
" Aku Ayahnya, " kata Andra mendengar dokter
Semua melihat kearah Andra, Ayatha terkejut melihat Andra yang datang bersama pak
wang, dia kelihatan cemas walaupun wajahnya terlihat dingin, Randi pun
terkejut, dia ayah Andra? Andra seolah tidak memperdulikan tatapan Randi yang
menatapnya lekat-lekat, dia hanya melihat Ayatha sekilas.
" Aku Ayahnya, apa yang bisa aku bantu? " kata Andra
" Andra butuh darah AB negatif, apakah golongan darah anda AB negatif? " kata
dokter itu menjelaskan
" Iya, golongan darahku AB negatif, pakai saja darahku, " kata Andra mantap
" Baiklah, ayo, anda harus segera melakukan pemeriksaan, kita harus cepat, " kata
dokter itu berjalan menuju kedalam.
Ayatha menatap Andra, Andra juga menatapnya, Ayatha mengigit bibirnya, Andra lalu
pergi berlalu tanpa ekspresi apapun, mengikuti dokter itu.
Ayatha menatap Randi yang masih tidak percaya, dia bingung harus mengatakan apa pada Randi,
namun Randi hanya tersenyum kecut.
" Aku akan jelaskan, " kata Ayatha
" Sudah, bukan hal yang penting sekarang, sekarang yang penting Andra baik-baik saja, "
kata Randi mencoba mengerti
" Terima kasih, " kata Ayatha tersentuh dengan pengertian Randi
" Sama-sama, ehm, aku ingin pergi membeli minuman, " kata Randi
" Baiklah, " kata Ayatha.
Randi tersenyum sedikit, dari senyumnya tampak kekecewaan, Ayatha dapat menangkap
itu, entah kenapa dia merasa tidak enak dengan Randi, dia memegang cincin yang
ada di jari manisnya.
Tidak lama, Andra kembali ke IGD, dokter mengatakan darahnya akan segera di proses, dia melihat Ayatha
yang masih menunggu dengan cemas. Ayatha yang melihat Andra datang, memandang Andra.
Matanya kembali memerah, menahan tangis.
Suasana canggung sekali, apalagi Randi setelah kembali membawa beberapa air mineral.
Andra menatap Randi, Randi pun menatap, namun tidak ada yang mengatakan apapun.
" Ini, " kata Randi menyerahkan minumannya ke Ayatha. Ayatha mengambilnya dengan lemah.
" Terima kasih, " kata Ayatha
" Minumlah, kau pasti haus karena menangis seperti tadi, " kata Randi lembut dan penuh
perhatian.
Ayatha hanya tersenyum, Andra mencoba untuk tidak melihat mereka, dia menunduk, namun
mendengar itu dia sedikit tidak nyaman.
" Ini, kau baru mendonorkan darah, pasti butuh ini, " kata Randi menyerahkan air
__ADS_1
minumnya pada Andra, Andra memperhatikan Randi, Randi hanya tersenyum tulus,
walaupun dia tahu kalau mereka sebenarnya saingan, namun Randi tidak menujukkan
persaingan itu.
" Terima kasih, " kata Andra mengambil air meneralnya.
Suasana kembali canggung, Andra berdiri di dekat pintu IGD, di depannya ada Ayatha yang
terduduk masih menunggu dengan cemas, Randi duduk di samping Ayatha yang hanya
terdiam.
" Sepertinya aku akan pulang dulu, lihatlah baju mu penuh dengan darah, tidak baik
mengunakan baju seperti itu, " kata Randi memecah keheningan
" Baiklah. " kata Ayatha menatap Randi
" Aku akan bawakan bajumu. " kata Randi tersenyum mencium dahi Ayatha.
Ayatha hanya mengangguk, Andra sebenarnya tidak ingin melihat adegan mereka, namun dia tidak
bisa berpaling, mereka tepat di depan Andra. Napasnya sesak, sebenarnya dia
cemburu, namun dia bukan siapa-siapa Ayatha sekarang.
Randi bangkit, dia menatap Andra dengan serius, sebenarnya Randi pun tak nyaman
melihat Andra, pria ini yang menghalanginya selama ini, dia yang membuat Ayatha
tidak bisa menerimanya, dan dia tahu bahkan sampai detik ini Ayatha masih
mencintainya.
