
Hari itu terik, Andra sedang berada di mobil, di depannya Pak Wang duduk, di sudah ada
disana sejak pukul 5 pagi, menatap sebuah rumah berdasarkan alamat yang di
kirimkan oleh nannynya, Andra menatap terus menerus, tak lepas dari
pandangannya sedetik pun.
Pintu terbuka dari dalam, jantung Andra berdetak sangat keras, rasa sesak di dadanya
seketika bertambah, dia gugup, gelisah, dia sungguh tak tenang menunggu siapa
yang keluar dari rumah itu.
Napasnya terasa terhenti, seorang anak keluar, umurnya 4-5 tahunan, berlarian di taman
rumah itu diikuti oleh penjaganya, Andra terus menatapnya tanpa berkedip,
melihat wajah anaknya untuk pertama kali.
Andra kecil berlarian kesana kemari, sangat senang sambil membawa bolanya yang berwarna
merah, karena perumahan itu tidak dibatasi oleh pagar, Andra dapat dengan jelas
melihatnya, perasaan Andra tidak dapat dilukiskan, senang sekaligus terharu,
anaknya tanpanya sudah begitu besar, tumbuh sehat dan mengemaskan.senyuman tak
lepas dari wajahnya melihat tingkah Andra kecil.
Andra kecil karena terlalu semangat malah terjatuh, Andra tersentak, dia segera keluar
karena melihat anaknya jatuh, bola merahnya mengelinding kearah Andra. Andra
__ADS_1
lalu mengambil bola itu, Andra kecil bukan anak yang lemah, dia tidak menangis,
malah bangkit, lalu berjalan mengarah kearah Andra untuk mengambil bolanya.
" Paman, beleh minta bolanya? " kata Andra kecil ketika ada di depan Andra, Andra
menatap anak itu terus menerus, Andra kecil benar memiliki matanya, namun
bibirnya milik Ayatha. Dia sangat tampan, Andra tidak bisa memalingkan wajahnya
walaupun hanya sedetik, dia tersenyum namun matanya telihat basah.
Dia menurunkan badannya agar sejajar dengan Andra kecil yang imut. Andra kecil
menatap Andra, tersenyum sangat manis, telihat lucu... Andra segera memeluk
anak nya dengan erat. Andra kecil tidak berontak, mata Andra tambah basah,
namun dia berusaha menahannya saat memeluk Andra kecil. dia tidak ingin
" Paman, ada apa?" kata Andra kecil membuat Andra melepaskan pelukannya, Andra
kecil menatap Andra, melihat mata Andra basah, Andra kecil mengusap air mata Andra
dengan menggunakan jarinya yang kecil.
" Jangan menangis, Ibuku selalu bilang harus bahagia, " kata Andra kecil dengan imut, mendengar itu Andra
terharu, hatinya benar-benar tersentuh, langsung jatuh cinta pada Andra kecil,
bagaimana tidak dia darah dangingnya sendiri yang sampai sekarang baru bisa
bertemu, dia sudah kehilangan banyak waktu..melewatkan semua momen pertumbuhan Andra.
__ADS_1
" Bola, " kata Andra kecil lagi
" Owh, iya, " kata Andra menyerahkannya.
" Andra?!" teriak Randi yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah Ayatha, dia
melihat Andra kecil dengan seseorang yang tidak di kenalnya, maka dari itu dia
memanggilnya.
Andra kecil melihat ke sumber suara, dengan lincah berlari kearah Randi
" Papi! " teriak Andra kecil senang.
Andra melihat kearah Randi, dia bangkit, namun matanya tidak sekalipun melepaskan
pandangannya ke pada Randi, Randi pun memandangi Andra. Andra kecil lalu
digendong oleh Randi. tatapan Andra begitu tajam menatap Randi, Randi jadi
mengerutkan dahinya, dia merasa tak pernah mengenal Andra, namun kenapa pria
itu menantapnya dengan kilatan emosi dimatanya.
Hati Andra terasa kembali tercabik, itu anaknya, darah dagingnya... memanggil orang lain
dengan sebutan papi, rasanya sangat nyeri...sangat sesak, membuat seluruh tubuh
Andra sakit, serasa ada begitu banyak anak panah menghujam jantungnya.
Randi memutuskan melangkah menuju pintu rumah Ayatha, membukanya, lalu masuk kedalam.
Andra hanya terdiam, matanya merah..tangannya mengepal dengan erat, tampak kecemburuan yang
__ADS_1
dalam di matanya, pria itu tidak hanya mengambil wanita yang di cintainya,
namun juga anaknya. Dia tidak akan membiarkannya....