Meadow

Meadow
Mudah memberi harapan, mudah pula menghancurkan


__ADS_3

Ayatha segera berjalan menuju ke kamarnya, dia berjalan cepat sekali, namun seberapa


pun cepatnya dia, Andra dapat mengejarnya.


" Ayatha berhenti, " kata Andra menarik tangan Ayatha, Ayatha langsung terhenti,


dia tidak ingin melihat Andra.


" Tuan Andra, ada yang bisa saya bantu? " kata Ayatha setelah mengehela napas panjang


Andra bisa merasakan dinginnya ucapan Ayatha, dia melapaskan tangan Ayatha.


" Bisa kah kita bicara sebentar? " kata Andra menatap Ayatha suram, matanya


memancarkan begitu banyak kesedihan, Ayatha tidak ingin menatap mata Andra, dia


takut akan kembali lagi seperti dulu, terperangkap dan tidak bisa keluar lagi.


" Anda ingin membicarakan apa dengan saya? "kata Ayatha tersenyum dingin, Andra


tidak suka dengan nada bicara Ayatha, terkesan sangat jauh.


" Aku ingin minta maaf, " kata Andra lirih


Ayatha menatap Andra, dia mengigit bibirnya , dia tidak ingin lagi terbuai dengan


iming-iming cinta, Ayatha yang sekarang bukan Ayatha yang dulu, yang lemah


karena cintanya.


" Aku rasa di antara kita tidak ada yang perlu di maafkan Tuan Andra, " kata Ayatha


tersenyum tegar, membuat Andra merasa ketakutannya benar, dia sudah kehilangan Ayatha


" Bisakah kau tidak memanggilku Tuan? " kata Andra lagi


" Lalu aku harus memanggil Anda dengan siapa? Kita kan tidak punya hubungan apa-apa? "


kata Ayatha lagi memAndang tegas pada Andra


Andra terdiam, kenapa sekarang Ayatha menjadi seperti ini, menjadi sangat dingin,


tidak ada kehangatan yang biasanya di tebarnya, yang berdiri di depan nya


sekarang benar-benar orang asing.


" Aku sungguh minta maaf padamu, " kata Andra


" Tuan Andra, bukankah kita begini lebih baik? Kau sudah memilih hidupmu, kau sudah


mendapatkan semuanya, kedudukanmu, keluargamu, dan juga seorang tunangan yang


sangat mencintaimu, apa lagi yang kau mau dari ku? Biarkan aku hidup dengan


diriku yang sekarang, bagiku...saat kau memilih untuk pergi, hatiku sudah


hancur saat itu... aku bahkan tidak tahu, apakah aku akan percaya akan cinta


lagi atau tidak, bagiku cintaku sudah mati, terkubur di antara padang rumput


saat kita terakhir bertemu, " kata Ayatha memAndang Andra, matanya mantap


memAndang Andra, tidak ada rasa sedih, tidak ada lagi rasa... hatinya


benar-benar mati rasa.


Andra terdiam, apa yang telah dia perbuat dengan wanita ini, wanita yang dulu penuh


kehangatan, penuh dengan cinta, namun sekarang wanita ini hanya seperti gadis


yang kosong, tidak ada harapan apapun di matanya. Andra tetap terdiam,  namun hatinya juga terasa hampa.


" Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin Anda katakan, selamat malam, " kata Ayatha


memberikan salam, lalu pergi meninggalkan Andra yang masih mematung.


Hati wanita bisa seperti itu, hancur berkeping-keping dan tidak bisa lagi di satukan, namun


bagaimanapun, Ayatha hanya gadis dengan hati yang rapuh, di kamarnya, walaupun


dia berjanji tidak akan menangis untuk pria lagi, dia tetap saja menangis, ntah

__ADS_1


apa yang dia tangisi, namun hatinya yang tersisa merasakan perih itu lagi.


____________________________________________________________


Ayatha tak bisa tidur, dia memutuskan untuk keluar, pergi ke pantai berbatu dekat dengan


mecusuar, di sana tempat favoritnya jika dia kepantai, Ayatha memakai scarf


berwarna merah bata dan panjang, menutupi semua lengannya, angin malam di


pantai sangat kencang, namun Ayatha merasa nyaman.


Air laut tampak sedikit lebih ganas dari tadi siang, rembulan di atas menambah sendu


suasana, malam ini cukup gelap, segelap hati Ayatha sekarang.


Ayatha berjalan bolak balik di antara bebaTuan yang ada, menarik panjang napasnya


berkali-kali, dia merasakan dinginnya angin menerpa wajahnya yang telihat


sendu, sesekali menatap ujung lautan yang hitam, kilasan masa lalu muncul,


bagaimana dia pertama kali bertemu Andra, ciuman pertama, terasa menyakitkan, namun


entah kenapa terus terngiang di pikiran Ayatha. apakah dia masih mencintai Andra?


Ayatha segera berjalan lagi, saat dia ingin berbalik, dia sedikit tergelincir padahal


dia sudah di ujung, namun tiba-tiba ada yang menariknya, memeluk pinggangnya


yang kecil, hingga dia tidak jatuh kedalam laut. scarfnya terjatuh kelaut yang


dingin.