" Aku titip Selena dan Andra padamu Wayren, aku tak tahu itu benar namamu atau tidak,
Andra terdiam, dia sedikit kaget dengan reaksi Randi... maksudnya apa?. Ayatha yang
mendengar itu juga sedikit mengerutkan dahi.
" Namaku Andra, " kata Andra menatap Randi
Randi sedikit mengerutkan dahi, Andra? Ternyata itu maksudnya, pantas saja selama ini
Ayatha tak bisa melupakannya, dia memberikan nama Andra pada anaknya, untuk
mengenang pria ini yang di anggap Ayatha sudah mati.
" Owh, baiklah, jaga mereka Andra selama aku tidak ada, " kata Randi
" Baiklah, " kata Andra
Dokter keluar dengan Raphael yang masih belum sadar di atas ranjang pasien, Ayatha dan
Andra langsung menghampirinya, menatap Raphael dengan sedih, Ayatha kembali
menangis, wajah Raphael pucat, sangat pucat, perban ada di kepalanya, tangan
kecilnya di pasangi infus untuk memasukan darah Andra. Mereka langsung
membawanya ke ruangan.
Randi hanya berdiri terdiam melihat Ayatha dan Andra yang mengikuti anak mereka, dia
tersenyum kecut, lalu pergi.
" Keadaan Andra sudah stabil, tinggal menunggu darah yang di transfusikan masuk semua,
lalu kita akan pantau jumlah darahnya lagi nanti, Andra bisa sedikit demam
__ADS_1
karena efek transfusinya, " kata dokter menjelaskan
" Baik" kata Andra
Ayatha duduk di samping Raphael, memegang tangannya yang mungil, matanya masih basah, namun
sudah tidak mengalir, menatap dalam-dalam ke arah Raphael yang belum juga
sadar.
Andra duduk di sisinya satu lagi, melihat ke arah Ayatha, dia sudah menghindari wanita ini
untuk beberapa hari, namun dia harus berurusan lagi dengannya, ini kah takdir?
" Dia tidak akan apa-apa, aku tahu dia anak yang kuat, " kata Andra memecah
kesunyian, Ayatha melihat Andra, sisa air matanya mengalir, dia segera
mengelapnya. Andra melihat wajah Ayatha yang sedang menangis, terlihat sedikit
kacau, terlihat dia sangat cemas bahkan tidak mengunakan apa pun di wajahnya,
rambutnya hanya di biarkan tergerai sedikit berantakan, namun tidak mengurangi
kecantikannya. Pandangan mata Andra melembut.
" Aku... terima kasih banyak sudah mendonorkan darahmu, " kata Ayatha seadanya,
menatap Andra dengan matanya yang berat karena terlalu banyak menangis hari
ini.
" Kau tidak ingin membersihkan dirimu, masih ada bekas darah di tanganmu, " kata
Andra lembut.
" Tidak ingin meninggalkan dia, " kata Ayatha enggan
" Aku ada disini menjaganya, dia juga anakku, aku akan menjaganya dengan baik, "
kata Andra.
Ayatha melihat Andra, benar.. Raphael juga anaknya, pasti Andra menjaganya dengan
baik.
" Baiklah, aku akan membersihkan diri, " kata Ayatha sedikit berdiri, namun gontai
karena dari tadi memang merasa lemas. Andra melihat itu, langsung berdiri, dia
segera memengang Ayatha. Ayatha melihat Andra, Andra sedikit canggung.
" Akan ku bantu ke kamar mandi, jika seperti ini aku takut kau malah bisa pingsan di
kamar mandi, " kata Andra terkesan dingin namun peduli
Ayatha tak menjawab, dia tidak mengiyakan namun tidak pula menolak, Andra menjaganya,
berjalan di belakang Ayatha yang berjalan lemah.
Andra membukakan pintu kamar mandi, Ayatha melihatnya lagi dengan mata sayunya
tersenyum sedikit, lalu masuk.
" Aku menunggu di sini, jangan kunci pintunya, kalau kau merasa tidak sanggup,
panggil aku, " kata Andra dengan matanya yang hitam itu, kepedulian yang
dalam tampak disana, membuat hati Ayatha nyaman.
" Baiklah, "kata Ayatha menutup pintunya.
__ADS_1