
Andra duduk di ruangan khusus untuk membesuk Ayahnya, dia sebenarnya sedikit
gugup, entah sudah berapa lama dia tidak melihat Ayahnya, selain gugup dia juga
sejujurnya sangat membenci Ayahnya sekarang.
Tuan Ray tak lama masuk kedalam ruangan itu, Andra menatap Ayahnya, wajahnya tenang, terlalu
tenang hingga tak ada yang bisa menebak hatinya, Tuan Ray masih memancarkan
aura bermatabat, aura seperti seorang pemimpin yang perlahan-lahan diturunkan
pada Andra.
Andra menatap Ayahnya terus, menjaga agar Ayahnya tak melihat kegugupannya.
Tuan Ray duduk di depan Andra dengan gayanya, menatap anaknya dengan matanya yang coklat .
" Ada apa kau datang padaku? " kata Tuan
Ray dengan suara sangat berat. Andra mengamati wajah ayahnya, dia dianugrahi
wajah yang sangat tampan, bahkan usia tidak mengikisnya sama sekali, kerutan di
wajahnya malah membuat wajahnya tambah matang.
" Aku hanya ingin memberitahukan padamu, aku akan menikah, " kata Andra tanpa basa basi
Tuan Ray menatap Andra, namun dia tidak menujukkan ekspresi apapun.
" Owh, baiklah, aku ucapkan selamat untukmu," kata Tuan Ray tanpa menunjukan ekspresi
" Terima kasih, " kata Andra seadanya.
" Kenapa tak membawa cucuku kesini? Sudah berumur 4 tahun bukan? " Kata Tuan Ray tenang, dia
menaikkan sedikit ujung bibirnya. Andra terkejut mendengar kata ayahnya,
bagaimana dia tahu tentang Raphael? .
" Aku tak akan membawanya untuk mememuimu, " kata Andra tegas
" Tidak apa-apa, aku akan menemuinya, " kata Tuan Ray lagi
" Apa maksudmu? " Kata Andra, wajahnya tampak tegang.
" Calon istrimu benar-benar beruntung, aku harap kali ini kalian benar-benar bisa
bersama, " kata Tuan Ray tanpa menjawab pertanyaan Andra, berdiri lalu tersenyum sinis
" Maksud mu apa?! Ayah, apa lagi yang akan kau lakukan? " Kata Andra penuh emosi, namun Tuan Ray dengan
tenangnya kembali masuk ke dalam penjara. Andra menatap punggung Ayahnya, apa lagi rencana Ayahnya? Dia
lalu dengan cepat kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia masuk dengan panik.
" Ayatha? " Kata Andra mencari Ayatha.
Dia mencari Ayatha di seluruh rumahnya, tampak kepanikan dalam matanya, dia mencari di kamar Ayatha,
di belakang, di taman, namun tak menemukan Ayatha maupun Raphael. Kemana mereka? Apakah Ayahnya kembali ingin memisahkan mereka?
" Andra? Ada apa? " Kata Wayren yang mendengar dan melihat kakaknya mencari di seluruh ruangan, dia terlihat
sangat panik.
" Dimana Ayatha dan Raphael? " kata Andra
" Entahlah, mungkin bersama Ibu, tadi mereka bersama, kenapa tak menelepon Ayatha
__ADS_1
atau Ibu? " Kata Wayren yang heran menatap kakaknya yang begitu panik.
Andra mengambil handphonenya, saking paniknya dia lupa kalau dia bisa menelepon
mereka, Andra menelepon Ayatha, begitu bunyi nada sambung pertama kali, telepon itu diangkat.
" Halo? Ayatha kau di mana? " Kata Andra cemas.
" Iya, aku sedang pergi dengan Ibu, " kata Ayatha yang bingung kenapa nada suara Andra
panik.
" Pulang sekarang! " kata Andra, itu bukan dengan nada meminta, namun seperti perintah.
" Ehm, baiklah, ini juga kami sudah hampir sampai rumah, Andra? Ada apa? " Kata Ayatha
" Pulang lah " kata Andra lagi
" Iya, " kata Ayatha.
Andra
memutuskan panggilan teleponnya, dia lalu memandang Wayren. Wayren melihat
kakaknya dengan heran
" Ada apa?" Kata Wayren
" Aku tadi bertemu ayah, dia tahu tentang Raphael, " kata Andra
" Bagaimana dia tahu? " Kata Wayren
kaget
" Entahlah, dia juga mengatakan hal-hal yang mengancam," kata Andra lagi.
