Meadow

Meadow
Walau sedikit, sukailah aku


__ADS_3

Suasana malam itu sangat dingin, angin berhembus dengan kencang tidak membuat Ayatha terganggu, dia tetap duduk di kursi taman, Ayatha terduduk termenung, dia sedang sangat sedih, wajahnya terasa panas, napasnya terasa sesak, dan jantungnya serasa ingin keluar.


Seperti inikah rasanya di patah hati? Pikir Ayatha sambil mencoba mengontrol dirinya sendiri, dia berulang kali menghembuskan napasnya dalam-dalam, berharap perasaan ini pergi dengannya.


Apa yang sedang dipikirkannya? Bagaimana dia membiarkan dirinya menyukai seorang seperti Andra? Bagaimana bisa sejauh ini... Bukankah dia tahu siapa Andra? Seseorang yang tidak mungkin dimilikinya, seseorang yang sangat mencintai sahabat baiknya.


Bagaimana dia bisa punya perasaan seperti ini? Ahk, serasa Ayatha ingin berteriak, sakit di hatinya terasa tidak tertahankan lagi.


Tiba-tiba dia teringat Yosa, jika saat ini dia ada di sini? Apa yang akan dia katakan? Jika dia di sini, apakah kata maaf cukup? Karena telah menyukai seseorang yang dia sukai, Ayatha benar-benar pusing, dia sangat


ingin membuang perasaannya jauh, namun setiap kali dia berusaha, perasaan itu semakin terasa terasa sakit.


" Kenapa kau di sini? Di sini sangat dingin, " kata Wayren mendekati Ayatha sambil melipat tangannya menahan dingin.


" Oh… Tuan Muda Wayren," kata Ayatha


menatap Wayren


Wayren duduk di samping Ayatha, sambil terus melipat tangannya menahan dingin.


" Di sini sangat dingin," kata Wayren


" Iya," kata Ayatha sambil melihat Wayren yang kedinginan


" Mendengar pembicaran orang lain itu tidak baik, tau? " kata Wayren tiba-tiba


Ayatha terkejut mendengar perkataan Wayren, bagaimana Wayren bisa mengetahui kalo tadi


dia mendengarkannya, bukannya tadi Wayren sedang berbicara dengan Andra.


" Bagaimana anda tau?" Tanya Ayatha karena terkejut.


Wayren tersenyum sambil melihat Ayatha yang kelihatan sangat lugu.


" Pintu kamarku terbuka, aku tahu pasti Andra tidak akan membiarkan kamar tidak tertutup, aku awalnya berpikir mungkin bibi moi, namun sepertinya tidak, dan aku coba


bertanya pada mu, dan ternyata benar kau," kata Wayren


" Oh... "


kata Ayatha tertangkap basah


" Sejauh


mana yang sudah kau dengar?" Kata Wayren


" Tidak


ada, aku hanya


mendengar anda dan Tuan Muda Andra sedang berbicara, saya langsung pergi


setelah itu," kata


Ayatha berbohong


" Benarkah? " Kata Wayren sambil


mengerutkan dahinya


" Iya..."


Kata Ayatha sedikit ragu


" Bagus lah, lalu sedang


apa kau di sini? Aku


mencarimu dari tadi tapi tidak menemukan mu," kata Wayren


" Hanya sedikit


rindu dengan desa," kata Ayatha tersenyum


" Oh iya, aku


tidak pernah mendengar cerita tentang dirimu dulu," kata Wayren tersenyum


" Apa


yang harus diceritakan? "


" Yah...bagaimana


kau dulu? Atau.bagaimana desamu?"


" Desaku, tempat yang


tenang, dingin,


hanya itu," kata


Ayatha sambil mengingat suasana desanya


" Sepertinya


sangat menyenangkan," kata Wayren


" Benar aku sangat


suka pagi hari bersepeda menuju ke sekolah, pemandangannya sangat indah "


kata Ayatha sambil tersenyum


" Sepertinya kau


sangat menyukainya," kata Wayren melihat wajah Ayatha yang tampak


bahagia


" Iya aku sangat


merindukan sekolah, walau tidak punya teman, rasanya sekolah adalah hal yang


sangat menyenangkan," kata Ayatha


" Sekolah


itu hanya merepotkan," kata Wayren sedikit kesal


" Kenapa?


