
Jeremy keluar dari kamar Ayatha dan berjalan menuju lift saat tiba-tiba seorang wanita
di depannya terjatuh, Jeremy segera membantunya.
" Apakah Anda tidak apa-apa? " tanya Jeremy
" Ku benci sepatu seperti ini, Bagaimana mereka bisa memakainya? " Kata
wanita itu sepertinya kesal melihat sepatu hak tinggi yang sedang dipakainya, Jeremy
hanya, mengerutkan dahi sambil mencoba membatu wanita itu untuk bangkit.
Setelah bangkit, wanita itu segera memperbaiki gaun pink muda yang di pakainya, lalu di
memperbaiki tatanan rambutnya hingga Jeremy bisa melihat wajahnya.,
" Akah anda tidak apa-apa? " kata Jeremy
" Tidak apa-apa, terima kasih," kata wanita itu lagi
" Apakah anda ingin memakai sepatu yang lain, saya bisa meminjamkan sandal rumah
sakit ini, " kata Jeremy lagi mencoba membantu karena tadi dia mendengar apa yang di keluhkan oleh
wanita ini.
" Tidak terima kasih," kata wanita itu segera pergi terburu-buru , beberapa kali dia tampak memperbaiki
sepatunya karena dia tampak kesulitan dengan heels yang dipakainya, jaremy hanya tersenyum geli melihat tingkah wanita itu.
" Wanita yang lucu " gumam Jeremy
" Hay, Jeremy, sedang apa kau di sini? " sapa rekan sesama dokter pada Jeremy membuat pandangannya terpaling dari wanita itu.
" Owh… Tidak apa-apa," kata Jeremy dengan senyuman khasnya
" Tadi itu kan putri pemilik rumah sakit kan? " Kata teman Jeremy itu lagi
" Kau mengenalnya? " Tanya Jeremy penasaran
" Yah, tentu, itu Hanna, Adik tiri pemilik rumah sakit ini, Owh ya, kau masih di Jerman saat tuan Medison mengenalkan putri dan istri barunya," kata temannya menerangkan
" Oh..." Kata Jeremy sambil melihat lagi kearah hanna pergi
" Baiklah, aku harus pergi, sampai nanti," kata teman Jeremy meninggalkannya. Jeremy hanya membalas dengan senyuman, lalu dia kembali melihat kearah Hanna pergi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
tersenyum, dia kembali melanjutkan perjalannya.
____________________________________________
Wayren berjalan mondar mandir di ruang keluarga, dia masih cemas, Belum ada
kabar apapun dari Andra, Rasa kesalnya juga masih tersisa, namun dia
berusaha untuk membendungnya karena dia tahu ini bukan saat yang tepat
melampiaskan rasa kesalnya.
Andra berjalan pelan memasuki rumahnya saat dia melihat Wayren yang masih berada
diruang keluarganya.
" Hey...bagaimana Ayatha? " Kata Wayren begitu melihat Andra yang baru saja pulang
" Dia sudah sadar, semuanya baik baik aja, besok dia sudah boleh pulang," kata Andra tersenyum sambil mencoba menjelaskan pada adiknya
" Jadi siapa yang menjaganya," kata Wayren masih cemas
" Aku menyuruh Bibi Moi untuk menjaganya, aku ingin ke kamar dulu, " kata Andra sambil mulai
berjalan
" Tunggu," kata Wayren membuat Andra tidak jadi melangkah
" Ya? Kenapa? " kata Andra menatap adiknya yang tampak gugup
" Tidak apa-apa," kata Wayren mengurungkan niatnya.
Andra mengerutkan dahinya, aneh melihat adiknya, tapi dia langsung kembali melanjutkan langkahnya. Wayren hanya menatap Andra pergi meninggalkannya, sebenarnya banyak
hal yang ingin dia tanya kan pada Andra, namun dia pikir ini bukan lah waktu
yang tepat.
Andra terdiam, dia masih berdiri bersandar di balik pintu kamarnya, kepalanya pusing, dia terus memegangi kepalanya., Andra tak tahu kenapa, namun dia benar-benar merasa kacau.
Andra Berjalan menuju lemari, dengan ragu dia membuka lemari itu dan mengambil sebuah kotak kecil, dia membuka kotak itu dengan tangan bergetar, Ada sebuah
__ADS_1
handphone dan beberapa barang, Andra mengambil handphone itu dan ragu-ragu
mengaktifkan ponsel itu.
Andra terdiam saat melihat wallpaper handphone itu muncul, Seorang gadis dengan senyum cerianya, wajahnya tampak gembira, nafas Andra menjadi berat, dadanya
sakit, matanya terlihat berkaca-kaca menatap gambar itu, Andra tak bisa bergerak bahkan dia tidak berkedip hanya air mata yang langsung mengalir di sela2 matanya.
