Meadow

Meadow
Ibu, aku akan batalkan pertunangan


__ADS_3

Wayren menatap mereka berdua seperti adegan dalam sinetron, dia tersenyum kecut, namun sudah terbiasa, Ayatha sampai kapanpun bukan miliknya.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di dari luar kamar Andra, Andra menekuk dahinya,


memandang Wayren, Wayren pun juga begitu.


" Aku akan melihatnya, " kata Wayren


Wayren segera berjalan, membuka pintu kamar rawat Andra, disana dia bisa melihat Nadine yang sepertinya sedang marah. Wayren menutup pintunya, lalu dengan dingin


melihat Nadine.


" Apa yang kau lakukan di sini? " kata Wayren dengan ketus dan dingin pada Nadine.


" Aku ingin melihat Andra, " kata Nadine, kemarahan tampak jelas di wajahnya.


" Andra sedang tidak bisa diganggu oleh siapapun, " kata Wayren dingin


Nadine terdiam, dia tersenyum sinis, membuat wajahnya yang cantik terlihat menakutkan.


" Apa wanita murahan itu di dalam bersama dengan Andra? " kata Nadine lagi


" Siapa yang kau sebut murahan? " tanya Andra yang keluar dengan Ayatha, dia


memegang tangan Ayatha dengan erat. Ayatha juga menatap Nadine, memperhatikan


wanita itu, dulu dia sangat cantik, hari ini dia terlihat sangat mengenaskan,


kantung matanya hitam, wajahnya pucat, rambutnya pun seperti tidak dirapikan


dengan benar, di tangannya Ayatha melihat perban. Ayatha kasihan melihat Nadine.


" Andra! kenapa kau bersamanya? " kata Nadine berteriak keras


" Nadine, ini rumah sakit, jangan buat keributan seperti ini, " kata Andra


" Aku tidak peduli ini di mana? Kenapa kau mengkhianati ku? " kata Nadine lagi


" Aku tidak pernah mengkhianatimu, dari awal sudah aku katakan aku tidak punya


perasaan apapun padamu, aku hanya menganggapmu teman" kata Andra tegas,


mendengar itu Ayatha memandang wajah Andra, keras...  namun hati Ayatha terasa hangat.


" Pulanglah Nadine, kau terlihat sangat kacau hari ini, " kata Ayatha menatap Nadine.


Nadine menatap Ayatha, ada kebencian yang sangat dalam disana, serasa ingin memakan Ayatha hidup-hidup, namun Ayatha bukan lagi Ayatha yang dulu, dia tidak takut dengan Nadine, dia tetap menatap Nadine, mengeratkan genggamannya pada Andra.


" Kau memang wanita penggoda, kenapa kau merebut Andra dariku, " kata Nadine


" Nadine, aku tidak merebut Andra darimu, Andra yang datang padaku, lagi pula yang dari awal sebenarnya kau yang merebut Andra dari ku, " kata Ayatha tenang,


ketenangannya mengusik Nadine.


Wayren menatap Ayatha, dia merasa Ayatha telah berubah, jauh lebih dewasa, lebih


tenang dan percaya diri, dia menyukai perubahan itu.


" Kau!, beraninya kau mengatakan itu pada ku! " kata Nadine ingin menyerang Ayatha,


Ayatha kaget, mundur sejenak... Andra langsung menarik Ayatha dalam pelukannya,


melindunginya, sedangkan Wayren segera mengangkap Nadine, Nadine terus berontak


dan berteriak.


" Ada apa ini? " kata Maxi datang dengan 4 pengawalnya.


Nadine terhenti mendengar kata-kata Maxi, dia memperhatikan Maxi.


" Nona, ini rumah sakit, saya tidak peduli anda siapa, tapi anda tidak boleh membuat


keributan di sini, " kata Maxi, memberikan gestur untuk para mengawalnya


membawa Nadine


Nadine menatap Ayatha dengan penuh kebencian, seperti siap kapanpun melenyapkan Ayatha,


pengawal Maxi mencoba memegang Nadine, namun Nadine menolak.


