
Pagi itu Ayatha sudah selesai mengemasi barang-barangnya, mobil yang di kirim Maxi untuk menjemputnya juga sudah menunggu di luar.
Setelah berpamitan dengan para pelayan dan Bibi Moi, Ayatha berjalan ke arah kamar Wayren, dia masih ragu apakah dia harus berpamitan dengan Andra atau tidak.
Dengan ragu dia mengetuk pintu kamar Wayren, Ayatha tahu, Wayren belum pergi sekolah jam segini, jadi dia pasti ada dikamarnya.
" Siapa?" kata Wayren dari dalam
" Saya, Ayatha Tuan, " kata Ayatha
" Jangan masuk, aku... baru selasai mandi, belum berpakaian apapun, " kata Wayren. Dia sebenarnya sudah memakai saragamnya lengkap, hanya saja dia tidak ingin bertemu Ayatha, dia tidak akan bisa menahan emosinya jika melihatnya.
Dia hanya berdiri di balik pintunya dengan wajah suram dan sedih.
" Baik, " kata Ayatha lemah
" Ada apa?" kata Wayren mencoba mengatur nada bicaranya
" Aku ingin mengucapkan terima kasih dan berpamitan, " kata Ayatha lemah
Wayren terdiam, hatinya benar-benar hancur, tanpa terasa air matanya mengalir, namun dia menangis dalam diam, di sandarkannya kepalanya di pintu, menahan tangis yang tidak bisa di bendungnya lagi.
" Baiklah, selamat tinggal, " kata Wayren dengan nada tenang, namun wajahnya meringis merasakan sakit di hatinya. Air matanya tidak bisa berhenti.
Ayatha terdiam, mendengarkan kata selamat tinggal dari Wayren entah kenapa dia meresa telah melakukan kesalahan.
Walaupun Wayren selalu menjalihinya, Wayren juga yang selama ini selalu ada, dia yang selalu membuat Ayatha tertawa, membuatnya melupakan sedikit masalah hidupnya.
__ADS_1
Wayren yang selalu keras kepala, namun juga yang mengajarkannya banyak hal. Air mata Ayatha jatuh. Namun dia juga menahan suaranya.
" Selamat tinggal Tuan, " kata Ayatha lirih.
Mendengar itu, Wayren tidak tahan lagi, dia membuka pintunya, di lihatnya Ayatha yang ada di depannya, mata Wayren merah dan basah. Dia tahu kalau Wayren juga menangis. Ayatha menghapus air matanya, lalu tersenyum lembut.
Wayren ingin memeluk Ayatha, seandainya ini tidak di rumah dan ibunya sedang tidak di sini, dia pasti akan melakukannya.
" Pergilah, " kata Wayren lirih
" Baik, aku akan pergi, " kata Ayatha tersenyum, lalu dia pergi, Wayren menutup pintu kamarnya segera, dia takut akan mengejar gadis itu jika dia memperhatikan dia sampai pergi.
Wayren terjatuh, bersandar di tembok. Hatinya terasa tercabik, ini kah akhirnya... cinta pertamanya kandas begitu saja.
Tempat dia biasa menunggu Andra, tempat dia biasa berdiri dengan semangat dengan harapan bisa melihat senyum Andra.
Rasanya dia benar-benar telah membuat keputusan yang salah kali ini.
Dengan tangan bergetar, Ayatha mengumpulan semua tenaganya untuk mengetuk pintu kamar Andra. Namun tidak ada yang merespon. Dia mengulanginya, tetap saja tidak ada.
" Tuan muda Andra sudah pergi pagi-pagi sekali, " kata Bibi Moi yang memperhatikan Ayatha
" Oh, begitu, " kata Ayatha tersenyum
__ADS_1
" Baik-baiklah di sana, kunjungi kami sesekali, " kata Bibi Moi dengan wajah sedih
" Pasti, " kata Ayatha
Lalu dia keluar, setelah berpamitan dengan nyonya renata, Ayatha pun pergi dari sana.
________________________________________________________
Andra duduk di kantornya, beberapa kali dia mencoba berkonsentrasi dengan kerjaanya, namun tetap gagal, dia frustasi.
Dia sengaja datang pagi ke kantornya, karna dia tahu Ayatha akan pergi hari ini, dia tidak ingin menemui Ayatha, karna dia belum bisa mengontrol perasaannya sekarang.
Dia mengenggamnya keras pen yang ada di tangannya. Nyeri sekali, rasanya sakit sekali, untuk bernapas saja tidak bisa, pikir Andra.
Kenapa dia seperti ini, padahal dulu saat dia memutuskan meninggalkan Yosa, Andra tidak sampai seperti ini, tapi kenapa ini terasa sangat sakit.
Dia masih tidak habis pikir… kenapa Ayatha tiba-tiba menikah dengan Maxi, apa salahnya?, namun dia tidak mendapat jawaban apapun... dia hanya bisa terduduk.. merasakan gelisah di seluruh tubuhnya.
Tidak, dia belum siap untuk berpisah dengan Ayatha, cerita cintanya belum di mulai namun sudah harus kandas begitu saja, dia harus berbicara lagi dengan Ayatha.
Dia menelepon rumahnya, yang mengengkat Bibi Moi.
" Halo, Bibi, di mana Ayatha, apakah dia masih di rumah?" kata Andra
" Ayatha sudah pergi Tuan, " kata Bibi Moi
Andra terdiam, dia mengigit bibirnya, inikah akhirnya...
__ADS_1