
Andra langsung menuju ke kantornya, mencari Wayren di ruangannya, Wayren sedang
mengurus beberapa pekerjaan.
" Andra, kau dari mana?" kata Wayren yang heran karena Andra tiba-tiba pergi begitu
saja.
" Ceritakan padaku, apa yang terjadi saat Ayatha di kebumikan? Apa kau ada di sana? " kata Andra emosi, Wayren bisa
melihat emosi itu di mata Andra yang memerah
" Iya, aku di sana, Risa juga
ada, Maxi dan Hanna, semuanya ada di sana" kata Wayren
" Kau lihat mayatnya?"kata Andra
" Tidak, hanya sebuah peti, dan peti itu sudah di tutup, ada apa? " kata Wayren bingung
Andra melihat Wayren, berarti Maxi benar-benar menyiapkan semuanya, Wayren bahkan tertipu. Andra meletakkan tablet dengan foto Ayatha.
Wayren melihatnya dengan terkejut...
" Apa ini? " kata Wayren
" Itu di ambil 3 hari setelah pemakaman Ayatha" kata Andra menjelaskan.
" Maksudmu? Jadi siapa yang di kuburkan itu?" kata Wayren
" Hanya peti, aku sudah menemui Maxi, katanya Ayatha masih hidup, namun baginya aku yang mati, " kata Andra
tampak suram menjelaskan pada Wayren
Wayren terdiam, bagaimana ini mungkin?
" Jadi di mana dia? Kenapa bisa begini? " kata Wayren tampak kaget
" Ayah yang membuat Ayatha seperti itu, dia datang saat Ayatha sudah sadar, mengatakan
kalau aku sudah meninggal, gara-gara itu Ayatha memburuk, Maxi ingin melindungi
Ayatha, mengirim dia ke suatu
tempat, aku tak tahu di mana, dia memalsukan kematian Ayatha,"kata Andra
menjelaskan
Wayren tak habis pikir, bagaimana hidup bisa serumit ini, dia lalu memengang kepalanya,
terasa pusing, di lain sisi dia senang ternyata Ayatha tak meninggal, namun...
" Lalu apa yang akan kau lakukan? " kata Wayren menatap Andra
" Aku akan mencarinya, ke mana pun,
akan kucari. " kata Andra tegas
__ADS_1
" Andra... bagaimana dengan Jessy? " kata Wayren
Andra terdiam, dia tidak ingat tentang Jessy, namun dia tidak mencintai gadis itu...
yang di cintainya adalah Ayatha.
" Andra, sudah 3 tahun, kau yakin Ayatha masih ingin melihatmu? " kata Wayren lagi
" Aku yakin, aku yakin dia masih mencintaiku, " kata Andra
Wayren tampak ragu, dia tidak bisa melarang kakaknya, tentu dia tahu, ini masalah
hati, dia tahu Andra terpaksa menikah
dengan Jessy karena ibunya, kalau Wayren tetap memaksanya untuk menikahi Jessy, dia mungkin ikut andil dalam menghancurkan Andra.
" Aku mendukung apapun langkahmu, tapi aku minta selesaikan semua dengan baik dengan Jessy, dia tidak tahu apa-apa soal ini, " kata Wayren
" Baiklah, "kata Andra
Andra melangkah keluar dari ruangan Wayren, Wayren kembali melihat foto yang di tinggalkan oleh Andra.
" Kenapa kau harus kembali sekarang? " kata Wayren, hatinya juga sakit melihat foto itu.
____________________________________________
Andra melajukan mobilnya kearah perumahan white piony, dia lalu keluar, memandangi
rumah itu. Jessy pulang kerumahnya beberapa hari yang lalu. Andra tahu hal ini
akan membuat Jessy sedih, namun dia juga tidak ingin menghancurkan masa depan Jessy, menikah dengannya akan membuat Jessy menderita. Karena sampai kapanpun,
sedikitpun ruang untuk orang lain.
