Meadow

Meadow
Hati yang sakit


__ADS_3

Ayatha baru saja selesai tugasnya, kepalanya sedikit sakit, dia tidak tahu ntah karna


hujan, atau karna terlalu memikirkan Andra. Dia bingung harus bagaimana?


Haruskah dia meminta maaf lagi? Tapi dia tau kali ini Andra benar-benar marah... Lalu dia harus bagaimana? Kepalanya terasa tambah berat.


" Ayatha! Kau harus cepat melihat keadaan Tuan Muda Andra, " kata Bibi Moi tiba-tiba


masuk kedalam dapur


" Eh, Iya Bibi,  Kenapa Tuan Muda Andra?"


" Dia pasti sakit, sejak kecil Tuan Muda pasti sakit jika terkena hujan, cepat lihat


keadaannya," kata Bibi Moi cemas


" Iya Bi, " kata Ayatha mengikuti permintaan Bibi


Ayatha berdiri di depan pintu kamar Andra, seperti biasa, dia tak tahu harus


bagaimana, dengan keberanian yang di kumpulkannya akhirnya Ayatha mengetuk


pintu kamar Andra.


Beberapa kali Ayatha mengetuk kamar Andra, namun tidak ada balasan, kenapa dengan Tuan Muda? Pikir Ayatha, dia memberanikan diri membuka pintu kamar Andra, dan benar saja kamar Andra tak terkunci.


Ayatha pelan-pelan melihat dalam kamar Andra, remang-remang,  Membuat Ayatha hampir tidak bisa melihat apa-apa,


" Permisi Tuan, " kata Ayatha


Senyap, tidak ada balasan atau sahutan dari dalam kamar, Ayatha memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Andra. Perlahan-lahan dia masuk sambil memperhatikan sekeliling,


mana tau tiba-tiba Andra ada di sana.


Ayatha terdiam, dia memperhatikan Andra yang sedang tertidur, tertutupi selimut


tebalnya.


" Tuan Muda, Anda tidak apa-apa? " kata Ayatha pelan menegur Andra yang tertidur


" Aku tidak apa-apa, pergilah, " kata Andra semakin menarik selimutnya.


Ayatha melihatnya dengan penasaran. Apakah sekarang Andra sedang marah hingga


menyuruhnya keluar, atau dia sedang sakit?


" Tuan? " Tanya Ayatha lagi kebingungan harus melakukan apa


Andra tidak menjawab apa-apa, tiba-tiba pintu kamar Andra terbuka, ternyata Wayren yang


memasuki kamar Andra.


" Ada apa? " tanya Wayren pada Ayatha


" Tuan Muda sepertinya tidak enak badan " kata Ayatha kebingungan pada Wayren


" Benar kah? " Kata Wayren yang sedikit kaget... Mendekati Andra dan segera


mengecek suhu tubuh Andra yang terlihat tertidur.


" Bagaimana? " Tanya Ayatha cemas karena Wayren juga terlihat cemas.


" Suruh Bibi Moi memanggil dokter keluarga, " kata Wayren


" Baik Tuan, " kata Ayatha bergegas keluar dari kamar Andra menemui Bibi Moi yang juga


kelihatan cemas di dapur.


" Bagaimana keadaan Tuan Muda pertama? " kata Bibi Moi begitu melihat Ayatha


" Tuan Muda Wayren menyuruh Bibi untuk menelepon dokter keluarga, " kata Ayatha pelan


" Ya,Tuhan, benarkan Tuan Muda pertama jadi sakit, kalau Nyonya Renata tahu, dia pasti


sangat cemas, aku akan menelepon dokter keluarga dulu, kau kembalilah ke kamar Tuan


Muda, mana tau dia butuh sesuatu darimu, " kata Bibi Moi bertambah cemas


Ayatha tak menjawab, dia hanya berjalan perlahan, lemas menuju kamar Andra, dia merasa sangat bersalah karena sudah membuat Andra sakit, kalau saja dia secepatnya pulang dan tidak menunggu Andra, Andra tidak akan sakit seperti ini.


" Hey... " Kata Wayren tiba-tiba ada di depan Ayatha, Ayatha tentu saja kaget,

__ADS_1


kenapa Wayren selalu muncul tiba-tiba atau apa karena dia yang tidak memperhatikannya.


" Kau seharusnya tidak boleh berjalan sambil melamun seperti itu, bagaimana jika kau


berjalan seperti itu di luar, " kata Wayren mencoba mengganggu Ayatha,


namun seperti Ayatha sedang tidak bisa di ganggu, Ayatha hanya menatap Wayren


datar, bukan karena apa, Ayatha hanya bingung, merasa bersalah, dan tak tahu


harus bagaimana.


