
" Nadine, tolong, sekarang letakkan pisau itu ya, " kata Andra dengan suara
melembut, mencoba untuk merayu Nadine agar tidak berbuat nekat.
Andra perlahan-lahan mendekati Nadine, Nadine hanya memperhatikan Andra sambil terus membenamkan pisau itu di pergelangan tangannya.
" Nadine, aku di sini bukan? Aku di sini untukmu, " kata Andra tersenyum manis,
perlahan-lahan mendekat, mencoba membuat Nadine terkecoh, lalu setelah dekat, Andra
segera merebut pisau itu, namun Nadine menariknya kembali, Andra sekuat tenaga
mencoba mengambil pisau itu namun karena mendapat perlawanan dari Nadine, Andra
kesulitan mendapatkannya, dan tiba-tiba, Andra dapat merasakan nyeri di bagian
perut sebelah kanannya, cairan hangat mengalir membasahi kemeja putih yang di
pakainya.
Nadine terbelalak, saat Andra mencoba mengambil pisau itu dari tangannya, tanpa
sengaja dia malah menusuk kearah perut Andra, Nadine gemetar menatap darah yang
keluar dari perut Andra, Septi yang melihat hal itu berteriak, membuat semua orang datang, begitu juga Asisten Wang.
" Tuan Muda Andra, saya akan membawa Anda ke rumah sakit, " kata Asisten Wang
sengera memapah Andra yang mulai tidak bisa berdiri tegak. Dia memapah Andra
keluar dari ruangan itu, menuju mobil lalu memposisikan Andra, lalu segera
pergi dari sana.
" Nona Anda tidak apa? " kata Septi, tangan Nadine penuh dengan darah, bukan
darahnya, itu darah Andra, dia masih mematung tidak percaya, apa yang sudah di
lakukannya. Tangannya bergetar hebat.
Andra mencoba menahan perih di perutnya, dia mencoba untuk tetap duduk tenang,
sedangkan Asisten Wang tampak menekan perut Andra, tampak cemas.
" Jika Ayatha menelepon ku, jangan katakan apapun tentang ini, " kata Andra
terbata-bata.
__ADS_1
" Baik Tuan, " kata asisten Wang
Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit Crown, Andra segera di larikan ke UGD, dan langsung mendapatkan penangan, untung saja pisau itu hanya melukai bagian
permukaan perut Andra , tapi lukanya cukup panjang dan dalam mengoresnya hingga
ke pinggang, namun tidak mengenai organ dalam Andra. Namun begitu dia harus
tetap di rawat di sana.
Jeremy menuju ruangan pasien, dia baru saja di tugaskan untuk memfollow-up pasien yang
baru masuk, dia sedikit menaikkan dahi melihat nama pasien, Andra?...
" Hei, Andra? Ternyata kau benaran Andra, bagaimana kabarmu? " kata Jeremy yang terkejut melihat Andra di sana
" Bagaimana menurutmu? Bukannya kau dokternya," kata Andra tersenyum.
" Wah, bagaimana bisa kau mendapatkan luka seperti ini?" kata Jeremy lagi
" Hanya kecelakaan kecil, " kata Andra
Jeremy membaca status Andra, lalu mengernyitkan dahinya, memandang Andra dengan tatapan tidak percaya.
" Kenapa? " kata Andra
" Di sini tertulis lukamu karena terkena tusakan benda tajam, kecelakaan apa yang membuat sampai kau tertusuk seperti ini, " kata Jeremy penasaran
" Wow, wanita itu memang mahluk paling mengerikan di dunia yah? Makanya jangan terlalu sempurna, kau harus menghadapi banyak wanita jadinya kan? " kata Jeremy
bercanda
" Iya, benar juga, " kata Andra ikut tertawa
" Oh, ehm...bagaimana keadaanmu dengan Ayatha? Tapi kau sudah bertunangan dengan
orang lain aku dengar, maaf tidak seharusnya bertanya tentang Ayatha, "
kata Jeremy lagi
" Tidak apa-apa, tunanganku yang melakukan ini, " kata Andra lagi
" Wah... yang benar? Kalau aku jadi kau, aku akan membatalkan pertunangan itu, bisa saja
setelah menikah dia menikammu saat kau tidur bukan? " kata Jeremy lagi
" Yah... ini lah hasilnya karena aku ingin membatalkan pertunangan itu, " kata Andra
__ADS_1
" Kalau begitu aku hanya bisa bilang, good luck dengan tunangan mu itu, " kata Jeremy,
handphonenya berdering
" Halo Hanna?, baiklah, kita makan malam di tempat biasa ya, " kata Jeremy lagi
dengan lembut, membuat Andra mengerutkan dahinya. Jeremy lalu mematikan
handphonenya.
" Kau dan Hanna? " kata Andra sedikit tidak percaya
" Yah, sudah 3 bulan, kau tahu mengubah hatinya untuk melupakanmu dan menerima aku lumayan susah, wish me luck ya, " kata Jeremy lagi, Andra tersenyum
" Baiklah, oh iya, tolong jangan ceritakan apapun pada Hanna tentang aku di sini, "
kata Andra
" Baiklah, aku keluar dulu, istirahatlah, keadaanmu stabil kok, " kata Jeremy lagi
" Iya, terima kasih," kata Andra.
Andra lalu hanya duduk sendiri, mencoba membaca beberapa pekerjaannya hingga malam sebelum
handphonenya berdering, ada sederet angka di sana.
“ Halo? “ terdengar suara Ayatha di ujung telepon, Andra tersenyum, hanya dengan
mendengar suara Ayatha saja sudah membuatnya tenang, dia segera menutup
laptopnya.
" Halo, Ayatha, bagaimana kabarmu? " kata Andra
“ Aku baik-baik saja, bagaimana dengan keadaanmu ? ”
" Aku juga, " kata Andra walaupun ada rasa nyeri di perutnya, namun dia tidak
ingin Ayatha jadi khawatir, makanya dia terpaksa berbohong.
“ Aku menghubungimu untuk memeberitahukan nomorku ini, sedang apa? ” kata Ayatha lagi
" Oh, iya, sedang mengerjakan pekerjaanku seperti biasa, " kata Andra lagi
“ Benarkah?” kata Ayatha
" Iya, Ayatha, malam ini aku sedang banyak sekali pekerjaan, maaf malam ini tidak bisa bertemu denganmu, besok aku akan berusaha bertemu denganmu dan Maxi, " kata Andra
__ADS_1
lagi
Ayatha tidak menjawab...