
" Ayatha, " panggil Bibi Moi yang buru-buru datang saat Ayatha sedang menyiapkan sarapan
untuk Andra.
" Kenapa Bibi? " Kata Ayatha penasaran
" Cepat ke depan, Nyonya Renata sudah pulang," kata Bibi Moi segera
meninggalkan Ayatha.
" Benarkah? " kata Ayatha segera mengikuti Bibi Moi
Ayatha berjalan keluar, saat di ruang tamu Ayatha berjumpa dengan Andra yang juga
sedang menuju keluar.
" Selamat pagi Tuan Muda," kata Ayatha memberi salam
" Pagi, bagimana keadaanmu?" kata Andra tersenyum
" Baik Tuan,"
" Baguslah, Ayo, ibu sudah datang,"
" Baik Tuan," kata Ayatha
Ayatha dan Andra bergegas berjalan kearah luar, saat mobil Nyonya Renata berhenti di depan pintu. Andra tersenyum sambil membuka pintu mobilnya.
Seperti biasanya Nyonya Renata dengan anggunnya keluar dari mobil, dia langsung tersenyum pada Andra.
" Bagaimana kabarmu selama Ibu pergi? Apa semua baik-baik saja," kata Nyonya Renata dengan sangat perhatian.
" Aku baik-baik saja Ibu, bagaimana dengan kabar Ibu?" Kata Andra menjulurkan tangannya kearah ibunya.
" Bagus lah, senang rasanya kembali ke rumah," kata Nyonya Renata menyambut tangan Andra. Menatap Bibi Moi yang tersenyum lalu memberi hormat, Nyonya Renata lalu melihat Ayatha, dia tersenyum, Ayatha membalas senyuman lalu memberi hormat.
" Ibu pasti capek sekali, " kata Andra
" Tidak, Ibu sudah biasa, di mana anak itu? Ibu tidak melihatnya, " kata Nyonya Renata melihat kesekeliling
" Ibu pasti kaget kalau tahu dia sekarang di mana?" Kata Andra sedikit tertawa
" Benarkah? di mana dia?" Kata Nyonya Renata mengerutkan dahi lalu menatap Bibi Moi
" Tuan Muda Wayren sedang ada di sekolah Nyonya," kata Bibi Moi yang mengerti bahwa Nyonya Renata meminta jawaban
" Benarkah? " Kata Nyonya Renata dengan wajah tidak percaya, dia lalu memandang Andra, Andra hanya tersenyum senang, Nyonya Renata juga tersenyum bahagia.
" Dia rajin sekolah akhir-akhir ini," kata Andra
" Itu benar-benar suatu kemajuan yang pesat," kata Nyonya Renata bahagia
" Iya," kata Andra
" Baiklah, Ibu ingin beristirahat sebentar, ibu senang semua baik-baik saja," kata Nyonya Renata
" Iya Ibu, aku akan mengantarkan Ibu"
Nyonya Renata tersenyum pada Andra, Nyonya Renata dan Andra segera berjalan masuk, lalu diikuti oleh Bibi Moi dan pelayan yang lain, termasuk Ayatha.
________________________________________________________
Risa sedang berjalan menuju lorong sekolah yang masih sepi, dia segera membuka lokernya yang baru untuk mengambil beberapa buku. Namun Risa langsung terkejut melihat begitu banyak kertas- kertas kecil memenuhi lokernya. Risa segara mengambil beberapa kertas sambil membacanya..JAUHI WAYREN!! JANGAN DEKATI DIA LAGI! Dan banyak lagi.
Risa meremas kertas itu, dasar, ternyata gara-gara cowok berengsek itu, pikir Risa. Risa sangat kesal, diambilnya semua kertas yang tadinya memenuhi lokernya, ditutupnya lokernya dengan keras lalu dia berjalan menuju elasnya.
Dia melihat ke arah kelas, Risa melihat Wayren yang sedang duduk sendiri sambil menggunakan headsetnya. Dia bergegas mendatangi Wayren. Saat di depan Wayren, dia segera melemparkan semua kertas yoang dia bawa ke meja Wayren. Wayren yang sedang asik mendengarkan lagu, langsung terkejut melihat kelakuan Risa.
" Kau kenapa ? " kata Wayren kanget dan bingung melihat tingkah laku Risa
" Bilang sama mereka, jangan menggangguku lagi, aku juga tidak akan pernah ingin mendekatimu," kata Risa emosi
Wayren menatap wajah Risa, dia lalu membaca salah satu kertas yang berserakan di mejanya, setelah membaca, dia melirik Risa yang masih menatapnya dengan sangat emosi.
