
Andra benar-benar sembuh dengan sangat cepat, dia melakukan semuanya dengan baik dan tekun, sekarang dia benar-benar hampir sembuh total. cuma satu motivasinya,
agar segera bertemu dengan orang yang paling dia cintai, Ayatha.
Ini hari pertamanya pulang kerumah, dia menunggu Wayren untuk pulang dari kantornya, dia
menunggu dengan tidak sabar.
Akhirnya Wayren pulang, Andra segera menemuinya, Wayren terhenti melihat Andra, wajah Andra begitu berharap, namun Wayren malah merasakan sedih. hatinya getir, bagaimana harus memberitahukan kepada kakaknya, Ayatha, gadis itu sudah meninggal 3 bulan yang lalu.
" Sudah bisa bertemu dengannya sekarang? " kata Andra berharap cemas
" Baiklah kalau kau memang mau bertemu dengannya, " kata Wayren.
Andra gugup, dia membayangkan keadaan Ayatha, namun bagaimana pun Ayatha sekarang dia akan menerimannya, dia tahu pasti ada yang tidak beres, karena jika dia bertanya, Wayren dan ibunya seperti menutupi sesuatu dari dirinya. apa mungkin Ayatha mendapatkan komplikasi gara-gara kecelakaan itu? Bahkan jika Ayatha cacat, dia
tetap akan menerima dengan baik.
Andra masuk ke dalam mobil, Wayren yang menyetir karena memang dia tidak di izinkan menyetir lagi, Wayren melihat Andra, dia menarik napas panjang, Andra menatapnya dengan dahi bertekuk.
" Kau yakin ingin melihatnya? " kata Wayren
lagi
" Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian seperti menutupi sesuatu? Ada apa dengan Ayatha?
" kata Andra merasa ini terlalu aneh
" Kalau kau ingin tahu, aku hanya bisa menunjukkannya, " kata Wayren
Andra semakin heran, separah itukah Ayatha? Tiba-tiba hatinya sakit sekali, seperti
ada batu besar yang menimpa dadanya, semakin Wayren melajukan mobilnya, semakin sesak dia hingga dia merasa tidak ingin melanjutkannya.
Mobil Wayren berhenti di area pemakaman Ayatha, area pemakaman itu tidak seperti pemakaman, lebih seperti taman, di rancang indah dengan danau dan tempat-tempat yang
indah, membuat pemakaman itu jadi sangat indah. pusara Ayatha pun tak kalah
indahnya, maxi menempatkannya di tempat paling indah di sana, bunga-bunga di
sekelilinya juha terawat dengan baik, sekarang untuk apa hal sepeti itu? toh
dia sudah tidak ada lagi di dunia untuk melihat betapa bagusnya pusaranya.
Andra keluar dari mobil, menatap Wayren, dia belum sadar tempat itu adalah pemakaman.
" Dia ada di sana, " kata Wayren
menunjukan sebuah tempat.
__ADS_1
Andra menatap Wayren, matanya merah... akhirnya sadar apa yang terjadi, dia berjalan
cepat kearah yang di tunjukkan oleh Wayren. Wayren mengikutinya dari belakang.
Langkah Andra terhenti, dia menatap foto Ayatha yang ada di batu nisan, tersenyum dengan indah. Dia memastikan lagi bahwa dia tak salah, nama Ayatha terukir disana.
Tiba-tiba semua dunianya seperti berputar, kepalanya sakit menatap itu semua, udara
disana pun terasa sesak, seolah terenggut oleh sesuatu, jantungnya berdegup
kencang, sakin kencangnya dia tidak mampu menahannya, sakit.. seluruh tubuhnya
sakit, bahkan lebih sakit dari pada saat dia baru sadar dari koma dulu.
Tapi yang pasti hatinya terasa hampa... rasa rindunya terbalas dengan senyuman dari batu
nisan, cintanya ternyata terbaring damai di dalam tanah. rasanya... bahkan
lebih parah dari kematian.
" Andra… " kata Wayren
memegang pundak kakaknya
Andra tanpa aba-aba memukul Wayren tepat di pipinya. Wayren jatuh ketanah. Andra menatap Wayren dengan sangat tajam, amarah tampak di wajahnya. Matanya yang memerah menatap Wayren
Wayren menatap Andra, lalu berdiri, wajah Andra suram, Wayren pun begitu, Wayren tidak ingin membalas kakaknya, karena dia tahu perasaan itu.
