Meadow

Meadow
Hati yang hancur di rerumputan


__ADS_3

Seminggu sudah, Andra sudah mencoba seminggu, tidak bertemu dengannya dan dirinya hampir


gila, dia tidak bisa mengontrol dirinya, rasanya ingin mati saja, sekarang


wanita itu ada di depannya, dia baru bisa bernapas dengan baik ketika


melihatnya.


Tanpa sadar air mata Ayatha mengalir, dia langsung mengusapnya, tidak ingin Andra


melihatnya.


" Hai, " kata Ayatha seadanya sambil menahan tangisnya, dan mencoba tersenyum


" Hai, " kata Andra juga seadanya, hatinya sedih melihat Ayatha, dia tidak bisa


apa-apa walaupun dia ingin menghambur ke arahnya, memeluknya erat.


" Aku kesini hanya ingin menaburkan bunga untuk ibumu, beberapa hari ini aku bermimpi


tentang tempat ini, makanya aku ke sini, " kata Ayatha menjelaskan


alasannya


" Aku juga, " kata Andra terus menatap Ayatha, membuat Ayatha seperti


terperangkap.


" Aku dengar kau akan bertunangan, selamat atas pertunangannya, " kata Ayatha


seadanya, mendengar itu hati Andra seperti teriris.


" Terima kasih, " kata Andra lagi


Semilir angin di padang rumput itu mengugurkan beberapa helai daun pohon willow yang


ada disana, Andra masih melihat Ayatha lekat-lekat, namun hanya bisa berdiri


tanpa melakukan apapun.


" Ayatha, " Kata Andra


" Ya, " jawab Ayatha dengan pelan


" Maafkan aku, " kata Andra..ingin menjelaskan namun tak mampu, Ayatha


menatap Andra dengan lirih, tahu apa maksud dari perkataan Andra, dia sudah


tahu,  saat ini akan datang, tak mungkin.. seorang seperti Andra, memilih dirinya, meninggalkan semuanya hanya


untuknya, sialnya bagi Ayatha, dia pernah percaya tentang itu, Namun ternyata


hasilnya memang seperti ini.


Rasa sakit perlahan lahan menjalar ke seleruh tubuhnya, di mulai dari nyeri di dadanya,


rasanya sangat menyiksa, bahkan di padang rumput yang sangat terbuka seperti


ini dia ke susahan untuk bernapas.


" Sepertinya Wayren sudah menunggu lama, aku harus pulang, " kata Ayatha dengan suara


tercekat mencari alasan untuk pergi dari sana.


Dia berjalan melewati Andra yang ada disana, namun tidak ada apapun yang di lakukan Andra,


tidak memanggil, tidak juga menghentikan langkahnya. Ayatha menangis dalam


diam, Ayatha terus berjalan, di setiap langkah yang membuatnya menjauh dari Andra


semakin tercabik hatinya, hancur dan hilang di balik rumput-rumput yang


bergoyang, sepertinya memang benar, akhirnya seperti ini, dia dan Andra,


berakhir seperti itu saja.


Semilir angin mengoyangkan rerumputan di padang rumput itu, menyamarkan badan Ayatha


yang tampak gemetar menahan tangis yang sebenarnya tidak bisa tertahan lagi,


air matanya sangat deras keluar, dia sampai terisak, tangisan ini sangat

__ADS_1


menyakitkan, ingin rasanya berteriak, namun tak mungkin, hanya bisa di tahan dan


menahan tangis itu sangat menyesakkan. Ayatha mencoba berjalan tegak dengan


segala tenaga yang tersisa, badannya dingin walaupun udara hari itu hangat,


bagai di guyur seember penuh air es, kali ini tidak akan ada Andra lagi.


Di ujung jalan dia melihat Wayren berdiri dalam kabut air matanya, menatap Ayatha dengan


sangat kasihan, seandainya ada yang bisa dilakukan untuknya, Tuhan, dia akan


melakukan apapun untuk mengantikan posisi Andra di hatinya.


Terkadang itulah hidup, tak pernah semudah itu, Wayren mencintai Ayatha, Ayatha mencintai


kakaknya, kakaknya bertunangan dengan Nadine, di mana akan berakhir cerita


cinta ini?


Wayren memeluk Ayatha yang gemetar, menatap kakaknya yang juga melihatnya dari jauh, Wayren


membimbing Ayatha untuk menuruni tangganya, kesalahan terbesarnya pernah


menyerahkan Ayatha untuk kakaknya, dan dia sekarang merasa sangat bersalah.


Andra terdiam, hatinya juga hancur, dia ingin memanggil Ayatha, ingin memeluknya


erat, ingin menenangkan tubuhnya yang bergetar, mengatakan betapa dia mencintai


gadis itu, tapi dia juga tak bisa memberikan harapan apa-apa, dia takut jika


memberikan Ayatha harapan lagi, akan makin menghancurkan mereka berdua. Air


matanya menetes begitu saja, namun wajahnya tidak berekspresi apapun.


