
Seminggu sudah, Andra sudah mencoba seminggu, tidak bertemu dengannya dan dirinya hampir
gila, dia tidak bisa mengontrol dirinya, rasanya ingin mati saja, sekarang
wanita itu ada di depannya, dia baru bisa bernapas dengan baik ketika
melihatnya.
Tanpa sadar air mata Ayatha mengalir, dia langsung mengusapnya, tidak ingin Andra
melihatnya.
" Hai, " kata Ayatha seadanya sambil menahan tangisnya, dan mencoba tersenyum
" Hai, " kata Andra juga seadanya, hatinya sedih melihat Ayatha, dia tidak bisa
apa-apa walaupun dia ingin menghambur ke arahnya, memeluknya erat.
" Aku kesini hanya ingin menaburkan bunga untuk ibumu, beberapa hari ini aku bermimpi
tentang tempat ini, makanya aku ke sini, " kata Ayatha menjelaskan
alasannya
" Aku juga, " kata Andra terus menatap Ayatha, membuat Ayatha seperti
terperangkap.
" Aku dengar kau akan bertunangan, selamat atas pertunangannya, " kata Ayatha
seadanya, mendengar itu hati Andra seperti teriris.
" Terima kasih, " kata Andra lagi
Semilir angin di padang rumput itu mengugurkan beberapa helai daun pohon willow yang
ada disana, Andra masih melihat Ayatha lekat-lekat, namun hanya bisa berdiri
tanpa melakukan apapun.
" Ayatha, " Kata Andra
" Ya, " jawab Ayatha dengan pelan
" Maafkan aku, " kata Andra..ingin menjelaskan namun tak mampu, Ayatha
menatap Andra dengan lirih, tahu apa maksud dari perkataan Andra, dia sudah
tahu, saat ini akan datang, tak mungkin.. seorang seperti Andra, memilih dirinya, meninggalkan semuanya hanya
untuknya, sialnya bagi Ayatha, dia pernah percaya tentang itu, Namun ternyata
hasilnya memang seperti ini.
Rasa sakit perlahan lahan menjalar ke seleruh tubuhnya, di mulai dari nyeri di dadanya,
rasanya sangat menyiksa, bahkan di padang rumput yang sangat terbuka seperti
ini dia ke susahan untuk bernapas.
" Sepertinya Wayren sudah menunggu lama, aku harus pulang, " kata Ayatha dengan suara
tercekat mencari alasan untuk pergi dari sana.
Dia berjalan melewati Andra yang ada disana, namun tidak ada apapun yang di lakukan Andra,
tidak memanggil, tidak juga menghentikan langkahnya. Ayatha menangis dalam
diam, Ayatha terus berjalan, di setiap langkah yang membuatnya menjauh dari Andra
semakin tercabik hatinya, hancur dan hilang di balik rumput-rumput yang
bergoyang, sepertinya memang benar, akhirnya seperti ini, dia dan Andra,
berakhir seperti itu saja.
Semilir angin mengoyangkan rerumputan di padang rumput itu, menyamarkan badan Ayatha
yang tampak gemetar menahan tangis yang sebenarnya tidak bisa tertahan lagi,
air matanya sangat deras keluar, dia sampai terisak, tangisan ini sangat
__ADS_1
menyakitkan, ingin rasanya berteriak, namun tak mungkin, hanya bisa di tahan dan
menahan tangis itu sangat menyesakkan. Ayatha mencoba berjalan tegak dengan
segala tenaga yang tersisa, badannya dingin walaupun udara hari itu hangat,
bagai di guyur seember penuh air es, kali ini tidak akan ada Andra lagi.
Di ujung jalan dia melihat Wayren berdiri dalam kabut air matanya, menatap Ayatha dengan
sangat kasihan, seandainya ada yang bisa dilakukan untuknya, Tuhan, dia akan
melakukan apapun untuk mengantikan posisi Andra di hatinya.
Terkadang itulah hidup, tak pernah semudah itu, Wayren mencintai Ayatha, Ayatha mencintai
kakaknya, kakaknya bertunangan dengan Nadine, di mana akan berakhir cerita
cinta ini?
Wayren memeluk Ayatha yang gemetar, menatap kakaknya yang juga melihatnya dari jauh, Wayren
membimbing Ayatha untuk menuruni tangganya, kesalahan terbesarnya pernah
menyerahkan Ayatha untuk kakaknya, dan dia sekarang merasa sangat bersalah.
Andra terdiam, hatinya juga hancur, dia ingin memanggil Ayatha, ingin memeluknya
erat, ingin menenangkan tubuhnya yang bergetar, mengatakan betapa dia mencintai
gadis itu, tapi dia juga tak bisa memberikan harapan apa-apa, dia takut jika
memberikan Ayatha harapan lagi, akan makin menghancurkan mereka berdua. Air
matanya menetes begitu saja, namun wajahnya tidak berekspresi apapun.
" Tenanglah, aku di sini, " kata Wayren memandangi Ayatha yang duduk di sampingnya,
membuat Ayatha makin hancur... Kata-kata itu juga pernah di katakan oleh Andra
padanya, tapi apa yang terjadi, dia tetap meninggalkannya sendiri.
