
Ayatha berjalan perlahan dibantu dengan gandengan tangan Wayren, Ayatha hanya terdiam, menunduk karena beberapa kali saat Wayren berpapasan dengan orang- orang yang menyapanya.
Wayren terus tersenyum melihat Ayatha, bukan... Ini bukan senyuman karena dia melihat ayatha gugup karena perbuatannya, tapi karena dia sekarang sedang mengandengang Ayatha, ntah kenapa tapi itu sangat membuatnya senang.
Alunan biola menyambut mereka saat mereka memasuki ruangan pesta, semua orang terdiam karena alunan biola itu, begitu juga Ayatha yang mendengar suara alunan biola yang terasa sangat menyayat hati. Namun itu hanya disimpannya dalam hati, Wayren tetap membawa Ayatha berjalan menuju kedepan, menuju kearah Ibunya.
Pada setiap langkah Ayatha semakin gugup, dia tanpa sadar meremas lengan Wayren dengan keras.
" Angkat lah dagumu, lihat saja kedepan, seperti yang pernah aku bilang, anggap saja kau punya 1 triliun di tabungan mu, dan semua orang di sini akan ramah padamu, " bisik Wayren yang tahu bahwa sekarang Ayatha sangat gugup, dan dia berusaha menenangkannya.
Ayatha melihat kearah Wayren, Wayren tersenyum manis menenangkan, Ayatha berusaha mengangkat dagunya, melihat kesekitar. Dan Akhirnya mereka berhenti, Ayatha tertegun melihat siapa yang ada di depannya.
Dia melihat Andra sedang memainkan biola di depannya, dengan penuh penghayatan, Ayatha terus tertegun, tanpa bisa berkedip melihat Andra. Ayatha bisa merasakan kesedihan yang dalam dari permainan Andra, dia juga ingat... Ini lagu kesukaan Yosa.
Sesaat terasa hanya mereka berdua disana, Andra dan Ayatha, karena hanya Ayatha yang tahu apa yang ada dibalik lagu dan permainan biola Andra yang sangat menyayat hati, Ayatha juga merasakan kesedihan yang sama, Air matanya hampir berlinang saat dia melihat Andra selesai memainkan biolanya.
Andra menyudahi permainannya di tariknya panjang bownya. Matanya masih tertutup merasakan getaran hatinya yang makin lama makin menghilang bersama hilangnya suara biolanya, perlahan dia membuka matanya, samar dia melihat seseorang di depannya, Ayatha.... Sesaat mereka mereka hanya melihat saja.
' kakak, jika kau memainkan lagu ini, aku akan datang, dan aku akan berdiri paling depan, sehingga orang yang pertama kali yang kau lihat pasti aku, aku pasti datang, aku berjanji'
terngiang lagi kata- kata Yosa dipikiran Andra, ini juga alasan kenapa dia memainkan lagu ini, dia sangat berharap walaupun tidak mungkin, dia sangat berharap bisa melihatnya, walaupun itu hanya manipulasi pikirannya saja, tapi... Kenapa Ayatha?.
Tepuk tangan seluruh orang diruangan itu mengembalikan Andra dan Ayatha ke tempat itu, Andra segera menurunkan biolanya dan mengalihkan pandangannya ketempat lain. Ayatha juga segera mengalihkan pandangannya.
" Hey, kau tidak apa-apa? " kata Wayren.
" Owh, tidak apa-apa, Tuan " kata Ayatha.
" Eitsss... Wayren.. Hanya Wayren malam ini, " kata Wayren tersenyum.
" Owh.. Iya, wayren, " kata Ayatha sungkan, sekilas dia melihat Andra lagi yang sedang berbicara dengan Maxi di depan, juga bersama Hanna.
" Nah, itu ibu, mari ke sana, " kata Wayren segera mengajak Ayatha ke arah ibunya.
" Wayren, Ayatha... Wah, ternyata ini yang membuat mu lama? " kata Nyonya Renata yang melihat perubahan Ayatha. Nyonya Renata tersenyum lembut, ternyata Ayatha sangat manis.
" Nyonya, " kata Ayatha memberi salam.
" Tentu saja, akhirnya aku punya orang yang tidak akan membuat pesta ini membosan kan, " kata Wayren tersenyum.
" Dasar anak bodoh, ibu sudah berpikir kau akan membuat Ayatha kesusahan malam ini, " kata Nyonya Renata.
" Tidak akan, urusan tentang siapa dia jika di tanya oleh orang-orang kaya ini, aku serahkan pada ibu, " kata Wayren cuek saja.
