
Hari ini Hanna pindah kerumah yang di tempati oleh Ayatha, dia sudah menunggunya, tak lama Hanna sampai, Ayatha segera menyambutnya dengan senyuman.
Hanna segera keluar dari mobil yang mengantarnya, dia memakai gaun kuning lembut dan sepasang kaca mata. Gadis ini memang sangat cantik, di lahirkan sebagai seorang putri, Ayatha sedikit minder melihat gaya Hanna yang terlihat anggun.
" Tolong bawa barang-barang saya, " katanya pada supir yang mengantarnya. Dia berjalan mendekati Ayatha, berhenti sebentar, melepas kaca matanya, memandang Ayatha dengan tajam, tanpa senyuman dia lalu masuk begitu saja kerumah itu.
Ayatha yang di perlakukan seperti itu hanya bisa terdiam. Kenapa Hanna berubah?
" Aku ingin kamar utama yang ada di lantai 2, bisa kah kau pindah? " kata Hanna pada Ayatha namun sama sekali tidak memandangnya, wajahnya angkuh.
Ayatha mengerutkan dahi, namun dia tidak ingin membuat masalah dengan calon adik iparnya itu.
" Baiklah, aku akan menyuruh pelayan memindahkan barang-barang ku, " kata Ayatha
" Mulai sekarang, aku butuh kedua pelayan, karena itu kau bisa memindahkan barangmu sendirikan? Bukannya dulu juga kau bekas pelayan, " kata Hanna ketus
Ayatha terdiam, ada apa dengan Hanna?, dia sangat berbeda dengan pertama kali dia bertemu.
" Baiklah, " kata Ayatha lagi.
Hanna menatap Ayatha dengan tajam, dia memang tidak mneyukai Ayatha dari awal saat di kenalkan oleh kakaknya, apa lagi ketika dia ingat pertama kali dia melihat Ayatha, gadis ini yang berbicaara dengan Andra waktu itu, pikirnya.
Ayatha segera memindahkan barang-barangnya dari kamar utama, pelayan disana beberapa kali ingin menolongnya namun di cegah oleh Hanna, Ayatha hanya bisa tersenyum.
Setelah beberapa jam, akhirnya dia selasai juga memindahkan barang-barangnya, kamarnya lebih kecil sekarang, namun dia cukup menyukainya. Di samping kamarnya terdapat taman kecil hanya terhalang kaca, walaupun kecil, kamar ini lebih nyaman dan indah, pikir Ayatha.
Dia memandangi taman itu, dan lamunannya terbang jauh, sekarang kira-kira Andra sedang apa ya? Hampir seminggu, dia tidak pernah bertemu atau berhubungan dengan Andra. Andra pasti sangat marah dengannya, pergi tanpa pamit. Dan hati Ayatha sakit, dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
saat jam makan siang, Maxi datang, pelayan langsung memanggil Ayatha.
" Nona Ayatha, Tuan Maxi sudah datang, beliau menunggu di ruang tengah, " kata pelayan membuyarkan lamunan Ayatha.
" Baiklah, " kata Ayatha tersenyum manis
Dia berdiri, melihat penampilannya sekilas di kaca, cantik...dia cantik, walaupun tanpa make up apapun, dia segera keluar tidak mau membuat calon suaminya itu menunggu.
Ayatha berjalan menuju ke ruang tengah, dia bisa melihat Hanna yang juga menuju kesana, dengan setengah berlari dia menuju ke tempat kakaknya dengan semangat.
" Kakak datang, " kata Hanna berhambur memeluk kakaknya, Maxi pun menyambutnya dengan hangat.
Ayatha yang melihat kejadian ini jadi terhenti, terdiam, apakah memang begini hubungan antara kakak dan adik, Ayatha anak tunggal, dia tidak punya saudara, jadi dia tidak mengerti, apakah ini memang sering terjadi atau tidak, namun rasanya sedikit ganjil, apalagi Maxi dan Hanna hanya saudara tiri. Namun Ayatha hanya berpikir, mungkin mereka sangat dekat.
" Kakak, kau akan makan siang di sini kan? " kata Hanna menatap kakaknya dengan senang
" Kalau kau memintaku, aku akan menurutinya, " kata Maxi lembut
" Baiklah, makan lah di sini, temani aku, " kata Hanna,
Ayatha memasuki ruang tengah, Maxi memandangnya dengan canggung, karena Hanna masih dalam pelukannya, dia sedikit melepaskan pelukan adiknya, memandang Ayatha, Ayatha hanya tersenyum.
" Oh, kakak ipar, sudah datang, kakakku sudah capek bekerja 1 harian, dia ingin makan siang, pasti kakak ipar tidak keberatan untuk menyiapkan makanan untuknya bukan? Kak Max tidak bisa makan yang sembarangan, " kata Hanna dengan senyum palsunya, memandang Ayatha sambil mengandeng tangan Maxi dengan mesra.
