Meadow

Meadow
Dia tidak boleh menyadang nama itu...


__ADS_3

" Nanny!!! " teriak Raphael, berhenti di dekat Nanny dan Nyonya Renata. Raphael


memiringkan kepalanya sedikit, membuat dia bertambah imut.


" Andra? " kata Nanny kaget sekaligus bingung, bagaimana Andra bisa ada di sini?


Pikir nya, belum selesai keterkejutannya dia melihat Ayatha yang mengejar di


belakangnya, di ikuti oleh Maxi juga.


Nyonya renata juga sama terkejutnya, melihat dengan dalam wajah Raphael, bagaimana


bisa dia memanggil ibu mertuanya dengan Nanny, apa lagi saat Nanny memanggilnya


'Andra', Nyonya Renata menatap Raphael, wajahnya mirip dengan Andra sewaktu


kecil, saat dia sadar, dia lebih kaget melihat Ayatha yang mengejar anak yang


ada di depannya itu. Saking kagetnya Nyonya Renata hanya bisa berdiri terdiam


dan mematung.


" Ibu, Nanny ada di sini, " kata kata Raphael pada ibunya


Ayatha terhenti melihat Nyonya Renata, Nanny memang sering bertemu dengannya, dia juga


yang membantunya mengurus Raphael saat dia baru melahirkan di Kanada, tapi


melihat Nyonya Renata setelah 5 tahun, rasanya sedikit canggung. Ayatha hanya


tersenyum sambil memberi salam.


" Andra, bagaimana kalian bisa di sini? “ kata Nanny yang masih tidak percaya yang ada di


depannya. bukannya Maxi mengatakan tidak akan mengizinkan Ayatha kembali? lalu


kenapa mereka pulang? Dia mendekati Raphael, Raphael dengan gayanya memeluk


kaki nannynya


" Kami baru saja sampai, " kata Ayatha Ayatha lembut kepada Nanny.


Nyonya Renata masih tidak percaya, menatap Ayatha dengan tatapan yang bingung, dia


melihat ke arah Nanny, Nanny hanya mengangguk. Raphael melihat sekilas kearah


neneknya, tersenyum sangat imut padanya. Tanpa sadar Nyonya Renata terharu


melihat Raphael, dia mendekatinya, berjongkok agar dia sejajar dengan Raphael.


" Halo, " kata Raphael pada Nyonya Renata, masih memeluk kaki nannynya, menatap


dengan malu-malu


" Halo, " kata Nyonya Renata, matanya berkaca-kaca.


" Anda siapa? " kata Raphael lagi


Nyonya Renata memandang mertuanya, melihatnya seperti ingin mencari jawaban agar bisa


menjawab pertanyaan Raphael.


" Dia anak Andra, namanya juga Andra, Andra Raphaelo, Ayatha mengandungnya saat


setelah kecelakaan itu, " kata Nanny menjelaskan.


Nyonya Renata tidak bisa menahan tangisnya, menatap ke arah Raphael kecil yang sangat


imut, melihat ke arah Ayatha, tidak bisa mengungkapkan kata-katanya… sangat


senang, sangat terharu, mengelus kepala Raphael kecil, Nyonya Renata


benar-benar terharu.


" Nyonya, jangan menangis, " kata Raphael kecil menghapus air mata Nyonya Renata


yang jatuh di pipinya yang putih, Nyonya Renata tersenyum terharu, mencium


telapak tangan Raphael yang kecil. Nanny juga terharu melihat pertemuan nenek


dan cucu ini untuk pertama kalinya. Dia tidak bisa menahan tangisnya juga.


" Rapha, " kata Ayatha mendekati anaknya, berjongkok di belakang Raphael.


" Iya, Ibu? " kata Raphael melepas pelukan dari kaki nannya


" Panggil Nenek, " kata Ayatha


Raphael melihat kearah Nyonya Renata, melihatnya dengan matanya yang hitam dan wajahnya yang imut.


" Nenek." kata Raphael menatap lembut pada neneknya, Nyonya Renata tampak sangat


senang, namun tidak bisa menahan tangisnya, memeluk Raphael dengan sangat erat. Mengendongnya.


Raphael anak yang mengerti keadaan, di saat seperti ini dia hanya diam di pelukan Nyonya


Renata, Nyonya Renata terus menangis, memeluk, mencium, seakan tidak ingin


melepaskan Raphael kecil dalam pelukannya. Ayatha melihat itu hanya tersenyum haru, Nanny pun meneteskan air matanya, Maxi juga hanya tersenyum.


"Rapha, sekali lagi panggil Nenek." kata Nyonya Renata dengan sangat lembut

__ADS_1


menatap mata hitam Raphael


"Nenek." kata Raphael lagi dengan wajah bingungnya


Nyonya Renata kembali memeluk Raphael, mencium pipinya dengan gemas. Terus saja


begitu, bahkan dia tidak lelah mengendong Raphael.