" Kau memang selalu merepotkan, " kata Nyonya Renata yang sedikit kesal dengan kelakuan anak sulungnya ini
" Ibu, " sapa Andra yang baru saja selesai.
" Andra, permainan mu benar - benar memukau, " kata Nyonya Renata yang tampak bangga dengan Andra.
Andra hanya tersenyum, lalu segera melihat Ayatha, dia secepatnya memalingkan wajahnya kembali kepada ibunya, Ayatha tidak menyadarinya karena begitu mendengar suara Andra dia langsung menundukkan wajahnya, hanya Wayren yang memperhatikan gerak gerik kakaknya.
Pesta berjalan biasa saja, Andra berdampingan dengan Nyonya Renata sedangkan Wayren berpasangan dengan Ayatha, walaupun sangat gugup Wayren tetap berusaha membantu dan menutupi ke gugupan Ayatha.
" Ah... Akhirnya bisa juga keluar dari kerumunan orang-orang kaya itu, " kata Wayren melepaskan napas lega.
" Bukannya Anda juga kaya? " kata Ayatha mulai berani berbicara dengan Wayren, Wayren tertawa melihat Ayatha.
" Akhirnya kau mulai bisa bicara dengan ku, " kata Wayren lagi.
" Iya "
" Bagus lah, Lagi pula itu bukan kekayaan ku, itu punya ayah ku, nanti kalau saham ku sudah diserahkan, itu baru punya ku "
" owh..."
" Kau mau minum? aku mau minum "
" Baik, aku akan mengambilkannya, " kata Ayatha yang ingat bagaimana pun dia tetap seorang pelayan. Wayren segera melihat kearah sepatu Ayatha.
__ADS_1
" Sepertinya enggak deh, hari ini aku yang akan mengambilkan minum untukmu, " kata Wayren tersenyum.
Wayren segera meninggalkan Ayatha sendiri di balkon melihat kearah pantai sendirian sedangkan orang- orang berada di dalam ruangan. Ayatha melihat ke sekeliling, namun tiba-tiba dia di tabrak seseorang.
" Eh.. Maaf, " kata Ayatha segera melihat orang yang menabraknya.
" Maaf, " kata Maxi juga hampir bersamaan.
Maxi langsung melihat Ayatha
Ada raut muka terkejut saat Maxi melihat Ayatha, Ayatha segera mengerutkan dahi karena Maxi menatapnya seperti menatap sesuatu yang sangat mengejutkan.
" Kau....." kata Maxi tanpa melanjutkan namun sepertinya dia tetap tidak percaya apa yang dilihatnya.
Ayatha hanya memandang Maxi dengan wajah penasaran, siapa dia? sepertinya aku tidak pernah melihatnya, pikir Ayatha.
" Max " tiba- tiba Andra memanggil Maxi.
" Owh.. Andra " kata Maxi seperti salah tingkah.
" Sepertinya mereka menunggumu di dalam " kata Andra.
" Owh.. Iya, baik lah, " kata Max tetap memandang Ayatha bahkan hingga dia pergi.
Andra memandangi Ayatha yang juga kebinggungan kenapa pria itu terus memandanginya saja, dia segera melihat Andra yang berjalan ke sebelahnya dan berdiri menghadap laut, Ayatha mengikutinya.
" Kau mengenalnya? " kata Andra penasaran melihat reaksi Maxi.
" Tidak, saya tidak mengenalnya Tuan Muda "
" Kau sangat berubah, " kata Andra memecah kesunyian
" Iya Tuan Muda Wayren yang menyuruh saya "
" Kau boleh memanggilku Andra, seperti kau memanggil Wayren " kata Andra memandang Ayatha masih dengan muka diamnnya.
" Baiklah " kata Ayatha hanya menunduk karena melihat Andra yang masih dingin padanya.
" Wayren sepertinya hanya ingin memiliki teman "
" Benarkah dia bilang begitu? "
" Dia hanya bilang dia senang bisa punya teman ngobrol lagi, " kata Ayatha melihat kearah Andra, namun Andra tak bergeming, hanya melihat lurus kedepan.
Suasana senyap kembali, Andra hanya terdiam dan begitu juga Ayatha, Ayatha terdiam mencoba mengatur sikapnya karena sebenarnya dia sangat gugup berdiri sedekat ini dengan Andra. Ini tidak boleh terjadi jika dia menampakkan kegugupannya, akan sangat memalukan. Dia sangat berharap sekarang Aayren datang dan mencoba merubah suasana, namun Wayren belum juga datang.