Andra menekan bel rumah Jessy, seperti biasa Jessy menyuruh untuk menunggu,
Jessy membuka pintu, sangat sumringah melihat Andra ada di depan pintunya, Andra
sangat jarang datang kerumahnya, ini hal yang perlu di rayakan.
" Masuklah, " kata Jessy sumringah, melihat wajah Jessy yang sumringah, Andra mengigit bibirnya, ada perasaan tidak tega menghapus
senyuman yang selalu membuat Andra terpesona itu.
" Baiklah, " kata Andra, melangkah masuk kedalam rumah itu, sangat elegan dengan selaga perabotannya.
" Aku sangat senang kau datang, ada apa? " kata Jessy memandang lembut pada Andra
" Jessy... " kata Andra dengan suara berat, senyum Jessy sedikit menghilang, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah.
" Ada apa? Katakan lah, "kata Jessy
" Maafkan aku... " kata Andra lagi, tak mampu melanjutkan kata-kata, dia takut
melukai hati gadis di depannya, namun kalau dia tidak melakukannya, setiap hari
selama hidupnya, Jessy akan selalu tersakiti dengan sikapnya.
__ADS_1
Jessy mundur, wajahnya tampak berubah sedih, matanya berkaca-kaca, memandang Andra dengan heran.
" Aku ingin membatalkan pernikahan kita, " kata Andra
Berita itu bagai petir yang menyambar pada hari yang sangat cerah, membuat Jessy sangat kaget, dia tidak percaya apa yang keluar dari mulut Andra, bagaimana bisa? Apa
salahnya? Tidak ada yang salah...tinggal 1 minggu lagi, dia akan menjadi
istirinya, kenapa bisa??
" Kenapa? apa yang salah dengan ku? " kata Jessy
" Tidak ada, tidak ada yang salah darimu, kau wanita yang cantik, kau baik, tidak ada
yang salah darimu, " kata Andra lagi
" Lalu, kenapa harus membatalkan pernikahan, aku akan berusaha jadi seseorang yang kau cintai, " kata Jessy menangis tersedu
" Itu bukan karna kau, ini karena aku...aku tidak bisa menerimamu, aku mencintai
orang lain, " kata Andra,
hatinya sedikit tak nyaman melihat Jessy menangis
" Siapa? Apa ini masih masalah Ayatha? Ayatha sudah mati, dia sudah mati Andra, " kata Jessy histeris
" Dia masih hidup, "kata Andra lirih
Jessy terdiam...hanya air mata yang mengalir, bagaimana Ayatha masih hidup ?, Jessy
pernah pergi bersama Andra ke makamnya, bagaimana?
" Andra, dia sudah dikuburkan, bagaimana bisa hidup, " kata Jessy, Jessy mengira Andra
hanya mengada-ngada
" Itu bukan dia, aku punya bukti dia masih hidup, " kata Andra.
" Lalu apa? Kalau dia masih hidup, kenapa dia tidak datang padamu, dia sudah tidak
mencintaimu, " kata Jessy lagi
" Aku yakin dia masih mencintaiku, sama seperti aku mencintainya, " kata Andra
Jessy terdiam, lalu bagaimana cinta untuk Andra? pernahkah Andra memikirkan
perasaannya? Kenapa Andra bisa begitu kejam. Tanpa sadar Jessy menampar Andra
dengan keras. Andra hanya terdiam, Jessy kaget dengan yang di lakukannya...
" Aku pantas menerimanya, maafkan aku, "
kata Andra melihat Jessy yang masih syok, lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Jessy terjatuh ke lantai, menangis dalam pilunya, tidak bisa menerima keadaan, dia
begitu mencintai Andra... namun kenapa dia tidak bisa mencintai Jessy, padahal
__ADS_1
selama ini, dia berusaha menjadi wanita yang dia sukai, menanyakan bagaimana
kebiasaan Ayatha dan Yosa.. namun tidak bisa membuat Andra berpaling padanya.