Meadow

Meadow
Karena dia sangat manis


__ADS_3

Hari itu berjalan seperti biasa, seperti yang diperintahkan oleh Andra, Ayatha hanya melakukan tugasnya, selanjutnya Ayatha hanya menungu perintah, namun biasanya dia berdiri di depan pintu kamar Nyonya Renata, sekarang dia berdiri di depan kamar Andra.


Susana ruangan yang sepi dan sejuk membuat Ayatha mengantuk, membuat dia hampir beberapa kali hampir terpejam.


" Hei hei, " kata Seseorang membangunkan Ayatha.


" Eh... Tuan Muda, " kata Ayatha sambil melihat Weyren yang sudah ada di sampingnya.


" Mulai sekarang kau harus memanggilku Tuan Muda Wayren, nanti saat aku bersama kakak, aku tidak mau salah tanggap, " kata Wayren tersenyum jahilnya.


" Iya tuan muda," kata Ayatha yang tidak terlalu fokus dengan apa yang disebutkan oleh Wayren.


" Tuan Muda Wayren, kau menambahkan tampan jika ingin lebih intim lagi, " kata Wayren lagi mengerjai Ayatha


" Tampan? " kata Ayatha dengan wajah bertanya, dia masih belum tahu bahwa dia sedang dikerjai oleh Wayren


" Yup... Pikirkanlah " kata Wayren masuk ke kamar kakaknya meninggalkan Ayatha yang kebingungan.


Wayren masuk dan melihat kakaknya yang sedang duduk membaca, senyum tidak bisa lepas dari bibirnya yang tipis.


" Ada apa dengan mu? " tanya Andra yang melihat adiknya yang tersenyum terus.


" Aku baru mengerjai pelayan pribadimu, " kata Wayren melihat kakaknya.


" Owh...Benarkah?, " kata Andra seperti tidak perduli.


" Yah... Ehm.. Kau pulang untuk bersama kami atau hanya ingin membaca buku? " tanya Wayren yang mulai kesal melihat tingkah kakaknya.


" Well...memangnya apa yang mau kita lakukan? " tanya Andra sambil menutup bukunya.


" Seperti biasa... Yang kalah harus traktir sepuasnya, " kata Wayren.


" Ah... Aku sudah bisa membeli semuanya ,tidak usah bermain lagi, " kata Andra tersenyum melihat Adiknya


" So? Kau ingin apa dariku? " kata Wayren mengerti senyuman kakaknya.


" Mobilmu, jika aku menang aku boleh memakai mobilmu, bagaimana ? " kata Andra.


" Kau bisa memakai semua mobil yang ada di sini. " kata Wayren


" Aku mau mobil mu, 'Mobil' mu, " kata Andra menekankan kata katanya yang terakhir


" Dari mana kau tahu tentang itu, " kata Wayren penasaran


" Aku tahu segalanya adik kecil. " kata Andra tersenyum


" Tapi kalau aku yang menang... Pelayan pribadimu akan menjadi pelayan ku, " kata Wayren


" Ehm.. Kau sungguh-sungguh terobsesi dengan pelayan itu, " kata Andra menatap adiknya.


" Ntah lah... Mungkin karena dia begitu manis, " jawab Wayren tersenyum.


Andra hanya melihat senyum adiknya dengan datar, ntah apa yang sedang dipikirannya


" Bagaimana? " kata Wayren menantang kakaknya.


" Ok...tidak masalah... Lagi pula aku akan menang," kata Andra menutup bukunya.


" Jangan senang dulu...aku juga berlatih di sini, " kata Wayren.


" Let's we see," kata Andra segera bangkit, begitu juga dengan Wayren.


Andra dan Wayren segera keluar dari kamar, Ayatha yang dari tadi mengantuk tiba- tiba kaget melihat kedua Tuan Mudanya keluar.


" Nah... Kau tidur lagi, " kata Wayren menggoda Ayatha yang tampak gugup melihat mereka, Andra hanya melihat apa yang dilakukan adiknya


" Eh..tidak tuan, " kata Ayatha gugup dipelakukan begitu oleh Wayren, belum lagi dia melihat Andra keluar dengan wajah datarnya.


" Aku hanya menggodamu, tak perlu gugup begitu, owh...ya... Sediakan air mineral untuk kami, kami ingin ke lapangan belakang, " kata Wayren tersenyum.

__ADS_1


" Baik Tuan Muda, " kata Ayatha segera memberi hormat dan pergi.


" Hey, Ayatha, " kata Wayren memanggil Ayatha kembali, Ayatha segera melihat tuan mudanya yang jahil itu.


" Kau lupa, Tuan Muda Wayren, tambahkan ' yang tampan' jika mau, " kata Wayren tersenyum nakal.


" Ahhh... Ayolah adik kecil itu tidak penting, " kata Andra sambil merangkul adiknya pergi.


Ayatha hanya melihat tuan mudanya yang aneh itu dengan terdiam.


Ayatha segera membawakan beberapa minuman mineral untuk kedua tuan mudanya, Bibi Moi mengingatkan untuk membawa setidaknya lebih dari tiga botol air mineral, karena biasanya tuan mudanya jika sudah bermain basket di lapangan, pasti menghabiskan lebih dari 1 botel air mineral.