" kata Ayatha


" Entah lah, harus bangun


tidur, mendengarkan


semua pelajaran, mengerjakan PR, apa yang menyenangkan dari itu? "


" Aku akan


sangat bersyukur jika masih bisa sekolah saat ini," kata Ayatha lirih


Wayren


terdiam melihat ekspresi Ayatha yang sedih, dia bisa merasakan bahwa Ayatha


sangat ingin bersekolah.


" Kenapa kau


berhenti sekolah dan bekerja seperti ini? " Tanya Wayren lembut


Ayatha


melihat Wayren, lalu


memalingkan wajahnya


" Aku


hanya ingin mengambil milik ku yang paling berharga," kata Ayatha


" Sesuatu yang


berharga? Apa? " kata Wayren penasaran


" Rumah


ku," kata


Ayatha


" Kau punya


rumah? Kenapa kau harus bekerja hanya untuk sebuah rumah, apa rumah itu


sangat berarti bagi mu? " kata Wayren tambah penasaran.


" Iya, itu rumah


yang sangat berarti, disitu aku dibesarkan oleh nenekku, di sana kenangan


terakhirku bersama ayah dan ibu ku... Bagaimana pun, aku akan berusaha sekuat


tenaga untuk memdapatkan rumah itu kembali," kata Ayatha sambil tersenyum


manis pada Wayren, Wayren hanya menatapnya dengan tatapan penuh empati.


" Apakah ayah


dan ibumu? " Kata Wayren


tidak tahu harus berkata apa

__ADS_1


" Iya, mereka


sudah meninggal saat aku masih kecil, lalu aku di asuh oleh nenekku di rumah


itu, maka dari itu, rumah itu sangat berarti," kata Ayatha kembali


tersenyum


Wayren hanya


bisa melihat Ayatha dengan penuh perhatian, dia tidak pernah menyangka hidup Ayatha


ternyata seperti itu.


" Jika nanti


kau sudah bisa mendapatkan rumahmu lagi, apa yang kau lakukan? " Kata Wayren lagi


" Aku akan


pulang," kata


Ayatha tersenyum


Tiba-tiba Wayren


merasa tidak rela jika Ayatha pergi, namun dia juga tidak mungkin menghalangi


niat Ayatha karena Ayatha terlihat sangat sungguh-sungguh.


" Selanjutnya


apa yang akan kau lakukan? " Kata Wayren lagi


" Entah lah, mungkin


melanjutkan hidup, mungkin sekolah lagi," kata Ayatha tersenyum pada Wayren,


namun Wayren hanya menatapnya, dia benar-benar tidak ingin Ayatha jauh padanya.


Melihat


tatapan Wayren yang dalam, Ayatha jadi memudarkan senyumnya, dia bingung kenapa


ekspresi Wayren seperti itu.


" Kau


benar-benar ingin sekolah ya?" Kata Wayren lagi


" Iya," kata


Ayatha


" Kalau begitu


aku akan meminta ibu untuk mengizinkanmu sekolah," kata Wayren tersenyum


" Tidak Tuan, Nyonya sudah


sangat membantu, aku tidak ingin terlalu merepotkan dan berhutang budi lagi


pada Nyonya," kata


Ayatha


" Benarkah?"


Kata Wayren


" Iya," kata


Ayatha tersenyum


" Baiklah, mulai


sekarang aku janji akan serius sekolah," kata Wayren


" Benarkah?


"


" Yap,aku akan


sekolah dengan baik, lalu memulainya karir sendiri, walau agak lama, tunggu lah


aku, aku ingin


membuktikan padamu jika aku bisa, aku akan selalu membuat mu tertawa


" kata Wayren serius namun dengan tatapan lembut


Angin


berhembus semakin kencang, menerpa mereka berdua, namun sekarang Wayren tidak


duduk di sampingnya.


