
Malam itusetelah makan malam Andra dan Jessy berjalan-jalan di sebuah pusat
perbelanjaan, Jessy ingin membeli sesuatu, makanya dia mengajak Andra kesana.
Tangan Jessytidak pernah lepas dari tangan Andra, dia mengengamnya erat sekali, sesekali memeluk lengannya, Andra sedikit tersenyum melihat kelakuan Jessy ini.
Andra hari itu tampak santai, hanya mengunakan swater putih dan celana chinos cream, namun karena Andra yang memakainya, dia tampak sangat tampan, apa lagi badannya yang putih cocok sekali dengan warna putih.
" Kau tidak ingin melihat bajunya," kata Andra melihat Jessy yang terlihat tertarik oleh sesuatu.
" Ayo masuk, " kata Jessy
" Banyak wanita di sana, aku tunggu di sini saja," kata Andra
" Kalau begitu aku tidak mau masuk "
" Memangnya kenapa? "
" Yah, nanti aku akan masuk, trus kau tinggal disini sendiri, lalu nanti ada wanita
yang mengodamu karena mereka berpikir kau masih sendiri, " kata Jessy dengan nada manjanya.
Andra tertawa sedikit, menganggap apa yang dikatakan oleh Jessy sungguh konyol.
" Jangan tertawa, " kata Jessy
makin cemberut
" Kenapa? " Andra berubah penasaran
" Lihatlah kau tambah tampan jika tetawa, nanti aku yang repot, " kata Jessy lagi
Andra kembali tertawa, namun dia mencoba menyembunyikannya dengan kepalan tangannya. Melihat hal itu Jessy senang, sangat jarang melihat Andra bisa tertawa, dia
rela walaupun melakukan hal konyol, asal bisa melihat tawa Andra.
" Tak ku sangka bertemu denganmu di sini, Andra? "kata Maxi yang mendekati Andra, Andra menatap Maxi, dia hanya tersenyum sedikit.
" Apa kabar max? "kata Andra
" Baik, " kata Maxi memperhatikan Jessy
" Baguslah, ehm...perkenalkan ini Jessy, " kata Andra menangkap pandangan max pada Jessy, jassy tersenyum manis
Max terlihat terkejut, dari wajahnya Andra tahu. Maxi lalu melihat kearah Andra.
" Terasa familiar? " kata Andra
" Ya... sangat mirip, " kata Maxi tak percaya
" Begitulah, " kata Andra suram
" Owh, aku Maximillian Madison,
senang bertemu denganmu Nona Jessy, "kata Maxi pada Jessy
" Jessica, panggil aku Jessy, " kata Jessy tersenyum
" So, jadi kalian sekarang bersama? " kata Maxi, pertanyaan itu di tujukan pada Andra.
" Iya, dia pacarku, " kata Jessy, dia rasa dia yang harus menjawabnya
" Owh, aku kira...ehm...lupakanlah, kau juga harus melanjutkan hidup, ehm... semoga kalian bahagia selalu, aku permisi dulu, " kata Maxi, dia tersenyum lalu pergi dari sana. Andra menatap Maxi pergi...
" Siapa dia? " kata Jessy bertanya
" Owh,dia... kakak Ayatha, " kata Andra sedikit berat mengatakannya
" Ayatha? dia seorang Medison, " kata Jessy lagi
" Yah, kenapa? " kata Andra
" Tidak apa-apa, ayo kita pulang, " kata Jessy sedikit menyembunyikan kesuramannya.
" Tidak jadi berbelanja, " kata Andra bingung
" Sudah tidak minat, ingin pulang saja, " kata Jessy lagi
" Baiklah, " kata Andra
Jessy merasa tidak senang ketika Andra membicarakan tentang Ayatha, dia sangat tidak suka, Ayatha itu hanya penghalang baginya untuk mendapatkan hati Andra.
Jessy melangkah keluar, lalu melihat ada taman di belakang pusat perbelanjaan itu, di
sana sepi karena ini sudah cukup malam, di tengahnya terdapat air mancur yang
biasa di mainkan oleh anak-anak pada siang hari.
