
Andra duduk di depan Nadine, pagi ini dia menemani Nadine untuk sarapan. Tubuh Andra memang disini, namun pikiran dan hatinya tidak disana.
" Bagaimana tidurmu?" kata Nadine memecahkan lamunan Andra.
" Sangat nyenyak." kata Andra sedikit tersenyum, mengingat kemarin dia tidur di samping Ayatha, menjaganya semalaman.
" Kau memimpikan ku?" kata Nadine sambil mengoleskan selai kacang di rotinya.
" Kita bersama semalaman, bagaimana aku bisa bermimpi tentangmu? " kata Andra menatap Nadine lekat-lekat.
" Oh, begitu, aku memimpikanmu. " kata Nadine masih mengoleskan selai kacangnya.
" Kenapa kau oleskan selai kacang di rotimu?, kau kan alergi kacang," kata Andra menatap Nadine dengan kerutan di dahinya.
" Hahaha, ternyata kau masih ingat tentang itu, " kata Nadine sangat senang
" Kau mengujiku ?" kata Andra agak kesal
" Bukan menguji, hanya ingin tahu... masihkah aku ada di hatimu?" kata Nadine menatap Andra, Andra membuang pandangannya, dia cukup kesal dengan tingkah laku Nadine.
" Ayahku dan Ayahmu sudah menuju k esini, mereka bertemu di Jerman lalu memutuskan ke sini, mungkin besok siang mereka sudah ada di sini, " kata Nadine lagi.
" Oh, baiklah. " kata Andra sekenanya saja
" Kau sangat berbeda saat di Amerika dan di sini, aku rasa kamu di depanku, tapi sebenarnya tidak, " kata Nadine lagi
" Aku hanya banyak kerjaan, kalau di sana aku tidak punya tanggung jawab, di sini tanggung jawabku besar." kata Andra
" Kau benar juga, aku mulai melihat kau sudah mirip dengan Ayahmu dan Ayahku," kata Nadine tertawa kecil.
Andra terdiam, dulu dia sangat ingin menjadi seperti ayahnya, pria yang tegas, dan berwibawa, sekarang...dia sama sekali tidak ingin lagi menjadi sepertinya...pria itu bukan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
" Sudah selesai makannya, aku harus pergi, ada rapat yang harus aku pimpin sekarang." kata Andra dingin
" Pergilah duluan, aku bisa sendiri ke kamar. " kata Nadine menatap Andra, di hati kecilnya, Nadine ingin Andra menolaknya dan menunggu dia selesai makan.
" Baiklah," kata Andra berdiri, Nadine cemberut.
" Kembalilah saat makan siang, aku tidak mau makan sendiri." kata Nadine
" Akan ku usahakan," kata Andra sekenanya saja, meninggalkan Nadine yang hanya tediam.
Andra melihat jam tangannya, apa sekarang Ayatha sudah bangun atau belum? Apakah dia sudah sarapan? Pikir Andra terbang jauh. Namun dia kembali ke kantornya.
,...........
Jam menunjukkan pukul 00.30 malam, seperti hari kemarin, Andra kembali ke hotel tempat Ayatha menginap, dia berpikir, walaupun hanya melihat Ayatha tertidur, itu sudah jauh lebih dari cukup.
__ADS_1
Dia membuka pintunya perlahan sengaja agar tidak membangunkan Ayatha, di tutupnya kembali, namun dia terkejut melihat Ayatha yang berdiri memperhatikannya.
" Kau belum tidur?" kata Andra terkejut
Ayatha mememang sengaja tidak tidur malam ini, dia ingin membuktikan, dia hanya mimpi atau tidak semalam, dan sekarang baru terjawab.
" Kenapa kau ada di sini? kau seharusnya tidak ada di sini..." kata Ayatha menatap Andra tidak percaya
Andra tidak menjawab, dia hanya mendekati Ayatha, menatapnya lekat-lekat, dia sangat merindukan Ayatha... bahkan sekarang setelah bertemu dengannya, rasa rindunya makin tidak terbendung.