" Tenanglah, aku di sini, " kata Wayren memandangi Ayatha yang duduk di sampingnya,


membuat Ayatha makin hancur... Kata-kata itu juga pernah di katakan oleh Andra


padanya, tapi apa yang terjadi, dia tetap meninggalkannya sendiri.


" Aku ingin pulang, " kata Ayatha


mengusap air mata Ayatha, memandang gadis itu, lalu kembali memeluknya.


" Maafkan aku, " kata Wayren


Ayatha terdiam, kenapa Wayren meminta maaf padanya?


" Kalau aku tidak menyerahkanmu pada Andra, kau tidak akan seperti ini, berjanjilah


jangan sedih lagi, karena melihatmu seperti tadi membuat hatiku hancur, "


kata Wayren menatap Ayatha


Ayatha menatap Wayren tanpa membalas apapun, tatapan matanya kosong... tak


berpengharapan apapun.


" Ayatha, aku juga seorang Tadder, aku bukan Andra, aku akan selalu memilihmu, Ayatha,


aku akan membuatmu bahagia, cukup sukai aku, aku hanya butuh itu darimu, aku


tidak butuh apapun, aku akan menjagamu, " kata Wayren dengan tatapan


serius menatap Ayatha. Ayatha jadi serba salah, kenapa sekarang dia merasa


salah memberi harapan pada Wayren.


Ayatha tidak berani menjawab, dia tidak ingin ada salah paham antara dia dan Wayren, atau


semuanya akan kacau lagi.


" Wayren, bisa kah kau antarkan aku pulang saja sekarang? Kepalaku sangat pusing, "


kata Ayatha


Wayren tampak kecewa, namun dia segera mengerti


" Baiklah, " kata Wayren, dia segera melajukan mobilnya, di dalam mobil Ayatha hanya

__ADS_1


diam menatap ke jendela yang memantulkan cahaya malam.


Setelah sampai di rumah, Ayatha hanya tersenyum sebelum masuk kedalam rumah, Wayren


yang merasa bersalah telah memaksa Ayatha, dia kembali ke mobilnya dan pergi


dari sana.


Ayatha membuka pintu rumahnya, saat dia memasuki ruang tengah, dia melihat Maxi yang


ada disana.


" Dari mana saja, sampai malam begini? " kata Maxi yang tidak bisanya melihat Ayatha


pergi hingga malam


" Pergi bersama teman, " kata Ayatha mencoba tersenyum pada kakaknya, Maxi melihat


ke arah Ayatha, dia bisa melihat mata Ayatha yang bengkak karena menangis.


" Apakah Andra lagi? "kata Maxi menatap Ayatha lekat-lekat


Ayatha hanya tersenyum, dia mengeleng


" Aku baru menonton film sedih sedang temanku, jadi menangis, dan sekarang mataku


bengkak, " kata Ayatha mencoba mencari alasan agar kakaknya tidak


khawatir.


" Jangan bohongi aku, kau tidak punya bakat berbohong, " kata Maxi mengelus kepala


adiknya, dia bisa melihat kerapuhan di mata Ayatha, Maxi memeluknya membuat air


mata Ayatha jatuh kembali, kini dia terisak dalam pelukan Maxi.


Maxi membiarkan Ayatha menangis dalam pelukannya, membiarkan rasa sakit itu perlahan


terlampiaskan, dia hanya mengusap kepala Ayatha, memberikan dia kasih,


menunjukkan dia tidak sendiri.


Setelah beberapa menit akhirnya tangis Ayatha meredup, dia mengusap air mata yang


membasahi baju Maxi, Maxi menatap Ayatha dengan lembut


" Apakah sudah cukup lega? " tanya Maxi


Ayatha mengangguk, matanya masih basah dan sembab...


" Dari pada patah hati berlarut-larut, bagaimana jika besok kau ikut aku, aku ingin


mengenalkanmu pada semua pegawai di perusahaan kita, lagi pula kau harus cepat


mengejar ketinggalan pelajaranmu, aku akan menyuruh guru-guru terbaik untuk


mengajarimu, sehingga kau bisa cepat lulus, "kata Maxi tersernyum indah


" Sekolah? " kata Ayatha sedikit bingung


" Iya, tidak secara langsung datang kesekolah, seperti hanna, kau homeschooling saja,


nanti pilih lah salah satu usaha milik kita, dan jalankan jika kau mau, "


kata Maxi lagi


" Apa aku bisa? Aku tidak seperti Hanna," kata Ayatha


" Kau pasti bisa, mulai besok ikutlah dengan ku, aku tidak mau kau berlarut-larut


dalam kesedihan, dengan mencari pekerjaan yang bisa kau kerjakan,aku yakin kau


akan bisa melupaan Andra, " kata Maxi


" Baiklah kak, terima kasih, "


" Sama-sama, ayo kita makan malam, aku sudah menunggumu lama sekali, " kata Maxi lagi


" Baiklah, " kata Ayatha tersenyum. Mungkin dengan cara menyibukan dirinya, dia akan


bisa melupakan hatinya yang hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Saat di tempat tidur sendiri, Ayatha hanya bisa menangis, memeluk bantalnya dengan erat


dan tertidur di antara linangan air matanya.


__ADS_2