Meadow

Meadow
Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat


__ADS_3

" Selamat pagi " kata Wayren saat melihat Ayatha yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.


" Selamat pagi Tuan Muda Wayren " kata Ayatha terkejut karena pagi-pagi Wayren sudah bangun dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Baru kali ini Ayatha melihat Wayren dengan seragamnya. Jas sekolah berwarna biru dongker, dasi merah hati tampak rapi terikat di kerah kemeja putihnya, celana panjang dengan warna senada dengan jasnya. Tidak bisa di pungkiri, Wayren memang sangat tampan.


" Kenapa kau memandangiku seperti itu, aku tampan kan? " Kata Wayren membanggakan dirinya lagi


" Anda mau ke sekolah? " tanya Ayatha


" Tidak, aku ingin jalan-jalan," kata Wayren


" Dengan seragam seperti itu? " kata Ayatha kebingungan


" Apakah dokter benar-benar mengatakan kepalamu tidak apa-apa saat kecelakaan itu?" tanya Wayren dengan wajah seriusnya


" Sepertinya iya, " kata Ayatha yang makin bingung dengan tingkah Wayren


" Soalnya kau bertambah bodoh, tentu saja aku mau ke sekolah " kata Wayren tertawa


Ayatha hanya memasang wajah kesalnya karena Wayren sudah menjahilinya, tapi apa memang dia bertambah bodoh, tentu saja jika Wayren menggunakan seragam sekolah bagimana bisa dia menanyakannya lagi.


Wayren tersenyum manis melihat wajah cemberut Ayatha, dia menyukai wajah Ayatha yang seperti itu.


" Kau benar-benar sangat manis, " kata Wayren tersenyum lembut, Ayatha langsung menatap ke arah Wayren yang juga sedang menatapnya lembut.


Ayatha hanya terdiam, dia tiba-tiba teringat kata-kata Wayren semalam bahwa dia menyukai Ayatha, entah kenapa Atatha jadi merasa tidak bisa menerima itu, dia langsung membuang pandangannya ketempat lain.


" *W*ell, Jika terus melihatmu, aku tidak akan ingin pergi sekolah, Bisakah nanti kau pergi denganku? Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, " kata Wayren tersenyum pada Ayatha


" Baik Tuan, " kata Ayatha sambil membalas senyum Wayren


Wayren tampak senang karena Ayatha bisa pergi dengannya.

__ADS_1


" Aku akan merindukanmu, " bisik Wayren pada telinga Ayatha,membuat bulu kuduk aAatha bergidik, dia hanya bisa mematung, sedangkan Wayren tersenyum manis lalu pergi meninggalkannya


Ayatha menghembuskan napas panjangnya, dia bingung harus bagaimana mengahadapi Wayren dan juga Andra, Kenapa semua jadi berubah seperti ini? kalau saja semalam semua ini tidak terjadi, dia tidak akan sepusing ini memikirkan semuanya.


" Ayatha, apakah kau sudah siapkan makanan untuk Tuan Muda Pertama?" Kata Bibi Moi mengacaukan lamunan Ayatha


" Oh sudah Bi" kata Ayatha


" Tuan Muda ingin makan di kamar, antarkan sekarang ya, " kata Bibi Moi tersenyum


Ayatha terdiam, dia sepertinya tidak sanggup untuk berjumpa dengan Andra sekarang, dia tahu bahwa ini semua pekerjaannya, namun entah kenapa dia benar-benar merasa tidak sanggup, dia takut dan bingung harus bagaimana di depan Andra nanti.


" Hey, Ayatha, kenapa kau melamun seperti itu?" Kata Bibi Moi menatap khawatir pada Ayatha


" Maaf bibi, bolehkah jika Bibi hari ini yang mengantar makanan pada Tuan Muda Pertama, " kata Ayatha pada Bibi Moi


" Kenapa? Kau masih merasa tidak enak badan, " kata Bibi Moi cemas


" Aduh... Pergilah istirahat, bibi akan mengantarnya, jika pusing, nanti kau bisa menjatuhkan makanan ini, " kata Bibi Moi sambil mengambil makanannya


" Baik bibi, terima kasih, " kata Ayatha tersenyum pada Bibi Moi yang sudah berjalan keluar dapur.


Andra sedang duduk di kamarnya sambil menatap jauh keluar jendela, dari semalam dia tidak pernah keluar kamarnya. Dengan wajah diamnya dia lebih banyak melamun, entah apa yang dipikirkannya, dia hanya ingin menenangkan dirinya, menenagkan perasaanya.


Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang, Andra tersadar dari lamunannya, dia melihat jam, saat ini biasanya Ayatha


memberitahukan dia bahwa makanannya sudah siap atau dia membawakan Andra sarapannya, ada sedikit wajah berharap yang di tunjukkan Andra.


