Meadow

Meadow
Jangan pernah minta putus


__ADS_3

Andra


terdiam...


" Tidakbisakah memeriksa DNA dalam kandungan? " kata Andra lagi


" Bisa sih, di usia kandungan 10-12 minggu sudah dapat di lakukan pemeriksaan DNA dari cairan amnion dan villi chorialis,


dan tentu darahmu, " kata Jeremy


" Aku siap, kau butuh berapa banyak darahku juga boleh, " kata Andra


" Ya, waktu pemeriksaanya sekitar 14 hari, " kata Jeremy lagi.


Andra terdiam, 14 hari? itu terlalu lama...


" Tidak bisa di percepat, " kata Andra


" Memeriksa DNA itu sangat rumit, hasilnya juga sangat menentukan, jadi tidak bisa


terburu-buru, memang nya ada apa? " kata Jeremy


" Ayatha hanya memberiku waktu 2 hari, kalau tidak kami akan berpisah, " kata Andra


menatap Jeremy.


" Wah... Ayatha begitu tegas sekarang? " kata Jeremy


Andra hanya terdiam.


" Baiklah, kalau begitu aku akan langsung mengerjakan apa yang kau suruh, aku permisi


dulu," kata Jeremy


" Ya, terima kasih, " kata Andra suram, di kepalanya dia sedang mencari cara


bagaimana jika Nadine benar-benar hamil.


" Sudah, kita jalankan saja dulu, nanti bagaimana kau tetap bisa menujukan hasil tes DNA itu padanya, kalian saling mencintai, menunggu 2 tahun saja dia bisa, apa lagi


hanya 14 hari," kata Wayren


" Aku harap begitu," kata Andra


" Ayo, pulang, agar bisa merancang rencanamu lebih matang, " kata Wayren


" Baiklah, " kata Andra, mereka lalu pulang.


___________________________________________


Setelah 2 hari, Jeremy benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, sebuah kamar di sulapnya menjadi kamar pemeriksaan kandungan dengan seluruh perlengkapan canggihnya dan seorang dokter spesialis kandungan yang ternama di sana


disewanya.


Andra menjemput Ayatha pagi itu, beberapa hari ini Ayatha tidak menghubunginya, jika Andra yang menghubunginya, Ayatha juga menjawabnya dengan biasa saja.


Andra menekan bell apartemen Ayatha, tak lama Ayatha keluar, dia hanya memberikan


senyuman cangung.


" Sudah siap? " kata Andra menatap Ayatha


" Ya"


Andra dan Ayatha langsung menuju ke tempat mobil mereka di parkirkan, lalu Andra langsung membawa Ayatha ke rumahnya.


Di perjalanan, Ayatha hanya diam saja, Andra memegang tangan Ayatha, Ayatha bukan


seperti Andra, jika marah dia tidak akan mudah tertebak, wajahnya tidak


menunjukkan bahwa dia sedang marah. namun Andra tahu Ayatha masih marah


padanya.


Ayatha menatap Andra, namun tidak berkata apapun.


" Jangan marah, " kata Andra


" Aku tidak marah, aku hanya takut, " kata Ayatha


" Takut kenapa?" kata Andra mengerutkan dahinya


" 2 hari ini aku berpikir, kenapa aku lebih percaya Nadine dari padamu, maafkan aku


jika kemarin terlalu terbawa emosi, tapi aku takut kalau nanti Nadine benar-benar hamil bagaimana? " kata Ayatha cemas


" Aku sudah menyusunnya, kalau nanti Nadine positif hamil, aku akan melakukan tes


DNA, tenang saja, aku bukan ayah dari anak itu, bahkan kalau memang dia hamil,


hal itu bisa menjadi alat bagiku untuk memutuskan pertunangan kami, " kata


Andra tersenyum


" Baiklah, " kata Ayatha.


Tak lama mereka sampai ke rumah Andra, Andra turun bersama Ayatha, Bibi Moi menyambut mereka.


" Selamat pagi tuan muda Andra dan nona Ayatha, " kata Bibi Moi memberi salam


Ayatha tersenyum senang melihat Bibi Moi, dia sangat merindukannya, karena


bagaimanapun dulu Bibi ini yang selalu membantunya.


