
Suasana malam itu sangat dingin, angin berhembus dengan kencang tidak membuat Ayatha terganggu, dia tetap duduk di kursi taman, Ayatha terduduk termenung, dia sedang sangat sedih, wajahnya terasa panas, napasnya terasa sesak, dan jantungnya serasa ingin keluar.
Seperti inikah rasanya di patah hati? Pikir Ayatha sambil mencoba mengontrol dirinya sendiri, dia berulang kali menghembuskan napasnya dalam-dalam, berharap perasaan ini pergi dengannya.
Apa yang sedang dipikirkannya? Bagaimana dia membiarkan dirinya menyukai seorang seperti Andra? Bagaimana bisa sejauh ini... Bukankah dia tahu siapa Andra? Seseorang yang tidak mungkin dimilikinya, seseorang yang sangat mencintai sahabat baiknya.
Bagaimana dia bisa punya perasaan seperti ini? Ahk, serasa Ayatha ingin berteriak, sakit di hatinya terasa tidak tertahankan lagi.
Tiba-tiba dia teringat Yosa, jika saat ini dia ada di sini? Apa yang akan dia katakan? Jika dia di sini, apakah kata maaf cukup? Karena telah menyukai seseorang yang dia sukai, Ayatha benar-benar pusing, dia sangat
ingin membuang perasaannya jauh, namun setiap kali dia berusaha, perasaan itu semakin terasa terasa sakit.
" Kenapa kau di sini? Di sini sangat dingin, " kata Wayren mendekati Ayatha sambil melipat tangannya menahan dingin.
" Oh… Tuan Muda Wayren," kata Ayatha
menatap Wayren
Wayren duduk di samping Ayatha, sambil terus melipat tangannya menahan dingin.
" Di sini sangat dingin," kata Wayren
" Iya," kata Ayatha sambil melihat Wayren yang kedinginan
" Mendengar pembicaran orang lain itu tidak baik, tau? " kata Wayren tiba-tiba
Ayatha terkejut mendengar perkataan Wayren, bagaimana Wayren bisa mengetahui kalo tadi
dia mendengarkannya, bukannya tadi Wayren sedang berbicara dengan Andra.
" Bagaimana anda tau?" Tanya Ayatha karena terkejut.
Wayren tersenyum sambil melihat Ayatha yang kelihatan sangat lugu.
" Pintu kamarku terbuka, aku tahu pasti Andra tidak akan membiarkan kamar tidak tertutup, aku awalnya berpikir mungkin bibi moi, namun sepertinya tidak, dan aku coba
bertanya pada mu, dan ternyata benar kau," kata Wayren
" Oh... "
kata Ayatha tertangkap basah
" Sejauh
mana yang sudah kau dengar?" Kata Wayren
" Tidak
ada, aku hanya
mendengar anda dan Tuan Muda Andra sedang berbicara, saya langsung pergi
setelah itu," kata
Ayatha berbohong
" Benarkah? " Kata Wayren sambil
mengerutkan dahinya
" Iya..."
Kata Ayatha sedikit ragu
" Bagus lah, lalu sedang
apa kau di sini? Aku
mencarimu dari tadi tapi tidak menemukan mu," kata Wayren
" Hanya sedikit
rindu dengan desa," kata Ayatha tersenyum
" Oh iya, aku
tidak pernah mendengar cerita tentang dirimu dulu," kata Wayren tersenyum
" Apa
yang harus diceritakan? "
" Yah...bagaimana
kau dulu? Atau.bagaimana desamu?"
" Desaku, tempat yang
tenang, dingin,
hanya itu," kata
Ayatha sambil mengingat suasana desanya
" Sepertinya
sangat menyenangkan," kata Wayren
" Benar aku sangat
suka pagi hari bersepeda menuju ke sekolah, pemandangannya sangat indah "
kata Ayatha sambil tersenyum
" Sepertinya kau
sangat menyukainya," kata Wayren melihat wajah Ayatha yang tampak
bahagia
" Iya aku sangat
merindukan sekolah, walau tidak punya teman, rasanya sekolah adalah hal yang
sangat menyenangkan," kata Ayatha
" Sekolah
itu hanya merepotkan," kata Wayren sedikit kesal
" Kenapa?