" Masuk, " kata Andra


" Permisi Tuan, " kata Bibi Moi


Andra tampak sedikit kecewa karena yang datang adalah Bibi Moi. Dia juga tidak tahu kenapa dia merasa ingin bertemu dengan Ayatha. Semalam dia sempat melihat wajah Ayatha yang tampak kaget dan kecewa, entah mengapa dia menjadi merasa bersalah.

__ADS_1


" Di mana Ayatha? " Tanya Anndra pada Bibi Moi


" Oh, dia masih merasa pusing Tuan, jadi saya menyuruh Ayatha untuk beristirahat saja, " kata Bibi Moi menerangkan


" Benarkah?" kata Andra sedikit cemas kenapa ayatha masih merasa pusing?


" Iya Tuan, silahkan, " kata Bibi Moi


" Terima kasih, " kata Andra


Bibi Moi keluar dari kamar Andra, Andra sama sekali tidak melihat ke arah makanan yang sudah terhidang, dia sedang berpikir, tiba-tiba dia berdiri dan segera keluar kamar.


Dia berjalan ke arah dapur, di bukanya perlahan-lahan pintu dapur, dia sebenarnya ragu, dia melihat ke dalam dapur yang tampak hanya beberapa pelayan yang lain tanpa Ayatha, para pelayan langsung memberi salam ketika melihat Andra membuka pintu. Andra membalasnya dengan senyuman lalu berjalan masuk menuju ke arah kamar pelayan, pelayan yang lain yang melihat kelakuan Andra, bertanya-tanya kenapa Andra pergi ke arah kamar pelayan?.


Andra berjalan dalam ragu, namun dia terus meneruskan jalannya menuju ke kamar Ayatha, saat mendekati kamar Ayatha, dia sempat berhenti, melihat keadaan dan dia memutuskan untuk terus melanjutkanya.


Andra kembali berhenti tepat di kamar Ayatha, dia ingin mengetuknya, namun kamar itu tidak tertutup rapat, dari sela-sela pintu Andra dapat melihat Ayatha yang sedang duduk dan menatap sesuatu, dia terus melihat Ayatha, Ayatha tampak murung, sesekali Ayatha meletakkan kepalanya di tangannya yang di lipatnya di atas meja.


Andra menatapnya dengan wajah diamnya, dia menjadi mengurungkan niatnya saat melihat Ayatha yang seperti itu, dia merasa ini bukan saat yang tepat, mungkin lebih baik tidak bertemu dengan Ayatha dulu, karena saat melihat Ayatha, perasaannya kembali kacau. Andra melangkah mundur lalu pergi.


Ayatha kembali ke kamarnya, kepalanya memang sedikit pusing, namun hatinya lebih sakit jika melihat membayangkan Andra, karena itu Ayatha tidak ingin melihat Andra dulu, sebelum dia bisa mengatasi perasaanya sendiri, dia duduk di meja di dekat tempat tidurnya, perasaanya benar-benar tidak enak, dan dia benar-benar tidak menyukai perasaanya. Dia menutup wajahnya dengan tangannya.


Saat Ayatha membukanya, tiba-tiba dia melihat kotak yang di berikan Ibu Yosa saat pemakaman Yosa, diambilnya dan dibukanya, kalungnya masih ada di sana. Ayatha terus memandangi kalung itu, Yosa, kau tahu sekarang hidupku jadi seperti ini, kenapa aku jadi seperti ini? Kata hati Ayatha.


Setelah itu dia menaruh kepalanya di lipatan tangannya, ingin membuang semua perasaanya, dia benar-benar sudah tidak tahan dengan perasaanya yang seperti ini.


Tiba-tiba Ayatha merasa ada seseorang di depan pintu kamarnya, dia segera menangkat tangannya, ada bayangan tampak disana, siapa itu? Pikir Ayatha sambil mengerutkan dahinya, dia langsung berjalan menuju keluar kamarnya, membuka pintunya dan melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa di sana?


Apakah itu Wayren? Pikir Ayatha, tapi bukannya Wayren sedang ada di sekolah.


Tiba-tiba wajah Ayatha berubah terkejut, apa mungkin yang tadi itu, Andra? Pikir Ayatha.


Ayatha segera berjalan keluar ingin mengejar untuk memastikan, tapi baru beberapa langkah, dia terhenti. Dia mengurungkan niatnya. Jika itu benar Andra? Apa yang ingin dia lakukan? lagi pula dia tidak ingin bertemu Andra dulu saat ini, Ayatha berjalan lunglai kembali ke kamarnya dan segera menutup rapat kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2