Sudah lama sekali sejak saat dia memutuskan mengikuti keinginan ayahnya dan pergi meninggalkannya, sudah
lama sekali dia tidak pernah melihat senyum indah ini, dan dia tidak akan
pernah lagi melihat dan mendengar tawa cerianya. Gadis itu adalah Yosa, Andra
tidak pernah mengaktifkan handphone ini sejak saat dia memutuskan untuk kembali
ke Amerika, dia mencoba mengubur dan menghapus semua kenangan agar dia bisa membuat ayahnya bangga.
Namun sekarang, dia sangat menyesali keputusannya, karna bagaimana pun dia menyesal dan mencoba apapun gadis ini tidak akan ada lagi dalam pelukkannya.
Andra mengahapus air matanya yang mulai tak bisa lagi dia bendung dia
meletakkan handphone itu di ranjangnya, saat tak sengaja dia melihat ada 1
notifikasi pesan pada handphone itu, dia kembali mengambil handphone itu,
bagaimana ada pesan?, sedangkan handphone ini sudah lama dia non aktifkan.
Andra tertegun melihat 1 pesan yang belum terbaca, tertulis nama Yosa pada
pesan itu dengan pelan dia membuka pesan itu..
' Hay Kak, kenapa kau tidak hadir hari ini?, padahal kita harusnya ujian loh! Oh ya Kak, ingat teman yang aku ceritakan, aku baru saja menelponnya, aku menyuruhnya untuk memberikan fotonya, aku sangat ingin mengenalkannya padamu Kak, aku juga mengirimkan fotonya untukmu, lihatlah’
Andra terus membaca pesan itu, hingga saat dia melihat foto Ayatha yang dikirim oleh Yosa, Andra terpaku, di sana, di dalam fotonya Ayatha tersenyum lepas, wajahnya tampak riang, Berberbeda
dengan wajah Ayatha yang sekarang sering dia lihat, Andra terus memandangi foto Ayatha yang di kirim, oleh Yosa, dan di bawahnya tertulis
' Bukankah dia manis, dia sangat manis, bukankah dia cocok denganmu Kak?'
Andra terdiam, dia masih tertegun membaca pesan terakhir yang mungkin masuk sesaat sebelum Andra mematikan handphonenya. Perasaanya tambah kacau, kepalanya bertambah berat, Andra segera
meletakkan handphone itu dan pergi meninggalkan kamarnya dan segera pergi
meninggalkan rumahnya.
sedikit penasaran dengan apa yang terjadi.
Wayren dengan ragu memasuki kamar kakaknya, saat dia melihat sebuah handphone yang masih menyala, Wayren mengambil handphonenya, menatap kaget dengan apa yang di lihatnya, dia terdiam, perasaanya yang dari tadi tidak enak bertambah kacau gara- gara membaca pesan yang tertera di sana.
Wayren menutup pesan itu, sekarang dia kembali tertegun menatap layar handphone itu, Menatap wallpapernya dengan sangat teliti, ternyata kau, Yosa! Pikir Wayren.
____________________________________________
Wayren duduk didepan Andra yang hanya termenung disebuah cafe sendiri, Wayren sudah tahu kemana kakaknya akan pergi jika dia merasa sedang sedih.
" Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Andra yang menyadari kedatangan adiknya
" Tidak apa-apa, apa hanya kau saja yang boleh datang ke sini? " kata Wayren
" Pulanglah," kata Andra menuang minuman keras ke gelasnya, Wayren segera menarik botol minuman itu, mengambilnya lalu langsung meminumnya seperti orang kehausan
" Hey! Apa yang kau lakukan?! Kau masih dibawah umur! " kata Andra yang kaget melihat kelakuan Wayren
" Apa kau saja yang boleh minum seperti ini, aku juga boleh, kau pikir hanya kau saja di sini yang sedang stres! Aku juga, dan satu lagi kau lupa umur kita sama. " Kata Wayren keras pada Andra
" Setidaknya aku sudah kuliah dan kau masih anak SMA," kata Andra meminum minuman
keras yang dia tuangkan tadi
" Jadi hanya karena kau sudah kuliah dan dari Amerika kau boleh minum seperti ini, kalau kau boleh, aku juga." kata Wayren kembali meminum minumannya
" Hentikan ! " kata Andra
" Kau yang harusnya menghentikannya., sejak kapan kau minum seperti ini untuk menyelesaikan masalah." kata Andra
" Sejak aku bukan aku lagi. " kata Andra meminum lagi minuman kerasnya.
Wayren terdiam, dia bisa melihat raut wajah sedih dan menderita di wajah Andra.