" kata Ayatha
" Entah lah, harus bangun
tidur, mendengarkan
semua pelajaran, mengerjakan PR, apa yang menyenangkan dari itu? "
" Aku akan
sangat bersyukur jika masih bisa sekolah saat ini," kata Ayatha lirih
Wayren
terdiam melihat ekspresi Ayatha yang sedih, dia bisa merasakan bahwa Ayatha
sangat ingin bersekolah.
" Kenapa kau
berhenti sekolah dan bekerja seperti ini? " Tanya Wayren lembut
Ayatha
melihat Wayren, lalu
memalingkan wajahnya
" Aku
hanya ingin mengambil milik ku yang paling berharga," kata Ayatha
" Sesuatu yang
berharga? Apa? " kata Wayren penasaran
" Rumah
ku," kata
Ayatha
" Kau punya
rumah? Kenapa kau harus bekerja hanya untuk sebuah rumah, apa rumah itu
sangat berarti bagi mu? " kata Wayren tambah penasaran.
" Iya, itu rumah
yang sangat berarti, disitu aku dibesarkan oleh nenekku, di sana kenangan
terakhirku bersama ayah dan ibu ku... Bagaimana pun, aku akan berusaha sekuat
tenaga untuk memdapatkan rumah itu kembali," kata Ayatha sambil tersenyum
manis pada Wayren, Wayren hanya menatapnya dengan tatapan penuh empati.
" Apakah ayah
dan ibumu? " Kata Wayren
tidak tahu harus berkata apa
__ADS_1
" Iya, mereka
sudah meninggal saat aku masih kecil, lalu aku di asuh oleh nenekku di rumah
itu, maka dari itu, rumah itu sangat berarti," kata Ayatha kembali
tersenyum
Wayren hanya
bisa melihat Ayatha dengan penuh perhatian, dia tidak pernah menyangka hidup Ayatha
ternyata seperti itu.
" Jika nanti
kau sudah bisa mendapatkan rumahmu lagi, apa yang kau lakukan? " Kata Wayren lagi
" Aku akan
pulang," kata
Ayatha tersenyum
Tiba-tiba Wayren
merasa tidak rela jika Ayatha pergi, namun dia juga tidak mungkin menghalangi
niat Ayatha karena Ayatha terlihat sangat sungguh-sungguh.
" Selanjutnya
apa yang akan kau lakukan? " Kata Wayren lagi
" Entah lah, mungkin
melanjutkan hidup, mungkin sekolah lagi," kata Ayatha tersenyum pada Wayren,
namun Wayren hanya menatapnya, dia benar-benar tidak ingin Ayatha jauh padanya.
Melihat
tatapan Wayren yang dalam, Ayatha jadi memudarkan senyumnya, dia bingung kenapa
ekspresi Wayren seperti itu.
" Kau
benar-benar ingin sekolah ya?" Kata Wayren lagi
" Iya," kata
Ayatha
" Kalau begitu
aku akan meminta ibu untuk mengizinkanmu sekolah," kata Wayren tersenyum
" Tidak Tuan, Nyonya sudah
sangat membantu, aku tidak ingin terlalu merepotkan dan berhutang budi lagi
pada Nyonya," kata
Ayatha
" Benarkah?"
Kata Wayren
" Iya," kata
Ayatha tersenyum
" Baiklah, mulai
sekarang aku janji akan serius sekolah," kata Wayren
" Benarkah?
"
" Yap,aku akan
sekolah dengan baik, lalu memulainya karir sendiri, walau agak lama, tunggu lah
aku, aku ingin
membuktikan padamu jika aku bisa, aku akan selalu membuat mu tertawa
" kata Wayren serius namun dengan tatapan lembut
Angin
berhembus semakin kencang, menerpa mereka berdua, namun sekarang Wayren tidak
duduk di sampingnya.
