
Ayatha terbangun pukul 2.45 malam, kepalanya sangat sakit, perutnya juga sakit. dia
ingat dia melewatkan waktu makan malam karna tidak ingin membukakan pintunya.
dia melihat sekitar, sudah begitu malam Andra seharusnya sudah tidak
menunggunya lagi.
Ayatha berjalan keluar kamarnya munuju pintu keluarnya, dia melihat monitor yang
terpasang di samping pintu itu, dia terkejut melihat Andra ada disana. sedang
berdiri dan seperti tidak tidur semalaman. hanya diam saja berdiri. apa sih
yang dia pikirkan? ini sama saja merusak dirinya.
Ayatha membuka pintunya, Andra menatapnya, wajah Andra terlihat sedikit lesu, dia juga tidak makan malam, juga tidak tidur sama sekali.
" Apa mau mu? begini sama saja menyiksa diri sendiri, " kata Ayatha kesal
melihat Andra, dia tidak tahu kesal karena masalah Andra dengan Nadine, atau
karena Andra yang menyiksa dirinya sendiri.
Andra hanya menatap Ayatha....
" Masuk lah, " kata Ayatha
Andra tersenyum, dia lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Ayatha. dia berhenti,
melihat kearah Ayatha yang sedang menutup pintu.
" Tidur lah... ini sudah hampir pagi, kau belum sembuh benar, " kata Ayatha lagi,
dia berkata tampa melihat Andra, hanya menunduk, lalu jalan melalui Andra.
" Ayatha," kata Andra
Ayatha memberhentikan langkahnya, namun tidak berbalik melihat Andra.
" Tidur lah, aku tidak ingin menangis pukul 3 pagi, " kata Ayatha dingin
Andra terdiam, melihat Ayatha yang masuk kedalam kamarnya., Andra lalu berjalan
menuju sofa yang ada di sana, dia tidak ingin tidur saat ini, jadi dia hanya
duduk di sofa saja.
Ayatha juga tidak bisa lagi tertidur, hanya berguling-guling di ranjangnya, saat jam
menunjukkan pukul 6 pagi, dia malah baru bisa tertidur, saat pukul 8 pagi dia
terbangun karena jendelanya terbuka otomatis, membuat ruangan itu di penuhi
oleh cahaya matahari.
Dia melihat ke sekeliling dulu, lalu dia turun dari ranjang, badannya terasa tidak enak,
sedikit terasa berat, lalu dia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dan
membersihkan dirinya.
Saat Ayatha sudah selesai mandi, dia keluar, dia kira Andra tidur di kamar yang lain, dia
melihat kedalam namun tidak ada orang, di ruang tamu juga sudah tidak ada, Ayatha
lalu mengecek ponselnya, ada pesan dari Andra dan panggilan dari Maxi
aku pergi dulu ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan luka, nanti kembali lagi ' pesan Andra.
Dia lalu menelepon kakaknya...
" Halo?" kata Ayatha
“ Halo, baru bangun tidur? ” kata Maxi
" Haha iya kak, kemarin tidak terlalu bisa tidur, baru tidur saat pagi, " kata Ayatha
mencoba tertawa
“ Kenapa? ” kata Maxi
__ADS_1
" Hanya merasa kesepian mungkin, " kata Ayatha lagi
“ Pindahlah ke rumah jika kau ingin, ada Hanna dan aku,” kata Maxi
" Akan ku pikirkan nanti, " kata Ayatha
“ Yah, aku ingin mengatakan Keenan sudah pergi tadi malam, jadi kau tidak perlu khawatir
lagi ya,” kata Maxi
Ayatha terdiam, dia tidak lagi khawatir dengan Keenan, tapi dia khawatir hubungannya dengan Andra, tak tahu harus mengambil sikap apa.
“ Halo? ” kata Maxi lagi
" Oh, iya Kak...baiklah, terima kasih, " kata Ayatha
“ Baiklah, jangan lupa sarapan,” kata Maxi
" Iya Kak," kata Ayatha, Maxi menutup teleponnya.
Ayatha berjalan ke depan untuk membenarkan beberapa bantal yang mungkin di gunakan oleh Andra. namun dia berhenti melihat sebuah surat yang di ada di dekat pintu keluarnya.
Ayatha mengerutkan dahinya, tidak ada nama pengirimnya, amplop itu putih bersih tanpa
ada apapun, Ayatha membukanya dengan penasaran, hanya ada 1 kertas dan
berberapa foto.
Ayatha membuka kertas itu, itu hasil laporan pemeriksaan, nama pasiennya adalah Nadine,
nama ayah adalah Andra, Ayatha membacanya dengan hati terluka.. disana terdapat tulisan bahwa Nadine positif hamil. Ayatha mematung, dia mengambil foto itu,
dia melihat Andra sedang mendampingi Nadine di sebuah ruang seperinya ruang
pemeriksaan. lalu dia juga melihat Nadine yang sedang melakukan usg, Andra ada
di foto itu namun dia hanya duduk saja. hati Ayatha nyeri, sakit dan perih, sesak di dadanya sangat terasa, jantungnya
bagaikan ingin keluar.
Namun Ayatha menahan diri untuk menangis, dia lalu memgambil handphonenya, sekuat tenaga menelepon Andra.
Bunyi tut pertama Andra langsung mengangkat panggilan Ayatha.