" Ayokita ke sana, " kata Jessy
menarik tangan Andra.
" Ke mana? " kata Andra hanya mengikuti Jessy
" Di sana... ke taman itu, "kata Jessy
Andra tak menjawab, hanya mengikuti Jessy yang terus menariknya. Sampai di tempat air
macur itu Jessy melepaskan tangannya, membiarkan Andra menatapnya. Jessy
membuka high heelnya, air mancur itu tidak keluar terus menerus, melainkan
bergantian membentuk lingkaran, tempatnya juga datar, biasanya anak-anak akan
main dengan air mancur itu.
" Ini sudah larut malam, kalau kena air kau bisa sakit, " kata Andra menunjukkan sedikit
perhatiaan
Jessy tersenyum senang mendapatkan perhatian Andra
" Ke mari, ayo bermain, " kata Jessy, air macur itu bergantian mengelilinginya
__ADS_1
" Udara malam sangat dingin, tidak baik jika main air, " kata Andra terasa enggan
" Tidak apa-apa, ouch... " kata Jessy kaget, air macur yang ada di hadapannya mengeluarkan air dengan tiba-tiba, cipratan air mengenai wajahnya, Jessy jadi cemberut.
Andra kembali tertawa melihat tingkah Jessy, Jessy terkadang bisa mejadi wanita yang
begitu konyol.
" Aku sudah memperingatkanmu, " kata Andra tersenyum
Jessy tidak ingin basah sendiri, dia lalu berlari kearah Andra, menarik tangan Andra, Andra
sedikit menolak.
" Aku tidak mau ke sana, " kata Andra
" Ayolah Tuan pacar, masa aku doang yang basah, " kata Jessy terus menarik Andra,
kalau Andra mengunakan kekuatannya, sampai kapanpun Andra tak akan bergerak
tapi karena melihat keseriusan Jessy, Andra mengalah, dia mengikutinya. Jessy membawa Andra ke tengah lingakaran air itu.
Andra menatap Jessy dengan wajah penasaran, apa yang ingin di lakukannya. Jessy memperhatikan keluarnya air, begitu air yang ada di dekatnya keluar, dia lalu
memercikkan air itu kearah Andra, Andra kaget, mencoba menangkisnya, namun
tetap air itu mengenainya.
" Hei, aku tidak ingin terkena air, " kata Andra protes
" Haha, lihatlah, kau lucu sekali, " kata Jessy tertawa senang, dia kembali memercikkan air ke arah Andra
" Hei, sudahlah Jessy, air ini dingin sekali, " kata Andra
" Masa pria berbadan tegap sepertimu takut dengan air, kau seperti kucing saja, " kata Jessy terus memercikkan air.
Andra sedikit gemas, dia lalu juga mengambil air di dekatnya lalu memercikkannya ke
arah Jessy, karena telapak tangan Andra lebih besar, air yang terpercikan pun
banyak, membuat Jessy langsung basah.
" Apa ini? Kau membuatku langsung basah, " kata Jessy protes
" Kau duluan yang melakukannya, " kata Andra
Jessy menatap Andra, Andra biasanya dingin, terlalu menjaga sikap dan berwibawa, dia
tidak sangka di balik sisinya yang seperti itu, Andra juga bisa seperti pria lainnya.
" Kalau begitu, ini...ini lagi..ini lagi, " kata Jessy terus memercikkan air kearah Andra dengan bertubi-tubi. Andra pun melakukan hal yang sama..mereka saling memercikkan air, membuat diri mereka basah, Andra dan Jessy tertawa bahagia. Andra tertawa begitu lepas hingga membuat Jessy sangat senang.
" Sudah yah, aku kedinginan," kata Jessy yang kelihatan mengigil, bibirnya membiru
" Kan sudah aku bilang malam ini dingin, " kata Andra mendekat kearah Jessy.
