
Dia melihat siapa yang memeganginya, jantung Ayatha hampir berhenti, dia melihat Andra di sana,
ternyata setelah menolong Jessy turun, Andra melihat Ayatha disana, dia kembali
naik, melawan arus, mencoba untuk membantu Ayatha, dan untungnya dia datang,
kalau tidak Ayatha sudah jatuh karena tubuhnya yang kecil terdasak oleh
tubuh-tubuh orang asing yang besar.
Andra tak melihat Ayatha, dia hanya memegang tangan Ayatha, memandang lurus kedepan,
wajah dinginnya terlihat, Ayatha ingat tangannya ini tadi juga mengandeng wanita
itu, tapi kenapa sekarang dia mengandeng Ayatha, bagaimana wanita itu? Apa
sekarang Andra sudah pintar memainkan perasaan wanita.
Ayatha akhirnya turun, teman-temannya langsung mengerubuninya, menatap Andra yang
sangat mempesona, membuat teman-teman Ayatha mengaguminya, memandang tidak bisa
bekedip.
" Terima kasih, " kata Ayatha seadanya, hatinya masih sakit mengingat tadi
" Sama-sama. " kata Andra dengan suara beratnya, teman-teman Ayatha tambah terhipnotis.
" Selena, dia siapa? " kata Anita tidak bisa berpaling
" Kau kenal dia? kenapa tak bilang padaku, " kata Monica
Ayatha hanya terdiam, menatap kearah Andra, Andra hanya tersenyum sedikit, tak sedikit pun
melihat kearah Ayatha.
" Kakak, siapa dia? " kata Jessy menghampiri Andra, dia mengandeng tangan Andra, Andra
sedikit kaget, jika Andra hanya sedikit kaget, Ayatha benar-benar kaget.
Jessy gadis yang cantik, senyumnya mirip dengan Ayatha.
" Selena, dia mirip denganmu, " kata Anisa berbisik, yah, Ayatha bisa liat Jessy
sedikit mirip dengannya.
" Ehm...dia Ayatha, " kata Andra menjelaskan
" Benarkah? Kau serius kak? " kata Jessy seperti kaget bukan kepalang, menatap Ayatha
lekat-lekat.
Andra hanya mengangguk pada Jessy.
" Selena, sepertinya kami pergi duluan ya, soalnya sudah malam, " kata Anita
yang merasa ada sesuatu yang salah di sana, dia menarik Anisa, Monica dan Naomi
dari sana, padahal mereka sedikit penasaran. Siapa pria tampan itu? Itu yang
terpenting bagi mereka.
" Ayatha, aku Jessy, "kata Jessy tersenyum lalu mengulurkan tangannya
" Owh,iya, "kata Ayatha seadanya menyambut tangan Jessy
" Kakak, aku ingin berbicara dengan Ayatha, berjalan-berjalan berdua, bisakah?
"kata Jessy terlihat manja seperti biasanya dengan Andra.
" Baiklah, aku akan ada di sana, " kata Andra dingin
Ayatha melihat Andra, namun Andra tidak sama sekali melihat Ayatha, dia langsung saja
pergi
Jessy melihat Ayatha, dia tersenyum manis, Ayatha hanya terlihat canggung.
__ADS_1
" Ayatha... aku kira kau sudah meninggal, saat aku bertemu kakak, mereka bilang kalau kau
sudah meninggal, ternyata kau belum meninggal, " kata Jessy menjelaskan
" Iya, aku masih hidup, " kata Ayatha
" Sebenarnya dulu kalau aku melihatmu, aku ingin membunuhmu, benar, "kata Jessy tertawa, Ayatha hanya
mengerutkan dahinya, tidak bisa mengikuti Jessy tertawa
" Kau tahu rasanya di campakkan 1 minggu sebelum menikah, aku tahu... dan semua itu
karenamu, 1 minggu sebelum aku dan kak Andra menikah, dia mengetahui bahwa kau
masih hidup, 1 minggu, kau banyangkan, gaunku saja sudah jadi, tapi dia bilang
dia tidak bisa, karena masih mencintaimu, " kata Jessy tersenyum
Ayatha hanya bisa menatap Jessy yang terlihat tersenyum getir, benarkah apa yang di
bicarakan oleh Jessy? Berarti dulu Jessy dan Andra hampir saja menikah.
" Tapi tidak apa-apa, aku sudah move on kok, aku sudah menikah, suamiku sedang ada pekerjaan, jadi Kak Andra yang menemani, Ayatha, Kak Andra itu sangat mencintaimu, dia mencarimu lebih dari 2 tahun, mencarimu
sampai kemana-mana, seperti orang gila, ternyata berjumpa disini, dunia memang
sempit ya, " kata Jessy lagi
Mata Ayatha berkaca-kaca lagi, hati nya sakit mendegarkan Jessy menjelaskan tentang Andra.
" Ayatha
jangan menangis, nanti Kak Andra berpikir aku melakukan sesuatu padamu, dia
akan marah padaku, dia seram jika marah, kau tau itu kan? " kata Jessy
sedikit becanda, membuat Ayatha sedikit terhibur dan tersenyum, Jessy melihat
jam, sudah pukul 19.30, dia harus segera kembali.
kata Jessy
" Baiklah, " kata Ayatha seadanya.