Ayatha segera meletakkan air yang dibawanya di meja yang ada di dekat lapangan basket yang terdapat di perkarangan belakang rumah. Ketika Wayren melihat Ayatha datang, dia segera tersenyum padanya, Andra yang melihat tingkah adiknya segera mengarahkan bola kearah Wayren dan mengenai tangannya.


" Fokus, " kata Andra pada Wayren.


" Hey, kita belum bermain, masih pemanasan" kata Wayren yang kesal di lempar bola basket oleh Andra, dan segera melempar kembali bola kearah Andra, Andra dengan sigap menangkapnya dan memasukkannya ke dalam ring basket, Andra tersenyum puas melihatnya.


" Bagaimana adik kecil? " kata Andra mengejek adiknya.


" Aku juga bisa melakukannya " kata Wayren yang tidak mau kalah, dia segera menggambil bola basket, setelah beberapa kali dia drible, dia segera memasukkan bolanya ke ring. Wayren tersenyum bahagia.


" Not bad, " kata Andra pada adiknya.


"  Gimana? Sudah cukup pemanasannya? " kata Wayren menantang kakaknya.


" Siapa takut, " kata Andra.


Selanjutnya Andra dan Wayren bertanding di lapangan bola basket itu, sinar matahari yang cukup menyengat tidak menghalangi mereka, mereka sangat serius bertanding, Ayatha hanya diam, berdiri melihat kedua tuan mudanya bertanding dengan sengit.


" Ini seperti dulu lagi, " kata Bibi Moi tiba-tiba ada di samping Ayatha.


" Eh, Bibi, " kata Ayatha yang kaget.


" mMelihat senyum Tuan Andra dan Wayren, melihat mereka bermain seperti ini, benar - benar sudah lama, Nyonya pasti sangat bahagia, " kata Bibi Moi tersenyum bahagia.


" Benarkah? " kata Ayatha.


" Kenapa And..eh..Tuan Muda Andra di pindahkan ke Amerika sendiri? " kata Ayatha.


" Entahlah... Tuan Muda Andra adalah pewaris utama, dari dia kecil dia sudah dipersiapkan menjadi pewaris yang sempurna, aku dengar dari Nyonya, dia dikirim kesana untuk belajar bisnis, seperti pewaris pewaris sebelumnya, dengan kata lain Tuan Andra  harus meneruskan tradisi keluarga bahkan sebelum dia tahu apa yang dilakukannya" kata Bibi Moi melihat ke arah Andra yang sedang serius bertanding dengan adiknya.


Ayatha juga melihatnya, dia ingat tatapan dan pandangan kosong yang sering Andra tunjukkan dulu saat dia diam, begitu susah kah dirinya? Kata Ayatha sambil terus melihat Andra dari jauh, rasa kasihan menyelimuti hatinya saat melihat Andra.


Tiba- tiba Andra tertawa lepas saat dia berhasil memasukkan bola ke ring, ini pertama kali Ayatha melihat Andra tertawa begitu lepas... Ntah kenapa jantungnya berdegup sangat kencang, Andra sangat tampan jika tertawa lepas seperti itu, tapi ntah bagaimana tiba-tiba saja Ayatha merasa tersipu melihat Andra yang seperti itu.


Ada apa dengan ku? Tanya Ayatha pada dirinya sendiri, dia bahkan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


" Tapi mereka sudah disini, sangat senang melihat Tuan Andra dan Tuan Wayren tertawa seperti itu lagi " kata Bibi Moi, Ayatha langsung kembali sadar dengan kenyataan yang ada di sekelilingnya.


" Bibi, benar Tuan Andra sudah delapan tahun tidak pernah pulang? " tanya Ayatha, pertanyaan itu tiba - tiba ada dipikirannya.


" Ya.. Tuan Andra tidak pernah pulang sebelumnya, kenapa? " kata Bibi Moi menatap Ayatha.


" Ah, tidak apa-apa bibi. " kata Ayatha


Kalau Andra tidak pernah pulang, bagaimana dia bisa bertemu Yosa, Yosa tidak pernah tinggal di Amerika, setidaknya Yosa tidak pernah bercerita dia tinggal atau sekedar pergi ke Amerika, kalau Andra tidak pernah pulang, bagaimana dia bisa ada di desanya? Bersekolah di sana? Bagaimana bisa? Pikir Ayatha.


" Hey,minumlah, aku tidak mau kau pingsan d sini, " tiba tiba Wayren menyodorkan satu botol air mineral pada Ayatha, membuat Ayatha kaget.


Andra dari lapangan basket hanya memperhatikan apa yang dilakukan adiknya, lalu dia melemparkan bola memasukkan bola ke dalam ring, wajahnya tidak lagi memampakkan senyum indahnya, wajahnya terlihat dingin.


" Eh.. Terima kasih Tuan Muda.. Tuan Muda Wayren "kata Ayatha yang baru ingat kalau Wayren harus di panggil begitu.


