
Momo terus bersandar pada Ayatha, hingga mereka ingin turun, namun Momo masih saja bersandar.
" Momo,kita sudah selasai bermainnya," kata Ayatha
Namun momo tidak merespon, saat Ayatha ingin melihatnya, momo jatuh di pangkuan Ayatha. Hidungnya berdarah.
Ayatha dan Andra yang melihat ini langsung panik, Andra langsung mengendong momo keluar dari tempat biang lala, berlari menuju ke arah pintu keluar. Ayatha mengikuti andra dari belakang.
Asisten Wang yang melihat Andra berlari ke arahnya langsung memanggil petugas medis yang sudah siap siaga dari tadi, dokter dan suster lalu menyambut dengan cepat tubuh Momo, mereka langsung membawa Momo ke dalam ambulans dan pergi dari sana.
Andra langsung menarik Ayatha ke dalam mobilnya, dengan cepat Asisten Wang langsung mengendarai mobil itu, mengikuti ambulans dari belakang.
Suasana tegang, napas Ayatha bahkan belum teratur karena tadi berlari. Andra juga tampak cemas. Tanpa mereka sadari selama pejalanan mereka terus bergengaman tangan.
Ayatha menunggu cemas di luar ruang tindakan, dia hanya bisa duduk sambil memainkan tangannya.
Andra lebih tenang, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia hanya berdiri di dekat pintu ruangan itu.
Tak lama dokter keluar dari ruangan tindakan. Andra dan Ayatha langsung berdiri.
" Bagaimana keadaannya?" kata Ayatha.
Wajah dokter itu tampak suram, melihat itu Ayatha mundur selangkah, dia seperti sudah kenal dengan situasi ini. Mungkinkah?.
" Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun dia tidak bisa di selamatkan, kami turut berduka cita," kata Dokter itu
Ayatha terdiam, napasnya seperti berhenti, dia seperti tercekik, hanya mematung, memandang ke arah dokter itu tanpa ekspresi apapun. Tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi lagi, pikir ayatha.
Andra sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh dokter, dia hanya mengigit bibir dalamnya, dia langsung melihat kearah Ayatha.
Ayatha masih syok, dia tidak bisa berkata-kata, hanya terpatung, pandangannya kosong, walaupun dokter itu sudah pergi, Ayatha tetap manatap lurus kedepan.
" Ayatha? " kata Andra menegur Ayatha yang masih kosong pandangannya.
Ayatha memandang ke arah Andra, mata itu berkaca-kaca, bibir Ayatha bergetar. Rasanya sakit sekali, Ayatha langsung berjalan pergi.
__ADS_1
" Ayatha, " kata Andra yang mengejar Ayatha, di tariknya tangan Ayatha membuat Ayatha terhenti, namun Ayatha hanya memandang Andra dengan tatapan kosong.
Ayatha benci saat-saat seperti ini, dia benci saat dokter mengatakan orang-orang yang dia sayangi telah tiada, terlalu sering, dia terlalu sering berada di situasi seperti ini.
" Momo tidak mungkin meninggal, " kata Ayatha lirih menatap Andra.
Andra terdiam, wajahnya suram, dia tak tahu harus bagaimana sekarang.
" Momo sudah tidak sakit lagi, " kata Andra pada Ayatha.
" Dia tidak mungkin meninggal, dia baru bermain denganku, dia hanya tertidur, aku yakin dia tidur di tanganku, " kata Ayatha menangis histeris, menumpahkan semua sesak yang tadi di rasakannya di dada. Air matanya mengalir deras, tumpah tak terbendung.
Andra yang melihat hal itu merasa tidak tega, Andra menarik Ayatha ke dalam pelukannya, di peluknya Ayatha dengan erat karna dia juga sama sedihnya dengan Ayatha, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya.
Ayatha masih menangis pilu, kenapa semua orang yang dia sayangi akan pergi? Orang tua, Nenek, Yosa dan sekarang Momo. Apa kesalahannya hingga Tuhan melakukan ini semua padanya? Apa yang salah jika dia menyayangi seseorang? apa memang dia memang sangat sial, itu memang salahnya, dia yang membuat semua orang di dekatnya pergi. Ayatha membenci dirinya sendiri.