" Ini bukan urusanku, ini urusanmu dengan mereka," kata Wayren tak perduli
" Kalau bukan gara-gara kemarin kau menarikku, dan mengangguku hal ini enggak bakalan terjadi " kata Risa kesal
" Bukannya kau yang mengangguku, makanya mulai sekarang jangan menggangu ku, kalau tidak hal ini akan terjadi lagi, " kata Wayren tersenyum sinis
" Cih.. siapa yang mau menganggumu?" kata Risa tambah kesal karena sikap Wayren
" Kalau begitu mulai sekarang kau harus menjauhi ku "
" Aku memang ingin memenjuhimu, bahkan aku tidak ingin sekelas dengan mu, aku akan minta pindah kelas," kata
Risa kesal
" Silahkan... Itu akan lebih bagus," kata Wayren tersenyum sinis
" Dasar, cowok brengsek," kata Risa sambil berjalan keluar
" Hey, kau harusnya membersihkan semua sampah ini," kata Wayren
" Kau urus sendiri, itu gara-gara kau," kata Risa tidak perduli
Wayren memasang wajah kesalnya, pagi-pagi dia sudah bertemu dengan cewek aneh seperti ini, dasar, Pikirnya.
Risa berjalan dengan kesal menuju ruang kepala sekolah, setelah mengetuk pintu, Risa segera masuk dan memberi hormat pada ibu kepala sekolah.
__ADS_1
" Selamat pagi Nona Risa, silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu, " kata Ibu kepala sekolah
" Bolehkah aku pindah kelas," kata Risa langsung to do point.
" E? Maksud anda? " kata Ibu kepala sekolah terkejut mendegar perkataan Risa
" Aku ingin pindah kelas, bisa kah? "
" Memangnya ada apa dengan kelas anda sekarang?"
" Tidak ada, aku hanya tidak bisa belajar dengan baik," kata Risa
" Oh, sebentar, " kata Ibu kepala sekolah mengambil beberapa berkas di mejanya, di lalu melihat berkas tersebut.
" Bagaimana?" Tanya Risa penasaran
" Saya mohom maaf sebelumnya Nona Risa, anda sepertinya tidak boleh pindah kelas, karena di sini
tertulis permintaan orang tua anda untuk memberikan kelas terbaik untuk anda, jika anda ingin benar-benar pindah kelas, anda harus menyerahkan surat persetujuan dari orang tua Anda," kata ibu kepala sekolah menyerahkan berkas yang memang tertulis seperti itu.
" Oh, baiklah," kata Risa kecewa
" Ada lagi yang bisa saya bantu? " Kata ibu kepala sekolah dengan sangat sopan
" Tidak, terima kasih," kata Risa, dia berdiri, memberi hormat, lalu pergi keluar.
Risa dengan lesu berjalan kearah kelasnya, yah... Dia hanya ingin bisa tenang bersekolah, tapi kalau seperti ini. Tentu dia tidak akan pernah bisa tenag lagi. Semua gara-gara cowok berengsek itu.
" Kenapa kau kembali ke sini? " kata Wayren yang sedang berdiri di depan pintu kelas, Risa meliriknya dengan
sinis.
" Minggirlah aku ingin masuk, " kata Risa tak ingin meladeni cowok yang menyebalkan ini
" Bukannya seharusnya kau pindah sekarang? " Kata Wayren lagi
" Kalau aku bisa pindah, aku pasti pindah sekarang, atau kau urus saja kepindahan ku,bukannya kau yang punya sekolah ini, " kata Risa kesal
" Kalau aku bisa mengatur sekolah ini, kau bukan hanya pindah kelas, aku pasti sudah mengeluarkan mu," kata Wayren kesal
" Ya sudah, keluarkan saja aku," kata Risa lagi
" Kau yah, benar-benar menyebalkan," kata Wayren
" Pergi dari pintu ini, aku mau masuk," kata Risa tambah kesal
Namun Wayren tidak bergeming, dia terdiam didepan pintu karena kesal melihat Risa.
" Sudah ku bilang, minggir, " kata Risa sambil menendang kaki Wayren.
Wayren meringis kesakitan,dia memandang wajah Risa dengan kesal sambil memegang kakinya yang di tendang Risa. Risa tidak perduli.
" Kau, dasar cewek aneh, beraninya kau," kata Wayren kesakitan
" Rasakan!" kata Risa lalu berlalu begitu saja, sementara Wayren langsung memegang kakinya yang di tendang Risa, dasar, benar-benar cewek aneh. Pikirnya.
Risa berjalan dengan kesalnya ke arah tempat duduknya, Wayren terus menatap Risa dengan sinis, namun Risa tidak perduli.
__________________________________________________________
Ayatha berdiri di depan kamar Nyonya Renata, karena dari tadi Andra berada di dalam kamar ibunya, sesekali Ayatha mengusap matanya, dia hampir tertidur saat tiba-tiba Andra keluar dari kamar Nyonya Renata.