" Pria tua itu, tetap saja tak berubah, " kata Wayren
" Ya "
" Aku belum tahu, aku akan pikirkan nanti, aku sedang menunggu Ayatha pulang, " kata Andra
" Baiklah, jaga dia baik-baik kali ini, bebanmu sekarang lebih berat, ada Rapahel juga,
tapi apa menurutmu dia juga tega melukai Raphael? " Kata Wayren lagi
" Aku tidak tahu, tidak ingin mengambil resiko juga, " kata Andra.
" Iya, baiklah, aku akan mendukungmu. " kata Wayren.
Andra tampak berpikir, tak lama mobil ibunya masuk kedalam area rumahnya. Andra langsung
bangkit melihat Ayatha yang baru keluar, Ibunya sedang mengandeng Raphael, Raphael
terlihat sangat senang, membuat Ibu danNneneknya juga terus tersenyum.
" Ayah, " kata Raphael mendatangi Ayahnya.
Andra tersenyum menyambut anaknya, mengedongnya, namun di matanya tetap terlihat kepanikan
" Rapha,tadi kemana? " Kata Andra lembut menatap anaknya
" Pergi jalan-jalan dengan Ibu dan Nenek, ayah tadi kemana? " Kata raphael lagi.
" Pergi menemui seseorang, " kata Andra, dia melirik ke Ayatha, Ayatha
menatapnya dengan wajah yang penasaran.
" Ada apa? " Kata Ayatha lembut
" Ehm... ada yang aku ingin bicarakan, " kata Andra serius
__ADS_1
" Baiklah, Rapha, bermain dulu dengan Sus ya, Ibu dan Ayah ingin
berbicara sebentar," kata Ayatha memberikan pengertian pada
anaknya. Raphael tampak cemberut, dia masih ingin bermanja-manja dengan
ayahnya.
Namun dia anak yang pengertian, dia lalu ingin turun. Andra menurunkan anaknya, suster
penjaganya lalu mengendong Raphael masuk kedalam rumah.
" Ada apa? " Kata Ayatha,
semilir angin menerpa wajahnya yang cantik, menerbangkan beberapa helai
rambutnya kearah wajahnya. Andra menatapnya dalam-dalam, kali ini jika dia
berpisah lagi dengan Ayatha dia tidak akan sanggup hidup lagi.
" Besok pagi, mari menikah, " kata Andra dengan suara beratnya, Ayatha kaget,
mengerutkan dahinya, menikah besok pagi?
" Menikah besok pagi? Bukannya harus menyiapkan seluruh persiapan dulu? Memangnya
ada apa? " Kata Ayatha
bingung
" Semua sudah aku urus, Pak Wang sudah mempersiapkan berkasnya, kita menikah saja dulu,
soal pesta dan lainnya bisa menyusul nanti, " kata Andra serius
Ayatha menatap Andra dengan heran, sangat aneh jika tiba-tiba ingin menikah.
" Ada apa? Apa ayahmu melakukan sesuatu? " Kata Ayatha lagi, dia cemas,
namun tetap berusaha lembut mengatakannya pada Andra.
Andra diam, dia takut kalau Ayatha tahu ayahnya mengetahui tentang raphael, dia akan
menolak menikah dengannya dan membawa raphael pergi. Dulu berpisah dengannya
rasanya hampir mati, jika sekarang berpisah dengannya dan raphael, dia
benar-benar akan mati.
" Ayah tidak mengatakan apapun, hanya tak ingin kehilangan waktu lagi bersama kalian,
kita menikah besok pagi ya? " Kata Andra, wajahnya lebih melembut, nadanya
lebih memelas.
Ayatha menatap Andra lagi, dia tersenyum sedikit, walaupun merasa ada sesuatu yang
ditutupi oleh Andra, Ayatha setuju, toh dia memang mau menikah dengan Andra,
lebih cepat bukannya lebih baik?
" Baiklah, " kata Ayatha
Andra tersenyum senang, dia memeluk Ayatha dengan erat.
"
Andra, jika nanti ada apa-apa, kau harus memberitahuku ya, " kata Ayatha
" Kita tidak akan kenapa-kenapa, aku akan menjaga kalian, jangan takut, " kata Andra lagi dengan tegas.
Tak akan ada yang bisa memisahkan mereka lagi, mereka akan bersama selamanya, Andra tak
__ADS_1
ingin lagi menyia-nyiakan waktu, apapun yang terjadi, yang penting Ayatha akan
menjadi istrinya. Itu lah yang terpenting sekarang.