Meadow

Meadow
Kenapa tidak mengetuk dulu?


__ADS_3

Andra tetap memanyungi Ayatha, memeluknya dengan satu tangan, membimbingnya kembali ke rumah. Saat Andra dan Ayatha membuka pintu, Raphael sedang bermain dengan Pak Wang.


" Ibu!!! " teriak Raphael melangkah kearah ibunya


" Raphael " kata Ayatha senang sekali melihat Andra


" Ibu basah, " kata Raphael tidak jadi memeluk Ayatha


" Iya, maafkan


ibu tidak menjagamu ya," kata Ayatha menatap anaknya


" Ayah menjagaku,  "kata Raphael melihat ayahnya.


" Baiklah, Rapha biarkan Ibumu mandi dan berganti pakaian dulu, " kata Andra tersenyum pada anaknya,


Raphael mengangguk cepat, lalu dia kembali bermain dengan Pak Wang.


" Mandilah, nanti kamu sakit, " kata Andra dengan begitu lembut pada Ayatha


" Baiklah, " kata Ayatha lalu berjalan ke arah kamarnya di lantai 2.


Andra bergabung dengan Pak Wang, bermain dengan anaknya. Jika ada orang yang melihat mereka, pasti sangat kagum, sosok seorang ayah yang jadi impian semua wanita. Andra memang menyukai anak-anak, berjanji pada dirinya sendiri akan memperlakukan anaknya dengan baik, tidak seperti dirinya dulu, walaupun awalnya Raphael tidak mendapat kasih sayangnya, mulai sekarang dia akan memperlakukan Raphael dengan sepernuh hatinya.


" Ayah, ingin bola, " kata Raphael mentap Andra


" Bola? Ada di mana? " kata Andra


" Ada di kamar, " kata Raphael


" Ayah akan mengambilkannya, Raphael tunggu di sini ya, " kata Andra tersenyum sangat manis

__ADS_1


Andra bangkit, lalu menaiki tangga, berjalan menuju kamar Ayatha, dia mengetuk beberapa kali, namun sepertinya Ayatha masih di kamar mandi, jadi tidak ada yang menjawab, Andra membuka pintu perlahan, benar saja, kamar itu masih kosong.


Dia mencari di sekitar kamar, namun belum juga menemukan bola yang di maksud oleh Raphael,


dia melihat kearah sebuah foto yang ada di meja dekat meja rias, foto Ayatha  dan seorang bayi, Andra melihatnya dengan senyuman, Raphael sangat imut saat masih bayi. Dia sedikit menyesal tidak ada di saat itu, pasti jika kecelakaan itu tidak terjadi, Andra pasti sudah menikah dengan Ayatha, dan dia bisa bersamanya saat Ayatha mengandung Raphael, menemaninya saat Raphael lahir di dunia, menjaganya... bayangan-banyangan itu membuat hatinya senang namun juga sedih...


Pintu kamar mandi terbuka, Andra langsung melihat kearahnya, sedangkan Ayatha seperti belum sadar karena melihat kearah kakinya yang sedang di elapkan di keset kamar mandi. Andra menatap Ayatha yang hanya menggunakan pakaian dalam saja. Tubuh Ayatha yang putih dan masih sangat bagus walaupun sudah pernah mengandung membuat Andra terpaku, hanya ada bekas guratan luka operasi saat melahirkan tampak mempermanis tubuhnya. tampak kilatan nafsu yang tiba-tiba muncul, selama 5 tahun ini dia tidak penah melihat hal seperti ini lagi.


Ayatha melihat kearah Andra, sangat kaget, karena dia tidak menyangka Andra ada di sana, dia memang tidak membawa pakaian, ingin memakainya di luar, jadi hanya mengunakan pakaian dalam, melihat Andra menatapnya, Ayatha yang kaget langsung menutup pintunya, jantungnya serasa ingin meloncat keluar. Pipinya memanas,


membayangkan wajah Andra.


Andra pun begitu, melihat pemandangan itu membuat jantungnya sangat kencang, wajahnya pun memerah.


" Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? " kata Ayatha dari dalam kamar mandi


" Ehm aku, aku sudah mengetuk, hanya saja tidak ada jawaban, aku ingin mengambil bola untuk Raphael, " kata Andra yang baru sadar.


" Owh iya aku akan mengambilnya, akan aku katakan jika aku sudah keluar, " kata Andra menuju ke lemari, namun


otaknya masih memikirkan pemandangan tadi. Andra membuka pintunya, melihat ada bola berwarna hijau, ngambilnya, lalu menutup pintu lemari.


" Sudahkah? Di sini dingin, " kata Ayatha


" Ehm...yah…aku akan keluar, " kata Andra, sebenernya dia enggan keluar... namun dia memaksa dirinya untuk keluar.


Ayatha membuka sedikit pintunya, melihat kearah kamar, Andra sudah tidak ada di sana, dia baru berani melangkah, jantungnya masih tidak karuan, mukanya memerah, dia bisa melihat hal itu jelas di kaca, mengapa Ayatha begitu malu, bukanya Andra sudah pernah melihat seluruh tubuhnya juga? Tapi waktu 5 tahun, dia tak pernah lagi di perhatikan seseorang dengan keadaan seperti itu, tentu dia malu.


Dia lalu mengalihkan pikirannya, memakai baju dan bersiap-siap. Setelah itu dia turun, dia bisa melihat Andra bermain dengan Raphael dengan sangat bahagia, tertawa begitu lepas, dia baru melihat Andra seperti itu... pemandangan ini dulunya yang sering di bayangkan oleh Ayatha, dia dulu berharap sekali Andra masih hidup dan bermain dengan anaknya. Sekarang mimpi itu terwujud juga.


Andra memperhatikan Ayatha yang turun kebawah, dia menatapnya, seketika agak canggung ketika ingat yang terjadi di kamar tadi, dia mengalihkannya dan kembali ke Raphael.

__ADS_1


" Ibu, mari bermain, " kata Raphael yang melihat ibunya mendekat.


" Tidak, Ibu tidak main, mainlah bersama Ayah, " kata Ayatha memperhatikan mereka, sesekali bertemu pandang dengan Andra, dan mereka sama-sama malu, padahal mereka bukan remaja lagi... lagi pula mereka juga sudah pernah melihat tubuh masing-masing, namun mereka tetap saja canggung.


" Sudah makan? " kata Andra memberanikan diri bertanya ke Ayatha, sampai kapan harus bersikap canggung


seperti itu.


" Belum, " kata Ayatha


" Mari makan, aku juga belum makan, tadi hanya menemani Raphael makan,"kata Andra mendekat kearah Ayatha,


Pak Wang yang mengantikannya main dengan Raphael, pandangan mata Andra begitu lembut, membuat Ayatha kembali terperangkap.


" Tidak bekerja hari ini? " kata Ayatha


" Sengaja mengosongkan jadwal agar bisa bersama kalian, " kata Andra, membuat hati Ayatha hangat.


" Baiklah, kalau begitu,"kata Ayatha


" Ayah, Ibu, Raphael ingin bermain, tidak ikut, " kata rapahel menatap kedua orang tuanya


" Tapi nanti Raphael akan menyusahkan Pak Wang, " kata Ayatha lembut


" Tidak nona, tidak apa-apa, saya akan menjaga Tuan Muda Raphael, " kata Pak Wang dengan tulus


" Menyusahkanmu Pak Wang, " kata Andra, sebenarnya dia memang ingin berduaan dengan Ayatha.


Ayatha menatap Andra, sedikit khawatir, namun melihat ketulusan Pak Wang, Ayatha sedikit tenang.


Hujan sudah berhenti, meningalkan jalan yang basah, wangi rerumputan yang ada di halaman terasa segar, angin masih terasa dingin, namun hati keduanya terasa hangat... Ini pertama kali dalam 5 tahun ini mereka pergi berdua lagi.

__ADS_1


__ADS_2