" Tenanglah, aku di sini, " kata Andra mempererat pelukannya pada Ayatha.
Mendengar itu, Ayatha yang tadinya menangis, langsung terdiam, Andra!! dia tidak ingin Andra punya nasib yang sama dengan mereka, jika dia terus ada di dekat Andra. Jangan-jangan Tuhan juga akan mengambilnya dari Ayatha.
Ayatha segera melepaskan diri dari Andra, membuat Andra kaget dan bingung kenapa dengan Ayatha.
Iya, dia tidak boleh membuat Andra pergi, Ayatha juga akan mati jika sampai Andra meninggal.
" Aku ingin pulang, " kata Ayatha membalikkan dirinya pergi secepatnya dari Andra.
Andra melihat kelakuan Ayatha yang berubah 180 derajat, hanya terdiam bingung.
Dia langsung mengejar Ayatha, menarik lengannya.
" Aku akan mengantarmu, " kata Andra serius
Ayatha terdiam, Andra tidak menunggu jawaban Ayatha, dia segera menarik Ayatha keluar.
" Aku ingin duduk di belakang, " kata Ayatha dingin.
__ADS_1
" Baiklah, " kata Andra membukakan pintu untuk Ayatha.
Setelah dia menutup pintu, Andra segera mengendarai mobilnya menuju rumah.
...............................................
Hari ini mendung, sangat gelap, angin pun berhembus sangat kencang.
Hari ini Momo dikebumikan, namun Ayatha hanya melihatnya dari jauh. Dia sangat familiar dengan suasana ini, penuh tangis, semua orang mengenakan baju hitam, berkumpul, melihat untuk terakhir kali.
Di saat seperti ini lah semua orang akan mengatakan tentang semua kebaikan mu, bukan kah itu sudah terlambat? Apa yang mereka lihat saat kita masih ada? Bukannya itu ironis?.
Tidak banyak yang datang kepemakaman Momo, hanya pengurus panti asuhan dan juga anak-anak panti. Apakah jika nanti dia meninggal suasana akan sesepi ini juga? Pikir Ayatha.
Dia sudah tidak bisa menangis, walaupun sakitnya sangat terasa di dadanya, namun air matanya sama sekali tidak ingin menetes lagi, mungkin air matanya sudah kering karena terlalu sering di tumpahkan di acara seperti ini, atau ayatha hanya sudah kebal.
" Kau tidak ingin ke sana?" kata Andra tiba-tiba d isampingnya, membuat Ayatha menatap ke arahnya.
Andra melihat Ayatha, bibirnya lebih pucat dari sebelumnya, wajahnya suram, namun yang lebih menyakitkan bagi Andra, mata Ayatha tampak kosong, seperti kehilangan sinarnya.
" Tidak, "kata Ayatha seadanya
" Kenapa? " kata Andra
Ayatha terdiam, dia membuang pandangannya dari Andra. Hatinya sakit, dia tidak bisa membayangkan jika dia harus hadir di pemakaman Andra nanti.
" Aku akan menikah dengan Maxi, " kata Ayatha melemparkan padangannya pada Andra.
Angin berhembus kencang, menguncang pepohonan di sekitar perkuburan itu. Dingin menusuk. Namun tidak ada yang bisa mengalahkan dinginnya perkataan Ayatha.
Andra kaget, rasanya seperti sesuatu menghatam dadanya dengan keras, dia terdiam menatap Ayatha, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayatha barusan. Dia akan menikah dengan maxi?
" Apa yang kau bicarakan?" kata Andra tidak percaya
" aaku sudah setuju untuk menikah dengan Maxi, kemarin aku meneleponnya mengatakan itu, " kata Ayatha
__ADS_1
Andra memandang Ayatha suram, dia tidak bisa berkata apapun, bagaimana bisa Ayatha menerima maxi? Bagaimana dia akan menikah dengan Maxi, dan kenapa dengannya? Kenapa rasanya tiba-tiba hampa.
Ayatha tersenyum sedikit, lalu pergi berlalu dari sana, Andra masih terdiam, angin menghembuskan daun-daun berjatuhan, Andra hanya bisa melihat Ayatha yang perlahan meninggalkannya dalam kesakitan.