
Tiba-tiba handphone Andra berdering, sederet angka seperti yang sebelumnya, di segera mengangkatnya
" Halo?" kata Andra
" Maaf mengganggu malam-malam Tuan Muda, namun ada hal gawat yang harus saja laporkan, " kata suara dari seberang.
Andra mengernyitkan dahi, melihat perubahan wajah Andra, Wayren jadi sedikit penasaran.
" Ada apa?" kata Andra lagi
" Nona Ayatha terluka Tuan, kakinya terkena kaca vas yang dijatuhkan oleh Nona Hanna, lukanya cukup dalam dan banyak mengeluarkan darah," kata informan tersebut
" Apa? Bagaimana keadannya sekarang ?" kata Andra cemas
Wayren dan Risa hanya bisa saling menatap dengan wajah penasaran.
" Nona masih pingsan, dia terbaring di kamar tidurnya, Nona Hanna tidak mengizinkan untuk Nona Ayatha dibawa ke rumah sakit, para pelayan juga dilarang memanggil dokter, " kata informan tersebut.
Andra marah, tangannya mengepalkan tinju, dia menahan emosinya dengan mengertakan giginya, diia segera mematikan panggilan itu. Lalu segera berdiri.
" Ada apa?" tanya Wayren, pasti ada yang tidak beres.
" Aku harus pergi sekarang, aku permisi dulu, " kata Andra tanpa menunggu jawaban adiknya, dengan cepat dia berjalan, menuju mobilnya.
" Ke perumahan White Piony, secepatnya, " kata Andra pada supirnya,
" Baik Tuan, " kata supirnya dengan cepat melajukan mobilnya.
Tunggu sebentar lagi, bertahan lah, pikir Andra.
Emosi, cemas, takut kehilangan, semua melebur jadi satu. Bagaimana Ayatha bisa di perlakuan seperti itu, sepengetahuan Andra Ayatha bukan lah orang yang dapat membuat orang lain kesal. Semakin dia memikirkan Ayatha, semakin emosi pula dia.
Supir menjalankan tugasnya dengan baik, tidak lama mereka sampai di depan rumah Ayatha, Andra dengan cepat turun dan langsung memasuki perkarangan rumah itu. Pintunya tertutup, dia membunyikan bellnya dengan cepat.
Pintu dibuka oleh Maya, melihat Andra, dia langsung tersenyum, Maya adalah orang suruhan Andra untuk bekerja menolong Ayatha dan menjaga Ayatha selama dia ada di rumah itu, Maya senang melihat Andra yang Sekarang datang.
" Aku ingin bertemu Ayatha," kata Andra
" Silahkan Tuan, " kata Maya membuka kan pintu lebih lebar
Hanna melihat kearah orang yang datang, dia bisa melihat Andra berdiri di depan pintu rumah itu, ada apa ini? Apakah dia bermimpi? Bisa bertemu dengan orang yang di cintainya selama ini, malam ini. Hati Hanna langsung berbunga-bunga.
" Kak Andra, kau datang ke sini?" kata Hanna dengan senyum manisnya menyambut Andra. Andra hanya mengepalkan tangannya, tanpa mengubah ekspresi dinginnya. Tidak memperdulikan wajah ramah Hanna
__ADS_1
" Aku ke sini ingin bertemu dengan Ayatha, " kata Andra mencoba tetap tenang dan sopan.
Wajah Hanna langsung berubah kesal, dia kira Andra datang untuk bertemu dengannya, namun kenapa malah ingin bertemu wanta murahan itu.
" Ayatha tidak ada di rumah," kata Hanna ketus
" Kau berbohong, dia di sini, tolong jangan uji kesabaranku, atau kau akan menyesal, " kata Andra yang masih mencoba sopan untuk tidak menerobos masuk ke dalam rumah
" Nona Hanna, Nona Ayatha menggigil, darahnya keluar lagi," kata Yesi panik.
Andra yang mendengar itu tidak tahan lagi, dia langsung menerobos masuk. Hanna yang kaget dengan reaksi Andra langsung memeluk pinggang Andra dari belakang, mencoba menghentikan Andra.
" Jangan pergi, jangan ke sana, " kata Hanna lirih, dia menangis.
" Lebih baik kau lepaskan aku sekarang sebelum aku berlaku kasar padamu, " kata Andra menarik napas panjang, dia cemas.
" Kakak, aku menyukaimu, " kata Hanna terisak
Andra terdiam, dia tidak tahu kalau ternyata Hanna menyukainya, namun dia sama sekali tidak punya perasaan dengan gadis ini.
" Lepaskan aku, " kata Andra lagi.
" Kau tidak boleh dengannya, wanita murahan itu hanya penggoda, dia menggodamu, dia menggoda kakakku, wanita itu tidak pantas dengan mu," kata Hanna seperti kesetanan.