“ Di mana? ”kata Ayatha
" Masih di rumah sakit, tapi sudah selesai mengecek luka, " kata Andra
menjelaskan, namun perasaannya tidak nyaman.
“ Bagaimana lukamu? ” kata Ayatha seperti menelan pil yang sangat pahit namun dia berusaha seperti tidak terjadi apapun.
" Sudah membaik, tidak perlu lagi mengunakan perban dan minum obat, " kata Andra
“ Mari bertemu, ” kata Ayatha.
Andra terdiam, dia merasa akan terjadi sesuatu.
" Baiklah, ingin bertemu di mana? " kata Andra
“ Sudah sarapan? ” kata Ayatha
" Belum"
“ Kita ke tempat waffle yang aku suka saja ya, aku tunggu di sana”
" Baiklah"
Ayathamenutup sambungan teleponnya, Andra menatap handphonenya, lalu Andra berjalan menuju pintu keluar.
Ayatha segera bangkit, dia menghapus air mata yang tidak bisa di tahannya lagi, namun
dia tidak ingin lama-lama menangis, dia lalu bersiap-siap untuk pergi.
Ayatha berjalan ke arah cafe waffle yang di sukainya, dari apartemennya tempat itu
hanya beberapa blok, sangat dekat, jadi dia putuskan pergi kesana dengan
berjalan kaki. hari ini cerah, matahari menyinari dengan hangat, namun sangat
bertolak belakang dengan hati Ayatha yang mendung.
__ADS_1
Ayatha sampai duluan, dia duduk di kursi dekat dengan jendela, menampilkan pemandangan jalanan di mana orang-orang berjalan lalu lalang, dia sudah memesan segelas teh dan waffle kesukaannya, namun entah kenapa bahkan waffle itu tidak bisa
membuatnya selera untuk makan, jadinya dia hanya melihatnya saja.
Andra datang tak lama, Ayatha memandangi Andra, pria yang tinggi, bahunya bidang, putih dan sangat tampan mengenakan sweater orange dan celana hitam, mempesona sekali,
anaknya pasti akan tampan atau cantik nantinya, pikir Ayatha tersenyum getir.
Andra melihat Ayatha tersenyum, dia juga tersenyum, tapi dia tidak nyaman melihat
senyuman Ayatha, dia duduk di depan Ayatha.
" Ingin memesan sesuatu Tuan? " kata pelayan itu terkesima oleh pesona yang di
tebarkan Andra.
" Hanya teh saja, " kata Andra tersenyum pada pelayan, membuat pelayan itu tersipu
" Baiklah,terima kasih, " kata pelayan itu.
Pelayan lalu pergi, Andra menatap Ayatha, suasana sedikit canggung.
" Ada apa? " kata Andra yang melihat kesedihan di mata Ayatha
Ayatha kembali hanya menatap Andra lekat-lekat, mata hitam Andra pun hanya memandang wajah Ayatha, pria ini akan menjadi seorang ayah... ayah dari orang lain...
sangat tidak rela, namun Ayatha bisa apa?, Ayatha menarik napas dalam, seolah
sangat susah bernapas.
Andra dengan sabar hanya memperhatikan Ayatha, Ayatha belum bisa mengatakannya, pelayan datang membawa pesanan Andra, membuat suasana yang tadi tegang agak sedikit mencair.
" Terima kasih, " kata Andra
" Sama-sama, " kata pelayan itu tersenyum, Andra tak terlalu memperhatikan pelayan itu,
membuat pelayan itu agak kecewa dan pergi.
" Katakanlah, " kata Andra tahu ada yang ingin di katakan oleh Ayatha.
Ayathatersenyum...
" Mari akhiri hubungan kita, " kata Ayatha...
Suasana hening, Andra belum bisa mencerna apa yang di katakan oleh Ayatha dengan baik,
mungkin karena dia kurang tidur jadi otaknya berjalan lebih lambat.
" Maksudmu?" kata Andra
" Ayo, kita putus saja, " kata Ayatha lagi, wajahnya menahan sedih
" Tidak,aku tidak ingin putus dengan mu, sampai kapan pun, hal ini yang tidak bisa aku
kabulkan, " kata Andra memandang Ayatha serius
" Andra, kita harus putus... kau harus bertanggung jawab, aku tidak ingin punya hubungan
dengan pria yang tidak punya tanggung jawab, " kata Ayatha tidak bisa lagi
menahan dirinya.
" Aku harus bertanggung jawab atas apa? kau tidak percaya padaku? " kata Andra
juga terbawa emosi
" Aku percaya, sangat ingin percaya, tapi buktinya sudah ada, " kata Ayatha
menagis tersedu-sedu
" Bukti apa? " kata Andra dengan wajah menegang
Ayatha mengeluarkan amplop dari tasnya, dia memberikannya pada Andra, Andra membuka
amplop itu , mengambil kertasnya lalu membacanya, wajahnya sangat tidak
percaya.
" Ini palsu, aku tidak pernah melakukan apapun pada Nadine, " kata Andra menatap
Ayatha.
__ADS_1
" Kalau itu palsu, ini bagaimana? " kata Ayatha, melemparkan 2 foto untuk Andra, Andra menatap mereka, matanya suram
" Ayatha, foto ini asli, " kata Andra, mendengar itu hati Ayatha sangat sakit, serasa teriris sembilu.