
Handphone Andra berdering, membuatnya terbangun, sinar matahari sudah memasuki sela-sela jendela di rumah sakit itu, Ayatha masih belum sadar juga. Andra melihat handphonenya, sudah jam 7 pagi dan Wayren meneleponnya.
" Halo?" kata Andra.
" Halo, kau di mana? Kenapa semalam tidak pulang?" kata Wayren cemas.
" Aku di rumah sakit," kata Andra seadanya.
" Siapa yang sakit?" kata Wayren lagi
" Ehm...Ayatha. " kata Andra sambil melihat wajah Ayatha, wajahnya tak sepucat semalam.
" Kenapa dia? " kata Wayren masih dengan nada cemasnya
" Datang lah, nanti aku akan ceritakan, bisa menyuruh Bibi Moi menyiapkan baju dan perlengkapan ku, aku ingin mandi d isini, " kata Andra pada Wayren
" Baiklah, aku akan datang sebentar lagi, " kata Wayren
Wayren baru saja mau menemui bibi moi sebelum tiba-tiba handphonenya berdering.
" Halo? " kata Wayren
" Halo, bagaimana ada kabar dari kak Andra?" kata Risa di ujung telepon
" kau pagi-pagi meneleponku, namun menanyakan kabar kakakku? " kata Wayren sedikit cemburu
" Oh, iya, bagaimana kabarmu?" kata Risa dengan nada mengejek
" Tidak baik, karena kau sudah mengacaukan pagiku," kata Wayren lagi
" Ah, sudahlah, kau tidak penting, bagaimana dengan kak Andra?"
" Bagaimana bisa kau bilang seperti itu? Hah.. Andra sedang di rumah sakit" kata Wayren kesal
" Rumah sakit? Siapa yang sakit?" kata Risa kaget
" Ayatha, aku akan kesana sebentar lagi," kata Wayren
__ADS_1
" Jemput aku ya, aku ikut," kata Risa
" Kau selalu merepotkan," kata Wayren
" Aku tunggu ya, aku siap-siap dulu, " kata Risa tanpa memperdulikan Wayren, lalu dia memutuskan sambungan. Wayren kesal melihat kelakuan Risa, gadis aneh ini, selalu merepotkan.
Sekitar 1 jam kemudian, Wayren dan Risa sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruang perwatan Ayatha. Risa mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan, lalu pintu di bukakan.
" Lama sekali? " kata Andra
" Tanya saja tuh sama dia, dandannya lama amat," kata Wayren segera masuk lalu masuk melihat kearah Ayatha yang terbaring lemah, walaupun tidak sepucat kemarin, namun Wayren dapat melihat keadaan Ayatha tidak baik. Wayren juga merindukan gadis ini, namun dia tidak menunjukkannya.
" Ayatha, kenapa bisa begini?" kata Risa dengan kelakuannya berhambur ke arah Ayatha, memegang tangannya.
" Iya, kenapa dengannya?" kata Wayren cemas namun tetap mencoba menjaga sikapnya.
" Terkena pecahan kaca, lukanya dalam, namun tidak cepat di tangani, jadi kehilangan banyak darah, " kata Andra mencoba menerangkannya seadanya saja.
" Siapa yang melakukannya? " kata Wayren menatap kakaknya serius, hatinya berkata pasti ada yang tidak beres.
" Maxi? Pasti dia, aku yakin," kata Risa lagi menatap Wayren dengan sangat serius, Wayren menggeretakkan giginya, emosinya memuncak. Kalau benar maxi yang melakukan ini semua...dia akan melakukan perhitungan dengan maxi...akan ku habiskan laki-laki penggoda itu....pikir Wayren
" Bukan...bukan dia, " kata Andra
" Lalu?" kata Wayren meredam emosinya
" Hanna. " kata Andra menatap adiknya, setidaknya dia pikir kalau adiknya mengetahui Hanna yang melakukannya, dia tidak akan melakukan apapun karna Hanna adalah perempuan.
" Gadis itu..." kata Wayren mengepalkan tangannya, dia bisa melihat bekas luka jahitan di kaki Ayatha yang tertutup perban karena Risa menyibakkan selimut Ayatha. Matanya menatap nanar... bagaimana bisa dia tetap bertahan disana hingga terluka seperti ini?
Wayren berjalan keluar dari ruangan buru-buru, Andra segera menarik tangan adiknya, dia tahu sifat Wayren.
" Apa yang mau kau lakuan ?" kata Andra
" Tenang saja, aku hanya memberikan sedikit pelajaran padanya," kata Wayren lagi menghentakkan tangan kakaknya dan langsung keluar.
" Dia wanita, " kata Andra
__ADS_1
" Aku tahu, kau tenang saja, " kata Wayren menatap kakaknya tajam, lalu dia pergi meninggalkan ruangan.
" Mau apa dia?' kata Risa cemas melihat kelakuan Wayren
" Tidak apa-apa, aku yakin dia tidak akan melakukan kekerasan kalau dengan wanita," kata Andra pada Risa, mencoba menenangkannya.
" Oh "
" Aku mau mandi, tolong jaga Ayatha sebentar ya," kata Andra tersenyum manis
Risa yang melihat senyuman Andra langsung tersipu, wah...dia tampan sekali...
" Baik Kakak," kata Risa dengan gaya imutnya
Andra hanya tersenyum melihat gaya Risa itu, lalu dia pergi mandi.
Ayatha membuka matanya, melihat kearah langit-langit yang berwarna putih di ruangan itu, kepalanya masih sedikit sakit, dia lalu melihat ke sekitar.
" Ayatha, kau sudah sadar, " kata Risa melihat Ayatha membuka mata
Ayatha hanya tersenyum lemah, dia masih susah untuk membuka mulutnya.
" Apa sih yang terjadi padamu sampai kau begini?, si Hanna itu berani banget sih ngelukain kamu kayak begini? "kata Risa lagi dengan gayanya
" Aku tidak apa-apa," kata Ayatha.
Dia teringat, tadi malam dia seperti melihat dan mendengar Andra, dan tiba-tiba dia bangun sudah ada di rumah sakit, apakah Andra benar-benar datang?, dimana dia sekarang?
" Bisa bantu aku duduk, " kata Ayatha
" Iya, " kata Risa, Risa segera mencoba membantu Ayatha untuk duduk.
Saat dia selesai duduk, Andra keluar dari kamar mandi, dia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia memakai pakaian casual yang seperti dia pakai di rumah, dia terlihat tampan sekali. Risa saja sampai tidak bisa berkedip, benar kata orang, pria paling tampan ketika baru saja mandi, pikir Risa.
Ayatha juga terkejut melihat Andra yang keluar dari kamar mandi, hatinya berdetak kencang, apalagi setelah melihat Andra sepeti itu. Dia sangat merindukan pria ini, sudah berapa lama, baru beberapa minggu, namun rasanya dia bisa mati jika harus menahan rindu ini lebih lama. Andra tersenyum padanya, namun, Ayatha langsung sadar, dia tidak boleh dekat dengan Andra. Ayatha hanya tersenyum kecut.
__ADS_1