Meadow

Meadow
Mari bercerai


__ADS_3

Ayatha terbangun pukul 9 pagi. Dia memandang ke sebelahnya, Andra sudah tidak ada di sana, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar hotelnya. Dia masih


terngiang kejadian kemarin, membuatnya kembali tersenyum.


Ponsel Ayatha berdering, dia melihat nama Maxi di layar handphonenya.


"Halo?" kata Ayatha


“Halo, apa kabarmu?" kata Maxi


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" kata Ayatha


“Senang kau juga menanyakan kabarku, aku baik,” kata Maxi


"Aku mau membicarakan sesuatu padamu, bisakah kita bertemu," kata Ayatha


“Tentu, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, aku akan menjemputmu sebentar lagi ya.”


"Baiklah, aku akan bersiap-siap, sudah dulu yah," kata Ayatha


“Baiklah.”


Ayatha lalu menutup teleponnya, dan berjalan menuju kekamar mandi. Bersiap-siap lalu segera ingin keluar ruangan, dia bermaksud untuk menunggu di lobi, namun begitu dia


membuka pintu, Maxi sudah menunggunya di sana.


"Maxi?" kata Ayatha kaget


"Oh, maaf, aku sengaja tidak mengetuk pintumu, aku takut mengganggu, makanya


menunggu di sini," kata Maxi tersenyum manis.


Tidak bisa di pungkiri, Maxi tak kalah tampan dengan Andra maupun wayren, dia punya


auranya tersendiri. Wajahnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya tajam


namun punya sisi kelembutan tersendiri, bibirnya merah, matanya coklat, rambut


hitamnya selalu tertata rapi, tubuhnya juga tinggi tegap. Ayatha hanya sebatas


bahunya jika berdiri berdampingan.


"Tidak apa-apa, kita bicara di sini saja atau mau ketempat lain?" kata Ayatha.


"Ayo, aku ingin mengajakmu sarapan, kau baru bangun kan?" kata Maxi tersenyum, Ayatha mengerutkan dahi kenapa dia bisa tahu?


"Kau memata-mataiku ya?" kata Ayatha menatap Maxi curiga namun dengan nada


becanda


"Hahaha, tidak juga," kata Maxi tertawa, dia jadi suka melihat Ayatha yang suka


becanda begini, sepertinya mood Ayatha sedang baik.


"Baiklah, ayo kita pergi," kata Ayatha.


Ayatha berjalan duluan, Maxi berjalan menyusulnya, mereka segera turun ke lobi, dan di depan lobi mobil Maxi sudah terparkir. Maxi membuka pintu untuk Ayatha. Lalu


mereka pergi menuju kesebuah cafe yang dari interiornya sangat lucu. Ayatha

__ADS_1


suka tempat itu. Setelah memesan beberapa makanan, Ayatha memandangi


sekeliling.


"Kau suka tempat ini?" kata Maxi melihat tingkah laku Ayatha


"Iya," kata Ayatha tersenyum


"Aku ingin berbicara sesuatu padamu," kata Maxi, wajahnya berubah sedih.


Ayatha tahu apa yang ingin di katakan oleh Maxi, pasti tentang itu.


"Maafkan aku, aku tidak ber ...." kata Maxi dengan raut wajah sedihnya


"Aku memaafkanmu," kata Ayatha menatap Maxi, memotong pembicaraannya, Maxi tak


percaya apa yang di katakan Ayatha.


"Maksudmu?" kata Maxi lagi


"Aku memaafkanmu," kata Ayatha tersenyum


Maxi tidak bisa berkata-kata, wajahnya tampak sedih, kejadian itu memang sangat membuatnya trauma, bahkan sampai sekarang dia tidak pernah mengandari mobil sendiri. Dia juga hampir mati karena kecelakaan itu, dia harus koma 2 minggu, dan saat tahu dia yang menyebabkan orang tua Ayatha meninggal, dia di hantui rasa bersalah


seumur hidup.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya terima kasih," kata Maxi berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin hidup dalam dendam, hidupku sudah penuh dengan


masalah, aku tidak ingin menambahnya lagi dengan menjadi pendedam, aku yakin


sangat berat," kata Ayatha.


