Meadow

Meadow
Jagalah mereka selagi aku pergi


__ADS_3

" Aku Ayahnya, " kata Andra mendengar dokter


Semua melihat kearah Andra, Ayatha terkejut melihat Andra yang datang bersama pak


wang, dia kelihatan cemas walaupun wajahnya terlihat dingin, Randi pun


terkejut, dia ayah Andra? Andra seolah tidak memperdulikan tatapan Randi yang


menatapnya lekat-lekat, dia hanya melihat Ayatha sekilas.


" Aku Ayahnya, apa yang bisa aku bantu? " kata Andra


" Andra butuh darah AB negatif, apakah golongan darah anda AB negatif? " kata


dokter itu menjelaskan


" Iya, golongan darahku AB negatif, pakai saja darahku, " kata Andra mantap


" Baiklah, ayo, anda harus segera melakukan pemeriksaan, kita harus cepat, " kata


dokter itu berjalan menuju kedalam.


Ayatha menatap Andra, Andra juga menatapnya, Ayatha mengigit bibirnya, Andra lalu


pergi berlalu tanpa ekspresi apapun, mengikuti dokter itu.


Ayatha menatap Randi yang masih tidak percaya, dia bingung harus mengatakan apa pada Randi,


namun Randi hanya tersenyum kecut.


" Aku akan jelaskan, " kata Ayatha


" Sudah, bukan hal yang penting sekarang, sekarang yang penting Andra baik-baik saja, "


kata Randi mencoba mengerti


" Terima kasih, " kata Ayatha tersentuh dengan pengertian Randi


" Sama-sama, ehm, aku ingin pergi membeli minuman, " kata Randi


" Baiklah, " kata Ayatha.


Randi tersenyum sedikit, dari senyumnya tampak kekecewaan, Ayatha dapat menangkap


itu, entah kenapa dia merasa tidak enak dengan Randi, dia memegang cincin yang


ada di jari manisnya.


Tidak lama, Andra kembali ke IGD, dokter mengatakan darahnya akan segera di proses, dia melihat Ayatha


yang masih menunggu dengan cemas. Ayatha yang melihat Andra datang, memandang Andra.


Matanya kembali memerah, menahan tangis.


Suasana canggung sekali, apalagi Randi setelah kembali membawa beberapa air mineral.


Andra menatap Randi, Randi pun menatap, namun tidak ada yang mengatakan apapun.


" Ini, " kata Randi menyerahkan minumannya ke Ayatha. Ayatha mengambilnya dengan lemah.


" Terima kasih, " kata Ayatha


" Minumlah, kau pasti haus karena menangis seperti tadi, " kata Randi lembut dan penuh


perhatian.


Ayatha hanya tersenyum, Andra mencoba untuk tidak melihat mereka, dia menunduk, namun


mendengar itu dia sedikit tidak nyaman.


" Ini, kau baru mendonorkan darah, pasti butuh ini, " kata Randi menyerahkan air

__ADS_1


minumnya pada Andra, Andra memperhatikan Randi, Randi hanya tersenyum tulus,


walaupun dia tahu kalau mereka sebenarnya saingan, namun Randi tidak menujukkan


persaingan itu.


" Terima kasih, " kata Andra mengambil air meneralnya.


Suasana kembali canggung, Andra berdiri di dekat pintu IGD, di depannya ada Ayatha yang


terduduk masih menunggu dengan cemas, Randi duduk di samping Ayatha yang hanya


terdiam.


" Sepertinya aku akan pulang dulu, lihatlah baju mu penuh dengan darah, tidak baik


mengunakan baju seperti itu, " kata Randi memecah keheningan


" Baiklah. " kata Ayatha menatap Randi


" Aku akan bawakan bajumu. " kata Randi tersenyum mencium dahi Ayatha.


Ayatha hanya mengangguk, Andra sebenarnya tidak ingin melihat adegan mereka, namun dia tidak


bisa berpaling, mereka tepat di depan Andra. Napasnya sesak, sebenarnya dia


cemburu, namun dia bukan siapa-siapa Ayatha sekarang.


Randi bangkit, dia menatap Andra dengan serius, sebenarnya Randi pun tak nyaman


melihat Andra, pria ini yang menghalanginya selama ini, dia yang membuat Ayatha


tidak bisa menerimanya, dan dia tahu bahkan sampai detik ini Ayatha masih


mencintainya.