Dia benar-benar berjanji untuk bisa membahagiakan Ayatha, apapun caranya.


" Cukup satu


saja," kata


Wayren sambil terus menatap Ayatha


" Apa? " Kata Ayatha bingung apa yang


sedang di bicarakan Wayren


" Walau cuma


sedikit.Sukailah aku...aku janji akan menjagamu..." Kata Wayren sambil


menatap Ayatha dalam-dalam.


Ayatha hanya


terdiam, melihat tatapan Wayren, dia mencari wajah nakal Wayren, dia pikir Wayren


mungkin sedang menggodanya, namun wajah Wayren tidak berubah, dia tetap menatap


Ayatha dengan serius dan penuh perhatian.


Ayatha dan Wayren


saling menatap, Ayatha seperti terjebak dan tidak bisa memalingkan wajahnya,


sedangkan Wayren terus saja mematap dalam-dalam wajah Ayatha.


Angin


kembali berhembus kencang bersamaan dengan turunnya hujan dengan deras, Ayatha


langsung kaget dan segera berlari ke dalam rumah, sedangkan Wayren tetap tenang


walaupun hujan sudah membasahinya, dia dengan pelan berjalan menuju rumahnya.


" Tuan Muda


Wayren, anda basah, saya akan segera mengambil handuk," kata Ayatha segera ingin


pergi saat melihat Wayren yang baru masuk dan sudah basah kuyub, namun sebelum


dia pergi, Wayren segera menarik tangan Ayatha.


" Tidak perlu," kata


Wayren


Ayatha


terdiam, dia melihat wajah Wayren yang basah, rambutnya yang biasa tertata rapi


keatas, sekarang jatuh karena basah, namun hal itu tidak mengubah


ketampanannya. Tangan Ayatha terus digenggamnya.


" Tidak perlu,


aku bukan Andra, kalau hanya terkena hujan, aku tidak akan kenapa-kanapa, " kata Wayren


tersenyum manis sambil meremas pelan tangan Ayatha.


" Aku Baiklah


" kata Ayatha salah tingkah saat sadar bagaimana posisinya sekarang.


" Baiklah,


kau harus bersih-bersih, kalau tidak kau yang malah sakit," kata


wyaren terus memegang tangan Ayatha.


" Baiklah


" kata Ayatha


" Baiklah


" kata Wayren sepertinya tidak rela melepaskan tangan Ayatha, tapi mau


tidak mau dia harus melepaskan tangan Ayatha, dia segera melepaskannya.


" Aku ke kamar

__ADS_1


dulu, " kata Wayren


sambil berjalan pergi


Sedangkan Ayatha


hanya terdiam, melihat kearah Wayren yang perlahan menjauh, entah mengapa


sekarang dia jadi bingung harus berbuat apa terhadap Wayren, dia ingat


kejadian tadi, tatapan Wayren, entah kenapa dia merasa takut, takut akan


membuat Wayren kecewa.


Ayatha


segera berjalan menuju dapur untuk kembali kekamarnya, dia mengigil kedinginan


karena walaupun sudah berlari masuk namun dia tetap terkena hujan.


Dia membuka


pintu dapur dengan perlahan, saat dia tiba-tiba melihat Andra sedang membuat


sesuatu. Andra segera melihat kearahnya saat dia masuk. Ayatha menjadi gugup,


detak jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang.


" Selamat malam


Tuan Muda " kata Ayatha yang gugup


" oh, selamat malam


" kata Andra sedikit tersenyum


" Anda sedang


apa? " Kata Ayatha


melihat Andra


" Tadi aku


mencarimu untuk membuat teh, biasanya kau ada didepan kamarku, tapi karena aku


tidak melihatmu, aku putuskan untuk membuatnya sendiri, " kata Andra


" Maaf Tuan


tadi saya berada diluar bersama Tuan Muda Wayren, mari saya buatkan, " kata Ayatha


bergegas


" Tidak perlu,


kalau hanya membuat teh aku bisa, kau bilang tadi kau bersama Wayren," kata


Andra sambil menatap Ayatha.


