
Wayren menyuruh Ayatha untuk mengemasi keperluannya untuk dibawa besok, Ayatha segera melakukannya, sementara Wayren mandi.
Saat dia keluar dari kamar mandi, Wayren sedang mengeringkan rambutnya. Saat dia melihat Ayatha sedang menata baju-bajunya.
Wayren tersenyum, namun dia masih teringat penolakan yang dilakukan oleh Ayatha kemarin malam.
" Hei, sudah selesai?" kata Wayren
" Belum Tuan, sedikit lagi" kata Ayatha
Wayren merangkul Ayatha dari belakang, membuat Ayatha terdiam, wangi segar dari tubuh Wayren tercium oleh Ayatha.
" Sepertinya aku akan merindukanmu," kata Wayren, Ayatha yang di perlakukan begitu jadi gugup dan malu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Wayren dan Ayatha kaget, Andra ada di sana. Ayatha langsung melepaskan diri dari dekapan Wayren.
" Maaf Tuan saya permisi dulu," kata Ayatha segera pergi
Wayren mengigit bibirnya, sedangkan Andra tampak suram.
" Ada apa?" kata Wayren terlihat terganggu dengan kakaknya
" Kau akan pergi besok? " kata Andra canggung
" Iya… aku butuh suatu tempat untuk sendiri, " kata Wayren memasukkan beberapa barang kedalam tasnya. Tebakkan Andra benar, adiknya masih terpengaruh kejadian semalam.
" Oh…" kata Andra
Wayren terdiam sejenak
" Ingat tidak aku pernah bertanya padamu tentang apakah kau menyukai Ayatha, aku ingin Tanya sekali tentang itu? " kata Wayren
Andra terdiam…
" Aku sudah pernah menjawabnya kan?"
" Aku hanya ingin tahu, apakah jawabanmu masih sama?"kata Wayren menatap kakaknya tajam
" Jawabanku masih sama" kata Andra serius juga. Wayren menatap kakaknya lekat-lekat.
__ADS_1
" Baiklah, aku percaya padamu, aku takut Ayah akan pulang saat aku tidak ada, tolong bantu aku menjaga Ayatha selama aku tidak ada, namun jangan melukainya, " kata Wayren tajam
" Kau menyuruhku menjaganya?" kata Andra
" Kau juga sudah berjanji pada Yosa bukan untuk mejaganya, kali ini aku ingin kau menepati janjimu pada Yosa " kata Wayren.
Andra terdiam, iya, dia memang berjanji dan memang dia ingin melakukannya.
" Baiklah" kata Andra
Wayren terenyum sedikit, ada keraguan tapi dia juga tidak bisa terus begini, pikirnya.
....................................................
Wayren memasuki bus yang akan membawanya ke tempat camping mereka, dia segera duduk di bangku paling depan, memakai handsetnya dan menutup wajahnya dengan hoodie yang dipakainya. Dia ingin tidur sesaat, karena beberapa hari ini dia sama sekali tidak bisa tidur tenang.
Tiba-tiba dia meresakan sesuatu yang duduk disampingnya dengan kasar, Wayren kesal karena tidurnya terganggu.
" Tidak bisakah kau tidak mengangguku untuk 1 hari saja? "kata Wayren kesal melihat Risa
Wayren bangkit dan keluar, menghadap ke guru yang bertugas membagikan tempat duduk.
" Ada apa Wayren?"kata guru itu kaget melihat Wayren disampingnya
" Bisakah aku ganti tempat duduk?" kata Wayren malas
" Maaf Wayren, kami tidak menyediakan tempat kusus bagimu karena biasanya kamu tidak pernah ikut acara seperti ini, jadi kami tidak menyediakan tempat khusus, dan semua kursi sudah full, tinggal itu, " kata guru itu dengan sungkan menjelaskan.
Wayren tidak menjawab, wajahnya masam, dia sebenernya mau pergi karena ingin menenangkan diri namun rasanya akan susah, mengingat Risa ada disana.
Wayren masukk lalu kembali duduk di tempat duduknya, Risa melihatnya.
" Kenapa kau di sini lagi?" kata Risa risih
Wayren dengan malas menunjukan kertas tempat duduknya, dan memang dia juga duduk di situ.
" Jangan ganggu aku" kata Risa
" Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, sudah lah aku mau tidur, " kata Wayren menutup wajahnya dengan hodienya lagi.
__ADS_1
Dan perjalan dimulai, Wayren sama sekali tidak bisa tidur, karena sepanjang perjalanan, rombongannya bernyanyi dengan keras, apa lagi Risa juga dengan semangat bernyanyi. Dia sudah ingin sekali menutup mulut Risa, namun urung di lakukan melihat mereka duduk di depan guru. Wayren hanya bisa meringkuk dalam hodienya.
Setelah perjalanan hampir 5 jam, mereka sampai juga, ini daerah perkemahan, di dekat gunung, tempatnya sejuk dan masih hijau.
Wayren melihat ke sekeliling saat mereka sudah sampai. Dia melihat kertasnya, tidak tertulis di mana tempat tinggalnya.
" Pak guru, aku tinggal di mana?" kata Wayren pada Pak Tan
" Sebenernya, ini.. Wayren kamu akan tinggal di pondok itu," kata Pak Tan
" Pondok? Bukannya kita akan berkemah?" kata Wayren megerutkan dahi
" Iya, tapi khusus anda, anda akan tinggal di pondok itu, " kata Pak Tan
Wayren menatap Pak Tan dengan serius, ini pasti kelakuan ibunya, sebenarnya dia malas seperti ini, di bedakan dengan yang lain itu sangat tidak enak. Dengan kesal dia menuju pondok itu sendirian, sedangkan teman-temannya sedang berkumpul beberapa kelompok untuk membangun tenda.
Pondok itu lumayan besar untuk di tempati sendiri, dindingnya terbuat dari kayu pohon pinus yang tersusun, khas perumahan desa.
Dan yang membuat Wayren tambah tidak nyaman, sudah berdiri 2 orang bodyguard disana.
" Selamat siang Tuan Wayren," kata Bodyguard
" Siapa yang menyuruh kalian ke sini?" kata Wayren kesal
" Nyonya Renata sangat khawatir karena ini pertama kalinya anda berkemah, lalu Nyonya menyuruh kami untuk menjaga anda di sini "
" Bagaimana aku mau berkemah? Kalau begini sama saja seperti di rumah, " kata Wayren kesal.
" Wah, tempat tinggalmu bagus sekali dan Tuan Muda memang butuh yang menjaga, jangan sampai Tuan Muda terluka, " kata Risa yang tiba-tiba ada di belakang Wayren dengan nada mengejeknya. Wayren menatap wanita itu dengan tatapan kesal, dasar wanita gila ini, pikirnya
" Kalian boleh bertugas asal jaraknya 1 km dari aku, sekarang laksanakan atau aku akan memecat kalian semua," kata Wayren hampir berteriak
Bodyguard itu saling berpandangan, mereka tahu record Wayren yang sering memecat pelayan-pelayan dirumah, kalau mereka tidak turuti pasti mereka juga akan di pecat.
" Kalian tidak dengar? " kata Wayren lagi
" Ba..baik Tuan, "kata para bodyguard itu bergegas pergi. Sedangkan Risa masih tertawa mengejek. Akan aku cekik mati wanita gila itu saat di gunung, pikir Wayren.
__ADS_1