" Aku titip Selena dan Andra padamu Wayren, aku tak tahu itu benar namamu atau tidak,


Andra terdiam, dia sedikit kaget dengan reaksi Randi... maksudnya apa?. Ayatha yang


mendengar itu juga sedikit mengerutkan dahi.


" Namaku Andra, " kata Andra menatap Randi


Randi sedikit mengerutkan dahi, Andra? Ternyata itu maksudnya, pantas saja selama ini


Ayatha tak bisa melupakannya, dia memberikan nama Andra pada anaknya, untuk


mengenang pria ini yang di anggap Ayatha sudah mati.


" Owh, baiklah, jaga mereka Andra selama aku tidak ada, " kata Randi


" Baiklah, " kata Andra


Dokter keluar dengan Raphael yang masih belum sadar di atas ranjang pasien, Ayatha dan


Andra langsung menghampirinya, menatap Raphael dengan sedih, Ayatha kembali


menangis, wajah Raphael pucat, sangat pucat, perban ada di kepalanya, tangan


kecilnya di pasangi infus untuk memasukan darah Andra. Mereka langsung


membawanya ke ruangan.


Randi hanya berdiri terdiam melihat Ayatha dan Andra yang mengikuti anak mereka, dia


tersenyum kecut, lalu pergi.


" Keadaan Andra sudah stabil, tinggal menunggu darah yang di transfusikan masuk semua,


lalu kita akan pantau jumlah darahnya lagi nanti, Andra bisa sedikit demam

__ADS_1


karena efek transfusinya, " kata dokter menjelaskan


" Baik" kata Andra


Ayatha duduk di samping Raphael, memegang tangannya yang mungil, matanya masih basah, namun


sudah tidak mengalir, menatap dalam-dalam ke arah Raphael yang belum juga


sadar.


Andra duduk di sisinya satu lagi, melihat ke arah Ayatha, dia sudah menghindari wanita ini


untuk beberapa hari, namun dia harus berurusan lagi dengannya, ini kah takdir?


" Dia tidak akan apa-apa, aku tahu dia anak yang kuat, " kata Andra memecah


kesunyian, Ayatha melihat Andra, sisa air matanya mengalir, dia segera


mengelapnya. Andra melihat wajah Ayatha yang sedang menangis, terlihat sedikit


kacau, terlihat dia sangat cemas bahkan tidak mengunakan apa pun di wajahnya,


rambutnya hanya di biarkan tergerai sedikit berantakan, namun tidak mengurangi


kecantikannya. Pandangan mata Andra melembut.


" Aku... terima kasih banyak sudah mendonorkan darahmu, " kata Ayatha seadanya,


menatap Andra dengan matanya yang berat karena terlalu banyak menangis hari


ini.


" Kau tidak ingin membersihkan dirimu, masih ada bekas darah di tanganmu, " kata


Andra lembut.


" Tidak ingin meninggalkan dia, " kata Ayatha enggan


" Aku ada disini menjaganya, dia juga anakku, aku akan menjaganya dengan baik, "


kata Andra.


Ayatha melihat Andra, benar.. Raphael juga anaknya, pasti Andra menjaganya dengan


baik.


" Baiklah, aku akan membersihkan diri, " kata Ayatha sedikit berdiri, namun gontai


karena dari tadi memang merasa lemas. Andra melihat itu, langsung berdiri, dia


segera memengang Ayatha. Ayatha melihat Andra, Andra sedikit canggung.


" Akan ku bantu ke kamar mandi, jika seperti ini aku takut kau malah bisa pingsan di


kamar mandi, " kata Andra terkesan dingin namun peduli


Ayatha tak menjawab, dia tidak mengiyakan namun tidak pula menolak, Andra menjaganya,


berjalan di belakang Ayatha yang berjalan lemah.


Andra membukakan pintu kamar mandi, Ayatha melihatnya lagi dengan mata sayunya


tersenyum sedikit, lalu masuk.


" Aku menunggu di sini, jangan kunci pintunya, kalau kau merasa tidak sanggup,


panggil aku, " kata Andra dengan matanya yang hitam itu, kepedulian yang


dalam tampak disana, membuat hati Ayatha nyaman.


" Baiklah, "kata Ayatha menutup pintunya.

__ADS_1


__ADS_2