
Andra terbangun secara alami, melihat kesamping tempat tidurnya, Ayatha dan ibunya
sudah tidak ada, dia perlahan-lahan turun, lukanya sudah jauh membaik, tidak
ada rasa sakit lagi. Dia berjalan mencari ibunya dan Ayatha, saat melihat ke
bagian dapur, dia melihat ibunya ada disana.
" Andra? kenapa turun " kata Ibunya saat melihat Andra
" Aku sudah tidak apa-apa Bu, " kata Andra melihat kesekitar
" Ayatha mana? " kata Andra
" Ehm... Ibu juga tidak tahu, saat bangun, Ayatha sudah tidak ada, mungkin dia
membeli makanan untuk kita, " kata ibunya
" Oh, begitu, " kata Andra,
" Ini, minumlah selagi hangat, " kata Ibunya memberikan teh yang di buatnya
" Terimakasih Bu," kata Andra tersenyum hangat, Nyonya Renata senang sekali, sudah lama
dia tidak melihat senyuman hangat Andra.
Ayatha turun ke lantai bawah, mencari beberapa makanan untuk sarapan dia dan Nyonya Renata,
awalnya dia ingin meminta pengawal, namun karena mereka sangat terlihat lelah, Ayatha
tidak tega, dia pergi sendiri, toh dia juga hanya akan membelinya di cafe di
lantai dasar.
Ayatha segera keluar dari lift, saat dia melihat Keenan percis di depan pintu lift,
dengan cepat Ayatha menekan tombol untuk menutup pintu lift, namun di tahan
oleh Keenan, Ayatha mundur kepojok saat Keenan masuk kedalam lift, menatap Ayatha
dengan tatapan sangat mengancam.
" Di sini kau rupanya, " kata Keenan menatap Ayatha, berjalan terus membuat Ayatha
benar-benar terpojok.
" Keenan kau sebenarnya mau apa? Kita ini sepupu," kata Ayatha menatap Keenan yang
telihat ganas, lift terus berjalan keatas.
" Hanya sepupu angkat, ayolah, bukannya kau gadis pengoda, kemari, godalah aku, "
kata Keenan tangan Keenan memegang dagu Ayatha, kukunya yang tajam menusuk
leher dan dagu Ayatha, Ayatha berontak, tapi semakin Ayatha berontak entah
kenapa Keenan terlihat menikmatinya, Keenan menekan tubuh Ayatha, membuatnya
tidak bergerak, napas Ayatha tercekat, tangannya memukul badan Keenan, namun
pukulan itu terasa tidak ada apa-apanya,
Pintu lift terbuka di lantai ruang Andra, ada sepasang muda mudi ingin masuk, namun saat Keenan
melihat mereka dengan tatapan marah, mereka langsung mundur, Ayatha menatap
mereka meminta tolong, namun suaranya tercekat.
Pintu lift kembali tertutup dengan cepat, Ayatha kembali di cekik oleh Keenan, dia mencium
leher Ayatha dengan ganas, Ayatha menangis, kakinya menendang tak tahu arah,
namun tidak juga berguna. Keenan kemudian menciumi telinga Ayatha, menghirup
wanginya aroma tubuh Ayatha, membuat Keenan makin gila, Keenan memencet tombol
lantai paling atas, Ayatha tahu disana kosong, Ayatha menangis sejadi-jadinya,
berontak terus menerus, namun percuma.
Pintu lift terbuka, benar mereka di ruangan paling atas, tidak ada apa-apa disana, kosong,
Keenan menarik Ayatha keluar, mengehempaskan tubuh kecilnya ke lantai, Ayatha
berusaha kabur, namun Keenan segera menariknya, membuat dia berdiri, memojokkan
Ayatha di pojok ruangan. Ayatha ketakutan, apa lagi melihat Keenan sudah
membuka jasnya.
__ADS_1
" Keenan, jangan lakukan ini, " kata Ayatha menangis
" Kenapa? kau sudah pernah menikah, tentu hal ini bukan hal yang pertama kan? Apa lagi
kau bersama Andra, mana mungkin kalian tidak melakukan hal seperti itu, "
kata Keenan seperti orang kerasukan.
" Aku tidak pernah melakukan hal itu, " kata Ayatha lagi, berharap Keenan
kasihan dan melepaskannya.
" Benarkah? Wow! Aku akan jadi yang pertama, " kata Keenan dengan senyum dan tatapan
penuh nafsu.
" Jangan Keenan, " kata Ayatha memelas, air matanya tumpah, Keenan sedikit merasa
kasihan namun nafsunya tak tertahan...dia sudah gila dengan Ayatha, mimpinya
bahkan sekarang selalu tentang Ayatha, dia tergila-gila akan kekeras
kepalaannya. Gadis ini harus di tahlukkannya.
Dia memeluk Ayatha erat, Ayatha berteriak, ingin melepaskan diri, berontak sekuat tenaga. Namun
tubuhnya yang mungil tidak memberi efek apapun pada Keenan.
" Ayatha, aku akan menikahimu, " kata Keenan berbisik di telinga Ayatha, Ayatha
terdiam, tidak, lebih baik mati dari pada harus bersama Keenan,
Keenan kembali menciumi pundak Ayatha, menciumi pipinya, lalu mencium bibir Ayatha,
bibirnya terasa manis, membuat Keenan makin mengila, di mengoyak lengan baju
kiri Ayatha, hingga lepas seluruhnya, memperlihatkan tubuh Ayatha yang sangat
mengoda.