" Sejak aku harus mengikuti semua tuntutan ini, sejak aku harus berusaha sekuat
tenaga hanya untuk di pandang oleh Ayah, sejak aku tidak lagi tahu aku siapa!" Kata Andra meluapkan amarahnya, wajahnya memerah dengan mata berkaca-kaca.
" Kalau begitu, ayo minum sampai pagi," kata Wayren menuangkan minuman keras itu lagi ke gelas kakaknya.
Andra terdiam melihat kelakuan adiknya. Dia hanya menatap Wayren. Wayren juga hanya
__ADS_1
menatapnya.
" Sudahlah, ayo kita pulang " kata Andra segera bangkit
Wayren mencegah kakaknya pergi dengan menarik tangannya, Andra terdiam.
" Pergilah tapi kali ini kau harus jadi dirimu sendiri Kak, Kau tak harus membuat Ayah bangga, Dia bukan
orang yang harus kau banggakan, kali ini berjanjilah, perjuangkan apa yang harusnya kau perjungkan. " Kata Wayren.
Andra duduk kembali setelah mendengar kata- kata Wayren.
" Hidupku sudah tidak bisa lagi diubah," kata Andra
" Kau bisa, jangan sampai kau kehilangan sesuatu yang sangat penting lagi dalam hidupmu atau kau akan menyesal lebih dari ini "
Andra terdiam ucapan Wayren sangat membekas padanya, yah..kali ini apapun itu, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperjuangkannya sekuat tenaga apapun yang terjadi.
Andra meminum minuman keras yang dituangkan adiknya ke gelasnya.
Wayren hendak mengikutinya, namun Andra segera merebut botol minuman yang ada
di tangan Wayren.
" Walaupun begitu kau tetap saja tidak boleh meminum minuman keras kau masih kecil, " kata Andra tersenyum sinis pada adiknya
" Baiklah, aku juga sebenarnya tidak ingin meminumnya itu terlalu keras dan pahit, aku ingin minum teh saja, kepalaku sudah mulai pusing," kata Wayren
Andra tersenyum melihat tingkah adiknya.
" Kau tidak boleh mabuk karena aku butuh kau untuk menyetir, aku sudah tidak sanggup
lagi membawa mobil," kata Andra
" Siapa yang mau mengantarkan kau pulang, kau pergi sendiri dan kau harus
pulang sendiri," kata Wayren yang kelihatannya juga sudah mulai terkena efek alkohol,yang dia minum
" Ah, kau payah, begini saja sudah mabuk," kata Andra mengejek adiknya
" Siapa yang kau bilang mabuk, kau yang harusnya berkaca, lihat betapa jeleknya saat kau menangis tadi, mukamu merah seperti tomat." kata Wayren
" Kau yang seperti tomat lihat lah, aku malu punya adik seperti mu "
" Kau pikir aku suka punya Kakak sepertimu "
Wayren dan Andra selanjutnya terus memberikan ejekkan hingga Wayren tidak sanggup lagi dan
tertidur di cafe itu.
Andra menyuruh orang untuk menjemput mereka, hingga saat tiba di rumah keduanya
sudah tak sadarkan diri.
Wayren menyibakkan selimutnya, kepalanya masih pusing dan perutnya terasa mual, dia
hanya ingat minum-minum dengan Andra dan sekarang dia ada di kamarnya.
Wayren terduduk di pinggir ranjangnya sambil terus memijat kepalanya yang pusing. Dia
benar-benar mabuk semalam, padahal dia hanya minum beberapa teguk saja, dan memang itu pertama kalimya dia minum seperti itu.
" Hey adik kecil, kau masih pusing?" kata Andra yang tiba-tiba masuk ke kamar Wayren
" Ini semua gara-gara kau, Kepalaku jadi sakit," kata Wayren
" Aku ingin pergi ke rumah sakit, Apakah kau masih sanggup ke sana?" Kata Andra
" Tentu, tunggu aku," kata Wayren yang segera bergegas menuju kamar mandinya tanpa memperdulikan lagi sakit kepalanya, Andra hanya tersenyum geli melihat tingkah adiknya.
Andra menunggu Wayren di dalam mobilnya, tak lama Wayren pun datang dan langusng
masuk ke dalam mobil kakaknya.
" Apakah aku sudah terlihat tampan sekarang? " Kata Wayren merapikan rambutnya yang sebenarnya
sudah rapi
" Kita hanya akan menjemput Ayatha, kenapa kau harus berdandan seperti ini?" kata
Andra melihat gaya adiknya
" Aku ingin dia tetap melihat ketampananku," kata Wayren sambil tersenyum
jahil
" Sudahlah, pakai seatbeltmu." kata Andra sambil mulai mengendarai mobilnya
__ADS_1
keluar