" aku akan pergi sendiri" kata Nadine lagi, dia lalu berjalan menjauh pergi.


" Kakak! " kata Ayatha menyapa Maxi

__ADS_1


Maxi tersenyum melihat adiknya.


" Bagaimana kabarmu, Andra? " kata Maxi menatap Andra.


" Sudah membaik, " kata Andra menatap Maxi dengan senyuman


" Aku rasa lebih baik kau kembali ke ruanganmu, akan buruk bagi lukamu jika terlalu banyak bergerak, " kata Maxi lagi


" Baiklah, " kata Andra


" Ayatha, jangan pergi tanpa pengawasan, tolong jaga adikku jika dia di sini, " kata


Maxi pada Ayatha dan Andra.


" Iya Kak, " kata Ayatha


" Iya tenang saja, " kata Andra lagi


" Baiklah, beristirahat lah, aku pergi dulu, " kata Maxi lagi tersenyum lalu pergi


meninggalkan tempat itu.


Andra kembali keranjangnya. Wayren membantunya untuk naik ke ranjangnya. Merebahkan dirinya, lukanya terasa kembali perih, mungkin karena tadi lukanya terbuka


kembali.


" Kau tidak apa-apa kan? " kata Wayren menangkap wajah kesakitan Andra


" Tidak apa-apa, " kata Andra tersenyum


Ayatha duduk di samping ranjang Andra, mencoba memposisikan Andra, tapi wajahnya terlihat suram.


" Ada apa? ” kata Andra yang melihat wajah suram Ayatha.


" Dia ingin bunuh diri karena mu? " kata Ayatha menatap Andra.


" Dia sudah kehilangan pikirannya, lagi pula sebenarnya dia tidak benar-benar ingin


bunuh diri, jika benar, dia sudah memotong nadinya dengan cepat, dia hanya


ingin mengertakku, " kata Andra lagi


" Aku kasihan padanya, " kata Ayatha menundukan wajahnya, sekilas ingatan


Andra menatap Ayatha, menaikkan dagu Ayatha, menatap mata Ayatha yang suram.


" Dia tidak akan apa-apa, " kata Andra dengan suara lembut, menatap Ayatha, Ayatha


juga tersenyum, Andra ingin mengecup bibir Ayatha namun..


" Ehm... ehm... aku masih di sini, " kata Wayren membuat Andra batal mencium Ayatha, Andra tertawa kecil, begitu juga Ayatha, menatap Wayren yang berwajah masam.


Pintu ruangan Andra diketuk seseorang, Wayren segera berdiri, lalu membukakannya.


Wayren terkejut, Nyonya Renata berdiri di depan pintu.


" Ibu? "kata Wayren dengan suara rendah, membuat Andra dan Ayatha terkejut, kenapa semua orang tahu Andra disini?


" Bolehkah aku masuk? " kata Nyonya Renata, Wayren melihat kearah Andra, Andra


mengangganguk mengizinkan ibunya masuk.


Nyonya Renata masuk, melihat kearah Andra, sedikit terkejut melihat Ayatha sedang berdiri


disampingnya, Andra lalu memengang tangan Ayatha. Ibunya hanya tersenyum


melihat itu.


" Bagaimana kabarmu? "kata Nyonya Renata medekati Andra, duduk di sampingnya, terasa


ada nada cemas di nada bicaranya


" Tidak apa-apa Bu, aku sudah membaik, " kata Andra, hanya tesenyum sedikit. Nyonya


Renata lalu menatap Ayatha.


" Nyonya, " kata Ayatha


" Apa kabarmu Ayatha? Sudah lama tidak bertemu? " kata Nyonya Renata lagi


" Saya baik, " kata Ayatha seadanya.