Jessy benar-benar mengigil, Andra mengambil kedua telapak tangan Jessy, lalu mengenggamnya, menghembuskan udara hangat ke kedua telapak tangan Jessy.
Jessymematung, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini dengan Andra, dia sangat senang, saking senangnya hanya bisa mematung menatap Andra.
" Sudah, " kata Jessy tersenyum sumringah
" Bagus kalau begitu, ayo pulang, " kata Andra menunjukan senyuman kaku
" Andra tubuhku juga kedinginan, bisa peluk aku? "kata Jessy
Andra terdiam, dia lalu tersenyum, mencoba memeluk Jessy, entah kenapa walaupun sudah sering bertemu dengan Jessy, namun dia masih sungkan memeluk Jessy. Jessy tenggelam dalam kehangatan tubuh Andra.
" Apakah sudah hangat? "kata Andra
" Sebentar lagi, kenapa harus buru-buru, " kata Jessy
" Lebih baik kita pulang dan menganti baju, kalau begini, bukan hanya kau yang sakit,
aku juga, " kata Andra tersenyum
" Ok, baiklah, kita pulang, " kata Jessy
Andra melepaskan pelukannya, mereka langsung menuju mobil, Andra mengantar Jessy pulang. Sesampainya dirumah, Jessy langsung keluar.
" Masuklah cepat, lalu ganti pakaian, biar jangan sakit, " kata Andra
" Andra, ke rumahmu dari sini hampir 1 jam bukan? " kata Jessy
" Ya, kenapa? "
" Bajumu juga basah, di rumah aku
punya baju pria, aku ingin memberikannya padamu nanti, tapi sekarang sepertinya
waktu yang tepat, kalau kau pakai baju itu terus sampai 1 jam, kau benar-benar
akan sakit, " kata Jessy
Andra menatap Jessy, dia sebenarnya enggan, namun melihat ketulusan dan pengharapan di wajah Jessy, Andra akhirnya luluh
" Baiklah, " kata Andra
Jessy senang, dia lalu mengandeng tangan Andra ketika Andra baru keluar.
Andra masuk ke dalam rumah Jessy, berhenti sebentar lalu menatap Jessy.
" Di sana ada kamar tamu, masuk lah
ke sana, di sana lebih hangat, kau bisa ganti baju disana, aku akan mengambilkan
bajunya, " kata Jessy
" Gantilah bajumu dulu baru mengambilkan baju untukku, aku akan menunggumu, "kata Andra tersenyum lembut
" Baiklah, "kata Jessy
Andra masuk ke dalam kamar tamu, benar saja, di sana lebih hangat... namun karena sudah telalu lama dan bajunya sangat basah, dia lalu membuka sweaternya, jika Jessy
__ADS_1
ingin masuk, pasti dia mengetuk pintu dulu kan?
Namun yang disangka Andra meleset, Jessy langsung saja membuka pintunya, Andra kaget, melihat Jessy yang hanya terdiam melihat tubuh Andra yang bertelanjang dada,
tubuh Andra tentu sangat bagus, putih dan bersih, bahunya yang bidang dan
otot-ototnya, pantas saja jika Jessy ingin bertemu dengannya dia pasti sibuk
dengan kantor kalau tidak sedang berolahraga.
" Kenapa tidak mengetuk? " kata Andra menyadarkan Jessy yang menatap Andra terus menerus.
" Oh, maaf aku kira kau… "kata Jessy
bingung mencari alasan
" Tak apa-apa, sini bajunya, "kata Andra
"Oh, iya ini, " kata Jessy
Andra mengambil baju dari tangan Jessy, dia lalu ingin melangkah ke kamar mandi,
namun entah bagaimana, Jessy memeluknya dari belakang. Andra tentu kaget.
" Ada apa? " kata Andra bingung
" Andra, tinggalah malam ini bersamaku, " kata Jessy
" Apa maksudmu? " kata Andra
" Kita sudah berpacaran 3 bulan bukan, apa kau tidak ingin bersamaku? Apa kau tidak
ingin menyentuhku? " kata Jessy lirih
Andra terdiam, dia tidak punya hasrat apapun pada Jessy, menciumnya saja belum
pernah, apa lagi melakukan hal yang lebih dari itu. Andra melepaskan tangan Jessy
yang melingkar di tubuhnya. Membalik badannya, lalu menatap Jessy.
