Meadow

Meadow
Kau cantik dengan gaun ini


__ADS_3

Perjalanan pulang juga seperti itu, Andra hanya diam. Saat sampai di kota, hari sudah malam, jam sudah menunjukkan pukul 7.


 


 


" Apa kau lapar? " kata Andra memecah kesunyian


 


 


" Sedikit " kata Ayatha tidak bisa berterus terang saat ini sebenarnya dia sangat lapar


 


 


" Baiklah, ayo makan, tapi sebelumnya, " kata Andra menghentikan mobilnya di depan sebuah toko. Andra kembali memakai jasnya.


 


 


" Ayo turun, " kata Andra lagi


 


 


Ayatha hanya mengikutinya, dia pikir mereka berhenti di restauran, ternyata tempat itu adalah butik.


 


 


" Ehm...? " kata Ayatha ingin bertanya


 


 


" Aku ingin memberikanmu hadiah karena sudah menemani ku hari ini, lagi pula Wayren juga pernah membelikanmu hadiah bukan?, ayo, masuk, " kata Andra memimpin jalan.


 


 


Begitu masuk, para pelayan dengan sigap melanyani Andra. Butik ini sangat bagus, bahkan lebih bagus dari yang sebelumnya, didalamnya sangat mewah, pasti harga pakaian ini sangat mahal pikir Ayatha.


 


 


" Selamat malam tuan, bisa saya bantu, " kata pelayan pada Andra


 


 


" Aku mencari gaun untuk Nona muda ini, tolong di bantu," kata Andra


 


 


" Baik Tuan, silahkan Tuan dan Nona melihat-lihat koleksi kami, " kata pelayan itu


Andra melihat lihat pakaian di sana, matanya langsung tertuju pada sebuah gaun sutra di dalamnya berwarna toska sedangkan diluanya terdapat kain transparan bergradasi cream dan toska. Lengannya sesiku dan panjangnya selutut.


 


 


" Gaun itu, kau suka? " kata Andra pada Ayatha yang tampak bingung


 


 


" Pilihan anda sangat bagus Tuan, ini memang koleksi kita yang terbaru, karena semua gaun kita buat sendiri, baju ini hanya ada 1, " kata pelayan itu mengambil gaun itu dari pajangan.


 


 


" Iya aku suka," kata Ayatha yang juga menyukai baju itu


 


 


" Cobalah, aku tunggu di sini," kata Andra segera duduk ketika Ayatha mulai mencobanya, dia menunggu Ayatha. Saat Ayatha mencoba, Andra menyuruh pelayan untuk sedikit meng make over Ayatha. Karena itu dia agak lama di ruang ganti


 


 


" Tuan, Nona sudah selesai kita dandani, " kata pelayannya


 


 


Andra yang tadinya sedang membaca, langsung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ayatha sangat berbeda, jujur saja, dia terlihat sangat cantik. Ayatha sebenarnya memang cantik, badannya kecil dan langsing, bulu matanya lentik, hidungnya mancung dan bibirnya yang kecil dan merah terlihat sangat indah, tubuhnya putih, rambutnya hitam di biarkan jatuh di bahunya yang kecil, jika seperti ini, siapa yang akan menyangka dia adalah seorang pelayan.


 


 


" Bagaimana Tuan?" kata pelayan mengembalikan Andra dari rasa kagumnya.


 


 


" Yap, ini bagus," kata Andra tersenyum


 


 


Ayatha juga tersenyum, dia sebenarnya sangat malu, dia jarang sekali berdandan dan sedikit tidak terbiasa.


 


 


" Oh iya, ini, aku tau kau tidak nyaman memakai high heel, aku sengaja memilih sepatu ini untuk mu, " kata Andra memberikan sempasang pointed flat shoes berwarna cream yang dengan sedikit aksen gold bar di atasnya, ternyata dia sudah memilihkan sepatu untuk Ayatha saat dia menunggunya tadi.


 


 


Ayatha yang kaget dengan apa yang di berikan oleh Andra sampai tidak pecaya, dia hanya melihat kearah Andra saja. Andra hanya tersenyum


 


 


" Ini, " kata Andra segera meletakan sepatunya di depan kaki Ayatha, melihat perlakuan Andra, Ayatha mundur sebentar, para pelayan yang melihat kejadian itu jadi baper dibuatnya.


 


 


" Cobalah, aku ingin lihat apakah cocok dengan mu? " kata Andra melihat Ayatha


Ayatha sengera mecoba sepatunya, dan benar saja, sepatu itu sangat pas dengan Ayatha, membuat penampilannya sangat sempurna. Andra tersenyum puas.