Air mata jatuh di pipi halus Andra, dia sekarang rasanya ingin mati saja, dia bisa gila
jika tidak mati, kakinya serasa tidak menginjak tanah, terasa lemah, hingga dia
jatuh ke tanah. Wayren menyaksikan itu, air matanya ikut turun, dia tahu
sakitnya.. dan bagi Andra itu pasti terasa beribu-ribu kali lebih sakit.
Andra tak punya kekuatan lagi, seperti semua kekuatannya tersedot pergi entah kemana,
bagi kalian yang pernah di tinggalkan oleh orang yang di cintainya, kalian
pasti tau rasanya...Andra sudah merasakannya, bahkan 2 kali dalam hidupnya,
ntah apa salahnya? hingga harus merasakannya 2 kali...
" Kenapa kalian tidak biarkan saja aku mati? " kata Andra lirih, matanya menatap kosong, air
matanya tetap mengalir.
" Apa menurutmu Ayatha ingin kau mati? Apa kau tidak pikirkan orang-orang di sini yang menyayangimu, aku tidak memikirkan Ibu? " kata Wayren lagi
__ADS_1
Andra melihat kearah Wayren, namun tatapannya tetap kosong.
" Sekarang aku ingin mati saja, " kata Andra
" Apa kau gila?, Ayatha
pasti ingin kau hidup, aku yakin itu, dia ingin kau bahagia dengan hidupmu, aku
mengerti dia, " kata Wayren
" Bagaimana bahagia jika begini? " kata Andra
lirih, dia benar-benar merasa tak bernyawa, nyawanya serasa terbang entah
kemana.
" Jangan jadi lemah, kau pasti bisa melewatinya, bertahan lah, lakukan seperti saat kau kehilangan Yosa" kata Wayren
Andra masihmematung, dia tersenyum sedikit, rasanya bahkan lebih parah, jauh lebih parah dari pada kehilangan Yosa, Andra merasa seperti dia akan gila, benar-benar
gila. dia kehilangan segalanya, dia
berteriak sangat keras, memekikkan telinga namun teriakkannya pun sangat pilu.
Lalu dia kembali menangis, menolak melihat pusara Ayatha yang ada di belakangnya. Ini
semua salahnya, kalau dia tidak membawa Ayatha, dia pasti masih hidup, ini semua salahnya, semua memang salahnya.
Wayren memperhatikan kakaknya, dia hanya terdiam, membiarkan Andra disana bahkan
hingga malam. Andra hanya terdiam, memeluk lututnya, pandangannya kosong,
sekosong hatinya sekarang.
Wayren mengangkat tubuh kakaknya, membantunya berjalan, lalu meletakknya di kursi penumpang. Andra hanya menatap ke depan, matanya lurus, kosong, dia bagaikan
tidak bernyawa, Wayren sangat prihatin, dia membawa kakaknya pulang.
Setelah itu, butuh waktu yang lama untuk memulihkan kejiwaan Andra, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya berdiam diri sendiri di kamarnya, keadaannya mengenaskan, kurus karna tak mau makan, Nyonya Renatalah yang paling terpukul melihat keadaan anak kesayangannya itu. namun dia tetap dengan lembut dan kasih sayang menjaga Andra.
Hampir 1 tahun lamanya, namun waktu menunjukkan kehebatannya, perlahan-lahan Andra mulai bisa menerima jalan hidupnya dengan kelembutan dari ibunya, Andra akhirnya tergugah untuk bisa bangkit, wanita itu telah memberikan apapun yang dia punya
dan dia bisa untuk Andra, akhirnya Andra menerima nasibnya yang buruk.
Dia mulai bangkit, mulai bisa menjalankan hidupnya seperti biasa, walaupun setiap saat
tetap membutuhkan obat jika dia kumat, dia sekarang memiliki masalah depresi
dan insomnia yang parah, Namun dia membaik seiring jalannya waktu, semua berkat cinta dan kasih seorang ibu.
__ADS_1