" Bagaimana keadaan Tuan Muda?" Kata Ayatha datar pada Wayren membuat Wayren


mengurungkan niatnya untuk menggoda Ayatha, melihat wajah pucat Ayatha yang


kelihatan cemas dan kebingungan.


" Dia tidak apa-apa, dia selalu begitu jika terkena hujan, " kata Wayren serius


" Oh " kata Ayatha pelan sambil meninggalkan Wayren


" Kau mau ke mana?" Kata Wayren yang bingung melihat sikap Ayatha


" Ke kamar Tuan Muda, " kata Ayatha berhenti sejenak, memberi salam lalu


meninggalkan Wayren


Wayren hanya terdiam, wajah seriusnya terus memperhatikan Ayatha hingga hilang di pojok


lorong.


" Jika aku yang sakit, apa kau juga akan secemas itu? " Kata Wayren pelan sambil


tetap melihat kearah Ayatha pergi, sorot matanya menyiratkan kesedihan, lalu


dia senyum kecut, lalu pergi kearah sebaliknya.


Dokter pribadi keluarga sedang memeriksa Andra, Ayatha dan Bibi Moi hanya bisa melihat dari sisi ranjang yang lain, Ayatha melihat wajah pucat Andra...dia benar-benar


cemas melihat keadaan Andra yang sangat lemah, apa yang sudah dilakukannya, itu


saja yang tergiang di pikirannya.


" Benar kah?" Kata Bibi Moi memastikan


" Iya, Tuan hanya tidak tahan terkena air hujan, ini obatnya, dia akan lebih baik besok,


" kata dokter itu pada Bibi Moi, Bibi Moi yang sepertinya menahan napasnya


langsung menghembuskan nafas leganya.


" Baguslah jika begitu, " kata Bibi Moi


" Kalau begitu saya pulang dulu, " kata dokter itu


" Mari saya antar, " kata Bibi Moi belum keluar mengikuti dokter itu, meninggalkan Ayatha sendiri dikamar itu, Ayatha segera mengambil mangkuk,air hangat dan handuk yang di sediakan oleh Bibi Moi untuk mengompres Andra dan meletakkannya di dahi Andra.


Ini pertama kalinya Ayatha dapat menatap wajah Andra begitu dekat dan begitu lama, wajahnya pucat... Namun tidak bisa menutupi ketampananya, tiba-tiba detak jantung Ayatha


kembali tak menentu, membuatnya merasa susah untuk bernapas lalu dia langsung


memalingkan wajahnya ketempat yang lain, mencoba mengatur napasnya... Ada apa


denganku, pikirnya.


Ayatha bergantian menjaga Andra dengan Bibi Moi... Saat Ayatha membuat bubur untuk Andra, Bibi Moi yang menjaga Andra. Ayatha meletakkan bubur yang telah dibuatnya untuk


Andra ke dalam mangkuk, saat itu dia baru menyadari kenapa suasana rumah itu


terasa sepi, benar... Biasanya selalu ada Wayren yang membuat ramai rumah ini,


paling tidak Wayren selalu ada untuk sekedar menggangu atau menjahili Ayatha,


kemana dia sekarang? Pikir Ayatha yang melihat kesekeliling ruangan saat dia


ingin mengantarkan bubur untuk Andra.


Apa mungkin Wayren sedang tidak mau menggangu karena Ayatha dan Bibi Moi sedang sibuk menjaga kakaknya?? Tapi seperti Wayren bukan orang yang seperti itu, pikir Ayatha lagi, namun dia mencoba untuk tidak ambil pusing dan segera menuju ke kamar Andra, takut buburnya menjadi dingin.


" Bagaimana keadaan Tuan Muda Bi? " tanya Ayatha pada Bibi Moi

__ADS_1


" Sudah sedikit membaik, " kata Bibi Moi meletakkan handuk kompres di tempatnya.


" Oh " kata Ayatha menghembuskan napas sedikit lega


" Tolong kau urus makanan Tuan Muda yah, Bibi harus mengurus makanan Tuan Muda Wayren, " kata Bibi Moi berdiri mendekat Ayatha dan segera meninggalkan Ayatha.


Ayatha hanya melihat Bibi Moi pergi, bagaimana caranya dia memberikan makan pada Andra, Andra masih saja terbaring lemah, matanya tetap tertutup, wajahnya masih saja pucat.