" Baiklah, akan ku siapkan, tunggulah sebentar, " kata Ayatha memandang Maxi yang tampak sungkan
" Baiklah, lakukan dengan cepat, kakak pasti sudah kelaparan, " kata Hanna lagi
" Baik, " kata Ayatha segera keluar dari ruang itu menuju dapur, Maxi menatap kepergiannya dengan sungkan
" Selama kakak ipar menyiapkan makan, kakak menemani ku ya, aku kesepian di sini, " kata Hanna
" Iya, aku akan menemani mu, " kata Maxi lembut tesenyum manis, menatap wajah adiknya yang sumringah.
Ayatha menyiapkan beberapa makanan, 2 macam masakan sayur dan 3 macam lauk untuk mereka makan, dengan di bantu oleh pelayan, mereka jadi cepat menyiapkannya.
Hanna duduk di samping Maxi di tempat makan, sedangkan Ayatha duduk di depan Maxi, Maxi memandangi makanan yang sudah di sediakan di depannya.
" Kau pintar memasak ya? " kata Maxi melemparkan senyuman khasnya
__ADS_1
" Hanya makanan biasa, " kata Ayatha seadanya,
Melihat kakaknya memuji Ayatha, Hanna tampak tak senang.
" Kakak, sebelum makan, aku minta maaf, aku seharusnya tinggal di kamar bawah, namun karena barangku banyak, aku jadi meminta kakak ipar pindah, kau memaafkan ku kan ?" kata Hanna manja pada kakaknya
" Begitu? Ehm... kakak menyerahkannya pada Ayatha saja, " kata Maxi memandang Ayatha segan
" Bagaimana kakak ipar? " kata Hanna yang memandang Ayatha tajam. Wanita ini penuh dengan kepura-puraan, pikir Ayatha.
" Iya, tidak apa-apa, " kata Ayatha seadanya sambil menunduk
" Baiklah, ayo kita makan, aku sudah lapar, " kata Maxi memandang Ayatha
Ayatha berdiri mau mengambilkan nasi dan lauk untuk Maxi, itu kan memang tugasnya sebagai calon istri Maxi, namun dengan cepat Hanna langsung mengambil sendok nasi.
" Ini kakak, " kata Hanna mengambilkan nasi ke piring Maxi, suasana sungguh canggung, Maxi terlihat bingung, Ayatha juga.. Ayatha langsung duduk.
Hanya tersenyum lalu menunduk, memandang Ayatha yang seperti itu, Maxi merasa tidak enak.
" Kakak kenapa? " kata Hanna melihat perubahan wajah Maxi
" Oh, tidak apa-apa, terima kasih, " kata Maxi tersenyum
" Baiklah, mari makan, " kata Hanna tanpa memberikan makanan pada Ayatha. Ayatha mengambil beberapa makanan sendiri, suasana sangat canggung bagi Ayatha dan Maxi, sedangkan Hanna hanya makan seperti biasa saja. Selesai mereka makan, mereka masih duduk di ruang makan.
" Kakak, kau tahu, minggu depan aku harus tampil di hall, kau ingat ?" kata Hanna memecah keheningan
" Iya, aku ingat, " kata Maxi
" Kau harus datang ya, " kata Hanna lagi
" Pasti aku datang, tenang saja, "
" Tidak, " kata Maxi
" Temani aku membeli beberapa gaun yang akan aku pakai nanti yah, please, " kata Hanna memelas, Ayatha yang dari tadi hanya jadi pendengar yang baik, hanya bisa diam. Maxi melirik Ayatha
" Baiklah, Ayatha bagaimana kau bisa ikut ?" kata Maxi tersenyum
Belum Ayatha menjawab, Hanna langsung berbicara.
" Kakak ipar masih belum selesai pindahannya, kita saja yang pergi, " kata Hanna, Maxi kembali menatap Ayatha. Ayatha tersenyum tipis.
" Tidak apa-apa, kalian pergi saja, " kata Ayatha menatap Maxi, Maxi tambah sungkan
" Baiklah, aku akan siap-siap, kakak tunggu aku di sini ya, " kata Hanna bangkit lalu pergi meninggalkan Ayatha dan Maxi.
Suasana sungguh canggung, sebenarnya dari awal Ayatha pindah kesini, Ayatha dan Maxi sangat jarang bertemu, mereka jarang berbicara dan ya memang seperti ini, canggung.
" Aku minta maaf atas ketidak sopanan adikku, " kata Maxi memecahkan keheningan.
