
Wayren baru pulang sekolah saat dia melihat mobil asing terparkir di tempat parkir tamu.
" Siapa yang datang ?" kata Wayren bertanya pada pelayan yang memberi hormat padanya.
" Tuan Muda dari keluarga Medison, " kata pelayan tersebut
Dia langsung teringat Ayatha, dengan cepat langsung masuk kedalam rumahnya dari pintu samping, dia melihat di ruang tamu ada Maxi, Andra, Ibunya juga disana, Ayatha, kenapa dia duduk disamping Maxi?, laki-laki licik itu pasti membahas tentang masalah pertunangan palsu itu, pikir Wayren.
Namun dia tidak ingin memasuki ruangan itu.
" Aku ingin meminta Ayatha untuk berhenti bekerja di sini, dan membawanya untuk tinggal bersamaku, " kata Maxi to the point pada Nyonya Renata.
Andra yang mendengarkannya hanya terdiam. Wayren juga mendengarkannya, dia kesal, menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya.
" Ayatha? Memangnya ada apa?" kata Nyonya Renata yang kaget dengan pernyataan Maxi, Maxi hanya tersenyum menjaga sikapya.
" Kami akan menikah, " kata Maxi
" Menikah? dengan Ayatha? " kata Nyonya Renata tidak percaya
" Benar, ceritanya panjang, namun ini merupakan perjodohan sejak kami kecil, " kata Maxi
" Benarkah? Aku tidak menyangka, aku minta maaf jika sudah membuat tunangan anda menjadi pelayan di sini, Ayatha tidak pernah menceritakannya, " kata Nyonya Renata
__ADS_1
" Ayatha juga baru tahu tentang hal ini " kata Maxi tersenyum bahagia, sedangkan Andra dan Wayren hanya terdiam menahan emosi masing-masing, Ayatha hanya tertunduk.
Andra dari tadi menatap Ayatha dengan tajam, namun tidak sedetik pun Ayatha menaikan wajahnya.
" Oh, begitu? Kau sangat beruntung Ayatha, ribuan bahkan jutaan wanita sangat ingin memiliki suami seperti Tuan Maxi, " kata Nyonya Renata tersenyum
Ayatha hanya tersenyum sebisanya.
" Ibu, Max, aku permisi dulu, ada beberapa hal yang harus aku urus untuk pekerjaan, " kata Andra bangkit
" Oh, baiklah, tapi sebelum pergi, Andra... apa kau mengizinkan Ayatha untuk berhenti, karna sekarang dia pelayan pribadimu, kau harus memberi izin juga, " kata Nyonya Renata
" Terserah padanya saja, permisi, " kata Andra menatap Ayatha dengan tajam lalu berlalu begitu saja.
Hati Ayatha terasa tertusuk sesuatu, perkataan Andra sangat menyakitkan baginya. Apa yang dia harapkan? Toh memang dia yang ingin menjauh dari Andra, benar, dia harus kuat, ini demi Andra juga.
Wayren yang mendengar jawaban kakaknya tidak bisa lagi menahan emosinya, bagaimana bisa kakaknya hanya mengatakan kata terserah.
Setelah kakaknya berjalan ke kamarnya, Wayren langsung masuk, dia membuka pintu kamar kakaknya dengan sangat keras.
" Kau sudah pulang?" tanya Andra datar
" Bagaimana bisa kau mengizinkan dia dengan Maxi?" kata Wayren marah
__ADS_1
" Bukan aku, itu keputusannya, " kata Andra mencoba mencari kesibukan dengan memilih beberapa buku yang ada di meja kerjanya.
" Tapi seharunya kau melarangnya berhenti tadi, " kata Wayren keras
Andra terdiam, sebenarnya dia ingin melarangnya, namun itu memang semua keputusan Ayatha, dia tidak bisa lagi melarangnya, toh dia dan Ayatha tidak memiliki hubungan apapun, hanya sekedar pelayan dengan majikan.
" Aku tidak punya hak untuk itu, " kata Andra dingin
" Kau tahu, orang yang Ayatha sukai hanya kau, " kata Wayren, sebenarnya dia sakit
mengatakan itu, tapi kalau Ayatha menikah dengan Maxi, dia bukan sakit lagi, mungkin dia akan gila.
" Kalau dia menyukaiku, dia tidak akan menikah dengan orang lain, " kata Andra terpancing emosi, dia sudah menahan emosinya dari tadi pagi. Namun dia tidak tahu cara melampiaskannya, dia bukan orang seekspresif Wayren, yang bisa mengeluarkan semua yang ada di hatinya.
" Walaupun begitu kau tetap harus melarangnya, kau mau melihat dia menderita menikah dengan orang yang tidak di cintainya, mana janjimu pada Yosa? Kau akan menjaganya, kau malah membiarkan dia memilih pilihan yang salah, " kata Wayren emosi
" Lalu kau? Bukannya kau juga berjanji menjaganya, "
" Seandainya aku orang yang dia sukai, sampai mati aku akan mempertahankannya, " kata Wayren menatap kakaknya tajam. Wayren tidak bisa lagi berkata apa-apa, lalu keluar dari kamar kakaknya.
Andra terdiam, kepala pusing, dia belum bisa berpikir jernih. Kenapa semua jadi begini, pikirnya sambil memukul meja kerjanya.
.
__ADS_1