" Selamat siang Tuan," kata Ayatha kaget ketika melihat Andra
" Siang, kau menunggu dari tadi di sini?" Kata Andra melihat Ayatha yang tampak mengantuk
" Iya Tuan," kata Ayatha sambil tersenyum
" Kalau kau ingin istirahat, istirahat saja, aku sedang tidak butuh apa-apa," kata Andra tersenyum
" Baik Tuan," kata Ayatha
" Kalian sedang apa? "Tanya Wayren yang baru pulang dari sekolahnya
" Kau sudah pulang? " tanya Andra yang sedikit terkejut melihat Wayren yang sudah ada di rumah saat ini
" Ya, pelajar sudah selesai, aku bolos kegiatan ekstra ku, kakiku sedang sakit," kata Wayren mengusap kakinya yang di tendang oleh Risa
" Oh, Ibu sudah pulang? dia mencarimu," kata Andra
" Benarkah? Tumben dia mencariku, biasanya tidak," kata Wayren acuh saja
" Kau harus menemuinya," kata Andra
" Iya, nanti, Ayatha, bisakah kau mengambilkan aku es batu, kakiku benar-benar sakit," kata Wayren dengan wajah
memelas dan suara manja pada Ayatha
" Eh, baik Tuan," kata Ayatha segera bergegas mengambilkan es.
Wayren duduk di ruang baca kamarnya, dia melipat celana sekolahnya, tampak kakinya kebiruan memar. Risa benar-benar menendangnya dengan kuat, cewek aneh itu benar-benar sadis, pikir Wayren.
Ayatha segera memberikan es yang sudah di bawanya tadi, dia membungkus es itu dengan handuk, Ayatha sedikit terkejut melihat kedua kaki Wayren yang bisanya putih mulus itu tampak memar.
Sama dengan Ayatha, Andra yang awalnya menyangka adiknya hanya terlalu melebihkan, jadi sedikit
terkejut melihat memar di kaki Wayren.
Wayren tidak pernah sampai separah ini, pikir Andra. Andra berjalan, lalu berjongkok di depan kedua kaki Wayren yang memar, dia memandanginya dengan serius.
__ADS_1
" Bagaimana ini bisa terjadi?" Kata Andra penasaran
" Ini semua gara-gara anak baru aneh itu," kata Wayren dengan kesal
" Kau menjahilinya? " Kata Andra sambil menekan memar yang ada di kaki adiknya
" Auuuuu!!! Ini sakit tau! " kata Wayren menahan sakit, sebagai Tuan Muda Tadder, Wayren belum pernah mengalami hal seperti ini, dari kecil dia selalu dijaga, terakhir kali dia merasakan seperti ini saat jatuh di sekolahnya, dan hal itu membuat heboh satu rumah.
" Aku hanya memastikan itu benar memar atau tidak, ternyata benar memar," kata Andra sambil tersenyum jahil pada adiknya.
" Kau ini yah... Ish... Aku sangat membenci wanita itu," kata Wayren sambil menahan emosinya
" Seorang wanita? Baru kali ini kau dapat masalah oleh wanita, biasanya kau yang selalu buat masalah dengan wanita, " kata Andra
" Kau di sini mau membantuku atau hanya mengejekku, " kata Wayren kesal
" Baikalah, aku akan membantumu, semangat Kakak Wayren! " kata Andra sambil tertawa senang melihat reaksi adiknya, Wayren hanya menatap Andra kesal, namun dia tidak ingin membalasnya
" Permisi Tuan" kata Ayatha sambil pelan-pelan mengopres kaki Wayren,
" Auww, Pelan-pelan," kata Wayren menahan sakit dan dingin yang tiba-tiba
" Maaf Tuan," kata Ayatha denga hati-hati mengompres kaki Wayren
Wayren menatap Ayatha, dia melihat tanpa bisa berkedip, memperhatikan Ayatha yang sedang sibuk mengompres kaki Wayren dengan sangat hati-hati, Wayren tersenyum, dia tidak lagi merasakan sakit di kakinya, dia hanya merasa senang melihat Ayatha yang dengan penuh perhatian dan perasaan mengompres kakinya.
Andra yang berdiri memperhatikan apa yang terjadi, bagaimana wajah Wayren yang tampak begitu senang dan penuh keasih sayang menatap Ayatha, bagaimana Ayatha yang dengan hati-hati mengompres kaki Wayren, entah kenapa dia merasa ada perasaan yang aneh timbul dihatinya, entah kenapa dia merasa tidak suka berada disana
saat ini.
" Aku pergi dulu," kata Andra bingung ingin mengatakan apa
" Baiklah, nanti aku akan menemui Ibu," kata Wayren tanpa menatap kakaknya, dia hanya memperhatikan Ayatha.
