
Andra berdiri dengan cemas di depan pintu besar kamar kerja ayahnya. Bibi moi memberitahu ayahnya ingin bertemu dengannya, Andra sebenarnya tahu apa yang akan dibicarakan ayahnya, karna itulah saat ini Andra tampak gusar.
Dia mengetuk pintu ruang kerja ayahnya pelan, dari dalam terdengar suara ayahnya mengizinkan Andra masuk. Andra membuka pintu kerja ayahnya
" Duduklah, " kata Tuan Ray menunjukkan sofa besar di depannya
Andra mengikuti perintah ayahnya, dengan gugup di duduk, dia hanya menunduk, tidak berani melihat kearah ayahnya.
" Kau pasti sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan? " kata ayahnya
" iya ayah "
" Jadi apa sekarang alasanmu pulang? Bukannya kau berjanji untuk tidak pulang? " kata Tuan Ray dingin
" Aku sudah menyelesaikan semuanya disana, aku rasa ini waktu yang tepat untuk pulang, " kata Andra
" Bukan gara-gara gadis itu, Yosa? Benar? " kata Tuan Ray dingin tanpa memperdulikan keadaan anaknya, Andra mengepalkan tangannya, namun dia tidak ingin menunjukan perasaannya pada ayahnya, dia tahu sifat ayahnya.
" Ini semua tidak ada hubungannya dengan dia, " kata Andra setenang mungkin
" Aku cukup terkesan dengan kemampuanmu mencarikannya donor ginjal, hal itu sulit dilakukan tanpa menggunakan nama keluarga, Sayang dia harus pergi semuda itu, " kata Tuan Ray tanpa empati
Andra tersentak, bagaimana ayahnya tahu dia mencarikannya donor ginjal? Andra ingat beberapa waktu sebelum yosa meninggal, dia sudah menemukan orang yang ingin mendonorkan ginjal pada yosa, namun pada detik terakhir, pria itu membatalkan semuanya secara sepihak, karena hal itu pula yosa harus meregang nyawa, apa semua ini perbuatan ayah? Pikirnya. Bukan hal yang sulit bagi ayahnya untuk membuat pria itu membatalkan niatnya, jika benar....
Andra mengepalkan tangannya dengan kuat, rasa emosi merasuk keseluruh badannya namun dia tidak bisa melakukan apa-apa, tidak di depan ayahnya...
" Karena kau sudah di sini, aku rasa ini waktu yang tepat untukmu mengurus perusahaan kita di sini, gunakan cincin setiap saat dan mulailah bekerja besok, dan aku akan menghubungi keluarga Nadine, siapkan dirimu untuk bertemu dengannya membahas tentang pertunangan kalian, keluar lah, " kata Tuan Ray memberi perintah.
__ADS_1
" Baik Ayah, " kata Andra berdiri, memberi salam lalu keluar dari ruang kerja ayahnya.
Di samping pintu ruang kerja ayahnya Wayren berdiri dari tadi mendengarkan percakapan Andra dengan ayahnya. Dia melihat Andra keluar, wajahnya suram, tangannya mengepal, dia tahu sekali kakaknya menyimpan amarahnya, dari dulu Andra memang tidak bisa melampiaskan amarahnya, terutama pada ayahnya, Andra bahkan tidak melihatnya dan hanya pergi dari sana.
Wayren sedikit ketakutan melihat apa yang bisa dilakukan ayahnya, pria tua ini sangat menyeramkan, tentu dengan kekuasaannya dia bisa melakukan apapun, bahkan melenyapkan seseorang dari muka bumi, bagaimana orang seperti itu bisa menjadi ayahnya?, pikir Wayren.
Tuan Ray berjalan keluar dari ruang kerjanya, dia melihat Wayren sedang berdiri di depan pintu itu, wajah Wayren tampak dingin menatap Tuan Ray.
" Sedang apa kau di sini ?" tanya Tuan Ray sambil sedikit tersenyum, dia jarang melihat Wayren menunggunya seperti itu.