" Dari mana Ibu tahu aku di sini? " kata Andra

__ADS_1


" Memangnya hanya kau yang bisa memiliki mata-mata untuk menjaga Ayatha, Ibu juga bisa untuk mengawasimu, " kata Nyonya Renata tersenyum lembut,


Ayatha kaget, terdiam, menatap Andra, mata-mata?... Andra hanya tersenyum pada Ayatha. Namun Ayatha masih penasaran, tapi dia tidak bertanya, mungkin nanti...


" Bagaimana Nadine bisa membuat mu terluka seperti ini? " kata Nyonya Renata mengelus luka Andra dari luar.


" Hanya ketidaksengajaan, " kata Andra tidak ingin menjelaskan lebih detail.


" Maafkan Ibu, membiarkanmu hingga sepeti ini," kata Nyonya Renata.


" Tidak apa-apa, " kata Andra suaranya lebih melembut sekarang


" Aku akan membuatkan minuman, apa kau ingin makan buah sekarang? " kata Ayatha


menatap Andra, mencoba untuk meninggalkan ibu dan anak ini untuk bicara.


Andra hanya mengangguk, melepaskan tangannya, Ayatha lansung menuju kebagian dapur di ruangan itu.


" Kapan dia kembali? " kata Nyonya Renata lagi menatap Andra


" Baru beberapa bulan yang lalu, " kata Andra lagi


" Begitu yah... " kata Nyonya Renata, ada sedikit nada kecewa di dalamnya, Andra


menangkap itu.


" Ibu, aku ingin membatalkan pertunagan, " kata Andra langsung pada ibunya,


wajahnya serius, tampak keras dan dingin.


Ibunya tersenyum....


" Kita bicarakan nanti saja setelah kau sehat, " kata Nyonya Renata lembut, membuat Andra tidak bisa lagi berkata-kata.


" Kau sudah di sini tapi tidak memberi tahu Ibu, " kata Nyonya Renata menatap Wayren


" Aku juga baru tahu tadi, " kata Wayren seadanya saja.


Sejak pertunangan itu, kedua anak ini seperti menjauh, Wayren tidak banyak bicara,


hanya berdiam di kamarnya terus menerus, sedangkan Andra pindah dari rumah,


membuat Nyonya Renata merasa sangat kesepian dan sedih.


Ayatha kembali dengan teh yang di buatnya, juga buah yang sudah dikupasnya, di


letakkan di meja makan yang ada disana.


" Silahkan Nyonya, " kata Ayatha tersenyum


" Terima kasih, " kata Nyonya Renata tersenyum


Andra menatap Ayatha, hanya tersenyum, lalu Ayatha membawakan buah yang sudah dikupasnya ke dekat Andra. menyuapi Andra dengan lembut. Nyonya Renata menatap mereka,


melihat pasangan itu, dia tersenyum senang.


" Aku juga mau," kata Wayren


Ayatha melihat Andra terlihat sedikit malas.


" Berikanlah padanya, " kata Andra lagi


" Baiklah, ini, " kata Ayatha menyuapkan buah kepada Wayren, Wayren terlihat sangat


senang, segera datang dan memakan buah itu.


" Sudah yah, satu saja itu buah ku, " kata Andra seperti anak kecil yang enggan


berbagi


" Kau pelit sekali, itu kan banyak sekali, aku mau lagi, 1 lagi, " kata Wayren


" Kau ini, pergi dan kupas buahmu sendiri, " kata Andra


" Aku mau dari tangan Ayatha, " kata Wayren


" Baik-baik, jangan bertengkar, ini satu untuk Andra, satu lagi untuk Wayren, " kata Ayatha


bergantian menyuapi Andra dengan buah yang besar, membuat dia tidak bisa


berbicara untuk protes, begitu juga Wayren, mereka lalu saling melihat, mengunyah buah yang besar itu dengan baik.


Melihat itu Nyonya Renata tertawa, sudah lama tidak melihat anak-anaknya seperti itu, hatinya jadi senang.

__ADS_1


__ADS_2