" Jangan pernah memanggilnya lagi seperti itu, atau kau akan menyesal seumur hidupmu," kata Andra emosi.
Melihat emosi di mata Andra, Hanna terdiam, dia belum pernah melihat Andra marah sebelumnya. Matanya sangat menyeramkan. dia perlahan melepaskan pelukannya.
Hanna terdiam,menyeka air matanya yang keluar, menatap Andra dalam.
" Akan ku pastikan kau dan dia tidak akan pernah bersatu, " kata Hanna lagi.
" Cobalah…" kata Andra lagi, lalu dia pergi meninggalkan Hanna, Hanna terjatuh, air matanya mengalir deras. Patah hati..hatinya patah… hancur berkeping-keping….
Andra menerobos rumah, mengikuti Maya yang menuntunnya ke kamar Ayatha. Dia membuka pintu kamar Ayatha.
Ayatha terbaring lemah, wajahnya sangat pucat, mata nya terkatup rapat, Andra dengan cepat segera mengendong Ayatha.
" Ayatha, bangun lah, " kata Andra menatap Ayatha yang sesekali mengigil. Namun Ayatha tak merespon.
__ADS_1
Tanpa mengelur waktu, dia langsung membawanya keluar rumah, supir yang melihat Andra mengendong Ayatha langsung membukan pintu, perlahan Ayatha di baringkan di kursi belakang, kepala Ayatha di letakkan di pangkuan Andra. Mereka segera melaju menuju kerumah sakit.
Di sepanjang jalan Andra tak lepas memegang tangan Ayatha, terasa dingin, lebih dingin dari biasanya, dia sangat cemas.
" Ayatha ayo bangun, Ayatha, " kata Andra cemas dengan nada meninggi.
Namun Ayatha masih tidak merespon, dia hanya terbaring lemah di pangkuannya. Melihat Ayatha yang begitu lemah, Andra memeluknya erat.
" Aku mohon jangan tinggalkan aku, " kata Andra lirih, matanya berkaca-kaca.
Ayatha bisa mendengar suara Andra, dia sangat merindukan suara itu, apakah Andra ada disini? dia mencoba membuka matanya perlahan, berat namun dia terus berusaha,
Dia bisa melihat sekilas banyangan Andra ada di depannya, dia tersenyum sedikit, namun kembali menutup matanya,kepalanya sangat berat,.tidak sanggup lagi membuka matanya.
Andra melihat senyuman tipis Ayatha,melihat matanya yang sejenak terbuka. Dia tambah cemas.
" Cepatlah, " kata Andra setengah berteriak pada supirnya
" Baik Tuan," kata supir itu menambah laju kendaraannya
Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit, Andra segera membawa Ayatha ke unit gawat darurat. Dokter dengan tanggap menangani Ayatha.
" Lukanya sangat dalam, kami akan menjahitnya, bagaimana dia bisa terluka seperti itu? dia kehilangan cukup banyak darah, " kata dokter itu melihat keadaan Ayatha.
Andra hanya terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia katakan.
" Tuan, saya minta anda untuk menunggu di luar, kami akan menangani Nona ini, " kata dokter itu lagi
Andra dengan cemas menunggu di luar ruang tindakan, dia bahkan tidak bisa duduk, berjalan mondar mandir di ruangan tunggu. Tak sejenakpun wajah cemas itu lepas darinya.
Setelah lebih dari 30 menit, Ayatha keluar dari ruangan tindakan, dia masih terbaring lemah, dokter langsung membawanya keruang perawatan.
" Keadaannya stabil, besok kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan padanya, mudah-mudahan besok dia akan lebih baik, lukanya sudah di jahit , kalau begitu saya akan meninggalkannya untuk istirahat, jika perlu kami, kami akan selalu siap, " kata dokter itu berpamitan
" Terima kasih dokter, " kata Andra
Dia menarik kursi yang ada di sana, duduk di samping Ayatha, menatap Ayatha dengan lembut, hatinya luMayan tenang mendengar penjelasan dokter.
Ayatha tampak cantik, walaupun bibirnya pucat, Andra sangat merindukannya, sangat teramat sangat, namun dia tidak menyangka dia akan melihatnya lagi dalam keadaan seperti ini.
Andra mengenggam tangan Ayatha yang masih dingin, menaruhnya di pipinya. Mencium tangannya.. dia tidak menyangka, akan menyukai gadis ini. Ntah sejak kapan?,namun sekarang dia sadar, yang dia butuhkan hanya Ayatha, Andra terus menatap Ayatha dalam heningnya,menyaluran semua rindunya,hingga tertidur di samping Ayatha.
__ADS_1