" Aku rasa ini terlalu cepat, aku tidak bisa, " kata Andra
Jessy melihat Andra, terlihat kekecewaan dan kesedihan di wajahnya, wajah Jessy yang
begitu membuat Andra tak enak hati. Tapi dia benar-benar tidak ingin melakukannya.
Jessy mundur selangkah menjauh, mengigit bibirnya dengan keras, tangannya mengepal, ini bukan hal terlalu cepat atau bagaimana? Tapi Andra masih belum bisa melupakan Ayatha! Gadis itu sudah membuat banyak masalah di hidup Andra, dia bahkan sudah
meninggal, tapi kenapa Andra begitu mencintainya, Andra bahkan tak tersentuh
sedikitpun dengan kepedulian dan kebahagian yang di berikan Jessy, seandainya Jessy bisa bertemu Ayatha, dia akan membunuhnya.
Jessy pergi begitu saja meninggalkan Andra, dia lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras, di kamarnya di menangis tersedu-sedu hingga membuat matanya merah dan sedikit bengkak.
Andra hanya diam saja, dia berdiri di depan pintu Jessy menunggu suara tangis Jessy mereda. Setelah reda Andra mengetuk pintu kamar Jessy.
" Ada apa? " Kata Jessy
tidak ingin Andra melihatnya dengan kedaan seperti ini.
" Aku minta maaf" kata Andra pelan
Jessy terdiam, dia sebenarnya bingung, ini kesalahan Andra atau memang dia yang
keterlaluan?
" Baiklah, itu juga bukan salahmu" kata Jessy
" Ehm… aku akan pulang sekarang "kata Andra
" Iya, pulang lah, mukaku sekarang sedang kacau, aku tidak ingin kau melihatku karena
aku jelek sekali, " kata Jessy
" Baiklah, " kata Andra.
Andra tidak berjalan turun, malah berjalan kearah sebelah pintu Jessy, Jessy yang tak rela Andra pulang begitu saja langsung membuka pintu ketika mendengar langkah Andra, dia melihat ke bawah, kenapa Andra tidak ada?
" Jangan menangis lagi gara-gara aku, aku minta maaf," kata Andra, Jessy kaget. Dia
langsung menutup wajahnya. Andra sedikit tersenyum dengan kelakuan Jessy
" Kau bilang sudah ingin pulang, " kata Jessy protes
" Iya, aku mau pulang, tapi tidak seperti itu, " kata Andra menurunkan kedua
telapak tangan Jessy yang menutupi wajahnya. Jessy malu, matanya merah dan
bengkak, hidungnya merah dan berair, bagaimana menunjukkan muka begini di depan Andra.
" Berikan aku waktu," kata Andra lembut
" Baiklah, " kata Jessy luluh
" Selamat malam, " kata Andra
mengecup dahi Jessy
Jessy mematung, ini pertama kalinya Andra berinisiatif untuk melakukan kontak fisik
dengan Jessy, biasanya Jessy yang melakukannya. Dia jadi sangat senang, dan tak percaya.
" Aku pulang ya, jaga dirimu," kata Andra
" Ya, hati-hati," kata Jessy sumringah.
Andra menunju tangga lalu turun untuk keluar dari rumah Jessy, Jessy menatap Andra
hingga Andra tak terlihat lagi. Dia sangat senang hingga tak bisa tidur karenannya.
Andra melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya, wajahnya datar dan dingin,
semua orang yang melihatnya seperti itu akan takut. Dia tidak tahu apakah dia
__ADS_1
akan bisa menerima Jessy atau tidak? Hingga sekarang hatinya masih tak berubah,
namun jika sikapnya begini terus? Bukannya Jessy akan menderita?