" Bibi, jangan begitu formal, " kata Ayatha


" Boleh kah aku? " kata Bibi Moi berharap ingin memeluk Ayatha.


" Tentu," kata Ayatha lagi


Bibi Moilangsung memeluk Ayatha, dia sangat merindukan Ayatha, sampai terharu bisabertemu lagi, 2 tahun sudah tidak bertemu, Ayatha begitu berubah, dari seorang


pelayan menjadi seorang nona, namun Ayatha tetap saja Ayatha, selalu rendah


hati.


" Aku sangat merindukan mu Ayatha, sudah lama sekali, " kata Bibi Moi terharu,


sesekali melihat tuan mudanya yang tersenyum melihat yang di lakukan Bibi Moi


dan Andra.


" Iya, aku juga merindukanmu Bi, maaf tidak membawakan mu apapun, tapi lain kali aku


akan membawakanmu sesuatu, " kata Ayatha lembut melihat Bibi Moi


" Itu tidak masalah, melihatmu sekarang begitu bahagia dan berubah, Bibi sudah senang," kata Bibi Moi memegang bahu Ayatha.


" Terima kasih, Bibi, " kata Ayatha senang.


" Baiklah, kita harus segera masuk, " kata Andra, menyudahi reuni singkat Bibi Moi


dan Ayatha.


Andra membawa Ayatha kedalam, di ruang tengah sudah ada Wayren dan Jeremy, melihat Andra dan Ayatha yang datang, mereka langsung berdiri.


" Hai Ayatha," kata Wayren tersenyum sumringah melihat Ayatha


" Hai Wayren," kata Ayatha tersenyum membalas senyuman Wayren.


" Sekarang, aku serahkan Nadine padamu, kau yakin bisa membawanya kesininkan? " kata Andra serius menatap Wayren.


" Serahkan saja padaku, " kata Wayren lagi. dia lalu segera meninggalkan ruangan itu.


" Bagaimana persiapan di sini?" kata Andra pada Jeremy.


" Sudah beres, alatnya sudah terpasang dengan baik dan sudah di tes, dokter spesialis kandungannya juga sudah standby di dalam, " kata Jeremy menjelaskan


" Kau membawa seluruh perlengkapan ke rumah? " kata Ayatha kaget.


" Yah, kau hanya memberiku waktu 2 hari, ini satu-satunya cara untuk membuktikan aku

__ADS_1


tidak menghamili Nadine, " kata Andra.


Ayatha menatap Andra, dia sudah membuat keadaan Andra menjadi sulit, malah mendesaknya agar memutuskan hubungan, sekarang dia melakukan hal yang di luar akal sehat semua orang, hanya demi membuktikan pada Ayatha? hatinya terbuat dari batu jika


tidak tersentuh.


" Ayatha, nanti aku akan ada di ruangan pemeriksaan, ehm...bisa kah kau tunggu aku di kamarku? " kata Andra.


" Baiklah," kata Ayatha, dia tak ingin lagi membuat masalah untuk Andra, jadi


sekarang dia hanya bisa mematuhinya.


Sementara itu Wayren melajukan mobilnya ke kediaman Nadine. dia menekan bel rumah Nadine. Septi membukakan pintu rumah itu.


" Selamat siang tuan muda Wayren, ada yang bisa saya bantu? " kata Septi


"Aku mau bertemu dengan Nadine, " kata Wayren


" Baiklah, silahkan tunggu di ruang tamu, saya akan memanggilkan Nona Nadine, " kata Septi tanpa curiga.


Wayren masuk ke rumah itu, dia melihat sekeliling, ehm... selera Nadine cukup membuatnya terkesan. tak lama dia menunggu, Nadine turun di ikuti oleh Septi di


belakangnya.


" Wayren!" kata Nadine menyapa Wayren, selalu cantik seperti biasanya, tipe yang


sangat tepat di jahili oleh Wayren.


" Oh, halo calon kakak ipar, " kata Wayren tersenyum sangat menawan, Nadine


terkesima, kalau saja dulu dia tidak di jodohkan dengan Andra dan jatuh cinta,


mungkin dia akan menyukai Wayren, toh ketampanannya sama dengan kakaknya dan


dia juga kaya, walaupun bukan pewaris utama.