" Aku ingin pulang, " kata Ayatha
mengusap air mata Ayatha, memandang gadis itu, lalu kembali memeluknya.
" Maafkan aku, " kata Wayren
Ayatha terdiam, kenapa Wayren meminta maaf padanya?
" Kalau aku tidak menyerahkanmu pada Andra, kau tidak akan seperti ini, berjanjilah
jangan sedih lagi, karena melihatmu seperti tadi membuat hatiku hancur, "
kata Wayren menatap Ayatha
Ayatha menatap Wayren tanpa membalas apapun, tatapan matanya kosong... tak
berpengharapan apapun.
" Ayatha, aku juga seorang Tadder, aku bukan Andra, aku akan selalu memilihmu, Ayatha,
aku akan membuatmu bahagia, cukup sukai aku, aku hanya butuh itu darimu, aku
tidak butuh apapun, aku akan menjagamu, " kata Wayren dengan tatapan
serius menatap Ayatha. Ayatha jadi serba salah, kenapa sekarang dia merasa
salah memberi harapan pada Wayren.
Ayatha tidak berani menjawab, dia tidak ingin ada salah paham antara dia dan Wayren, atau
semuanya akan kacau lagi.
" Wayren, bisa kah kau antarkan aku pulang saja sekarang? Kepalaku sangat pusing, "
kata Ayatha
Wayren tampak kecewa, namun dia segera mengerti
" Baiklah, " kata Wayren, dia segera melajukan mobilnya, di dalam mobil Ayatha hanya
__ADS_1
diam menatap ke jendela yang memantulkan cahaya malam.
Setelah sampai di rumah, Ayatha hanya tersenyum sebelum masuk kedalam rumah, Wayren
yang merasa bersalah telah memaksa Ayatha, dia kembali ke mobilnya dan pergi
dari sana.
Ayatha membuka pintu rumahnya, saat dia memasuki ruang tengah, dia melihat Maxi yang
ada disana.
" Dari mana saja, sampai malam begini? " kata Maxi yang tidak bisanya melihat Ayatha
pergi hingga malam
" Pergi bersama teman, " kata Ayatha mencoba tersenyum pada kakaknya, Maxi melihat
ke arah Ayatha, dia bisa melihat mata Ayatha yang bengkak karena menangis.
" Apakah Andra lagi? "kata Maxi menatap Ayatha lekat-lekat
Ayatha hanya tersenyum, dia mengeleng
" Aku baru menonton film sedih sedang temanku, jadi menangis, dan sekarang mataku
bengkak, " kata Ayatha mencoba mencari alasan agar kakaknya tidak
khawatir.
" Jangan bohongi aku, kau tidak punya bakat berbohong, " kata Maxi mengelus kepala
adiknya, dia bisa melihat kerapuhan di mata Ayatha, Maxi memeluknya membuat air
mata Ayatha jatuh kembali, kini dia terisak dalam pelukan Maxi.
Maxi membiarkan Ayatha menangis dalam pelukannya, membiarkan rasa sakit itu perlahan
terlampiaskan, dia hanya mengusap kepala Ayatha, memberikan dia kasih,
menunjukkan dia tidak sendiri.
Setelah beberapa menit akhirnya tangis Ayatha meredup, dia mengusap air mata yang
membasahi baju Maxi, Maxi menatap Ayatha dengan lembut
" Apakah sudah cukup lega? " tanya Maxi
Ayatha mengangguk, matanya masih basah dan sembab...
" Dari pada patah hati berlarut-larut, bagaimana jika besok kau ikut aku, aku ingin
mengenalkanmu pada semua pegawai di perusahaan kita, lagi pula kau harus cepat
mengejar ketinggalan pelajaranmu, aku akan menyuruh guru-guru terbaik untuk
mengajarimu, sehingga kau bisa cepat lulus, "kata Maxi tersernyum indah
" Sekolah? " kata Ayatha sedikit bingung
" Iya, tidak secara langsung datang kesekolah, seperti hanna, kau homeschooling saja,
nanti pilih lah salah satu usaha milik kita, dan jalankan jika kau mau, "
kata Maxi lagi
" Apa aku bisa? Aku tidak seperti Hanna," kata Ayatha
" Kau pasti bisa, mulai besok ikutlah dengan ku, aku tidak mau kau berlarut-larut
dalam kesedihan, dengan mencari pekerjaan yang bisa kau kerjakan,aku yakin kau
akan bisa melupaan Andra, " kata Maxi
" Baiklah kak, terima kasih, "
" Sama-sama, ayo kita makan malam, aku sudah menunggumu lama sekali, " kata Maxi lagi
" Baiklah, " kata Ayatha tersenyum. Mungkin dengan cara menyibukan dirinya, dia akan
bisa melupakan hatinya yang hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Saat di tempat tidur sendiri, Ayatha hanya bisa menangis, memeluk bantalnya dengan erat
dan tertidur di antara linangan air matanya.