" Nah.. Itu yang benar, " kata Wayren lalu meminum minumannya.


" Hey, adik kecil, kita belum selasai, kau lama sekali, " kata Andra memanggilnya


" Wish me luck, " kata Wayren sambil tersenyum pada Ayatha sebelum dia pergi kembali ke lapangan, Ayatha hanya tersenyum geli melihat kelakuan Wayren, namun matanya kembali melihat ke seseorang, Andra.

__ADS_1


Dan kebetulan Andra juga sedang melirik kearah Ayatha, namun hanya sekejap, lalu Andra langsung kembali kepermainannya.


Wayren menghempaskan bandannya di kursi taman, Andra menyusul sambil tersenyum puas, pertandingan selesai, dan Wayren kalah dari aAndra, itu membuatnya sedikit frustasi.


" Aku minta tanding ulang, " kata Wayren yang tidak mau mengakui bahwa dia sudah kalah dengan andra.


" Kau akan tetap kalah dengan ku, " kata Andra sambil meminum minumannya.


" Ah... Tidak bisa besok harus ada tanding ulang, " kata Wayren.


" bBesok aku ingin pergi kesuatu tempat, " kata Andra sambil melihat jauh kedepan.


" Kau mau kemana? " kata Wayren penasaran, karena dia tahu kakaknya tidak pernah pulang selama delapan tahun, bangaimana dia ingin pergi kesuatu tempat?.


" Suatu tempat, " kata Andra lagi sambil tersenyum, Andra langsung melihat kearah Ayatha.


Ayatha yang berdiri di belakang mereka, tidak mengetahui pandangan Andra padanya.


" Ayatha, bisa kau membuatkan aku teh... Harus kau yang membuatnya, biar semangatku kembali, ok, " kata Wayren lagi.


" Eh... iya Tuan Muda Wayren " kata Ayatha, dia melihat kearah Andra... Andra yang tahu maksud Ayatha langsung menjawab.


" Tidak perlu, ini sudah cukup " kata Andra sambil memalingkan pandangannya.


" Baik Tuan Muda," kata Ayatha memberi hormat dan segera pergi.


" Kau kenapa?" kata Wayren.


" Apa?" kata Andra yang tidak tahu maksud adiknya.


" Sepertinya kau tidak menyukai pelayan mu? " kata Wayren melihat kakaknya, Andra tidak melihatnya, dia menaruhkan botol minumannya lalu bersandar.


" Tidak, hanya pikiran mu saja," kata Andra membalas adiknya seadanya.


" Benarkah?" kata Wayren masih penasaran dengan sikap kakaknya.


" Kenapa? Kau benar-benar tertarik dengan pelayan itu? Kenapa kau tidak menjahilinya seperti pelayan yang lain, " kata Andra


" Iya.. Dia tidak seperti gadis yang lain, " kata Wayren menatap ke depan lalu tersenyum.


" Kenapa? " kata Andra yang melihat tingkah adiknya.


" eEntah lah, aku hanya merasa seperti itu "


" Ah.. Kau belum berubah, kau selalu menganggap semua wanita berbeda, kau bahkan bisa menyukai seseorang tanpa mengenalny, " kata Andra tertawa mengejek pada adiknya.


" Bagimana dengan mu? Sepertinya kau mengenalnya? " kata Wayren menatap Andra dengan serius.


" Apa maksudmu? " kata Andra kaget dengan pernyataan adiknya.


" Aku melihat kau semalam bersamanya di dapur, sepertinya kalian sudah akrab, "


Andra terdiam kaget, bagaimana wayren bisa tahu?...apakah dia sudah tahu?


" E..aku hanya mengatakan padanya, bahwa... Aku tidak suka diikuti oleh pelayan pribadi dan jangan menyentuh barang- barangku, " kata Andra mencoba mengarang alasan.


" Hah... Kau seharusnya tidak boleh begitu keras padanya, pantas dia kelihatan ketakutan melihat mu, " kata Wayren langsung menasehati kakaknya, Andra bernapas lega, sepertinya Wayren tidak tahu apa yang dikatakannya pada Ayatha semalam.


" Iya, kenapa aku tidak boleh terlalu keras padanya? " kata Andra tersenyum sambil kembali meminum minumannya.


" Kau tahu, karena dia sangat manis, " kata Wayren tersenyum


" Kau benar-benar playboy, " kata Andra


Ayatha datang dan segera menungkan teh kepada Wayren


" Lihat, kan dia begitu manis kan? " kata Wayren dengan senyuman menggoda.


Ayatha langsung gugup karena godaan Wayren.

__ADS_1


" Lihat lah apa lagi jika dia sudah gugup seperti itu, " kata Wayren kembali mengoda Ayatha.


Ayatha tambah gugup dah hanya tersenyum pada Wayren, Andra melirik ke arah Ayatha yang sedang tersenyum kepada Wayren, kebetulan Ayatha melihat kearah Andra, dia langsung menunduk dan segera kembali kebelakang, Wayren hanya melihat Ayatha, dia hanya berpikir Ayatha sangat takut pada kakaknya.


__ADS_2