" Rapha,ayo turun, nenek akan capek nanti, " kata Ayatha mengatakan pada Raphael


" Tidak, biarkan saja, aku ingin mengendongnya, tidak pernah bertemu dengannya dari kecil, baru bertemu setalah sebesar ini, aku ingin mengendongnya, " kata Nyonya Renata memaksa


Ayatha tidak bisa membantah… Dia hanya tersenyum


" Baiklah, ayo cari tempat untuk berbicara, " kata Maxi menyarankan


" Iya, kau benar… aku sudah tua, tidak bisa terlalu lama berdiri, " kata Nanny lagi


" Iya, " kata Ayatha mengandeng Nanny untuk membantunya berjalan.


Mereka akhirnya duduk di sebuah restaurant keluarga yang memilki ruang pribadi, Maxi


sengaja membookingnya khusus. Di sepanjang perjalanan, Nyonya Renata terus


mengendong Raphael, setelah di sana pun, Nyonya Renata hanya ingin duduk dengan


Raphael.


" Berapa umurnya sekarang? " katanya Nyonya Renata tersenyum sumringah melihat


kearah Raphael yang sedang memainkan mainannya


" 4 tahun hampir 5 tahun "kata Ayatha yang tersenyum melihat tingkah Nyonya


Renata, di ingatannya Nyonya Renata wanita yang sangat lembut, yang sangat


elegan dan berkelas, saat ini Nyonya Renata lebih seperti nenek yang sangat


bahagia bermain-main dengan cucunya, dia tidak memperdulikan bagaimana caranya


berbicara lagi, hanya mencoba membuat Raphael tertawa.


" Sudah sangat besar, cucuku sangat tampan, Bu," kata Nyonya Renata menatap Nanny


" Tentu, dia sudah tampan sejak lahir, " kata Nanny meminum tehnya


" Aku sangat iri Ibu bisa melihatnya dan merawatnya dari kecil, kenapa begitu kejam


menyembunyikannya dari ku? " kata Nyonya Renata sedikit protes pada Nanny.


" Keadaanya sangat tidak memungkinkan, aku beberapa kali hampir mengatakannya padamu, tapi


untunglah aku bisa menyembunyikannya, " kata Nanny


dia mentap Ayatha. Nanny juga penasaran, kedua orang tua itu menatap Ayatha


" Sudah, " kata Ayatha sembil tersenyum


Nyonya renata memandang Nanny, Andra sudah bertemu dengan Raphael, lalu kenapa dia


tidak membawa Raphael dan Ayatha pulang?


" Lalu? bagaimana hubungan kalian? “ kata Nyonya Renata penasaran


" Aku rasa kami tidak punya hubungan, aku pulang juga bukan karena Andra, aku hanya


ingin Raphael tahu di mana kampung halamannya yang sebenarnya, lagi pula kami


tidak bisa seterusnya bersembunyi " kata Ayatha


Pandangan mata Nyonya Renata tampak suram, memandang ke arah Ayatha. Namun tidak berkata apapun, Nyonya Renata adalah orang yang sangat berhati-hati dalam bebicara, dia tidak ingin memperkeruh suasana.


" Siapa namamu sayang? " kata Nyonya Renata menatap Raphael


" Andra Raphaelo Medison, " kata Raphael tersenyum


Nyonya renata langsung menatap Ayatha, tatapannya sedikit tajam.


" Dia seorang Tadder, kenapa memakai nama kalian? Dia adalah cucu pertama kami,


penerus keluarga, dia harus mengetahui posisinya, " kata Nyonya Renata


menatap Ayatha dengan serius, seakan tidak rela Raphael mengunakan nama itu.


" Aku tidak ingin dia menggunakan nama itu, aku ingin dia tumbuh sesuai dengan


keinginannya, tidak ingin memberikan beban untuknya, " kata Ayatha menatap


Nyonya Renata, Nyonya Renata seperti tidak mengerti.


" Tapi tetap saja, darah yang mengalir di dirinya itu adalah darah Andra, dia seorang


Tadder, " kata Nyonya Renata lagi


" Nyonya, sepertinya kita tidak bisa mengatakan seperti itu, Raphael mungkin anaknya Andra, tapi dia dari awal dirawat olehku, aku yang memberikannya nama itu" kata Maxi sedikit tidak setuju dengan pemikiran Nyonya Renata.


" Tapi bagaimanapun darah lebih kental dari pada air, dia harus tahu, keluarga pun


harus tahu, " kata Nyonya Renata, dalam hatinya dan benaknya dia takut


untuk berpisah dengan Raphael, jika Raphael menyandang nama Tadder, dia akan

__ADS_1


bersama dengan Raphael selamanya, bagaimana pun hatinya sudah sangat jatuh


cinta pada Raphael.


" Renata, tenanglah, Ayatha dari awal juga tidak ingin memutus hubungan darah, kalau


tidak, dia tidak akan mengizinkan ku merawat Raphael dari kecil, hubungan Ayatha


dan Andra sangat rumit, apa lagi tidak ada pernikahan, kita tidak bisa memaksa


Raphael untuk menerima nama keluarga kita, " kata Nanny menjelaskan, mata Nyonya


Renata terlihat suram, dia tidak pernah membantah kata-kata mertuanya, namun


dia benar-benar takut berpisah dengan Raphael sekarang.