" Ayah, lain kali cobalah sedikit lunak pada Andra, walau bagaimana pun, dia di sini karena kesalahanmu " kata Wayren dingin lalu meninggalkan ayahnya sendiri.
Tuan Ray hanya terdiam, pada Wayren dia memang tidak bisa berkata apapun.
Andra masih duduk terdiam di kamarnya, apakah semua ini karena ayahnya? Kalau benar semua ini karena ayahnya berarti dialah yang sudah mencelakakan yosa, kalau saja yosa tidak mengenalnya, kalau saja dia tidak dekat dengan yosa, yosa pasti masih hidup.
" Kau benar-benar harus berubah, " kata Wayren berdiri bersender di pintu kakaknya, dia dari tadi menatap betapa frustasinya kakaknya, namun dia tahu Andra, seperti apapun sakitnya dia, Andra hanya bisa menangis menahan semuanya.
Andra melihat Wayren sekilas, dia mengusap air matanya, dan mencoba berdiri, namun dia terlalu lelah dia hanya bisa kembali terduduk.
" Sejak kapan kau disana?" kata Andra
" Cukup lama untuk melihatmu seperti itu, kau sama sekali tidak berubah, hanya bisa menangis, kau harusnya sudah cukup dewasa untuk melepaskan sifatmu yang lemah itu, " kata Wayren duduk di samping kakaknya.
" Hah, apa yang bisa aku lakukan?" kata Andra tersenyum miris
" Dia ayah kita, tapi bukan berarti dia selalu benar, " kata Wayren
__ADS_1
" Tidak, ini semua salahku, aku yang mengambil keputusan ini sejak dulu, apalagi yang aku harapkan?"
" Lalu, kau akan hidup seperti ini selamanya, selalu menuruti apa saja kata Ayah, apa kau tidak menyesal?" kata Wayren dengan suara sedikit meninggi, kesal karna ini salah satu sifat kakaknya yang tidak dia suka, keras kepala. Bukan kah itu memang ciri-ciri seorang Tadder, keras kepala.
" Apa yang harus aku sesalkan, ini semua resiko, bukan hal yang mudah hingga aku bisa seperti ini sekarang, " kata Andra nanar.
" Aku juga tahu apa yang kau alami dulu, tapi semua bisa berubah, " kata Wayren makin kesal.
" Berubah bagaimana? Usia ku baru 6 tahun saat aku harus bersujud di depan rumah hanya agar dia menerima aku dan mau berbicara padaku, sekarang apa yang harus di ubah, " kata Andra
" Hah! Kau hanya penakut, cobalah jadi pria sekarang "
" Pria bagaimana? Kau tidak akan mengerti, dari lahir kau memang seorang Tadder, hidupmu sempurna, ini memang salahku "
" Itu bukan salahmu! Itu salahnya! Itu bukan salahmu jika ibumu meninggal, dia hanya mencoba membuat kau percaya bahwa ini salahmu! Itu salah nya, aku memang tidak tahu penderitaanmu, tapi aku pastikan hidupmu akan lebih menderita jika kau mengikuti dia! " kata Wayren kesal setengah mati melihat kakaknya. Andra melihat adiknya yang tampak sangat kesal, tatapannya suram.
" Sudahlah, ini keputusanku "
Mendengar itu, Wayren benar-benar kehabisan kata, dia tidak tahu lagi harus apa, dia mengertakan giginya menahan emosinya
" Terserah jika itu kepatusanmu, " kata Wayren berdiri hendak pergi meninggalkan kakaknya, setelah beberapa langkah dia berhenti dan berbalik melihat kakanya yang hanya terdiam menunduk
" Tapi pastikan kali ini, dia tidak melukai orang yang kau sayangi, " kata Wayren menatap kakaknya dingin, Andra tak menjawab, Wayren membalik tubuhnya.
" Terutama Ayatha, kau akan berurusan denganku jika sampai dia menderita, aku pastikan itu, " kata Wayren dingin menusuk hati Andra. Ayatha? pikir Andra.
__ADS_1