 


 


" Baiklah, ini," kata Andra memberikan kartu kreditnya pada pelayan, pelayan hampir tidak percaya dengan nama yang tertulis di kartu itu

__ADS_1


 


 


" Terima kasih Tuan Fitrz Andra Tadder, semoga anda puas dengan pelayanan kami," kata pelayan itu memberikan hormat dan cepat mengembalikan lagi kartu Andra, Andra hanya tersenyum padanya, sedangkan palayan yang lain tampak kaget.


 


 


Tadder adalah keluarga terkaya di sini, siapa yang tidak kenal dengan nama keluarga itu. Tidak disangka salah satu keluarga Tadder bisa berbelanja di butik itu.


 


 


" Ayo, " kata Andra mempersilahkan Ayatha keluar, ikuti dia dibelakang.


 


 


Setelah sampai di mobil, dengan cepat Andra membukakan pintu, Ayatha tentu kaget dengan perlakuan Andra. Dengan sungkan dia masuk ke dalam mobil.


 


 


Andra masih tidak bisa melepaskan pandangannya ke arah Ayatha, dia sungguh manis, pikir Andra sebelum dia melajukan mobil. Andra membawa Ayatha ke sebuah gedung, gedungnya sangat tinggi. Ayatha sedikit mengernyitkan dahi,  kenapa dia dibawa ke sini?.


 


 


" Kemari, " kata Andra lembut


 


 


Ayatha mengikuti Andra seperti biasanya di belakang, Andra berhenti sebentar.


 


 


" Ada apa ?" tanya Ayatha mencoba tidak mengucapkan kata tuan


 


 


" Akan sangat aneh jika kau berjalan di belakangku, nanti orang-orang akan berpikir aku kejam atau kita sedang marahan sampai aku membiarkanmu berjalan di belakangku, " kata Andra


 


 


" Lalu?" kata Ayatha bingung harus apa dia tidak tahu apa yang biasa dilakukan orang-orang kaya jika di tempat seperti itu.


 


 


" Kemarikan tanganmu, " kata Andra


 


 


Ayatha yang diam hanya memberikan tangannya pada Andra, Andra segera menyambut tangan Ayatha, mengandengkan ke lengannya. Ayatha yang mendapat kelakuan itu kaget, jantungnya rasanya mau copot karna berdetak sangat keras.


 


 


" Ayo, " kata Andra tersenyum dan mulai melangkah, Ayatha tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa mengikuti Andra masuk ke lift dalam bangunan itu, wajahnya memanas, membuat rona merah di pipinya.nafasnya sesak, namun rasa sesak yang menyenangkan, dia ingin sekali seandainya waktu bisa berhenti, ini pasti sangat menyenangkan.


 


 


 


 


Restauran itu sangat elegan dan classy, tempatnya sedikit redup, seluruh dindingnya terbuat dari kaca, memperlihatkan pemandangan seluruh kota itu dari segala sudut, di tengahnya terlihat ada bar.


 


 


Sedangkan tempat duduknya hanya sedikit, terlihat restauran itu mengutamakan kenyamanan para tamunya.


 


 


Andra memilih meja di sudut ruangan, dengan begitu mereka bisa melihat seluruh pemandangan malam itu. Pelayan mempersilahkan Ayatha duduk.


 


 


" Apa kau suka tempat ini?" Tanya Andra tersenyum,


 


 


" Iya, " kata Ayatha sungkan dan sedikit malu-malu


 


 


" Aku suka tempat ini, sepi dan indah, " kata Andra melihat ke arah jendela.


 


 


Ayatha tidak menjawab, dia hanya melihat kearah Andra dengan tatapan kagum, Andra sangat tampan, itu tidak bisa dipungkiri, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Andra. Wajah putihnya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang selalu merah dan senyumnya yang mempesona, mana ada wanita yang tahan jika melihatnya.


 


 


Tapi semakin dilihat, Ayatha semakin sadar, apakah haknya untuk menyukai seorang Andra, Andra itu bagaikan bulan di malam yang gelap, semua orang ingin memilikinya, namun bagi orang yang ada jauh di permukaan bumi, Ayatha tidak akan bisa mengapainya. Perasaan itu menyakitinya, namun itu juga kenyataanya. Ayatha menundukan wajahnya,


 


 


" Kau ingin makan apa?" kata Andra menegur Ayatha


 


 


" Aku tidak tahu makanan di sini, " kata Ayatha sungkan


 


 


" Oh, iya, aku akan memesan 2 makanan, semoga kau suka, tolong yang ini 2 dan minuman yang ini, " kata Andra memesan pada palayan.


