Meadow

Meadow
Ups, aku tidak sengaja


__ADS_3

Ayatha sedang merangkai bunga sedap malam di ruang tengah, sekarang kegiatannya memang sering merangkai bunga dan mendekorasi rumah itu. Ini lah satu-satunya penghiburnya.


" Nona, ini guntingnya, " kata salah satu pelayan memberikan gunting pada Ayatha.


" Terima kasih, " kata Ayatha tersenyum


Ayatha segera mengunting beberapa daun yang menurutnya kurang bagus, Ayatha senang melakukan hal ini. Dulu saat dia kecil, ibunya selalu melakukan hal yang sama, ibunya seorang wanita yang anggun, dia bisa melakukan segalanya, aayatha sangat ingin mejadi seperti ibunya.


Ayatha terus menyungingkan senyuman, menata bunga-bunga itu, tanpa dia sadari Hanna datang. Melihat Ayatha tersenyum bahagia, Hanna tidak suka. Apa sih yang di lihat kakaknya di diri Ayatha?


Hanna berjalan pelan, melewati Ayatha.


" Wah, bunga ini wangi sekali, " kata Hanna memecah keheningan


" Iya, ini bunga sedap malam, " kata Ayatha tersenyum pada Hanna


" Owh " kata Hanna


Dia memegang beberapa bunga, dan dengan sengaja mendorong vas dari kaca itu, sehingga vas itu terjatuh.

__ADS_1


Ayatha kaget dengan yang di lakukan oleh Hanna, terlebih lagi, ada rasa nyeri pada kakinya.


" Nona, anda berdarah, " kata Pelayan itu melihat kearah kaki ayatha


Ternyata saat kaca itu terjatuh, ada serpihan kaca yang cukup besar tertancap di kaki Ayatha, Ayatha melihat kaca itu di kakinya, di sekitarnya ada darah segar yang mengalir. Dia sedikit meringis kesakitan. Para pelayan langsung membantu Ayatha untuk duduk di sofa.


" Ups, maaf, aku benar-benar tidak sengaja, itu hanya luka kecil, kalian jangan membesarkannya, tidak perlu pergi kedokter juga kan? Kakak ipar? " kata Hanna


" Iya, tidak apa-apa, " kata Ayatha masih menahan sakit.


Pelayan yang bernama Maya menatap Hanna sedikit sinis namun di buangnya. Hanna segera berlalu dari sana, puas melihat wajah kesakitan Ayatha.


" Aku akan menelepon Tuan Muda " kata pelayan satunya lagi bernama Yesi.


" Tidak, jangan telepon Maxi, " kata Ayatha melarang pelayannya.


" Apa tidak bisa kau bantu aku mencabutnya? " kata Ayatha pada pelayannya.


" Aku ambil air hangat dulu dan P3K, " kata Yesi panik

__ADS_1


" Aku tidak mengerti kenapa Nona Hanna hatinya begitu dingin, melihat anda seperti ini pun tidak simpati, " kata Maya yang terus menerus mengelap darah dari kaki Ayatha yang tidak berhenti


Ayatha hanya mencoba tersenyum, bibirnya sudah kelihatan pucat. Tak lama Yesi datang dengan peralatannya.


" Nona, ini akan sakit, " kata amaya mencoba menarik serpihan kaca, Ayatha menahan teriakannya dengan bantal, rasanya nyeri sekali. Sangat nyeri.


Tidak lama Maya akhirnya bisa mengeluarkan sepihan itu, ternyata luka Ayatha sangat dalam, karena kacanya di cabut, darah langsung membanjiri luka itu, sepertinya lukanya terkena arteri yang besar.


" Nona, bagaimana ini, darahnya banyak sekali? " kata Maya,


" Tolong di perban saja, " kata Ayatha seadanya, dia sebenarnya takut melihat darah, mukanya tambah pucat.


" Yesi, tolong aku tekan lukanya, " kata Maya memerintahkan Yesi


" Iya, " kata Yesi langsung menekan luka Ayatha, ayatha sedikit berteriak, rasanya nyeri, ngilu.


Namun darah tertap mengalir deras, luka Ayatha cukup besar dan dalam, Maya dan Yesi susah payah membalut luka Ayatha, menekannya dan mencoba untuk menutup luka itu. Walaupun masih sedikit mengalir dan merembes di perban, akhirnya mereka bisa menutupnya dengan perban yang sangat tebal.


" Nona, lukanya sudah di perban, " kata Maya memperhatikan Ayatha

__ADS_1


Namun ternyata Ayatha sudah terbaring lemas, pingsan. Maya dan Yesi dengan hati-hati membawa Ayatha kembali ke kamarnya, setelah memastikan semua sudah baik-baik saja, Maya keluar menemui seseorang, lalu berbicara sesuatu.


__ADS_2