" Kenapa kau datang ke sini?" tanya Nadine lembut


" Oh, iya... Ibu mengajakmu makan siang, tapi dia ingin kau datang sekarang, mungkin


ingin membincangkan masalah pernikahan, " kata Wayren tetap dengan senyum


ramah mempesonanya membuat Nadine salah tingkah, Andra memang tampan, tapi Wayren juga tampan, selama 2 tahun ini dia sangat kesepian, Andra selalu dingin, namun


melihat senyuman Wayren yang hangat, entah kenapa dia sedikit tertarik dengan Wayren jadinya, mungkin efek dianggurin selama 2 tahun ini.


" Benarkah? baiklah..aku akan bersiap-siap dulu, " kata Nadine tersipu malu


" Jangan buru-buru, aku akan menunggu, kau harus terlihat cantik di depan ibuku, oh, iya


itu tidak perlu, tanpa apapun kau memang sudah cantik, " kata Wayren


sedikit berbisik di telinga Nadine, membuat Nadine tambah salah tingkah, dia


segera berjalan masuk dan menuju kamarnya.


Wayren mengangkat senyumnya sebelah, ternyata dia masih jago merayu wanita. sedikit


merasa puas karna sudah bisa menjahili nandine, tapi kenapa Ayatha sama sekali


tidak terpengaruh olehnya?


Nadine tidak ingin memembuat Wayren menunggu, dia langsung turun. Wayren memandangnya dengan


kagum, kalau untuk urusan kecantikan memang bisa di bilang Nadine lah


pemenangnya, Wayren saja mengakuinya, jika saja dia tidak tahu sifat Nadine, Wayren


pun akan iri dengan kakaknya, namun tidak ada yang sempurna di dunia ini bukan?


Wayren membuka pintu mobilnya, Nadine tersenyum bahagia di perlakukan seperti ini, Andra tak pernah membukakan pintu untuknya, Nadine duduk dengan anggunnya, Wayren kemudian mulai melajukan mobilnya.


" Kau tahu, aku lupa bilang, " kata Wayren mulai jahil lagi


" Apa itu? " kata Nadine


" Kau sangat cantik, apa seharusnya aku mengatakan pada Ayahku, jika Andra tak mau


Nadine terpaku, menatap wajah Wayren yang tersenyum lembut. Wayren ini sangat pintar


mengoda wanita.


" Tapi bukannya kau menyukai Ayatha juga? " kata Nadine


" Ya, tapi jika dapat istri secantikmu, hidup ku juga tidak akan rugi, " kata Wayren lagi.


Nadine duduk tersipu, mendapat pujian dari Wayren terus menerus, siapa yang bisa


menahannya?. tapi tidak bisa, yang aku cintai hanya Andra, pikir Nadine.


" Maaf aku tidak bisa, " kata Nadine menatap Wayren


Wayren merasa geli sendiri, semua bualannya hanya omong kosong, dia tidak akan mau


menikahi gadis seperti Nadine, melihat Nadine begitu serius membuatnya ingin


tertawa terbahak-bahak, namun di tahannya.


" Kalau tidak bisa ya sudah, " kata Wayren terdengar cuek, membuat hati Nadine tak


enak.


" Tapi..." kata Nadine jadi ragu, dia bingung ingin berbicara apa


" Hahaha, ya sudah, aku hanya bercanda, tak mungkin akan menikah dengan calon kakak ipar sendiri, ibu akan membunuhku nanti, " kata Wayren tertawa


Nadine menatap Wayren, kali ini dia bingung melihat sikap Wayren yang bisa berubah 180


derajat dari yang tadi.


Tak lama Nadine sampai di rumah, Wayren segera membukakan pintu untuknya, Wayren memimpin jalan


di depan Nadine, Nadine mengikutinya.


" Ibuku menunggu di dalam, " kata Wayren menunjukan sebuah kamar


" Terima kasih, " kata Nadine menatap Wayren, Wayren hanya tersenyum lalu pergi,


karena Nadine yang baper, dia jadi mengira dia sudah melukai hati Wayren,


padahal Wayren hanya main-main dengannya.


