Meadow

Meadow
Mari hidup sesuai keinginan takdir


__ADS_3

Dia melihat siapa yang memeganginya, jantung Ayatha hampir berhenti, dia melihat Andra di sana,


ternyata setelah menolong Jessy turun, Andra melihat Ayatha disana, dia kembali


naik, melawan arus, mencoba untuk membantu Ayatha, dan untungnya dia datang,


kalau tidak Ayatha sudah jatuh karena tubuhnya yang kecil terdasak oleh


tubuh-tubuh orang asing yang besar.


Andra tak melihat Ayatha, dia hanya memegang tangan Ayatha, memandang lurus kedepan,


wajah dinginnya terlihat, Ayatha ingat tangannya ini tadi juga mengandeng wanita


itu, tapi kenapa sekarang dia mengandeng Ayatha, bagaimana wanita itu? Apa


sekarang Andra sudah pintar memainkan perasaan wanita.


Ayatha akhirnya turun, teman-temannya langsung mengerubuninya, menatap Andra yang


sangat mempesona, membuat teman-teman Ayatha mengaguminya, memandang tidak bisa


bekedip.


" Terima kasih, " kata Ayatha seadanya, hatinya masih sakit mengingat tadi


" Sama-sama. " kata Andra dengan suara beratnya, teman-teman Ayatha tambah terhipnotis.


" Selena, dia siapa? " kata Anita tidak bisa berpaling


" Kau kenal dia? kenapa tak bilang padaku, " kata Monica


Ayatha hanya terdiam, menatap kearah Andra, Andra hanya tersenyum sedikit, tak sedikit pun


melihat kearah Ayatha.


" Kakak, siapa dia? " kata Jessy menghampiri Andra, dia mengandeng tangan Andra, Andra


sedikit kaget, jika Andra hanya sedikit kaget, Ayatha benar-benar kaget.


Jessy gadis yang cantik, senyumnya mirip dengan Ayatha.


" Selena, dia mirip denganmu, " kata Anisa berbisik, yah, Ayatha bisa liat Jessy


sedikit mirip dengannya.


" Ehm...dia Ayatha, " kata Andra menjelaskan


" Benarkah? Kau serius kak? " kata Jessy seperti kaget bukan kepalang, menatap Ayatha


lekat-lekat.


Andra hanya mengangguk pada Jessy.


" Selena,  sepertinya kami pergi duluan ya, soalnya sudah malam, " kata Anita


yang merasa ada sesuatu yang salah di sana, dia menarik Anisa, Monica dan Naomi


dari sana, padahal mereka sedikit penasaran. Siapa pria tampan itu? Itu yang


terpenting bagi mereka.


" Ayatha, aku Jessy, "kata Jessy tersenyum lalu mengulurkan tangannya


" Owh,iya, "kata Ayatha seadanya menyambut tangan Jessy


" Kakak, aku ingin berbicara dengan Ayatha, berjalan-berjalan berdua, bisakah?


"kata Jessy terlihat manja seperti biasanya dengan Andra.


" Baiklah, aku akan ada di sana, " kata Andra dingin


Ayatha melihat Andra, namun Andra tidak sama sekali melihat Ayatha, dia langsung saja


pergi


Jessy melihat Ayatha, dia tersenyum manis, Ayatha hanya terlihat canggung.

__ADS_1


" Ayatha... aku kira kau sudah meninggal, saat aku bertemu kakak, mereka bilang kalau kau


sudah meninggal, ternyata kau belum meninggal, " kata Jessy menjelaskan


" Iya, aku masih hidup, " kata Ayatha


" Sebenarnya dulu kalau aku melihatmu, aku ingin membunuhmu, benar,  "kata Jessy tertawa, Ayatha hanya


mengerutkan dahinya, tidak bisa mengikuti Jessy tertawa


" Kau tahu rasanya di campakkan 1 minggu sebelum menikah, aku tahu... dan semua itu


karenamu, 1 minggu sebelum aku dan kak Andra menikah, dia mengetahui bahwa kau


masih hidup, 1 minggu, kau banyangkan, gaunku saja sudah jadi, tapi dia bilang


dia tidak bisa, karena masih mencintaimu, " kata Jessy tersenyum


Ayatha hanya bisa menatap Jessy yang terlihat tersenyum getir, benarkah apa yang di


bicarakan oleh Jessy? Berarti dulu Jessy dan Andra hampir saja menikah.


" Tapi tidak apa-apa, aku sudah move on kok, aku sudah menikah, suamiku sedang ada pekerjaan, jadi Kak Andra yang menemani, Ayatha, Kak Andra itu sangat mencintaimu, dia mencarimu lebih dari 2 tahun, mencarimu


sampai kemana-mana, seperti orang gila, ternyata berjumpa disini, dunia memang


sempit ya, " kata Jessy lagi


Mata Ayatha berkaca-kaca lagi, hati nya sakit mendegarkan Jessy menjelaskan tentang Andra.


" Ayatha


jangan menangis, nanti Kak Andra berpikir aku melakukan sesuatu padamu, dia


akan marah padaku, dia seram jika marah, kau tau itu kan? " kata Jessy


sedikit becanda, membuat Ayatha sedikit terhibur dan tersenyum, Jessy melihat


jam, sudah pukul 19.30, dia harus segera kembali.


kata Jessy


" Baiklah, " kata Ayatha seadanya.