" Itu lagu kesukaan Yosa, " kata Andra memecah sunyi, membawa Ayatha kembali kedunianya. Dia melihat Andra lagi, kesedihan seperti terpancar dari wajahnya.
" Iya, aku tahu, terima kasih, " kata Ayatha tersenyum sambil melihat kearah laut.
" Terima kasih? Untuk apa? " kata Andra pada Ayatha dengan penuh tanya.
" Terima kasih sudah membawa Yosa kesini sebentar " kata Ayatha memandang jauh ke laut.
" Maksudmu? " kata Andra bingung.
" Yosa selalu berkata jika lagu ini dia akan datang dan mendengarkannya, karena dia sangat menyukai lagu ini, terima kasih sudah membuat aku merasakan Yosa walau sesaat, " kata Ayatha tersenyum pada Andra, membuat Andra kaget dan tercengang, membuat Andra terdiam.
Hanna mencari Andra ke segela arah, namun dia tidak menemukannya, akhirnya dia melihat sosok Andra sedang ada dibalkon sedang berbicara dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya, rasa tak suka mulai mengaluti hatinya, dia segera ingin mendatanginya saat tiba- tiba langkahnya berhenti karena orang di tegur seseorang.
" Kau sedang melihat apa? " tanya Aayren yang tahu bahwa gadis ini memperhatikan kakaknya.
Aayren melihat kearah Andra dan Ayatha, dia terdiam sejenak... Perasaannya sedikit tidak enak, namun sepertinya Ayatha dan Andra sendang berbicara serius. Dia tidak ingin menggangu mereka.
" Siapa kau?" kata Hanna memperhatikan pria yang tidak dikenalnya ini dengan seksama, dia seperti pernah mengenalnya.
" Kenapa kau memandangi kakakku? " kata Wayren lalu meminum minumannya dan memandangi wajah gadis di depannya ini, gadis ini manis juga, pikir Wayren.
" Jadi kau Wayren? " kata Hanna terkejut, dia melihat Wayren dengan seksama, Wayren juga sudah berubah, pikir Hanna, namun Hanna langsung mengingat bagaimana Wayren dulu sering menjahilinya, Wayren sering menarik rambutnya, menjegal kakinya, bahkan sampai memasukkam katak ke dalam tas dan membuatnya sampai sekarang fobia terhadap katak, dan karena itu Hanna selalu menangis.
__ADS_1
" Yup, semua sudah pasti mengenalku, dan kau...? Ehm... Tapi sepertinya aku mengenal mu, " kata Wayren memandang seksama.
Hanna segera memegang rambutnya yang terurai, meletakkannya kebelakang, dia tak mau Wayren menarik rambutnya lagi.
" Pergilah, " kata Hanna kesal melihat Wayren.
" Owh!!! Kau gadis kecil itu, yang selalu menangis jika aku menarik rambutmu...ehmmm.... Namamu...ehmmm... Hanna, benar kan? Hahaha... Kau selalu lucu saat menangis, dulu aku sangat suka jika kau menangis, " kata Wayren dengan tawa jahilnya.
Dia baru ingat dengan gadis kecil yang suka diganggunya dulu, dia selalu menangis jika Wayren menarik rambutnya, padahal Wayren hanya menggodanya. Namun entah bagaimana dia selalu menangis dan Wayren menganggap itu sangat lucu dulu.
" Sudah lah, aku tidak ingat..." kata Hanna kesal sambil kembali melihat Andra yang masih bersama gadis itu, Wayren juga melihat kearah Andra dan Ayatha. Dia kembali terdiam, namun dia benar- benar tidak ingin menganggu Ayatha dan Andra.
" Baik lah, ayo iku aku, aku akan mengingatkan mu, " kata Wayren manarik tangan Hanna, karena dia tahu bahwa jika di biarkan hanna akan menganggu Andra dan Ayatha.
Hanna kaget dengan tarikkan Wayren yang menurutnya kasar dan tidak sopan, bukannya dia sudah menyuruhnya pergi, pikir Hanna, Hanna terus berontak
" Lepaskan... " kata Hanna berontak.
" Teruskan saja berontak, bukankah tidak sopan jika seorang putri keluarga Maddison bersikap seperti itu di depan banyak orang, lagi pula kau sedang berjalan dengan Tuan Muda keluarga High Empire? " kata Wayren berhenti sejenak memberitahu pada Hanna, Hanna hanya terdiam, sebenarnya siapa yang tidak sopan dengan menarik tangannya secara paksa, namun jika dia terus berontak hal ini pasti sangat memalukan, apa lagi untuk alasan karena dia tidak menyukai w
Wayren.