Nadine membuka pintu itu, dia terkejut melihat Andra sedang duduk di ruang baca.


" Andra?" kata Nadine


Andra hanya menatap Nadine dengan tajam, dia berdiri dan mendekat. Andra mengunci ruangan itu, Nadine memandangnya dengan heran


" Kau masih menggunakan high heels padahal


sedang hamil muda, mengunakan itu tidak baik untuk kandunganmu, " kata Andra


datar


Nadine terdiam, hanya melihat Andra yang ada di depannya.


" Apa mau mu? " kata Nadine


" Aku ingin melihat anak kita, " kata Andra menatap Nadine dalam dalam


" Aku tak mau, bukan waktunya untuk pemeriksaan kehamilan, nanti jika sudah waktunya akan ku berikan fotonya, " kata Nadine berusaha keluar dari ruangan, Andra


tampak tenang saja berjalan, membuka pintu yang lainnya menuju ruangan yang


lain.


" Kau tidak bisa keluar, kuncinya ada padaku, aku hanya ingin melihat anak kita,


apakah begitu sulit ? " kata Andra.


" Melihatnya harus menggunakan USG, dan itu ada di rumah sakit, " kata Nadine lagi

__ADS_1


" Untukmu aku menyiapkan segalanya di sini, " kata Andra mendekat pada Nadine, Nadine


kelihatan sangat gugup dan gelisah.


" Aku tidak mau, aku hanya ingin diperiksa oleh dokter ku, " kata Nadine


" Aku menyewa dokter terbaik disini hanya untuk anak kita, ayo lah, " kata Andra,


memegang pergelangan tangan Nadine dan memaksanya masuk ke dalam ruangan...


Nadine terkejut melihat ruangan itu, ada alat USG dan 2 dokter yang menunggunya. dia


menatap Andra, kesal marah dan serasa di jebak.


" Jangan marah, tidak baik untuk ibu hamil, " kata Andra tersenyum.


Nadine melirik kearah Andra, dia menahan emosinya...


" Dokter silahkan lakukan pemeriksanaan, " kata Andra


" Aku tidak mau! kalian akan ku tuntut jika berani menyentuh ku, " kata Nadine


menatap ke arah Jeremy dan dokter kandungan.


" Jangan takut, aku yang akan bertanggung jawab semuanya, " kata Andra menatap Nadine, matanya sangat dingin, membuat Nadine takut, dia mau tak mau mengikuti kemauan Andra.


Dokter melakukan pemeriksaan, Andra memperhatikan. dokter itu memberikan hasil kepada Andra.


" Rahim tidak terdapat kantung gestasi, jadi bisa di pastikan anda tidak hamil, "


kata Jeremy melihat kearah Nadine, lalu melihat ke arah Andra.


Nadine berdiri, wajahnya merah padam, dia sangat marah. tapi tak bisa melampiaskannya pada Andra.


" Aku sedikit kecewa kau tidak benar-benar hamil, " kata Andra pada Nadine


" Lalu kau ingin aku benaran hamil? " kata Nadine emosi


" Ya, jadi aku bisa membuat alasan kau berselingkuh untuk membatalkan pertunagan ini, karna anak itu pasti bukan anakku, " kata Andra juga menahan emosinya.


" Andra!kau keterlaluan! " kata Nadine keras


" Apa cara murahan mu ini tidak keterlaluan? " kata Andra lagi, dia sedang


mengontrol emosinya


" Kalau pertunagan ini sampai batal, kau akan tahu akibatnya, " kata Nadine lagi


" Aku yakin, kau sendiri yang akan membatalkan pertunangan ini, " kata Andra,


dia tidak mau lagi berbicara dengan Nadine, dia segera meninggalkan ruangan


itu. Nadine juga mengikutinya keluar.


" Andra! kau harus menikah denganku, " kata Nadine dengan mata merah menahan


amarah.


" Bahkan jika apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menikahi mu, antarkan dia pulang, " kata Andra segera memerintahkan pengawalnya untuk mengantar Nadine.


Nadine mengepalkan tangannya, kuku kukunya yang lentik itu menusuk dagingnya, membuat cetakan di dagingnya, dia ingin berteriak, tapi itu rumah kediaman keluarga


tadder, berteriak dan marah akan membuat posisinya makin sulit karna tidak di


anggap sopan, mau tak mau dia pergi.