" Iya Tuan," kata


Ayatha canggung saat Andra menatapnya, Andra terus menatap Ayatha, dia baru


sadar Ayatha basah, dia juga bisa melihat Ayatha yang tampak gemetaran menahan


dingin.


" Kenapa kau


basah seperti itu ?" Kata Andra saat sadar Ayatha basah


" Tadi saya


kehujanan saat duduk di luar," kata


Ayatha sambil mengenggam kedua tangannya karena benar-benar kedinginan.


Andra


berjalan kearah Ayatha membuat Ayatha tambah gugup karena Andra makin lama


makin mendekat kearahnya. Sementara itu, Ayatha semakin gemetaran, dia tidak


tahu gemetar karna dingin, atau karena Andra.


" Ini," kata


Andra menyodorkan tehnya


" Maksudnya Tuan?"


Kata Ayatha kaget sekaligus gugup


" Kau


gemetaran, ini letakkan


tanganmu di gelas ini," kata Andra


" Terima kasih," kata


Ayatha perlahan-lahan memegang gelas teh yang di buat Andra


" Pelan-pelan


saja, awas jika terlalu panas," kata Andra tersenyum manis, Ayatha


jadi terpaku menatapnya. Seketika dia tidak merasa gemetaran ataupun dingin


lagi, rasanya seluruh badannya jadi hangat gara-gara perhatian Andra.


" Apa itu tidak


panas? " Kata Andra


sedikit penasaran karena Ayatha terus mengenggam tehnya yang baru diseduhnya


dengan air mendidih


" Oh... Iya," kata


Ayatha segera meletakkan tehnya ke meja, Andra hanya tersenyum


" Minumlah, itu


akan menghangatkan, ibu sering melakukannya jika aku kedinginan," kata


Andra tersenyum manis yang menghipnotis Ayatha kembali


" Tidak perlu Tuan,


nanti saya akan buat sendiri," kata Ayatha


" Enggak


apa-apa, untukmu saja, aku sudah tidak ingin minum lagi," kata Andra


" Terima kasih, " kata Ayatha


memberikan hormat


" Sama-sama,


cepat mandilah, kalau tidak kau akan sakit," kata Andra tersenyum, lalu


dia pergi meninggalkan .


Di kamarnya, Wayren hanya menatap air


hujan yang berkejaran dari jendela kamarnya. Walaupun dia sudah mengatakan pada


Ayatha, namun dia tahu, Ayatha hanya menyukai kakaknya.


Andra duduk


di atas ranjangnya, dia melihat cangkir teh yang masih ada di dekat ranjangnya. entah mengapa


banyangan wajah Ayatha yang tampak begitu polos di dapur terngiang di


pikirannya. Lalu dia tersenyum manis.


Ayatha


menyerumput teh buatan Andra di kamarnya. Teh itu sudah mendingin, namun tetap


bisa membuat badan Ayatha terasa hangat, dia ingat bagaimana tatapan dan


perhatian Andra yang di berikannya tadi, seketika dia tersenyum bahagia, namun senyum


itu perlahan memudar, saat dia teringat dengan apa yang dia dengar tadi.


Apa yang


sedang kau pikirkan Ayatha? Andra hanya menganggapmu sebatas teman, dan dia


memang baik ke semua orang, jangan berharap lebih, kau dengar sendirikan tadi, dia tidak


menyukaimu... Jadi jangan berharap lebih Ayatha, mulai sekarang, kau harus menghapus


semua perasaanmu padanya, kata hati Ayatha berkecambuk.


Ayatha


meletakkan teh buatan Andra, lalu berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan

__ADS_1


selimut. Semalaman perasaannya berkecambuk, hingga dia tertidur dengan air mata


yang masih membasahi matanya


__ADS_2