Andra berjalan keluar kamar adiknya, di tutupnya pintu perlahan, namun sebenarnya ada perasaan tidak ingin meninggalkan kamar itu, namun dia juga tak ingin berlama-lama disana.
Andra berjalan menuju keruang tengah, namun saat melewati ruang kerja ayahnya, Andra sedikit penasaran, kenapa ruang kerja ayahnya terbuka, biasanya kamar kerja ayahnya tidak pernah terbuka, dia melihat kedalam, dia melihat ibunya sedang duduk di sofa besar di ruang kerja ayahnya, Andra tersenyum lalu mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
Nyonya Renata sedang duduk melihat sesuatu, dia terpaku,namun wajahnya tampak tidak bahagia, tiba-tiba lamunannya pecah saat mendengar seseorang mengetuk pintu, dilihatnya Andra sedang berdiri di depan pintu dengan senyumnya, Nyonya Renata segera tersenyum, menyuruh anaknya masuk.
" Sedang apa Ibu di sini? Ibu merindukan Ayah?" Kata Andra saat memasuki ruang kerja ayahnya, namun dia tidak duduk, Andra hanya berdiri di belakang ibunya.
" Tidak, Ibu hanya ingin di sini, sudah sangat lama ternyata, sekarang kau sudah besar, " kata Nyonya Renata dengan sangat lembut menatap Andra
" Yah... Aku juga sudah lama tidak melihatnya, bahkan wajahnya aku sudah lupa, ternyata dia seperti itu, " kata
Andra memperhatikan foto seseorang wanita yang tergantung besar di hadapannya, Andra memeluk ibunya dari belakang, Nyonya Renata juga menatap foto itu dengan senyum kecut.
" Kau semakin mirip dengannya," kata Nyonya Renata
" Benar kah? Aku berharap aku tidak mirip dengannya, " kata Andra tersenyum
" Kenapa? " kata Nyonya Renata mengerutkan dahinya
" Aku hanya tidak ingin seperti dia " kata Andra terdiam sambil tetap menatapnya, lalu melepaskan pelukkannya ibunya.
" Jadi... Kau ingin seperti ayahmu? " kata Nyonya Renata melihat Andra sambil memegang tangan anaknya dengan lembut.
" Apa yang bisa aku lakukan Bu? Selain menjadi Ayah " kata Andra
" Ibu tidak bisa berkata apapun soal ini... Bagaimana pun kau tetap anak tertua keluarga ini," kata Nyonya Renata
" Seharusnya bukan aku Ibu, kau tahu aku siapa, ini semua bukan milikku, lagi pula di mata ayah aku tidak pernah menjadi pewarisnya yang sempurna, " kata Andra
" So sekarang kau akan bilang ke Ibu kalo ini semua adalah tanggung jawabku," kata Wayren tiba-tiba sudah bersandar di pintu
" Wayren? sejak kapan kau di situ? " kata Ibunya menatap Wayren
" Sejak tadi, apa kabar Bu?" kata Wayren memasuki ruang kerja ayahnya sambil tersenyum pada Nyonya Renata
" Baik, kau sudah pulang sekolah?" Kata Nyonya Renata
" Iya Bu," kata Wayren
" Kenapa tiba-tiba kau jadi sangat rajin bersekolah? " Kata Nyonya Renata penasaran
" Tidak ada, aku hanya sedikit berubah pikiran," kata Wayren seperti biasa
" Bagus lah, ibu sangat senang kau berubah "
" Tapi aku berubah bukan karena ingin jadi pewaris keluarga ini," kata Wayren
" Kau ini, tetap saja seperti ini, keras kepala, " kata Nyonya Renata geleng-geleng kepala
" Yah, mungkin itu salah satu tanda aku seorang Tadder " kata Wayren acuh
" Sudah Ibu, adik kecil masih belum berubah," kata Andra tersenyum
" Ingat kita satu umur," kata Wayren kesal jika di panggil adik kecil
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, mereka bertiga langsung melihat Bibi Moi yang mengetuk pintu ruang kerja.
" Iya Bibi Moi, ada apa? " kata Andra
" Maaf Nyonya, Tuan Muda pertama dan Tuan Muda kedua, saya ingin memberitahukan bahwa Tuan
dan Nyonya Besar sudah pulang " kata Bibi Moi memberikan salam.
Senyuman Andra segera pudar, Nyonya Renata dan Wayren saling bertatap muka, Wayren seperti heran kenapa ayahnya pulang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. Nyonya Renata hanya diam, menatap Andra yang tampak tegang, Nyonya Renata tersenyum lembut, Andra membalas. Nyonya Renata berjalan keluar duluan,
__ADS_1
" Kenapa mendadak semua orang pulang hari ini?" Kata Wayren heran
" Enah lah, " kata Andra lemah, dia mulai berjalan meninggalkan Wayren, Wayren mengikuti di belakangnya.