Dia benar-benar berjanji untuk bisa membahagiakan Ayatha, apapun caranya.
" Cukup satu
saja," kata
Wayren sambil terus menatap Ayatha
" Apa? " Kata Ayatha bingung apa yang
sedang di bicarakan Wayren
" Walau cuma
sedikit.Sukailah aku...aku janji akan menjagamu..." Kata Wayren sambil
menatap Ayatha dalam-dalam.
Ayatha hanya
terdiam, melihat tatapan Wayren, dia mencari wajah nakal Wayren, dia pikir Wayren
mungkin sedang menggodanya, namun wajah Wayren tidak berubah, dia tetap menatap
Ayatha dengan serius dan penuh perhatian.
Ayatha dan Wayren
saling menatap, Ayatha seperti terjebak dan tidak bisa memalingkan wajahnya,
sedangkan Wayren terus saja mematap dalam-dalam wajah Ayatha.
Angin
kembali berhembus kencang bersamaan dengan turunnya hujan dengan deras, Ayatha
langsung kaget dan segera berlari ke dalam rumah, sedangkan Wayren tetap tenang
walaupun hujan sudah membasahinya, dia dengan pelan berjalan menuju rumahnya.
" Tuan Muda
Wayren, anda basah, saya akan segera mengambil handuk," kata Ayatha segera ingin
pergi saat melihat Wayren yang baru masuk dan sudah basah kuyub, namun sebelum
dia pergi, Wayren segera menarik tangan Ayatha.
" Tidak perlu," kata
Wayren
Ayatha
terdiam, dia melihat wajah Wayren yang basah, rambutnya yang biasa tertata rapi
keatas, sekarang jatuh karena basah, namun hal itu tidak mengubah
ketampanannya. Tangan Ayatha terus digenggamnya.
" Tidak perlu,
aku bukan Andra, kalau hanya terkena hujan, aku tidak akan kenapa-kanapa, " kata Wayren
tersenyum manis sambil meremas pelan tangan Ayatha.
" Aku Baiklah
" kata Ayatha salah tingkah saat sadar bagaimana posisinya sekarang.
" Baiklah,
kau harus bersih-bersih, kalau tidak kau yang malah sakit," kata
wyaren terus memegang tangan Ayatha.
" Baiklah
" kata Ayatha
" Baiklah
" kata Wayren sepertinya tidak rela melepaskan tangan Ayatha, tapi mau
tidak mau dia harus melepaskan tangan Ayatha, dia segera melepaskannya.
" Aku ke kamar
__ADS_1
dulu, " kata Wayren
sambil berjalan pergi
Sedangkan Ayatha
hanya terdiam, melihat kearah Wayren yang perlahan menjauh, entah mengapa
sekarang dia jadi bingung harus berbuat apa terhadap Wayren, dia ingat
kejadian tadi, tatapan Wayren, entah kenapa dia merasa takut, takut akan
membuat Wayren kecewa.
Ayatha
segera berjalan menuju dapur untuk kembali kekamarnya, dia mengigil kedinginan
karena walaupun sudah berlari masuk namun dia tetap terkena hujan.
Dia membuka
pintu dapur dengan perlahan, saat dia tiba-tiba melihat Andra sedang membuat
sesuatu. Andra segera melihat kearahnya saat dia masuk. Ayatha menjadi gugup,
detak jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang.
" Selamat malam
Tuan Muda " kata Ayatha yang gugup
" oh, selamat malam
" kata Andra sedikit tersenyum
" Anda sedang
apa? " Kata Ayatha
melihat Andra
" Tadi aku
mencarimu untuk membuat teh, biasanya kau ada didepan kamarku, tapi karena aku
tidak melihatmu, aku putuskan untuk membuatnya sendiri, " kata Andra
" Maaf Tuan
tadi saya berada diluar bersama Tuan Muda Wayren, mari saya buatkan, " kata Ayatha
bergegas
" Tidak perlu,
kalau hanya membuat teh aku bisa, kau bilang tadi kau bersama Wayren," kata
Andra sambil menatap Ayatha.