Andra segera memeluk Ayatha, memeluknya dengan erat, merasakan wangi tubuh Ayatha, dia sangat rindu, rindu sekali, Ayatha yang di perlakukan seperti itu awalnya hanya terpaku, namun dia segera sadar dan langsung memberontak, namun kekuatan Andra jauh lebih besar dari pada kekuatannya, jadi pelawanannya sama sekali tidak ada artinya.
" Aku mohon, jangan tolak aku kali ini saja, aku sangat merindukanmu, aku tidak perduli, kau mendekatiku hanya untuk mengodaku atau untuk apa, kenyataannya aku memang tergoda karena mu, yang aku inginkan hanya dekat denganmu, untuk malam ini saja, aku mohon. " kata Andra lirih, suaranya menyimpan banyak kesedihan.
Mendengar itu Ayatha terdiam, dia tidak lagi berontak, dia bahkan tidak tega mendengar suara Andra. ini lah wanita, mereka mungkin saja bisa berpura-pura sepanjang hari bahwa dia tidak mencintai seseorang pria, namun hanya dengan beberapa kata-kata dan tidakan...mereka bisa luluh menghancurkan pertahanan yang mereka punya.
" Apa kau tidak merindukanku, Ayatha? " kata Andra lagi, jauh lebih lirih dari yang tadi.
Ayatha terdiam, air matanya mengalir tanpa bisa dia bendung. Dia mengangguk pelan. Mengerti arti anggukan Ayatha, Andra sangat senang...dia memeluk Ayatha lebih erat..seakan ingin melampiaskan segalanya. Ayatha sampai kesulitan bernapas.
Andra melepaskan pelukannya perlahan, dia menatap Ayatha yang masih mengeluarkan air matanya.
" Hei, kenapa menangis, aku di sini sekarang, " kata Andra manis lalu mengusap air mata Ayatha.
Ayatha hanya mengusap air matanya, dia mengelengkan kepalanya, sekarang bagi Andra Ayatha seperti anak kecil yang sangat sedih, namun dia menyukainya.
" Baiklah," kata Ayatha lagi
Ayatha menatap dirinya di cermin, dia sungguh kacau, wajahnya memerah karena menangis tadi, sebenarnya dia tidak begitu yakin, wajahnya memerah karena menangis atau karena Andra.
Tak lama Andra keluar dari kamar mandi, dia tidak membawa baju ganti, jadi memakai baju itu lagi. Pasti rasanya tidak nyaman, pikir Ayatha.
" Sedang apa di situ?" kata Andra duduk di samping ranjang.
" Tidak ada, " kata Ayatha gugup, apakah mereka akan tidur berdua dalam satu ranjang? Memikirkan itu wajah Ayatha kembali terasa panas.
" Kemarilah, aku tidak akan melakukan apapun padamu," kata Andra seperti tahu apa isi pikiran Ayatha
" Aku tidak memikirkan itu," kata Ayatha gugup
" Memikirkan apa? " kata Andra menangkap kegugupan Ayatha
" Ya... itu, " kata Ayatha bingung menjelaskan
Andra tertawa kecil melihat tingkah Ayatha.
" Sudah kemarilah, lagi pula ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama," kata Andra tersenyum
" Benarkah? Kapan kita tidur bersama?" kata Ayatha kaget
__ADS_1
" Kemarin. " kata Andra santai sambil merebahkan dirinya. Ayatha bisa melihat Andra sedikit lelah, terlihat dari wajahnya.
Ayatha mendekat, masih ragu-ragu, setelah sampai di pinggir ranjang, Andra yang tadinya menutup mata langsung bergerak cepat menarik Ayatha, hingga dia jatuh ke ranjang, Andra mengendongnya, lalu di letakkan di sampingnya. Satu tangan Andra di letakkan di bawah kepala Ayatha, sehingga Ayatha begitu dekat dengan Andra, Ayatha terdiam, napasnya rasanya ingin berhenti sekarang, wajahnya panas, benar-benar seperti mimpi.