Maxi masih tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya melihat gadis mungil ini di depan


matanya. Walaupun tubuhnya kecil, hatinya sangat besar.


"Tapi ... aku rasa aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita," kata Ayatha,


melepas cincin berlian yang melingkar di jari manisnya yang mungil, menyerahkannya pada Maxi.


Maxi mengigit bibirnya, sedikit sesal di hatinya, gadis seperti Ayatha, dia pernah


memilikinya, walau hanya sesaat, namun dia pernah jadi miliknya.


"Aku akan menerima ini, ini hukuman bagiku," kata Maxi lagi


"Maafkan aku," kata Ayatha


"Tidak apa-apa, tapi bisakah aku menganggapmu sebagai adikku," kata Maxi menatap Ayatha lembut, mengelus pipinya yang halus.


"Tentu," kata Ayatha lagi


"Kau tahu, kau wanita yang hebat, aku menggagumimu, oh iya, sebentar," kata Maxi


Maxi memanggil asistennya, asistenya membawakan beberapa berkas.


"Ini," kata Maxi

__ADS_1


"Apa ini?" kata Ayatha


"Itu surat rumah kedua orang tuamu."


"Lalu ini?" kata Ayatha menunjukkan beberapa kertas lain.


"Surat kepemilikan rumah yang telah aku belikan untukmu, juga beberapa surat


kepemilikan yang lain, sebelum menikah aku sudah membuatnya atas namamu,"


kata Maxi


"Tidak, surat rumahku saja sudah cukup," kata Ayatha tidak percaya melihat begitu


banyak yang menjadi miliknya, rumah, mobil, dan beberapa bidang tanah.


" Tolong jangan tolak, awalnya ini kado pernikahan kita, namun sekarang anggap saja kado seorang kakak untuk adiknya, " kata Maxi


" Tapi kalau seperti ini akan terlihat seperti aku mengambil keuntungan padamu, "


kata Ayatha masih menolaknya.


" Tidak apa-apa, soal orang tuaku, jangan cemas, aku menyerahkan harta milikku, mereka tidak terganggu sama sekali, aku juga minta maaf soal Hanna, aku tahu dia


memperlakukanmu dengan tidak baik bukan? Aku minta maaf karena dulu tidak


membantumu, " kata Maxi tesenyum


" Tidak apa-apa, aku mengerti, dia pasti sangat kaget kakaknya akan menikah, menikah dengan wanita yang sama sekali tidak di kenalnya, kalau aku jadi dia aku juga


akan tidak suka dengan hal itu, " kata Ayatha


Maxi terdiam, Ayatha memang terlihat sangat lemah, namun dia punya pikiran yang


berbeda dengan umurnya. Jauh lebih dewasa, Maxi benar-benar kagum padanya,


apakah sekarang terlambat untuk menolak perceraian ini? Pikirnya.


" Baiklah, kalau aku di sini terus dan memandangimu, jangan-jangan aku akan mengajakmu menikah lagi nanti, hahaha, sekarang aku pergi dulu ya, ada beberapa hal yang aku harus kerjakan, soal perceraian kita, akan aku kabari jika sudah selesai,


kau tinggal menunggu aja yah, kau ingin ikut pulang, atau di sini saja? "


kata Maxi berdiri, Ayatha pun mengikutinya.


" Tidak, aku masih ingin di sini, " kata Ayatha


" Kemarilah " kata Maxi


Ayatha mengikuti perintah Maxi, Maxi lalu memeluk Ayatha, Ayatha sebenarnya kaget,


namun tak bisa mengelak, pelukan itu erat, namun tidak terlalu lama, Maxi tersenyum, Ayatha hanya membalasnya.


Maxi mencium dahi Ayatha, hal ini memang sering dilakukan oleh Maxi, karena itu Ayatha tidak terlalu terkejut, dia hanya diam saja.


"Baiklah, hati-hati saat ingin pulang nanti," kata Maxi


"Baiklah Kak," kata Ayatha tersenyum manis


Mendengar kata kak, hati Maxi merasa tidak enak, terlalu asing di dengar jika keluar dari

__ADS_1


mulut Ayatha.


__ADS_2