Wayren tersenyum, dia berhasil membuat Hanna menurut, dia segera berjalan, sekarang Hanna hanya mengikutinya
" Apa maumu? " kata Hanna mencoba terlihat berani namun sebenarnya dia takut pada Wayren.
" Tidak ada, rasanya tidak adil jika kau ingat dengan kakak ku sedangkan denganku tidak, " kata Wayren terus berjalan menuju Hanna, membuat Hanna mundur dan akhirnya terpojok ketembok, Wayren memasang wajah seriusnya, membuat Hanna benar-benar ketakutan melihatnya, sekarang Wayren sangat dekat di depannya, Wayren menyandarkan satu tangannya di dinding dekat dengan kepala Hanna.
" Memangnya kenapa ? Kau mau menarik rambutku lagi, " kata Hanna mencoba terlihat berani walau dengan suara bergetar.
" Kau pikir aku akan melakukan hal itu, itu sangat kekanak-kanakan, " kata Sayren serius.
" Lalu "
" Kau ingat kakakku, bukannya aku tidak kalah menarikknya dengan kakakku, " kata Wayren dengan wajah seriusnya...menunjukkan betapa tampannya dia jika serius.
Hanna hanya memandang Wayren, sebenarnya Wayren memang tak kalah menariknya dengan Andra, bagaimana akan kalah, bukannya mereka kembar, namun Hanna benar-benar trauma sekali melihat Wayren.
" Eh, maksud mu apa? " kata Hanna bergetar.
" Ah tidak apa- apa,tidak menyenangkan menganggumu lagi, kau tidak memangis lagi, " kata Wayren menarik tangannya, membuat Hanna lega.
Wayren melihat Hanna kelihatan lega, dia segera menarik rambut Hanna.
" Aou... Sakit tau, " kata Hanna melihat Wayren dengan kesal.
" Tuh kan kau tidak semanis dulu, sudah lah... Tidak menyenangkan lagi, aku pergi saja, " kata Wayren meninggalkan Hanna yang kesal karena telah dijahili oleh Wayren. Pria itu memang tidak pernah berubah, dasar Wayren, pikir Hanna sangat kesal.
Wayren menuju ke tempat Ayatha, namun dia kembali berhenti melihat Ayatha dan Andra masih mengobrol, pikirannya merasa tidak ingin menganggu namun dalam perasaannya, dia sangat penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan Andra dan Ayatha, kenapa mereka kelihatan seperti sudah mengenal sebelumnya?, dan kenapa mereka selalu menghindar dan bersikap aneh?, pikir wayren... Mungkin dia dapat jawabannya di sini.
Andra masih terdiam dengan pernyataan Ayatha, dan saat melihat senyum Ayatha yang tulus saat membicarakan Yosa, entah kenapa dia merasa sedikit bersalah karena selama ini sudah berpikiran buruk padanya.
" Yosa juga mengatakan hal itu pada mu? " kata Andra memecah kesunyian.
" Iya, apakah dia juga berkata begitu padamu? " kata Ayatha.
" Iya, " kata Andra sedikit tersenyum, Ayatha tertegun, ini pertama kali dia melihat Andra tersenyum saat dia bicara dengannya, Yosa..
Hanya yosa yang bisa membuatnya tersenyum seperti itu, dari detik itu, Ayatha tahu bahwa Andra sangat mencintai Yosa.
Jantungnya berdegup kencang, napasnya terasa berat, namun dia tidak bisa berkata apa-apa dia hanya bisa memandang bintang yang seperti tengelam di lautan.
" Yosa memang seperti itu, dia pasti sangat beruntung dicintai seseorang seperti Anda, " kata Ayatha mencoba tersenyum pada Andra.
" Ntah lah... Apakah dia tahu atau tidak? " kata Andra.
" Dia pasti tahu " kata Ayatha tersenyum.
" Iya... Terima kasih, selama ini aku tidak tahu kemana saat ingin berbicara tentangnya, " kata andra sedikit tersenyum
__ADS_1
" Yah.. Aku juga seperti itu, " kata Ayatha membalas senyuman Andra.
Andra segera ingin berbalik ketika dia melihat Wayren sedang berdiri di belakang mereka, ternyata dari tadi Wayren berdiri di belakang Ayatha dan Andra, Ayatha yang melihat ekspresi Andra segera melihat ke belakang, Wayren hanya melihat mereka dengan wajah datar.