Ayatha terus berontak, dia mengigiti bibir Keenan dengan sangat keras hingga darah terasa
bercampur dengan liurnya, namun Keenan tidak melepaskannya. lalu sesaat Keenan
memandang Ayatha, melihatnya dari atas hingga bawah, atasan Ayatha sudah sobek
setengah, dia mencoba menutupinya, mata Keenan liar menatap tubuh putih Ayatha.
orang tidak akan ada yang datang, itu benar-benar kosong, apakah harus seperti
ini? Kenapa nasibnya sangat jelek.
Keenan kembali ingin menciumnya, ketika pintu lift terbuka... seseorang dengan cepat
masuk, memengang pundak Keenan, membuat dia marah karena terganggu.
Dia melihat sekilas, sebelum pukulan Andra yang keras menghantam rahangnya, Keenan jatuh
tersungkur. Andra kembali menarik baju Keenan, melayangkan pukulannya terus
menerus dengan amarah, dia sangat marah... tidak memperdulikan lukanya lagi,
bahkan lukanya tidak terasa apapun,walaupun darah mulai membasahi bajunya lagi.
Keenan tidak di berikan kesempatan untuk membalas, kalau saja para pengawal tidak datang dan
melerai Andra yang memukuli Keenan seperti orang kesurupan, mungkin Andra bisa
membunuh Keenan.
Wajah Keenan hancur, hidungnya berdarah, bibirnya juga, matanya bengkak...
Keenan langsung di amankan, menatap Andra dengan emosi, namun Andra tidak
memperhatikannya, dia langsung melihat Ayatha yang terduduk memeluk lututnya
sambil menangis.
Andra membuka jasnya, memasangkan pada badan Ayatha yang bajunya sudah tidak
beraturan.
" Maafkan aku datang terlambat, " kata Andra, Ayatha menatap Andra, dia langsung
memeluk Andra, tubuhnya gemetar hebat, di leher Ayatha Andra bisa melihat bekas
kuku Keenan membuat luka, di bahunya terlihat cakaran yang panjang. Hati Andra
sakit... nyeri sekali. Memeluk wanita itu dengan erat, mencoba meredakan
__ADS_1
ketakutannya. Padahal saat itu Andra pun sama takutnya, takut kehilangan Ayatha
lagi.
Mereka terdiam disana,setelah Ayatha lebih tenang, Andra menatapnya dengan senyuman
lembut.
" Kau sudah aman, " kata Andra.
Pintu lift terbuka, Maxi datang terburu-buru, melihat Andra dan Ayatha disana, Ayatha
melihat kakaknya, dia kembali menangis, namun tidak seperti tadi, Maxi memeluk Ayatha,
Andra membiarkan Maxi menenangkan adiknya, Maxi mengelus kepala Ayatha, melihat
Andra, tersenyum seperti memberikan tanda terimakasih.
Maxi melihat Ayatha, luka di lehernya terlihat jelas, Ayatha menutupi tubuhnya dengan jas Andra.
Maxi tersenyum masam.
" Kita harus mengobati luka mu, juga menganti baju mu, " kata Maxi tidak tahu
harus berkata apa, Maxi juga baru sadar, darah di baju Andra. Ayatha juga
melihat itu.
" Andra lukamu? " kata Ayatha
" Tidak apa-apa, mungkin terbuka lagi, " kata Andra, dia memang menahan nyeri dari
tadi, setelah memukuli Keenan dia baru menyadari rasa sakitnya, namun tidak
ingin membuat Ayatha khawatir jadi dia hanya menahannya, menunggu Ayatha
tenang.
" Kalian berdua harus segera diobati," kata Maxi lagi. Andra mendekati Ayatha,
memeluknya dengan satu tangan dan membawanya ke lift, namun belum sampai di UGD
Andra ambruk, darahnya keluar terlalu banyak, membuat di pingsan.
Andra terbangun, merasakan pusing di kepalanya, namun dia langsung melihat
kesekeliling, akhirnya dia melihat yang di carinya, Ayatha tertidur di ranjang
di sampingnya, berselimut, tidur terlihat sangat lelap seperti dia tidak baru
saja mengalami percobaan pemerkosaan.
Di sebalah kanannya, dia melihat ibunya yang terlihat tertidur di sofa, lukanya makin
lebar, mungkin terbuka saat Andra tak sadar memukul Keenan tadi. Pintu ruangan
terbuka, Jeremy masuk dengan status di tangannya, Andra segera memberi gestur
untuk tidak membuat keributan. Jeremy mengerti.
Dia mendekati Andra dengan perlahan... tersenyum padanya.
" Apa aku lupa mengatakan padamu untuk tidak banyak bergerak dulu, lukamu memang
tidak bahaya, hanya saja itu cukup besar untuk langsung bekelahi, " kata Jeremy
" Kalau kau jadi aku apa yang akan kau lakukan? " kata Andra menatap Jeremy
Jeremy menatap Ayatha yang sedang tidur... tersenyum lalu berbalik melihat Andra
" Yah, mungkin sama seperti yang kau lakukan," kata Jeremy
Andra hanya tersenyum.
" Kali ini jangan terlalu banyak bergerak," kata Jeremy
" Bisakah aku pulang, di sini aku tidak bisa menjaganya? " kata Andra lagi
" Sebenarnya tidak masalah, karena lukamu tidak terkena organ dalam, tapi tetap harus
beristirahat, jika tidak lukamu akan lama sembuhnya," kata Jeremy
" Baiklah, setelah mereka bangun,aku akan keluar, " kata Andra
" Ok, aku akan menyiapkan obat-obatan untuk mu, " kata Jeremy
" Terima kasih, " kata Andra
" Sama-sama, " kata Jeremy keluar dari ruangan Andra.
__ADS_1
Andra menatap Ayatha yang masih tertidur, merasa sedikit sedih memikirkan Ayatha. Dia
harus melindunginya, terlalu rapuh untuk dibiarkan sendiri.