" Tuan Muda, makanan Anda sudah siap, " kata Ayatha mencoba membangunkan Andra namun Andra tidak bergeming sama skali, dia masih saja tertidur, terlihat lelap sekali


hingga Ayatha mengurungkan niatnya untuk membangunkan Andra lagi.


Ayatha meletakkan bubur untuk Andra di meja dekat tempat tidur Andra. Ayatha


meletakknya pelan-pelan agar Andra tidak mendengarnya.


Namun, Andra sepertinya tetap terusik dengan suara Ayatha meletakkan bubur itu.


" Yosa " kata Andra pelan dan lirih


Ayatha menatapnya, dia benar-benar mencintai gadis itu, bahkan dalam mimpinya saat ini yang ada hanya yosa, dia sangat merindukannya dan penyesalan yang


menghantuinya, jika saja dia tidak meninggalkannya saat itu, mungkin dia bisa


bersamanya disaat terakhirnya, atau bahkan dia masih akan tetap bersamanya


karna dia akan menjaganya.


Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Andra yang tertidur, Ayatha hanya bisa memandanginya, dia benar-benar menderita, kata hati Ayatha saat melihat wajah dan air mata yang mengalir. Kau benar benar mencintainya, Apa yang harus ku lakukan untuk membantu mu? Ayatha bertanya dalam hati.


Ayatha mengambil handuk lagi untuk mengompres dahi Andra, dia meletakkan handuk itu perlahan, Ayatha memutuskan untuk membiarkan Andra beristirahat sendiri,


mungkin hanya itu yang dia lakukan.


Ayatha memperbaiki lagi letak handuk yang ada di dahi Andra, lalu bergegas ingin pergi


saat tangan Andra menariknya. Ayatha kenget melihat apa yang tejadi


" Jangan pergi, Yosa " kata Andra namun dengan mata masih tertutup.


Ayatha hanya terdiam memandangnya, dia hanya memandang Andra, hatinya merasa kasihan melihat keadaan Andra. Dia tidak tahu apakah harus melepaskan tangan Andra, atau membiarkannya tetap memeganginya.


Ayatha memegang tangan Andra, melepaskannya perlahan... Ayatha kembali melihat Andra yang tetap tertidur, dia tersenyum sedikit lalu pergi keluar dari kamar Andra.


Dia berdiri di tempat biasa dia menunggu Andra, bersender di tembok... Hangat pergelangan tanggannya yang di pegang oleh Andra masih terasa, dia memenaginya lagi. Namun dia kembali teringat air mata yang mengalir di sisi mata Andra, wajahnya yang


sedih... Setiap hari harus menahan setiap perasaan, hingga terbawa mimpi, Ayatha


tau itu sangat menyiksa, bahkan untuk seorang Andra yang terlihat sangat kuat,


namun ternyata mereka sama dan bukah hanya dia, Andra pun sangat menderita.


Ayatha melepaskan tangannya, perasaannya sakit...ntah kenapa? Hanya terasa sangat sakit...


Hari ini bukan saja Andra atau Ayatha yang merasakan sakit, Wayren pun merasakan hal yang sama, dia hanya bisa terdiam dikamarnya, duduk membisu memandang keluar jendela. Matanya tampak kosong, wajahnya yang bisanya selalu tersenyum tampak begitu datar, hatinya sakit melihat pandangan cemas Ayatha pada Andra, dari


situ dia tahu bahwa Ayatha benar-benar menyukai Andra, dan itu terasa


menyiksanya, bagaimana bisa Ayatha menyukai kakaknya? Bagaimana bisa Ayatha tak mengetahui perasaannya? Bagaimana dia bisa mendapatkan cinta Ayatha?


Pintu kamar diketuk seseorang, membuat buyar semua lamunan Wayren.


" Silahkan masuk, " kata Wayren datar


" Permisi Tuan Muda, makanan Anda sudah siap, apakah Anda ingin makan di ruang makan atau di sini? " tanya Bibi Moi pada Wayren


" Bawa ke sini. " kata Wayren yang sedikit kecewa karena mengira yang datang adalah Ayatha.


" Baik Tuan " kata Bibi Moi ingin segera pergi


" Tunggu, " kata Wayren


" Iya Tuan "


" Di mana Ayatha?"


" Ayatha sedang menjaga Tuan Muda Andra "


" Oh, pergilah. " kata Wayren kembali menatap jendela, rasa kecewanya bertambah,


walaupun hatinya merasa cemburu namun dia sekuat tenaga menahan dirinya untuk

__ADS_1


menemui Ayatha disana.


__ADS_2