatha
sudah melarang Maxi untuk membelikannya mobil baru, namun tetap saja dia membelikannya.
Ayatha meletakan karangan bunga lili putih yang indah di samping tempat duduknya,
setelah mengatur aplikasi mapsnya, dia lalu segera pergi. di perjalanan Ayatha
sangat senang, dia tersenyum sendiri, mendengarkan lagu kesukaannya disepanjang
jalan, di putar ulang terus menerus.
Perjalan yang cukup jauh itu menjadi tidak terasa bagi Ayatha, sudah lama sekali dia
tidak menginjakkan kakinya di sini, di kota kelahirannya.
Ayatha berhenti diperkarangan rumah neneknya, walaupun sudah 3 tahun di tinggalkan
rumah itu masih terawat, Maxi mengatakan bahwa sebulan 2 kali rumah itu akan di
bersihkan, karena dia tahu betapa Ayatha menyukai rumah itu.
Dia berjalan menuju rumahnya, membuka pintunya, masih sama, sofa, hiasan dinding,
barang-barangnya semua masih sama, tidak ada yang berubah, bahkan ranjangnya
pun masih di tempat yang sama, Ayatha tersenyum penuh arti, betapa dia
merindukan suasana rumah ini, merindukan masa-masa dia di sana.
" Permisi Nona, " kata seseorang memecahkan lamunan Ayatha, ada seorang Bibi
berumur 50 tahunan di pintu rumahnya.
" Iya Bi?" kata Ayatha, rasanya di tidak mengenalnya
" Maaf Nona, saya Bibi Asih yang di tugaskan oleh Tuan Maxi mengurus rumah ini, anda pasti Nona muda Ayatha bukan? " kata Bibi Asih ramah
" Oh, iya Bibi, terima kasih sudah merawat rumah ini, " kata Ayatha
" Rumahnya baru saja kemarin di bersihkan atas perintah Tuan, Tuan bilang kemungkinan Nona
akan kesini, dan dia benar, " kata Bibi Asih
Ayatha tersenyum, kakaknya benar-benar tahu apa yang dia butuhkan, jika saja dulu dia
tidak bercerai dengan Maxi, mungkin saja Maxi akan menjadi suami yang sangat
baik untuknya.
" Terima kasih Bi, " kata Ayatha lagi
" Jika butuh apa-apa, Nona bisa minta pada saya, " kata Bibi Asih lagi
" Tidak perlu, saya cuma menginap 1-2 hari di sini dan lagi ini kampung halamanku, aku
mengerti semua yang ada di sini, " kata Ayatha
" Baiklah kalau begitu saya pamit dulu Nona, saya sekarang tinggal di seberang, "
kata Bibi Asih
" Oh, baiklah, " kata Ayatha.
Setelah beristirahat sebentar dan meletakkan barang-barang yang dibawanya, Ayatha lalu pergi menuju
ke pemakaman.
Hari sudah cukup petang saat Ayatha sampai, masih sama, banyak pepohonan di antara
perkuburan itu, Ayatha berjalan menuju ke pusara Yosa. Setelah sampai dia
__ADS_1
tersenyum, wajah Yosa yang terpampang disitu membuat hati Ayatha tenang, sudah
3 tahun...terasa cukup lama namun juga cepat.
" Hai, Yosa? bagaimana di sana?" kata Ayatha meletakan bunga lili di pusara Yosa.
Hening,tidak ada jawaban, namun Ayatha sangat menikmati keheningan itu.
" Lihatlah, aku sudah datang, aku juga memakai pemberianmu, Yosa... di sini banyak yang
sudah terjadi, banyak juga yang sudah berubah, aku juga, " kata Ayatha
mengusap nisan Yosa
Angin meniup pepohonan membuat suara gemuruh yang menenangkan. Mungkin itu jawaban Yosa, dia
marah karena Ayatha tidak mendatanginya, atau marah karena sudah
berani-beraninya merebut cinta Andra, tapi Ayatha dan Andra juga sudah tidak
punya hubungan apapun sekarang.
" Aku baru bisa datang hari ini, maafkan aku, aku harap kau bahagia di sana, kalau
ada waktu aku akan mengunjungimu lagi, " kata Ayatha lagi.
Dia berdiri, tersenyum menatap foto Yosa, lalu berbalik ingin kembali namun matanya
menangkap sosok yang dia kenal.
Andra berdiri di ujung jalan masuk pemakaman dengan sebouquet bunga lili tangannya.
Ayatha terkejut, dia tahu kembali ke negara ini akan ada kemungkinan dia akan
bertemu dengan Andra, namun dia tidak menyangka akan menemuinya secepat ini, apa
dunia ini terlalu sempit?