 


 


" Hari ini, terima kasih sudah menemaniku, tapi tolong untuk tidak memberitahu siapapun tentang hari ini," kata Andra menatap Ayatha. Ayatha yang mendapat tatapan itu langsung salah tingkah.


 

__ADS_1


 


" Iya, pasti aku tidak akan memberitahu siapa-siapa?" kata Ayatha balas tersenyum


 


 


" Bagaimana dengan rumahmu?"


 


 


" Aku tidak tahu, aku belum pernah menelpon ke desa lagi sejak aku meninggalkannya, "


 


 


" Berapa yang di minta oleh Bibimu?" kata Andra menatap Ayatha serius namun lembut


Ayatha ragu untuk menjawabnya, dengan status Andra sekarang, Ayatha rasa uang segitu hal yang sangat mudah.


 


 


Tapi Ayatha tidak mau jika Andra membantunya untuk mendapatkan rumah itu. Dia tidak mau lagi berhutang budi pada siapa pun.


 


 


" Tidak apa-apa jika kau tidak mau mengatakannya, " kata Andra yang melihat keraguan Ayatha


 


 


" Maaf, " kata Ayatha menunduk


 


 


Suasana hening, Andra hanya terdiam, dan begitu juga Ayatha, tak lama pesanan mereka datang, lamb ribs with asparagus dan punch orange mint terhidang indah di meja mereka.


 


 


" Ayo makan " kata Andra tersenyum, saat dia mau memulai makan, dia melihat kearah Ayatha yang kebingungan bagaimana cara memakannya. Andra tersenyum melihat kepolosan yang terpancar dari wajah Ayatha. Dia memotong-motong makanannya menjadi kecil-kecil dan bisa langsung di makan.


 


 


Ayatha hanya memperhatikan bagaimana Andra memotong lamb ribsnya.


 


 


" Ini makanlah yang ini, aku sudah memotongnya untukmu, " kata Andra menyodorkan makanannya


 


 


" Baiklah, " kata Ayatha mengambil makanan yang disodorkan Andra, dia lalu memberikan makanannya ke Andra, Andra hanya tersenyum.


 


 


Tak ada lagi obrolan, mereka hanya konsentrasi dengan makanannya, sekali Andra melihat Ayatha, entah kenapa dia merasa Ayatha sangat menarik, kenapa dia baru menyadarinya sekarang?.


 


 


Tak berapa lama, mereka akhirnya selesai makan, Andra melihat jam tangannya, sudah hampir jam 11 malam.


 


 


" Sudah jam 11 malam, ayo pulang, aku tidak mau di introgasi oleh Wayren saat pulang nanti, " canda Andra


 


 


" Baiklah, " kata Ayatha lagi.


 


 


Dia segera bangkit dari tempat duduknya, saat dia melihat ke Andra, Andra sudah menyodorkan tangannya sambil tersenyum, Ayatha kembali gugup, wajahnya terasa panas, namun tangannya terasa dingin, tapi mau tidak mau dia menyambut tangan Andra. Beda dengan yang tadi, Ayatha kira tangannya akan di gandengan dengan tangan Andra, namun Andra saat ini hanya mengenggam tangan Ayatha, membuat rasa hangat tangan Andra serasa menjalar keseluruh tubuhnya. Udara di sana dingin, namun sekarang Ayatha terasa sangat panas. Mereka langsung memasuki lift turun ke bawah.


 


 


" Kau kedinginan? " kata Andra menatap Ayatha


 


 


" Tidak " kata Ayatha sebisanya


 


 


" tanganmu dingin sekali, aku kira kau kedinginan, maaf jika aku mengenggamnya, " kata Andra lagi, namun dia tidak melepaskan tangannya.


 


 


Ayatha yang mendengar itu merasa sangat malu, iya, badannya terasa hangat, namun tidak bisa di pungkiri tangannya terasa dingin, mungkin karena dia sangat gugup saat ini.


 


 


" Apakah aku sudah bilang kau sangat cantik dengan gaun itu," kata Andra tanpa menatap Ayatha. Ayatha yang mendengar pujian itu rasanya ingin pingsan. Napasnya terasa sangat sesak, benar-benar sesak.


 


 


" Terima kasih, " kata Ayatha seadanya


 


 


Tidak lama pintu lift terbuka, mereka langsung menuju ke mobil, Andra membukakan pintu untuk Ayatha.


 


 


Sebenarnya Ayatha sangat tidak ingin pulang sekarang. Karena nanti mereka akan menjauh lagi jika di rumah. dan hangatnya tangan Andra masih terasa.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2