" Iya Tuan," kata
Ayatha canggung saat Andra menatapnya, Andra terus menatap Ayatha, dia baru
sadar Ayatha basah, dia juga bisa melihat Ayatha yang tampak gemetaran menahan
dingin.
" Kenapa kau
basah seperti itu ?" Kata Andra saat sadar Ayatha basah
" Tadi saya
kehujanan saat duduk di luar," kata
Ayatha sambil mengenggam kedua tangannya karena benar-benar kedinginan.
Andra
berjalan kearah Ayatha membuat Ayatha tambah gugup karena Andra makin lama
makin mendekat kearahnya. Sementara itu, Ayatha semakin gemetaran, dia tidak
tahu gemetar karna dingin, atau karena Andra.
" Ini," kata
Andra menyodorkan tehnya
" Maksudnya Tuan?"
Kata Ayatha kaget sekaligus gugup
" Kau
gemetaran, ini letakkan
tanganmu di gelas ini," kata Andra
" Terima kasih," kata
Ayatha perlahan-lahan memegang gelas teh yang di buat Andra
" Pelan-pelan
saja, awas jika terlalu panas," kata Andra tersenyum manis, Ayatha
jadi terpaku menatapnya. Seketika dia tidak merasa gemetaran ataupun dingin
lagi, rasanya seluruh badannya jadi hangat gara-gara perhatian Andra.
" Apa itu tidak
panas? " Kata Andra
sedikit penasaran karena Ayatha terus mengenggam tehnya yang baru diseduhnya
dengan air mendidih
" Oh... Iya," kata
Ayatha segera meletakkan tehnya ke meja, Andra hanya tersenyum
" Minumlah, itu
akan menghangatkan, ibu sering melakukannya jika aku kedinginan," kata
Andra tersenyum manis yang menghipnotis Ayatha kembali
" Tidak perlu Tuan,
nanti saya akan buat sendiri," kata Ayatha
" Enggak
apa-apa, untukmu saja, aku sudah tidak ingin minum lagi," kata Andra
" Terima kasih, " kata Ayatha
memberikan hormat
" Sama-sama,
cepat mandilah, kalau tidak kau akan sakit," kata Andra tersenyum, lalu
dia pergi meninggalkan .
Di kamarnya, Wayren hanya menatap air
hujan yang berkejaran dari jendela kamarnya. Walaupun dia sudah mengatakan pada
Ayatha, namun dia tahu, Ayatha hanya menyukai kakaknya.
Andra duduk
di atas ranjangnya, dia melihat cangkir teh yang masih ada di dekat ranjangnya. entah mengapa
banyangan wajah Ayatha yang tampak begitu polos di dapur terngiang di
pikirannya. Lalu dia tersenyum manis.
Ayatha
menyerumput teh buatan Andra di kamarnya. Teh itu sudah mendingin, namun tetap
bisa membuat badan Ayatha terasa hangat, dia ingat bagaimana tatapan dan
perhatian Andra yang di berikannya tadi, seketika dia tersenyum bahagia, namun senyum
itu perlahan memudar, saat dia teringat dengan apa yang dia dengar tadi.
Apa yang
sedang kau pikirkan Ayatha? Andra hanya menganggapmu sebatas teman, dan dia
memang baik ke semua orang, jangan berharap lebih, kau dengar sendirikan tadi, dia tidak
menyukaimu... Jadi jangan berharap lebih Ayatha, mulai sekarang, kau harus menghapus
semua perasaanmu padanya, kata hati Ayatha berkecambuk.
Ayatha
meletakkan teh buatan Andra, lalu berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan
__ADS_1
selimut. Semalaman perasaannya berkecambuk, hingga dia tertidur dengan air mata
yang masih membasahi matanya