Meadow

Meadow
Meadow - The End


__ADS_3

Waktu berjalan, tanpa terasa sudah lebih dari satu setengah tahun berlalu, Ayatha sudah melahirkan, sekarang mereka sedang berkumpul kembali di padang rumput itu, Andra meletakkan bunga camelia di pusara ibunya, dia juga meletakkan bunga di pusara ayahnya yang bersebelahan dengan pusara ibunya, akhirnya mereka bersatu.


 


 


Ayatha juga menaburkan bunga, Wayren dan Risa mengikuti, terakhir Nyonya Renata yang melakukannya.


 


 


" Jika aku mati, jangan kubur aku di sini, taburkan saja abuku di lautan, agar aku bisa bersama ayahmu," kata Nyonya Renata melihat kedua pusara itu.


 


 


" Baik Ibu," kata Wayren yang berdiri di belakang ibunya.


 


 


Setelah melakukan itu, mereka kembali berkumpul, Nyonya Renata kembali menata makanan di sana, sekarang setiap tahun ini adalah agenda wajib mereka, kemana pun mereka pergi, sesibuk apapun, mereka akan berkumpul 3 hari di sana bersama.


 


 


Andra sedang mengendong anaknya, tubuhnya gendut dan montok, gelang kaki di kakinya bergemerincing, matanya bulat dan coklat, bulu matanya sangat lentik, rambutnya yang tebal menambah lucu, pipinya bagaikan bakpao, bibirnya merah dan kecil, kulitnya seputih salju, anak perempuan ini sangat mengemaskan, benar-benar perpaduan sempurna dari Andra dan Ayatha.


 


 


Andra sedikit berjongkok, membiarkan anaknya untuk merasakan rumput pertama kalinya, dia baru saja bisa belajar berdiri, merasakan geli di kakinya dia mengangkat kakinya hingga seperti seseorang ingin split, membuat semua orang yang melihatnya tertawa, Raphael membuat wajah lucunya, membuat adiknya tertawa.


 


 


" Meadow? Padang rumput, Benarkan? Kenapa memberi nama anakmu dengan padang rumput, " kata Risa menatap Ayatha.


 


 


" Iya, karena padang rumput ini punya banyak kenangan, selain itu padang rumput sangat indah bukan? Tempat yang tenang, selain itu padang rumput juga tempat yang bagus di segala musim, saat kemarau semuanya menguning dengan indah, saat musim dingin mereka akan menjadi selimut salju putih dan bersih, namun saat semi mereka akan kembali menghijau, " kata Ayatha.


 


 

__ADS_1


" Wah, aku tidak tahu ternyata alasannya begitu dalam, " kata Risa.


 


 


" Iya, " kata Ayatha tersenyum.


 


 


Andra membawa Meadow kearahnya, wajahnya yang sangat imut itu memerah, karena terkena sinar matahari, dia langsung mengarahkan tangannya ke arah ibunya, Ayatha lansung mengendongnya.


 


 


Nyonya Renata menatap pandang rumput yang luas itu..pandangannya kosong dan nanar.


 


 


" Sedang berpikir apa bu?, " kata Wayren.


 


 


 


 


" Bagaimana dirinya?"


 


 


" Tampan, sangat baik, punya senyuman yang ramah, wajahnya mirip denganmu, " kata Nyonya Ranata.


 


 


" Berarti dia mirip Andra juga dong?," Kata Wayren.


 


 


" Ya, walaupun berbeda ayah kalian masih satu darah, " kata Nyonya Renata tersenyum menatap Andra.

__ADS_1


 


 


" Nenek, jangan bersedih, aku akan bersama nenek seterusnya, menjaga nenek," kata Raphael yang seperti mengerti perasaan neneknya.


 


 


" Haha... iya, nenek yakin Raphael akan menjaga nenek," kata Nyonya Renata.


 


 


Andra memeluk bahu istrinya, Meadow sudah terlelap di pelukan ibunya, tampak sangat nyaman.


 


 


Wayren mengangang tangan Risa dengan erat, Risa tersenyum, Nathan juga ada di genggamannya.


 


 


Sore itu, senja temaram…warna jingga bercampur dengan biru membuat indah suasana, Matahari hampir tergelincir masuk ke pelukan bumi, semilir angin menerbangkan tangkai-tangkai daun willow yang dengan indah menari-nari. Disana mereka berdiri, begitu banyak hal yang di lewati menjadi kenangan yang indah, rasanya sepadan untuk mendapatkan kehidupan yang ada sekarang. Sebuah hari yang indah untuk mengakhiri segala masalah.


 


 


Padang rumput itu menjadi saksi begitu banyak cerita, sebuah cerita cinta yang dimulai di sana dan berakhir di sana pula terbaring tak akan terpisahkan lagi, sebuah cerita tentang kekasih yang menanti hingga di pertemukan lagi, sebuah cerita tentang hancurnya hati berkeping-keping namun bahagia di akhirnya… mungkin tak semua cerita berawal di sini, namun tidak penting di mana awalnya, yang paling penting dimana semua cerita ini berakhir.


 


" Seperti rerumputan di padang rumput, mereka menari meliuk-liuk terbuai oleh angin sepoi, namun tetap berdiri setelah badai datang, begitu juga hidup dan cinta, karena hidup dan cinta bukan sekedar kenyamaan dan kebahagian, beribu masalah akan menerpa, namun kita tetap harus berdiri bersama untuk menghadapinya"


 


 


THE END


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2