" Ibu, aku tidak akan membawa Raphael pergi, kami akan di sini, akan memberitahumu


kapan pun dan kemana pun kami pergi, soal aku dan Andra, kami sudah menyerahkannya pada nasib, jika memang tidak bisa bersama, aku tetap akan membawa Raphael padamu, " kata Ayatha


Nyonya renata menatap Ayatha, 5 tahun tidak bertemu, Ayatha sudah tidak seperti wanita


yang dulu di kenalnya, wanita yang ini lebih pengertian, lebih tidak terburu-buru, lebih anggun, dan pastinya ke ibuan, tidak mengikuti nafsunya lagi.


Mendengar perkataan Ayatha, dia sedikit tenang, Raphael memengang tangannya, membuat hati Nyonya Renata seketika hangat. Dia kembali bermain dengan Raphael


" Baiklah, " kata Nyonya Renata mencoba mengerti


" Ibu, satu lagi permintaanku, " kata Ayatha


" Apa? " kata Nyonya Renata menatap Ayatha, tangannya masih di mainkan oleh Raphael.


" Aku ingin agar ibu tidak memberitahukan Andra bahwa aku ada di sini dengan Raphael,


biarkan saja, jika memang akhirnya dia tahu, dia tahu sendiri bahwa aku di sini, " kata Ayatha


Nyonya renata menatap Ayatha sebentar, lalu mengangguk.


" Baiklah, aku tidak akan mengatakannya, tapi berjanjilah aku bisa bertemu Raphael kapan


saja, " kata Nyonya Renata ingin di pastikan lagi


" Ya, pasti ibu aku akan mengizinkannya, " kata Ayatha tersenyum, Nyonya Renata


juga jadi tenang, lalu tersenyum dan bermain lagi dengan Raphael.


" Seorang Nenek akan lebih sayang kepada cucu, " kata Nanny tertawa melihat tingkah Nyonya Renata


" Iya Ibu, ternyata memang begitu, " kata Nyonya Renata tersenyum,


Raphael juga ikut tertawa padahal dia tidak tahu apapun, dia hanya mengikuti Neneknya dan Nanny. Membuat semua disana jadi tertawa dengan kelakuannya.


Nyonya Renata sebenarnya belum puas bersama dengan Raphael, namun hari sudah semakin larut, mau tidak mau dia harus berpisah dengan Raphael. Dia mengantarnya sampai ke dalam mobil, melambaikan tangannya bahkan sampai mobil itu menjauh.


Setibanya di rumah, Nyonya Renata masuk kedalam dengan sangat sumringah.


" Ibu besok maukah menemaniku membeli beberapa hadiah, seorang nenek harus memberikan hadiah bukan untuk cucu pertamanya? " kata Nyonya Renata senang


" Tentu, kau harus memberikannya kalung, gelang kaki, oh jangan lupa dengan cincin


pengenalnya, itu tradisi, " kata Nanny


" Baiklah, tolong bantu aku, aku ingin memberikannya, " kata Nyonya Renata


" Baiklah, besok aku akan membantu mu, " kata Nanny, dia juga tak kalah senangnya,


umur sudah tua masih bisa melihat dan bermain dengan cicit adalah sebuah hadiah


dari Tuhan.


Saat mereka melewati ruang tengah, Andra ada di situ sedang mengerjakan pekerjaannya, melihat ibu dan Nanny pulang, Andra menghentikan sejenak pekerjaanya, melihat ibunya yang sangat senang hingga tersenyum sumringah, Andra jarang melihat ibunya seperti itu.


" Selamat malam Bu, sangat larut pulang dari mall? "kata Andra menyapa ibunya dengan


senyuman.


Nyonya Renata terdiam, menatap Andra dalam-dalam, tapi yang terlintas adalah wajah


imut Raphael, dia jadi tersenyum sangat bahagia, membuat Andra mengerutkan


dahi.


" Dia sangat mirip denganmu, " kata Nyonya Renata mencubit pipi anaknya, Andra


bingung, ibunya sudah lama tidak mencubit pipinya, dia ingat itu dilakukannya


terakhir kali sebelum dia pergi ke amerika.


" Ada apa? " kata Andra bingung


" Tidak apa-apa, ibumu hanya terlalu bahagia, Renata ayo temani aku ke kamar, "


kata Nanny berusaha membuat Nyonya Renata tidak melakukan hal-hal konyol


lainnya, karena mereka sudah berjanji pada Ayatha agar tidak memberitahukannya


pada Andra.


" Baik, Bu, " kata Nyonya Renata tetap dengan senyuman sumringahnya, dia merasa


sekarang jadi lebih hidup, bisa merasakan betapa bahagianya bermain dengan

__ADS_1


cucu.


Andra hanya memperhatikan ibunya, handphonenya bergetar,hanya sebuah notif masuk, namun dia tersenyum, melihat wallpaper di handphonenya yang sekarang menunjukan wajah imut Raphael. Andra sangat merindukan anaknya, sedang apa dia sekarang?.


__ADS_2