" Akan ku panggilkan Kak Andra, kalian pasti ingin bicara kan? "kata Jessy, Ayatha


belum sempat menjawab, Jessy sudah menghampiri Andra, lalu Andra sedikit


melirik ke arah Ayatha, melihat matanya yang basah, Andra lalu menatap Ayatha. Andra


mendekati Ayatha.


Andra dan Ayatha sedikit canggung, sama-sama bingung mau mengatakan apa?


" Aku akan pulang beberapa hari lagi, " kata Andra memecah kesunyian


" Owh begitu yah, " kata Ayatha seadanya.


" Aku sudah memikirkannya... setiap perkataanmu dan Maxi, dan aku akan melepaskan mu,


" kata Andra, ada nada sedih dan terluka dalam nada bicaranya, lintasan wajah Ayatha dengan tangis pilunya terbersit di pikirannya. Hati Andra sakit, begitu mencintai...namun ternyata dia hanya membuat wAnita itu sedih.


Ayatha menatap Andra, dari awal dia berjumpa lagi dengan Andra, dia memang ingin tidak


punya hubungan lagi dengan Andra, dia takut anaknya akan mengalami hal yang


sama dengannya. Namun mendengarkan kata-kata itu langsung dari Andra, entah


kenapa badannya lemas, hatinya sakit, terasa tidak rela, tapi ini kan yang


memang dia mau, tapi kenapa? Kenapa saat Andra menurutinya, Ayatha malah tidak


ingin dia pergi?. Hati wAnita memang susah di mengerti.


" Aku rasa memang kita ditakdirkan untuk tidak bersama, dari awal takdir memisahkan


kita, aku lah yang terlalu memaksakanmu untuk kembali padaku, mungkin karena

__ADS_1


aku terlalu mencintaimu, aku tahu kau pun sama,  tapi kali ini mari menyerah..biarkan nasib yang


menang, " kata Andra suaranya terkesan dingin, namun hatinya terluka,


entah bagaimana dia masih sanggup tersenyum setelahnya, membuat Ayatha


menatapnya dengan lekat, senyuman Andra menghunus jantungnya.


Ketika seorang yang sudah sangat berjuang untuk sesuatu, namun menyerah, pasti dia


sudah terlalu sakit, telalu lelah..terlalu penat untuk menanggung semuanya,


begitu juga Andra, begitu banyak yang sudah di lewatinya untuk Ayatha, begitu


banyak yang terlewat. Namun dia tidak pernah menyesal, dia memandangi Ayatha,


senyumnya manis dan matanya sayu menatap Ayatha.


Ayatha hanya mematung, mendengarkan apa yang di katakan Andra, badannya kaku, tidak bisa


digerakan, rasanya ada air es yang menguyurnya. Gemuruh suara angin tidak lagi


menganggunya. Hatinya perih, sangat perih hingga tidak bisa di katakan.


Napasnya sesak, seakan seluruh oksigen di tempat itu menghilang.


" Mulai sekarang, mari hidup sesuai keinginan takdir, mari kita tersenyum walaupun


menentang semuanya, mari berpisah walaupun sebenarnya kita tak mau, " kata


Andra dengan mata memerah menahan tangisnya.


Ayatha mengulum tersenyum..air matanya sudah mengalir...hatinya getir.


" Baiklah... mari hidup dengan keinginan takdir,  "kata Ayatha


Andra tersenyum getir, senyumannya penuh makna, penuh dengan luka sekaligus kasih


sayang. Ayatha melihat itu, dia juga tersenyum, sama dengan Andra, senyuman itu


di antara tangisan... Ayatha ingin bertahan untuk tersenyum, tapi tak bisa.


" Selamat tinggal, " kata Andra, dia berbalik, melangkah pergi.


Ayatha lemas, pertahannya sudah runtuh, dia sangat mencintai Andra, namun tak bisa


bersama dengannya. Ketika 2 orang saling mencintai namun tidak bersatu adalah


hal yang paling menyedihkan, cinta ada di antara mereka, bukan kah itu sudah


cukup untuk melanjutkan hidup? Tapi kenapa harus berpisah? Kenapa sangat sulit


untuk sekedar bersama? dan bagaimana dia bisa lebih memilih berpisah kalau


satu-satunya orang dia cintai adalah Andra? Apa yang sudah di buatnya?.


Teman-teman mendekati Ayatha, Ayatha yang masih menangis sejadi-jadinya, menumpahkan sakit


yang di tahannya 5 tahun ini, ini lah akhir kisahnya, akhirnya sendiri tanpa


mendapatkan cinta.


Teman-teman Ayatha menahan tangis melihat Ayatha yang begitu sedih, begitu pilu. Mereka tidak


mengerti namun bisa merasakan sakitnya. Setelah Ayatha bisa berjalan, mereka


membawanya pulang, Anisa yang mengantarkan Ayatha pulang. Di sepanjang


perjalanan, Ayatha hanya diam.


" Selena, maaf, kami tahu kau tidak suka berbicara tentang masa lalumu? Tapi dia siapa? "


kata Anisa


Ayatha tak bergeming, melihat jalan-jalan yang gemerlap. Hatinya sakit... tapi memang


harus melepaskan. Bagaimana pun itu mungkin ini semua sudah takdir.

__ADS_1


__ADS_2