Ayatha segaja untuk datang hari ini, karena ini sudah lebih dari seminggu dari hari
kematian Yosa, dia sengaja agar tidak bertemu siapapun di sini, namun
sepertinya perhitungannya salah, atau memang ini kehendak di Atas?.
Ayatha masih terpatung, begitu juga Andra di sana, dia tidak pernah menyangka akan bertemu
dengan Ayatha di sini, dia tahu Ayatha sudah pulang, tapi tidak tahu kalau dia
kedesa ini juga hari ini.
Jika Ayatha yang dulu, dia pasti menunduk, menutupi kesedihannya, gugup, dan takut...tapi
ini bukan Ayatha yang dulu, dia tidak menunduk, menatap dengan sangat pecaya
diri, seolah di depannya bukan siapa-siapa? Tapi memang dia bukan siapa-siapa
lagi bagi Ayatha.
Ayatha mulai berjalan, menuju kearah Andra, Andra menatap tatapan dingin Ayatha, tidak ada
kehangatan di sana, bahkan Ayatha dengan tenang berjalan melewatinya. Andra
benar-benar terdiam, wangi tubuh Ayatha di terbangkan angin, membuka kembali
rasa rindunya, namun juga perih di hatinya. Namun Andra hanya bisa melihatnya
pergi dengan suram.
Ayatha mengehentikan mobilnya di pertengahan jalan, hatinya masih tidak karuan,
mungkin dia hanya kaget karena melihat orang yang sama sekali tidak ingin dia
dan perasaannya, Ayatha kembali mengendarai mobilnya.
Dia memberhentikan mobilnya di kedai Bibi, dia bisa melihat Bibi kelihatan
mengantuk menjaga tokonya, Bibi masih kelihatan sama saja, tidak berubah sama
sekali.
" Selamat malam Bibi, " kata Ayatha menyapa, Bibi itu menatap Ayatha lekat-lekat,
dia sepeti familiar namun juga agak lupa, setelah agak lama mengamati akhirnya
dia sadar.
" Ayatha? kamu Ayatha? " kata Bibi itu senang sekali
" iya Bibi" kata Ayatha lagi
" Wah...!! Suamiku, lihat siapa yang datang, " kata Bibi menghambur
memanggil Paman yang ada di belakang
Paman datang memperhatikan Ayatha sama seperti yang dilakukan oleh Bibi tadi.
" Ini benar Ayatha? "kata Paman
" Iya Paman, " kata Ayatha tersenyum
" Lihatlah, betapa cantiknya dia sekarang, " kata Bibi memeluk Ayatha dengan erat, Ayatha
juga membalasnya.
" Kau ke sana saja, kami sangat merindukanmu, " kata Paman memegang lengan Ayatha
" Pergi mencari hidup baru, " kata Ayatha sekedarnya saja, tidak mungkin dia
menjelaskan semuanya.
" Berapa lama kau akan di sini?" kata Bibi semangat
" Mungkin besok aku akan pulang, " kata Ayatha lagi
" Cepat sekali, kalau begitu makan malamlah di sini, Paman akan memanggang beberapa
ikan hasil tangkapan Paman sendiri, " kata Paman
" Baiklah, " kata Ayatha.
" Ah... kau benar-benar cantik, " kata Bibi lagi, membawa Ayatha ke dalam.
Mereka berbincang, makan malam dan lanjut lagi berbincang, hingga tidak terasa waktu
sudah cukup malam.
" Bibi, sepertinya aku harus pulang, sudah malam, " kata Ayatha lagi
" Seringlah datang kemari yah, kami sangat senang kau datang, " kata Bibi
" Benar, beritahu jika datang, Paman akan memasakkan banyak sekali makanan enak untukmu,
" kata Paman
" Terima kasih Paman dan Bibi, Oh iya, ini.. aku membelikan ini untuk Paman dan Bibi,
hanya sedikit oleh-oleh dari ku, " kata Ayatha menyerahkan bungkusan untuk
__ADS_1
Bibi dan Paman.
Bibi membuka bungkusan yang di bawa Ayatha, isinya sebuah kotak perhiasan, Bibi membukanya,
lalu terlihat satu set perhiasan yang sangat indah. Bibi kaget tidak percaya,
dia sampai melongo
" Ini pasti mahal sekali, kenapa kau belikan Bibi hadian seperti ini? " kata Bibi
tak habis pikir, dia tidak pernah melihat perhiasan seindah itu.
" Itu rasa terima kasihku, tanpa Bibi dan Paman dulu, aku tidak akan bisa begini, "
kata Ayatha
" Suamiku, bagaimana dengan hadiahmu? " kata Bibi penasaran, melihat hadiah yang di
berikan Ayatha pada istirnya, Paman jadi gemetar membuka kotak yang ada di
dalam bungkusan itu. Setelah dibuka, tampak jam Rolex berwarna putih dan emas, Paman
kaget bukan kepalang.