" Selamat ya Tuan Andra, Anda tidak jadi ayah, " kata Jeremy bercanda


Andra tersenyum sedikit menanggapi candaan Jeremy


" Terima kasih bantuannya, " kata Andra


" Sama-sama, ayo bertemu Ayatha, dia pasti cemas menunggu hasilnya, " kata Jeremy


Andra dan Jeremy menuju ke tempat Ayatha berada, benar saja, Ayatha tampak gelisah, dia berlalu lalang, mondar mandir di kamar itu. melihat Andra dan Jeremy yang datang dia lalu menatapnya.


Andra langsung memeluk Ayatha, merasakan puas dengan hasilnya, setidaknya dia sudah


membuktikan bahwa dia bisa di percaya.


" Bagaimana?" kata Ayatha setelah Andra melepaskan pelukannya.


" Hasilnya negatif, dia tidak hamil, " kata Jeremy yang senang melihat Ayatha dan Andra bisa bersama lagi.


Ayatha tertawa bahagia, semua kekhawatirannya selama ini langsung hilang, memang seharusnya dia bisa percaya dengan Andra dan tidak terbawa rasa cemburunya.


" Aku pergi dulu untuk mempersiapkan pemulangan alat-alat ya, " kata Jeremy yang


merasa mengganggu Ayatha dan Andra


" Maafkan aku, " kata Ayatha menunduk, dia tidak enak karna tidak mempercayai Andra,


dagu Ayatha di pegang Andra, Andra menaikkan wajahnya, sehingga dia bisa


menatap pada mata Ayatha yang indah.


" Lain kali jika ada masalah ataupun yang lain, jangan pernah minta untuk memutuskan


hubungan dengan ku, jika ada masalah, kita lakukan bersama-sama, " kata Andra


lagi


" Baiklah," kata Ayatha


" Aku sangat mencintaimu, jika ingin melakukan hal itu, hanya ingin denganmu, "


kata Andra


Mendengar kata-kata itu pipi Ayatha memanas, membuat wajahnya yang putih bersemu merah, melihat perubahan itu Andra gemas, dia lalu memeluk Ayatha.


" Aku juga mencintaimu, " kata Ayatha


" Ya aku tahu, hari ini aku harus ke kantor, pekerjaanku menumpuk, maaf... hanya


bisa menemanimu pagi ini, aku akan menguhubungimu, " kata Andra lagi


" Tidak apa-apa, aku akan menunggumu, " kata Ayatha.


" Baiklah, akan ku antar kau pulang, " kata Andra.


" Iya," kata Ayatha lagi


Andra mengenggam tangan Ayatha sangat erat di sepanjang perjalanan pulang seakan tak rela melepaskannya. setelah sampai di apartemen itu, Ayatha mengambil inisiatif


ingin mencium pipi Andra, namun karena Andra menoleh kearahnya, bibir mereka


bertemu.


Ayatha langsung malu lalu menarik dirinya, Andra tersenyum lucu, Ayatha bagaikan anak


ABG yang baru pertama kali berciuman.


" Kemari," kata Andra


Ayathamenatap Andra, Andra langsung saja mencium bibir Ayatha. hanya sejenak namun


rasa hangatnya menjalar di tubuh Ayatha.


" Lain kali jika ingin menciumku, bilang saja, aku tidak akan pernah menolak, " kata Andra dengan senyum manisnya, membuat dada Ayatha tambah berdegup kencang.


" Baiklah, hati-hati di jalan, " kata Ayatha salah tingkah lalu keluar dari mobilnya Andra,


Andra tertawa melihat kelakuan pacarnya, Ayatha hanya malu, dia tidak sengaja


mencium bibir Andra, walaupun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman...


namun tetap saja yang memulai duluan adalah Ayatha. jadi dia malu akan hal itu.


" Aku pergi dulu ya, aku akan segera menghubungi mu, " kata Andra


" Ya, hati-hati ya, " kata Ayatha lagi.

__ADS_1


Andra melajukan mobilnya dan Ayatha langsung menuju tempat tinggalnya.


__ADS_2