" Oh, tidak apa-apa, kalian terlihat sangat dekat, " kata Ayatha tersenyum
" Ayatha, maafkan aku jika aku jarang menemuimu, pekerjaanku lumayan menyita waktuku, soal pernikahan kita, aku sudah berencana, saat aku pulang dari Thailand untuk perjalanan bisnis, kita akan langsung menikah, " kata Maxi menatap Ayatha serius
" Kapan kakak akan pulang?" kata Ayatha memastikan
" Aku pergi setelah Hanna tampil, aku pergi 1 minggu, kemungkinan 2 minggu lagi kita akan menikah, " kata Maxi
" Secepat itu ?" kata Ayatha kaget
" Iya, kenapa? " kata Maxi
__ADS_1
" Tidak apa-apa, baiklah, " kata Ayatha menatap Maxi dengan senyuman manisnya
" Seluruh urusan pernikahan sudah aku atur, kau hanya mengurus untuk gaun yang ingin kau pakai, ehm, mau pesta yang besar atau hanya keluarga saja ?" kata Maxi manis
" Kau suka bagaimana?" kata Ayatha
" Aku rasa aku ingin yang sederhana dan keluarga saja, terasa lebih intim, "
" Kalau begitu kita buat yang sepeti yang kau inginkan saja, " kata Ayatha tesenyum
" Baiklah, " kata Maxi.
Tanpa mereka sadari, Hanna mendengar semua percakapan mereka, membuat dia mengepalkan tangannya tanda emosi, Ayatha itu gadis penggoda, dia sebelumnya sudah menggoda Andra, karna tidak bisa, dia malah menggoda kakaknya. Dasar, murahan, pikirnya.
Namun semua emosi itu di pendamnya, dia langsung mengulas senyum di bibirnya, berjalan masuk kedalam ruang makan.
" Ayo Kak, aku sudah selesai, " kata Hanna mengajak kakaknya
" Baiklah, aku pergi dulu, " kata Maxi menatap Ayatha
" Iya, " kata Ayatha seadanya, mengantar mereka hingga mereka pergi.
Sepi, kembali sepi... Ayatha hanya terpaku melihat beberapa daun bergoyangan di taman depan.
Apakah hidupnya akan seperti ini? Hidup dalam sepi, menikah dengan orang yang entah mencintainya atau tidak?. Apa jadinya nanti pernikahan ini, apakah nanti dia bisa mencintai Maxi sebagai suaminya? apa lagi ada Hanna yang terlihat membencinya.
Ayatha hanya bisa tertegun, melamun jauh..
..................................................
Andra terdiam, melamun di kantornya sendiri, sudah seminggu dia kacau, dia sangat susah berkonsentrasi, banyak pekerjaan yang biasanya dengan mudah di kerjakannya, saat ini terasa susah.
Wajah Ayatha selalu terngiang di pikirannya, tidak bisa di pungkiri, dia merindukannya. Dia sudah mencoba untuk tidak memikirkan Ayatha, namun semakin keras dia mencoba melupkaannya, semakin menggebu rindunya untuk mememui Ayatha. Kali ini dia baru sadar, dia benar-benar menyukai Ayatha.
Dia mengambil handphonenya, melihat photo Ayatha yang pernah di kirimkan Yosa, dulu saat Ayatha ada di dekatnya, dia tidak terlalu memperdulikannya, sekarang setelah dia pergi, ternyata dia sangat membutuhkan Ayatha. Memang penyesalan selalu datang terakhir.
" Bagaimana kau bisa menikah dengan orang lain? " kata Andra menatap wajah Ayatha.
Tiba-tiba handphonenya berdering. Sederet angka muncul di layar handphonenya.
" Halo, " kata Andra segera mengangkatnya
" Selamat siang Tuan Muda, saya ingin melaporkan keadaan, " kata suara di seberang
" Baik, " kata Andra lagi
" Nona Ayatha hanya di rumah, tadi pagi Nona Muda Hanna pindah ke kediaman Nona Ayatha, sepertinya Nona Hanna menyuruh Nona Ayatha untuk pindah ke kamar yang lain, dia juga memindahkannya sendiri tanpa di bantu oleh pelayan, sepertinya Nona Hanna melarang para pelayan untuk membantu Nona Ayatha “
" Bagaimana dengan Max ?" kata Andra mengerutkan dahi
" Tuan Maxi tadi siang datang untuk makan siang, Nona Ayatha yang memasak sendiri, tapi sekarang Tuan Maxi sedang pergi berbelanja bersama Nona Hanna "
" Mereka meninggalkan Ayatha sendiri di rumah, sedangkan mereka berbelanja? " kata Andra
" Iya,sepertinya begitu Tuan "
Andra terdiam, dia mengigit bibirnya, bagaimana bisa Maxi melakukan itu pada Ayatha?. Apa yang dia pikirkan? Menjadikan seseorang tunangannya, namun tidak menjaganya, sebenarnya apa maunya sih?, pikir Andra marah mengetahui keadaan Ayatha sekarang.
" Baiklah, aku menunggu laporanmu selanjutnya, " kata Andra
" Baik Tuan, "
Sambungan telepon terputus.
Andra terdiam, dia memang menyuruh seseorang untuk melaporkan tentang keadaan Ayatha. Dia dari awal memang tidak menyukai Maxi dan dia tahu Maxi tidak tulus dengan Ayatha. Pasti ada sesuatu hal di balik ini semua, Andra harus mencari tahunya.
__ADS_1