Kejadian itu sangat cepat, saat Ayatha melihat siapa yang menolongnya, dadanya terasa


terbakar lagi, Andra menatapnya dengan lembut, wajahnya cukup dekat, hingga Ayatha


bisa merasakan napas Andra yang segar dan hangat menerpa pipinya, mata Andra


masih menghanyutkan sama seperti pertama kali dia melihatnya, sesaat mereka


Hangat tubuh Andra sangat terasa, Andra terus memeluk pinggang Ayatha, lebih menariknya


mendekat ketubuhnya, tubuh Ayatha gemetar, 2 tahun ini dia tidak pernah sedekat


ini dengan pria, bahkan tubuh Andra dan Ayatha sekarang menempel. Namun dia


serasa terhipnotis dengan tatapan Andra yang gelap dan dalam seperti lautan


malam itu.


Andra menekan  belakang kepala Ayatha, mendorongnya hingga bibirnya dan bibir Ayatha


bertemu... kehangatan dan sengatan listrik terasa menjalar di seluruh tubuh Ayatha,


Ayatha masih bisa melihat tatapan Andra. Ingin berontak namun tak mampu.


Awalnya Andra hanya diam, menikmati bibir Ayatha yang manis, namun gejolak rindu yang ada


membuatnya menjadi lebih ganas, 2 tahun menunggu, 2 tahun mencintai dalam diam,


memperhatikannya hanya dari jauh, mencintai tanpa bisa bersama... sangat


menyakitkan, membuat rindunya membatu, mengeraskan hatinya, dia tidak bisa lagi


tetawa, bahkan tersenyum saja susah. Namun sekarang wanita itu ada di


dekapannya, lembut bibirnya akhirnya terasa lagi. Andra mengetatkan pelukan di


pinggang Ayatha, menekan belakang kepalanya lebih dalam, mencium bibir mungil


itu dengan ganas.


Ayatha tampak beberapa kali berontak, namun usahanya sia-sia, semakin dia berontak,


semakin ganas Andra menciumnya, semakin erat pelukannya, dia sangat takut


sekarang...takut akan membangkitkan rasa yang sudah jauh di buangnya.


Andra membuka bibirnya, melahap setiap inchi bibir Ayatha, menyedotnya kuat-kuat, membuat Ayatha

__ADS_1


seperti kehabisan napas, Andra mencoba membuka bibir Ayatha, namun Ayatha


mengatupkan bibirnya, namun dia memaksa, sehingga akhirnya bibir Ayatha


terbuka, Andra menyapu seluruhnya, melampiaskan seluruh rasanya, Ayatha yang


diperlakukan seperti itu kaget, dia sempat mengigit bibir Andra, terasa sedikit


rasa anyir darah... Ayatha langsung melepaskan gigitannya, tahu luka yang di


buatnya. Namun Andra tetap menciumnya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah...


Cukup lama Andra menciumnya, memeluknya, semakin lama semakin erat dan kuat, membuat Ayatha


benar-benar kehabisan napas, melihat Ayatha yang kesulitan bernapas, Andra baru


melepaskannya. Menatap wanita itu dengan sangat dalam... bibir Ayatha sedikit


bengkak, merah karena ciuman itu, Ayatha masih terlihat mengatur napas.


Ayatha menatap Andra dengan kesal, siapa dia? Apa haknya memperlakukan dirinya sepeti


ini? Memberinya harapan dan rasa cinta, namun juga dengan mudah


menghancurkannya. Siapa dia? Berani kembali... memberikan segala rasa itu lagi,


seakan rasa itu tidak penah pergi darinya... siapa dia? Pikir Ayatha


Tanpa sadar Ayatha menampar Andra...cukup keras, hingga tangan Ayatha terasa panas. Ayatha kaget,


apa yang sudah di perbuatnya, karena emosi dia tidak bisa lagi mengontrol


dirinya. Andra terdiam, menatap Ayatha dengan tatapan suram dan sedih. Ayatha


merasa bersalah.


" Sudah puas? " kata Andra dengan suara beratnya


Ayatha terdiam, menatap wajah Andra yang ada di depannya, wajahnya melunak, mengigat


tamparan itu, entah kenapa malah Ayatha yang merasakan sakitnya.


" Jika kau mau, lampiaskan lah,  lakukan apapun


agar kau puas, aku siap menerima segalanya. " kata Andra dengan lembut


namun ada rasa sakit di ucapannya.


Ayatha tidak melakukan apa-apa, menarik tangannya. Andra mengambil tangan Ayatha,


menempelkannya ke pipinya yang hangat dan merah, mungkin karena tamparan tadi.


" Lakukanlah, " kata Andra lagi


Ayatha mengigit bibirnya, dia berusaha membenci Andra, dia kira dia bisa, namun ternyata


tidak... sebenci apapun dia, ternyata dia masih saja mencintai pria ini.


Ada kabut di mata Ayatha, membuatnya melihat dengan kabur pada wajah Andra, dia tidak ingin


berkedip, karena dia tahu, jika berkedip, air matanya akan turun, dia menunduk,


air matanya jatuh..tangannya masih di pegang oleh Andra, masih dipipinya yang


halus. Ayatha lalu lunglai, berjongkok... dia tidak ingin lagi berurusan dengan


Andra, tapi kenapa nasib selalu membawa Andra kembali padanya?


Andra berjongkok di depan Ayatha, mengelus kepala wanita itu dengan penuh perasaan,


memelukknya, badan Ayatha bergetar, tidak boleh seperti ini, harus melawannya, Andra


bukan lagi miliknya, dia milik Nadine, Ayatha tiba-tiba berdiri, air matanya di


hapus dengan cepat, menatap Andra dengan dingin lalu pergi, membuat Andra


terpaku, Andra tahu, penghalang yang di buat Ayatha diantara mereka terlalu


tinggi sulit untuk di tahlukan, namun dia tidak akan berhenti, tidak akan


menyerah merebut hatinya kembali.

__ADS_1


__ADS_2