Meadow

Meadow
Paman jangan menangis


__ADS_3

Hari itu terik, Andra sedang berada di mobil, di depannya Pak Wang duduk, di sudah ada


disana sejak pukul 5 pagi, menatap sebuah rumah berdasarkan alamat yang di


kirimkan oleh nannynya, Andra menatap terus menerus, tak lepas dari


pandangannya sedetik pun.


Pintu terbuka dari dalam, jantung Andra berdetak sangat keras, rasa sesak di dadanya


seketika bertambah, dia gugup, gelisah, dia sungguh tak tenang menunggu siapa


yang keluar dari rumah itu.


Napasnya terasa terhenti, seorang anak keluar, umurnya 4-5 tahunan, berlarian di taman


rumah itu diikuti oleh penjaganya, Andra terus menatapnya tanpa berkedip,


melihat wajah anaknya untuk pertama kali.


Andra kecil berlarian kesana kemari, sangat senang sambil membawa bolanya yang berwarna


merah, karena perumahan itu tidak dibatasi oleh pagar, Andra dapat dengan jelas


melihatnya, perasaan Andra tidak dapat dilukiskan, senang sekaligus terharu,


anaknya tanpanya sudah begitu besar, tumbuh sehat dan mengemaskan.senyuman tak


lepas dari wajahnya melihat tingkah Andra kecil.


Andra kecil karena terlalu semangat malah terjatuh, Andra tersentak, dia segera keluar


karena melihat anaknya jatuh, bola merahnya mengelinding kearah Andra. Andra

__ADS_1


lalu mengambil bola itu, Andra kecil bukan anak yang lemah, dia tidak menangis,


malah bangkit, lalu berjalan mengarah kearah Andra untuk mengambil bolanya.


" Paman, beleh minta bolanya? " kata Andra kecil ketika ada di depan Andra, Andra


menatap anak itu terus menerus, Andra kecil benar memiliki matanya, namun


bibirnya milik Ayatha. Dia sangat tampan, Andra tidak bisa memalingkan wajahnya


walaupun hanya sedetik, dia tersenyum namun matanya telihat basah.


Dia menurunkan badannya agar sejajar dengan Andra kecil yang imut. Andra kecil


menatap Andra, tersenyum sangat manis, telihat lucu... Andra segera memeluk


anak nya dengan erat. Andra kecil tidak berontak, mata Andra tambah basah,


namun dia berusaha menahannya saat memeluk Andra kecil. dia tidak ingin


" Paman, ada apa?" kata Andra kecil membuat Andra melepaskan pelukannya, Andra


kecil menatap Andra, melihat mata Andra basah, Andra kecil mengusap air mata Andra


dengan menggunakan jarinya yang kecil.


" Jangan menangis, Ibuku selalu bilang harus bahagia, " kata Andra kecil dengan imut, mendengar itu Andra


terharu, hatinya benar-benar tersentuh, langsung jatuh cinta pada Andra kecil,


bagaimana tidak dia darah dangingnya sendiri yang sampai sekarang baru bisa


bertemu, dia sudah kehilangan banyak waktu..melewatkan semua momen pertumbuhan Andra.

__ADS_1


" Bola, " kata Andra kecil lagi


" Owh, iya, " kata Andra menyerahkannya.


" Andra?!" teriak Randi yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah Ayatha, dia


melihat Andra kecil dengan seseorang yang tidak di kenalnya, maka dari itu dia


memanggilnya.


Andra kecil melihat ke sumber suara, dengan lincah berlari kearah Randi


" Papi! " teriak Andra kecil senang.


Andra melihat kearah Randi, dia bangkit, namun matanya tidak sekalipun melepaskan


pandangannya ke pada Randi, Randi pun memandangi Andra. Andra kecil lalu


digendong oleh Randi. tatapan Andra begitu tajam menatap Randi, Randi jadi


mengerutkan dahinya, dia merasa tak pernah mengenal Andra, namun kenapa pria


itu menantapnya dengan kilatan emosi dimatanya.


Hati Andra terasa kembali tercabik, itu anaknya, darah dagingnya... memanggil orang lain


dengan sebutan papi, rasanya sangat nyeri...sangat sesak, membuat seluruh tubuh


Andra sakit, serasa ada begitu banyak anak panah menghujam jantungnya.


Randi memutuskan melangkah menuju pintu rumah Ayatha, membukanya, lalu masuk kedalam.


Andra hanya terdiam, matanya merah..tangannya mengepal dengan erat, tampak kecemburuan yang

__ADS_1


dalam di matanya, pria itu tidak hanya mengambil wanita yang di cintainya,


namun juga anaknya. Dia tidak akan membiarkannya....


__ADS_2