" Apa aku terlalu memaksamu?" kata Andra yang melihat Ayatha hanya meringkuk di pelukannya
" Tidak...aku hanya tidak terbiasa. " kata Ayatha lagi
" Baguslah... aku sangat lelah hari ini, besok aku harus pulang pagi-pagi sekali kalau tidak akan jadi masalah nanti, aku akan tidur, selamat malam. " kata Andra mengecup dahi Ayatha, membuat Ayatha seperti terbang
Andra kembali menutup matanya, Ayatha hanya bisa memandangi wajahnya, dia sangat tampan, tampan sekali, bahkan saat kelelahan seperti ini saja auranya terlihat jelas.
Ayatha menatapnya terus, kalau kemarin dia tidak bermimpi, jadi ciuman kemarin....juga bukan mimpi dong, pikir Ayatha, dia memegang bibirnya sambil melihat bibir tipis dan merah Andra.
Entah apa yang merasuki Ayatha, dia memberanikan diri untuk mendekati Andra, mencoba untuk mengecup bibir Andra. kalau pun dia harus mati besok, seperti dia akan bahagia...pikirnya. lagi pula kan Andra sudah tidur, dia tidak akan tahu soal ini.
Perlahan dia mendekatinya, sampai bibirnya benar-benar menyentuh bibir Andra, bibirnya hangat, membuat sekujur Ayatha terasa tersengat listrik... sungguh pengalaman yang tidak ada bandingnya...
Saat begitu, tanpa sadar Andra membuka matanya, melihat itu Ayatha kaget lalu mencoba menarik dirinya, namun Andra tak mengizinkannya, dia menekan kepala belakang Ayatha agar tidak bergerak, sedangkan tangan yang satunya memegang pipi Ayatha, Andra mencium Ayatha dengan sangat ganas, dia seperti menyedot semua napas Ayatha, hingga dia kesusuahan dalam bernapas. Setelah beberapa menit, Andra sedikit melepaskan ciumannya, menatap Ayatha yang wajahnya sudah berubah merah, Andra pun begitu, wajahnya memerah, lalu tanpa menunggu lama lagi, dia kembali mencium Ayatha, kali ini dia membiarkan Ayatha terlentang, dia menciumnya dari atas, ciumannya kini lebih ganas.. hingga Ayatha terengah-enggah.
Melihat Ayatha yang kesulitan bernapas, Andra melepaskanya, mata Andra terus menatap Ayatha, ada semacam keganasan yang terbersit di mata Andra. Andra lalu melempar jauh pandangannya.
" Kalau begini terus aku tidak akan tahan untuk memakanmu. " kata Andra tersenyum manis.
Mengecup sebentar bibir Ayatha, lalu kembali ke sisi tempat dia tidur.
" Ayatha. " kata Andra melihat Ayatha dengan lembut
" Ya?" kata Ayatha dengan wajah masih bersemu merah
" Untuk beberapa minggu ke depan, jika ada yang terjadi padaku, aku minta kau tetap percaya padaku ya? Tunggu lah aku... jangan menyerah karena itu." kata Andra memandang Ayatha dengan tatapan lembut namun serius
" Baiklah, " kata Ayatha lagi
" Dan kau kapan bercarai dengan Maxi?" kata Andra penasaran
" Aaku sedang memikirkannya "
" Lakukanlah secepatnya, aku tidak mau jadi pria selingkuhan," kata Andra tertawa tipis
" Iya, aku akan bicarakan besok. " kata Ayatha
" Ya, bagus lah, besok mungkin aku tidak datang, jangan menunggu ku ya, tidur lah." kata Andra lagi, mengusap kepala Ayatha
" Iya. " kata Ayatha
" Baiklah, aku tidur dulu, selamat malam. " kata Andra tersenyum
Ayatha hanya bisa terdiam, mencoba untuk tidur, namun tidak bisa..sampai jam 3 subuh, dia baru bisa tertidur.
__ADS_1