" Akan ku panggilkan Kak Andra, kalian pasti ingin bicara kan? "kata Jessy, Ayatha
belum sempat menjawab, Jessy sudah menghampiri Andra, lalu Andra sedikit
melirik ke arah Ayatha, melihat matanya yang basah, Andra lalu menatap Ayatha. Andra
mendekati Ayatha.
Andra dan Ayatha sedikit canggung, sama-sama bingung mau mengatakan apa?
" Aku akan pulang beberapa hari lagi, " kata Andra memecah kesunyian
" Owh begitu yah, " kata Ayatha seadanya.
" Aku sudah memikirkannya... setiap perkataanmu dan Maxi, dan aku akan melepaskan mu,
" kata Andra, ada nada sedih dan terluka dalam nada bicaranya, lintasan wajah Ayatha dengan tangis pilunya terbersit di pikirannya. Hati Andra sakit, begitu mencintai...namun ternyata dia hanya membuat wAnita itu sedih.
Ayatha menatap Andra, dari awal dia berjumpa lagi dengan Andra, dia memang ingin tidak
punya hubungan lagi dengan Andra, dia takut anaknya akan mengalami hal yang
sama dengannya. Namun mendengarkan kata-kata itu langsung dari Andra, entah
kenapa badannya lemas, hatinya sakit, terasa tidak rela, tapi ini kan yang
memang dia mau, tapi kenapa? Kenapa saat Andra menurutinya, Ayatha malah tidak
ingin dia pergi?. Hati wAnita memang susah di mengerti.
" Aku rasa memang kita ditakdirkan untuk tidak bersama, dari awal takdir memisahkan
kita, aku lah yang terlalu memaksakanmu untuk kembali padaku, mungkin karena
__ADS_1
aku terlalu mencintaimu, aku tahu kau pun sama, tapi kali ini mari menyerah..biarkan nasib yang
menang, " kata Andra suaranya terkesan dingin, namun hatinya terluka,
entah bagaimana dia masih sanggup tersenyum setelahnya, membuat Ayatha
menatapnya dengan lekat, senyuman Andra menghunus jantungnya.
Ketika seorang yang sudah sangat berjuang untuk sesuatu, namun menyerah, pasti dia
sudah terlalu sakit, telalu lelah..terlalu penat untuk menanggung semuanya,
begitu juga Andra, begitu banyak yang sudah di lewatinya untuk Ayatha, begitu
banyak yang terlewat. Namun dia tidak pernah menyesal, dia memandangi Ayatha,
senyumnya manis dan matanya sayu menatap Ayatha.
Ayatha hanya mematung, mendengarkan apa yang di katakan Andra, badannya kaku, tidak bisa
digerakan, rasanya ada air es yang menguyurnya. Gemuruh suara angin tidak lagi
menganggunya. Hatinya perih, sangat perih hingga tidak bisa di katakan.
Napasnya sesak, seakan seluruh oksigen di tempat itu menghilang.
" Mulai sekarang, mari hidup sesuai keinginan takdir, mari kita tersenyum walaupun
menentang semuanya, mari berpisah walaupun sebenarnya kita tak mau, " kata
Andra dengan mata memerah menahan tangisnya.
Ayatha mengulum tersenyum..air matanya sudah mengalir...hatinya getir.
" Baiklah... mari hidup dengan keinginan takdir, "kata Ayatha
Andra tersenyum getir, senyumannya penuh makna, penuh dengan luka sekaligus kasih
sayang. Ayatha melihat itu, dia juga tersenyum, sama dengan Andra, senyuman itu
di antara tangisan... Ayatha ingin bertahan untuk tersenyum, tapi tak bisa.
" Selamat tinggal, " kata Andra, dia berbalik, melangkah pergi.
Ayatha lemas, pertahannya sudah runtuh, dia sangat mencintai Andra, namun tak bisa
bersama dengannya. Ketika 2 orang saling mencintai namun tidak bersatu adalah
hal yang paling menyedihkan, cinta ada di antara mereka, bukan kah itu sudah
cukup untuk melanjutkan hidup? Tapi kenapa harus berpisah? Kenapa sangat sulit
untuk sekedar bersama? dan bagaimana dia bisa lebih memilih berpisah kalau
satu-satunya orang dia cintai adalah Andra? Apa yang sudah di buatnya?.
Teman-teman mendekati Ayatha, Ayatha yang masih menangis sejadi-jadinya, menumpahkan sakit
yang di tahannya 5 tahun ini, ini lah akhir kisahnya, akhirnya sendiri tanpa
mendapatkan cinta.
Teman-teman Ayatha menahan tangis melihat Ayatha yang begitu sedih, begitu pilu. Mereka tidak
mengerti namun bisa merasakan sakitnya. Setelah Ayatha bisa berjalan, mereka
membawanya pulang, Anisa yang mengantarkan Ayatha pulang. Di sepanjang
perjalanan, Ayatha hanya diam.
" Selena, maaf, kami tahu kau tidak suka berbicara tentang masa lalumu? Tapi dia siapa? "
kata Anisa
Ayatha tak bergeming, melihat jalan-jalan yang gemerlap. Hatinya sakit... tapi memang
harus melepaskan. Bagaimana pun itu mungkin ini semua sudah takdir.
__ADS_1