
Ayatha menginjakkan kakinya kembali ketanah kelahirannya, tanah penuh kenangan, Raphael masih tertidur di gendongan ibunya, Ayatha sudah di jemput oleh Maxi, tak hanya Maxi, di sana pun ada Hanna. Hanna sangat terharu melihat Ayatha kembali.
" Selamat datang kembali," kata Maxi melihat adiknya dengan senyuman.
" Ayatha!, " kata Hanna tidak bisa menutupi keharuannya, dia ingin memeluk Ayatha dengan erat, namun perutnya yang membuncit menghalangi.
" Wah, kehamilanmu sudah sangat besar, apakah kembar?, "kata Ayatha memperhatikan Hanna, dia juga terharu.
" Iya, kembar, 1 putra dan 1 putri" kata Hanna menjelaskan.
" Wah, selamat ya, " kata Ayatha memegang perut Hanna
" Sama-sama, apakah dia? " kata Hanna yang baru pertama kali melihat Raphael.
" Iya, kau bisa memanggilnya r
Raphael " kata Ayatha, membiarkan Hanna melihat wajah Raphael, h
Hanna terkejut namun senang...
" Benar benar mirip dengan mu dan Ayahnya, " kata Hanna masih terkejut...
Ayatha hanya tersenyum.
" Ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap, " kata Maxi menghentikan sejenak momen kedua saudari ini.
Ayatha, Raphael dan Hanna duduk di belakang, sedangkan Maxi mengalah duduk di depan, Raphael masih saja lelap dalam tidurnya.
" Lihatlah betapa lelap dia tidur, aku yakin dia nantinya jadi incaran semua wanita, betapa tampannya dia, " kata Hanna memandang Raphael.
" Aku yakin anak-anakmu pasti sangat cantik dan tampan nanti, Ayah dan Ibunya juga cantik dan tampan" kata Ayatha.
__ADS_1
" Ayatha, kau ingin pergi kemana? Biar kami menemani," kata Maxi
" Tidak perlu, lihatlah Hanna, dia pasti akan kecapekan kalau menemaniku nanti, aku akan pergi berdua dengan Raphael nanti jika dia sudah bangun," kata Ayatha.
" Kau baru pulang setelah 5 tahun kesini, sudah banyak yang berubah disini, setelah kita mengantarkan Hanna kerumah dan kalian beristirahat sebentar, kita akan pergi, andra pasti kedinginan dengan jaket tipis seperti itu, disini udaranya cendrung dingin, nanti dia akan sakit," kata Maxi.
Hanna memperhatikan Ayatha, Andra?
" Namanya Andra Raphaelo, " kata Ayatha tersenyum, Hanna hanya menatapnya sedikit heran.
" Baiklah kak, kalau aku tidak menganggumu," kata Ayatha tersenyum.
" Tidak, tenang saja, aku sudah mengosongkan jadwalku untuk mu," kata Maxi tersenyum, menatap ke Ayatha dari kaca spion tengah.
Maxi, Hanna dan Ayatha sampai ke rumahnya Ayatha di perumahan White Piony, Ayatha memandangi rumah itu, sudah lama sekali tidak pernah tinggal lagi di rumah itu.
" Kalian tinggal disini saja, kalau di apartemen pasti merasa kurang bebas, Andra bisa bermain disini, halamannya cukup luas," kata Maxi menjelaskan, dia sudah memikirkan semuanya.
" Aku juga sudah punya anak, aku pasti tahu anak-anak bagaimana?, " kata Maxi.
" Wah, tinggal aku ini yang belum merasakan repotnya punya anak, " kata Hanna becanda.
" Sebentar lagi juga kau merasakannya, dan aku rasa kau repotmu dengan Jeremy akan double, " kata Maxi sedikit tertawa.
" Iya nih sepertinya, " kata Hanna.
" Anak-anak itu mahluk paling indah, begitu kau melihat mereka pertama kalinya, duniamu akan berubah, semuanya akan tentang mereka, jika anakmu laki-laki kau bahkan akan lupa dengan suamimu, jika anakmu perempuan, suamimu yang akan melupakan dirimu, " kata Ayatha menjelaskan.
" Wah..aku akan punya keduanya, kami akan melupakan satu sama lain, "kata Hanna dengan wajah cemas yang di buat-buat.
" Kalau kalian punya dua-duanya, kalian harus bekerja ekstra, " kata Maxi seadanya saja.
__ADS_1
" Benar...seperti nya, " kata Hanna lagi.
" Sudah tidak apa-apa, temani aku ke kamar yuk, " kata Ayatha, dia berjalan ke lantai 2, membuka kamarnya yang lama, Hanna mengikuti dengan pelan, jika hamil berjalan saja sudah susah, apa lagi mengandung anak kembar.
Ayahta meletakkan Raphael dengan pelan, dia menyelimuti anaknya dengan penuh kasih sayang. Mengelus sedikit kepalanya, lalu tersenyum, Hanna memperhatikan itu, jika nanti anaknya lahir akan kah bisa sebaik Ayatha menjaganya.
" Duduklah, kau akan kontraksi jika terlalu lama berdiri, "kata Ayatha becanda.
" Haha, tidak lah, tapi memang pinggangku sekarang ingin patah, " kata Hanna, dia duduk di pinggir ranjang Raphael.
" Kenapa?, "kata Ayatha yang melihat Hanna terus menatap Raphael.
" Dia sangat tampan, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu melewati ini semua, mengandung dan mengetahui ayah anakmu sudah meninggal, apa tidak begitu berat?, "kata Hanna menatap Ayatha.
Ayatha ingat, itu sangat berat baginya, dia sangat takut waktu itu menjalani hidup sendirian, membesarkan anak tanpa ayah, Ayatha merasa sangat tertekan, tidak tahan dengan depresinya, dia mencoba loncat dari apartemen, namun Maxi selalu menyelamatkannya, memotong pergelangan tangannya, tetap saja tidak berhasil, dan untungnya Andra tetap sehat di dalam rahimnya.
" Ya, cukup berat, " kata ayatha tidak ingin menjelaskan.
" Ayatha, kau sudah tahu kan, Andra belum meninggal?, "kata Hanna menatap Ayatha.
" Iya aku tahu, aku sudah bertemu dia waktu di Indonesia, " kata Ayatha tersenyum.
" Lalu? Kenapa kalian tidak berdua sekarang? " kata Hanna lagi.
" Aku rasa aku salah..menyuruh Andra untuk pergi, dia kemudian menyerah, " kata Ayatha menatap Hanna, ada kesuraman di matanya.
" Ayatha kau tahu apa yang sudah dilalui oleh Andra, dia benar-benar mencintaimu, " kata Hanna
" Aku tahu," kata Ayatha melipat jaket Raphael.
" Kau harus memperjuangkan cinta kalian" kata Hanna.
__ADS_1
Ayatha hanya diam, bukan dia tidak ingin memperjuangkan cintanya, tapi... sekarang fokus Ayatha lebih ke Raphael... jika memang dia dan Andra di takdirkan berdua, maka mereka akan berdua, jika tidak.. Ayatha masih memiliki Andra yang lain.