" ini asli? Rolex asli? " kata Paman kaget
" Tentu, Paman senang?" kata Ayatha lagi
" Aku tidak pernah bermimpi memiliki jam sebagus ini, " kata Paman sama
terkejutnya
" Baguslah kalau Paman dan Bibi suka, sekarang aku harus pulang, besok aku harus menyetir
sendiri lagi," kata Ayatha
" Kau sangat beruntung Ayatha, terima kasih kadonya," kata Bibi masih syok
" Sma-sama, aku pulang ya Bi, Paman, terima kasih makan malamnya, " kata Ayatha masuk
kedalam mobilnya
" Hati-hatilah malam ini dan besok, " kata Bibi dan Paman, Ayatha hanya tesenyum, Bibi
melambaikan tangannya dengan cepat.
Ayatha meninggalkan tempat itu dengan senyum sumringah, dia mengendarai mobilnya
menuju ke rumahnya. Saat tiba, dia melihat mobil terparkir di sana, Andra juga
berdiri bersandar di sana, seperti menunggu. Ayatha menegerutkan dahi, sedang
apa dia di sana?
Ayatha keluar dari mobilnya, Andra tampak memperbaiki cara berdirinya, namun sama
seperti tadi, Ayatha seolah tidak melihatnya.
" Ayatha... berhenti," kata Andra dengan suara beratnya. Otak Ayatha sebenernya
memerintahkan kakinya untuk terus berjalan, namun entah kenapa dia malah
terhenti.
" Bisakah kita bicara?" kata Andra lagi
" Maaf sudah malam, aku ingin istirahat, " kata Ayatha tanpa berbalik, dia segera
berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Ayatha membereskan barangnya, melihat sekilas di jendela, Andra masih disitu berdiri.
Apa sih maunya dia? Pikir Ayatha kesal, apa tidak cukup membuat hatinya patah
sekali, kenapa orang suka sekali mempermainankan perasaan orang.
2 tahun yang lalu, Ayatha sangat mencintainya, memberikan segalanya baginya, namun dia
meninggalkannya begitu saja, sekarang setelah Ayatha bisa melupakannya, kenapa
dia harus datang lagi dengan sikap begitu? Tidak adil bukan...kalau sudah
meninggalkan, jangan penah kembali lagi.
Ayatha berusaha tidak peduli, dia lalu membersihkan dirinya, setelah mandi, dia
melihat lagi, mobil Andra masih di situ, namun sepertinya Andra sudah masuk
kedalam mobilnya, mungkin saja dia tidak tahan dinginnya udara malam,biarkan
saja, nanti juga dia pulang, tak mungkin menunggu sampai selamanya di dalam
mobil, pikir Ayatha.
Dia merebahkan dirinya di kasur, mengantuk dan lalu tertidur karena kelelahan. Jam
3 pagi Ayatha terbangun mendengar suara mesin mobil yang di lajukan, akhirnya
dia pergi juga, pikir Ayatha, dia melanjutkan tidurnya.
Ayatha terbangun pukul 09.00 pagi, dia membuka matanya, melihat kamar yang sangat
familiar baginya, tidurnya cukup nyenyak walaupun terusik dengan kehadiran Andra,
pulang kampungnya sekarang cukup menyenangkan.
" Permisi Nona, ini Bibi Asih, " kata Bibi Asih di luar kamarnya
" Masuk saja Bi, " kata Ayatha.
" Baik Nona " kata Bibi Asih membuka kan pintu
" Ada apa?" kata Ayatha
" Nona tahu, semalam ada seorang pria yang menunggu Nona di depan pintu hingga pagi,
dia baru pergi setelah saya memanggil polisi," kata Bibi Asih lugu
" Apa? Polisi? Bibi memanggil polisi? " kata Ayatha kaget
" Iya, karena dia mencurigakan, menunggu hingga pagi seperti itu, saya panggil saja
polisi, " kata Bibi Asih
Ayatha kaget, bagaimana semalam Andra menunggunya di luar, lalu polisi menegurnya, dia
pasti merasa sangat di rendahkan. Tiba-tiba saja Ayatha jadi khawatir.
" Nona, sarapan anda sudah saya siapkan, " kata Bibi Asih memecah lamunan Ayatha
" Baiklah, terima kasih Bi," kata Ayatha.
Ayatha mandi lalu memakan sarapan yang di buat Bibi Asih, pikirannya terbang ke Andra,
bagaimana perasaanya kemarin saat polisi datang? Lalu kenapa sekarang dia jadi
peduli dengan Andra? Pikir Ayatha lagi
__ADS_1
Setelah membereskan barang, di bantu Bibi Asih, Ayatha kembali lagi ke Ibu kota.